Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Tergoda


__ADS_3

Bab 24 Tergoda


Dea mondar mandir di dalam kamar. Sudah lewat 30 menit Azka belum juga keluar dari kamar mandi.


Sementara Azka sendiri sedang berjuang menenangkan debaran jantungnya yang tak kunjung mereda. Ia menenggelamkan diri di dalam bathtup, berusaha meredakan ketegangan akibat kenakalannya tadi. Niatnya untuk menggoda Dea malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, justru dia yang tergoda.


Azka tidak tahan melihat wajah polos dan gugup Dea, apalagi saat melihat bibir Dea yang terbuka sedikit, itu sungguh menggairahkan. Azka tidak kuat menahan pesonanya dan terjadilah hal yang mungkin akan membuat Dea mengamuk setelah ini.


Dea sudah dari tadi berdiri di depan pintu kamar mandi dengan memegang sebuah bantal. Ia tidak terima dengan perbuatan Azka, ia merasa dilecehkan. Sudah tidak sabar rasanya ingin memberi Azka pelajaran, pokoknya saat Azka keluar Dea akan memberondongnya dengan pukulan-pukulan dari bantal yang dipegangnya tadi, mau pukul pake tongkat baseball yang ada di sudut ruangan, tapi Dea juga tidak tega, takut anaknya orang bonyok atau mati, Dea tidak bisa, Dea juga belum siap menyandang status janda di pernikahannya yang baru seumur lebih 24 jam itu.


Benar saja, saat Azka keluar, Dea memukulnya secara membabi buta.


"Rasakan..rasakan.. dasar mesum! Saya gak terima dilecehkan, rasakan!"


"Awww.. awwww.. Dea kamu apa-apan sih?"


Azka terus mundur dan menghindari pukulan Dea. Ia tidak bisa melihat bagaimana penampakan wajah marah Dea saat ini karena terhalang bantal yang terus mengayun menimpa tubuhnya.


"Kurang ajar, saya benci bapak, dasar mesum..mesum..mesum..isshhh." Nafas Dea tersengal namun masih terus mengayunkan bantal ke arah Azka.


"Hei..stop..stop!" Azka mengangkat kedua tangannya kemudian menangkap bantal yang dipegang Dea. Azka menarik paksa bantal itu kemudian melemparnya ke tempat tidur.


Sesaat Dea bengong melihat pemandangan super aneh di hadapannya.


"Aaaaaaaaaaa... bang Azka jelek!" Teriak Dea menutup matanya kemudian berbalik membelakangi Azka.


Azka hanya cuek kemudian dengan santainya memungut handuknya yang tadi sempat terjatuh lalu melilitkannya kembali ke pinggangnya.


Azka mendekati Dea yang masih memunggunginya. Azka mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Dea.


"Tadi kamu bilang aku apa?" Tanya Azka dengan sedikit berbisik di telinga Dea.


Lagi-lagi semua bulu-bulu halus di tubuh Dea meremang. Ia memeluk tubuhnya sendiri dengan merapatkan kedua tangannya. Aroma citrus menguar kuat dari tubuh setengah telanj*ng Azka yang berdiri sangat dekat di belakangnya. Dea yakin kalau jarak mereka mungkin kurang dari 1cm karena ia bisa merasakan rasa dingin menyentuh punggungnya. Sepertinya itu tetesan air dari rambut basah Azka.


"Sa..saya tidak bilang apa-apa?" Jawab Dea terbata karena dikuasai rasa gugup.

__ADS_1


"Katakan sekali lagi, tadi kamu bilang aku apa? Atau kamu mau aku hukum?"


Lagi-lagi Azka bertanya di telinga Dea dengan nada pelan dan lembut namun terasa mematikan buat Dea.


"Bang Azka jelek!" Ucap Dea cepat kemudian menutup matanya kuat dan menutup mulutnya dengan satu tangannya. Ia sudah pasrah jika Azka tersinggung dengan ucapannya.


Namun ternyata reaksi Azka berbeda dengan yang difikirkan Dea. Azka menarik tubuhnya menjauh dari Dea kemudian memilih duduk di pinggir tempat tidur.


"Bagus juga, mulai sekarang panggil sayang abang kalau di rumah. Jangan panggil bapak karena saya bukan bapak kamu." Ucap Azka dengan seringai penuh kemenangan di wajahnya.


"Sekarang, lakukan tugas kamu sebagai istri!" Ucap Azka lagi dengan nada memerintah.


"Maksud bapak?" Tanya Dea tidak mengerti.


"Siapkan pakaian saya, setelah sholat baru kita ke apartemen kamu."


Dea mengernyit heran.


"Bukankah saya hanya perlu berperan layaknya istri yang baik saat di depan keluarga saja? Apa bapak-"


"Ma...maksud saya, apa bang Azka lupa dengan kesepakatan kita?"


"Tidak, saya ingat semuanya. Justru ini adalah latihan buat kamu agar terbiasa melakukan peran kamu sebagai istriku di rumah ini."


Dea mendesah pelan, ia tidak akan pernah menang melawan Azka. Ia pun akhirnya menggeser pintu walk in closet yang baru untuk pertama kalinya ia masuki semenjak resmi menjadi istri Azka.


Dea cukup tercengang menyaksikan pemandangan di dalam walk in closet tersebut, ini seperti memindahkan semua toko pakaian dan aksesoris laki-laki ke dalam ruangan ini.


Apa semua orang super kaya memiliki ruang khusus seperti ini?


Dea tidak bisa berhenti mengagumi pemandangan yang ada di hadapannya ini. Semua pakaian berjejer rapi tersusun sesuai jenis dan warnanya menghabiskan satu sisi ruang yang panjangnya tidak kurang dari 4 meter. Di satu sisinya yang lebih sempit, mungkin berukuran 2,5 meter, ada lemari kotak seperti display untuk jam tangan. Mungkin jumlahnya sekitar 20 buah. Di sisinya terdapat lemari yang lebih tinggi berisi sepatu dan sendal yang cukup banyak. Di sisi berlawanan, tempatnya tadi masuk ke ruangan ini, terdapat cermin raksasa yang memenuhi hampir setengah dinding, tersisa bagian pintu geser saja.


Terdapat satu sofa panjang yang bersandar di dinding yang kosong. Di tengah-tengah ada lagi display berbentuk kotak persegi panjang yang diisi dengan dasi berbagai warna dan selebihnya diisi dengan pakaian dalam laki-laki.


Masih ada beberapa space yang kosong, mungkin itu sengaja disiapkan untuk barang-barangnya nanti.

__ADS_1


Muncul satu ide di kepala Dea, sepertinya sofa tersebut cukup untuknya meluruskan badan di sana, dan lagi dengan begitu ia tidak akan benar-benar tidur satu kamar dengan Azka.


"Lama banget sih, saya sudah hampir masuk angin nunggu kamu." Azka tiba-tiba masuk mengagetkan Dea yang lupa dengan niat awalnya masuk ke dalam ruangan ini.


"Ma.. maaf pak, bang. Lupa." Ucap Dea menyesal.


"Ya udah, mana pakaianku?"


Buru-buru Dea memilih pakaian untuk Azka dan meletakkannya di sisi sofa tempat Azka menunggunya.


Tanpa menunggu lagi, Dea langsung kabur keluar dari ruangan tersebut kemudian menyambar tas pakaiannya masuk ke dalam kamar mandi. Ia merasa pasokan udara di dalam walk in closet tiba-tiba menipis karena kehadiran Azka masih hanya dengan handuk kecil yang melilit di pinggangnya.


Dea tidak berhenti menggeleng-gelengkan kepalanya di kamar mandi, berkali-kali ia basuh wajahnya dengan kasar, ia tidak bisa menghilangkan bayangan benda yang dilihatnya tadi saat handuk Azka terjatuh menampakkan tubuh polosnya tanpa sehelai benangpun.


Dea merasa frustasi, baru sehari menikah dengan Azka, kening, bibir dan matanya sudah tidak perawan lagi.


Wajahnya tiba-tiba merona merah diiringi degupan jantung yang kian menderu, ia tidak sanggup membayangkan apa lagi yang akan terjadi setelah beberapa hari, beberapa minggu dan beberapa bulan ke depan?


Bagaimana jika bertahun-tahun?


×××××




hai hai hai readers,



Tetap berikan like dan commetnya yah..


Dukungan kalian adalah suplemen dan imun booster buat author.


__ADS_1


Thanks😘


__ADS_2