Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Jumuah Mubarakah


__ADS_3

Bab 38 Jumuah Mubarakah


Dea


Pagi-pagi sekali, sebelum waktu sholat subuh, aku bangun menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Kalau biasanya ada art yang membantu menyiapkan bahannya, kali ini mereka libur sampai hari senin baru pada balik semua.


Aku membuat sarapan seadanya saja, hanya beberapa lembar roti lapis isian daging asap, keju slice dan telur. Kemudian dipotong menjadi empat bagian seperti belah ketupat. Sengaja membuat salad sayuran terpisah, biar makannya tidak belepotan.


Tadi malam bang Azka sudah berpesan kalau dia ingin minum kopi kalau pagi, dan kalau malam baru dikasi teh mint. Aku sendiri tidak terlalu suka minum kopi, hanya sesekali saja minumnya, itupun kalau lagi lembur dan mata terasa berat.


"Belum selesai masaknya?"


"Astaghfirullah..."


Aku terlonjak kaget, suara dan pelukan bang Azka dari belakang yang tiba-tiba membuat jantungku melompat berdetak cepat. Aku mengelus dada beberapa kali untuk menenangkan diri.


"Bang Azka ngagetin aja. Kirain siapa?"


"Memang kamu fikir siapa? Kan hanya kita berdua di rumah ini." Bang Azka mengambil satu potong roti masuk ke mulutnya.


"Kali aja ada maling." Ucapku kemudian melepaskan diri dari pelukannya dan berjalan ke meja makan. "Maling hatiku." Batinku membuatku tidak bisa menahan senyum di bibirku.


Bang Azka mengekor. Dia kembali mengambil satu potong roti lagi.


"Gak bakal ada maling yang bisa masuk ke rumah ini, sistem keamanannya sangat tinggi, satpam di depan itu hanya formalitas saja." Ujarnya kemudian berlalu pergi ke kamar.


Aku menyusulnya karena sudah hampir masuk waktu sholat subuh. Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi, aku memilih masuk ke walk in closet menyiapkan pakaian kerja bang Azka juga sepasang baju koko untuk ia pake sholat nanti.


Saat bang Azka selesai, kami kemudian sholat subuh berjamaah.


Setelah sholat, bang Azka nampak sibuk dengan laptopnya. Aku memilih merapikan kamar kami kemudian beberes rumah seadanya. Setelah jam menunjukkan pukul 6 pagi, aku membuat kopi untuk bang Azka kemudian bergegas mandi.


Aku menatap heran ke bang Azka yang masih berpenampilan santai dengan baju kokonya padahal aku sendiri sudah berpakaian rapi.


"Abang gak jadi ke kantor?" Tanyaku mendekatinya yang masih berkutat dengan laptop.


"Ke kantor."


"Kenapa belum siap-siap?"


Bang Azka mematikan laptopnya kemudian menatapku. "Pakaianku mana?"

__ADS_1


"Yaa..Allah.. tadi udah aku siapin sama baju koko yang abang pake ini loh."


Bang Azka bangkit dari tempat duduknya kemudian masuk ke ruang walk in closet.


"Dea!" Panggilnya dari dalam.


Aku menggeser sedikit pintunya secukupnya untuk membuat kepalaku menyembul di balik pintu. "Iya bang, kenapa?"


Bang Azka mengangkat baju dan kemejanya lalu menyodorkannya kepadaku.


"Pakaikan!"


"Dasar! Badan aja yang segede Hercules, tapi pake baju minta istri, macam bayi besar aja." Sesaat aku mengumpatnya di dalam hati, namun diwaktu yang sama hatiku menghangat karena merasa dianggap ada olehnya.


"Rambutnya mau minta disisirkan juga?" Tanyaku berinisiatif duluan setelah memakaikan pakaiannya.


"Iya, boleh."  Jawabnya sedikit menunduk mendekatkan kepalanya padaku.


Aku mengusapkan gel terlebih dahulu kemudian menyisirnya mengikuti model rambutnya saat ini.


"Abang gak cukuran?" Tanpa sadar tanganku menjelajahi wajahnya yang mulai ditumbuhi titik-titik hitam yang terasa sedikit kasar di kulitku. Ia tidak menjawab, namun sorot matanya menatapku lekat.


Cup!


"Jangan lupa bernafas!" Ucapnya tanpa rasa bersalah. "Besok-besok jangan pakai lipstip, aku lebih suka bibir kamu tanpa pake apa-apa."  Ia kemudian berlalu meninggalkanku yang masih bengong berusaha mengatur nafas.


*****


Tiba di kantor, Azka terus menggandeng tanganku sepanjang melewati lobby menuju lift. Senyum sapa para karyawan menyambut hari pertama kami masuk kantor setelah libur untuk resepsi pernikahan beberapa waktu lalu.


Kebetulan sekali ada Rara di dalam lift hendak menuju lantai 2 tempat Engineering Department berada.


"Aku tunggu kamu di atas saat istirahat nanti!" Ucapku setengah berbisik padanya dan sedikit mencubit pinggangnya.


Rara hanya mengangguk dengan wajahnya yang sedikit panik namun tidak berani mengeluarkan suara. Tentu saja dia harus mempertanggung jawabkan kelakuannya mengganti isi koperku dan mensabotase isi dompetku.


Penataan isi ruangan bang Azka sempurna berubah 100% demi mengakomodasi keberadaanku di ruangannya. Mba Nisa dan bang Aldo yang mengekori kami masuk ke ruangan bang Azka.


Sementara bang Aldo sibuk dengan bang Azka, sekarang mbak Nisa sibuk menunjukkan kepadaku mengenai keberadaan barang-barang yang mereka pindahkan dari ruanganku yang sebelumnya ke sini.


"Mbak Nisa, kalau pagi pak Azka biasanya ngemil apa?" Tanyaku pelan pada mba Nisa. Selain bang Aldo, yang paling tau kebiasaan bang Azka di kantor adalah mba Nisa, terutama urusan makanannya.

__ADS_1


Mbak Nisa tampak berfikir sebentar. "Kalau minum, pak Azka lebih suka air putih, jadi pastikan mug-nya gak pernah kosong. Kalau ngemil-ngemilnya, jarang sih, paling buah, kue-kue tradisional juga biasanya ia minat."


"Oke makasih yah mba." Ucapku tulus.


"Sama-sama bu, jangan sungkan minta tolong saya kalau ada apa-apa, mulai sekarang keperluan ibu di kantor akan saya handle juga."


"Iya, sekali lagi terima kasih. Mbak Nisa jangan bosan yah kalau besok-besok aku repotin."


"Bu Dea tenang aja, aman itu!" Jawabnya dengan senyum lebar kemudian pamit kembali ke meja kerjanya.


Kami begitu larut dalam kesibukan masing-masing, hingga tak terasa jam menunjukkan pukul 11 siang.


Aku menghentikan kegiatanku di depan komputer kemudian mendekati bang Azka.


"Bang, udah jam istirahat. Mau dipesankan makan siang atau makan di luar setelah sholat jum'at nanti?"


"Kamu pesankan saja, menu apa saja terserah kamu." Bang Azka masih sibuk dengan pekerjaannya, matanya tetap fokus ke layar monitor mengabaikan diriku yang ada di dekatnya.


"Udah dulu kerjanya, buruan ke Mesjid, biar dapat shaf pertama."


"Tanggung!"


Aku mengambil ponselku kemudian mencari keutamaan berangkat ke Mesjid lebih awal saat sholat jum'at.


"Siapa saja yang berangkat sholat Jumat pada jam pertama, seakan-akan dia berkurban dengan seekor unta. Siapa saja yang berangkat pada jam kedua, seakan-akan dia berkurban dengan seekor sapi. Siapa saja yang berangkat pada jam ketiga, seakan-akan dia berkurban dengan kambing bertanduk. Siapa saja yang berangkat pada jam keempat, seakan-akan dia menghadiahkan seekor ayam jantan. Siapa saja yang berangkat pada jam kelima, seakan-akan dia menghadiahkan sebutir telur. Setelah imam keluar, catatan amal sudah ditutup, qalam pencatat sudah diangkat, dan para malaikat berkumpul di mimbar untuk mendengarkan zikir. Siapa saja yang datang setelah itu, dia datang hanya untuk memenuhi hak sholat dan tidak mendapatkan keutamaan apa-apa."


"Muttafaq alaih." Imbuhku.


Bang Azka segera merapikan mejanya.


"Iya, iya bu ustadzah, ini lagi siap-siap sekarang!"


Aku tersenyum melihat tingkahnya yang tiba-tiba jadi penurut. Jarang-jarang melihatnya seperti ini, adanya selalu menampakkan wajah mengintimidasi, tegas dan tak ingin dibantah.


"Minta uang!"


"Untuk?"


"Isi celengan Mesjid." Jawabnya santai.


Ini sungguh memprihatinkan, seorang General Manager BM Shipyard tidak punya uang sama sekali meski hanya untuk isi celengan Mesjid. Haruskah aku tertawa keras di hadapannya sekarang???

__ADS_1


×××××


__ADS_2