
Bab 33 Resepsi
Setelah malam itu, Azka berubah menjadi semakin pendiam. Ia terus mengurung diri di kamar menghabiskan waktunya di rumah dengan mengurusi pekerjaan kantor, alasannya agar setelah resepsi ia bisa mengambil cuti bulan madu.
Tak ada yang berubah dari sikap Azka saat di hadapan keluarganya, namun saat di kamar dengan Dea, tak pernah sekalipun ia melontarkan satu kata pada Dea. Ia yang biasanya suka modus menyentuh Dea, dua hari ini betul-betul sikapnya sangat dingin.
Dea hanya bisa pasrah, tak ingin mengganggu pilihan sikap Azka padanya. Memang seharusnya mereka saling menjaga jarak. Tak bisa dipungkiri, memang sudah ada tumbuh benih-benih cinta di hatinya, sebulan lebih pernikahan mereka, bohong jika tidak ada percikan-percikan api cinta di hati Dea saat berada di dekat Azka.
Memang sikap Azka sangat dingin dan kaku di luar, namun ia sangat lembut dan perhatian saat di rumah dengan catatan itu saat di hadapan orang tuanya. Meskipun itu hanya acting, tapi itu hanya berlaku untuknya, kelembutan dan kasih sayang Azka tidak bisa diragukan lagi jika melihat interaksinya bersama bunda dan Caca. Azka adalah pria yang bisa menghujani banyak cinta kepada orang-orang yang disayanginya.
*****
Sore hari semua sudah stand by di Hotel tempat resepsi pernikahan mereka diadakan. Setelah sholat Isya, Dea didandani oleh MUA kenamaan yang sudah ditunjuk bunda Aya untuknya.
Dea nampak cantik dalam balutan gaun pengantin yang didomisasi warna gold dan putih gading itu, riasan wajah yang pas dan tidak berlebihan benar-benar memancarkan kecantikannya yang sangat jarang dipoles make up.
Meskipun sisa-sisa ketomboiannya masih melekat, namun malam ini Dea tampil sangat anggun dan elegant.
"Selamat yah De!" Ucap Rara memeluknya.
"Jangan terlalu banyak fikiran, jalani aja apa yang ada saat ini. Okay! Kamu berhak bahagia, tidak ada bahagia yang abadi, tapi saat satu sumber kebahagiaan kamu hilang, kamu tinggal menjemput sumber-sumber kebahagiaan lainnya." Imbuhnya.
"Iya, thanks banget yah, Ra!" Mata Dea mulai berkaca-kaca.
"Jangan nangis, nanti cantiknya hilang. Gagal deh bikin pak Azka klepek-klepek." Mereka berdua lalu tertawa.
Pintu kamar terbuka dan menampakkan bunda Dea dan Caca yang masuk menyapanya.
"MaasyaAllah, cantiknya menantu bunda." Bunda Aya memeluk Dea erat.
"Makasih bunda." Ucap Dea.
"Caca pangling lihat kak Dea, widih.. bang Azka kalo lihat kak Dea dijamin gak bakal mengedipkan matanya saking terpesonanya." Tawa mereka pun pecah.
Tante Lala ikut masuk ke kamar mengingatkan bahwa acara akan segera dimulai.
"Udah siap yah? Udah ditungguin Azka tuh di pelaminan. Ayok semuanya, buruan!" Tante Lala mengingatkan.
Di luar sudah ada Badai dengan setelan paling kecenya demi mendampingi Dea malam ini meresmikan hari bahagianya.
Dea sengaja meminta Badai dan Rara menjadi pendampingnya sebagai pengganti keluarganya.
Bunda Aya, Caca dan tante Lala berjalan terlebih dahulu menuju tempat Azka. Sementara Rara menggandeng satu lengan Dea dan Badai sigap memegang gaun Dea yang menjuntai ke lantai agar tak terinjak dan membuatnya terjatuh.
Benar saja, mata Azka tidak bisa berkedip saat menyaksikan Dea masuk ke ballroom dan berjalan menghampirinya. Ini adalah pemandangan Dea versi tercantik yang pernah dilihatnya.
__ADS_1
Senyum manis tak pernah padam dari wajahnya, lesung pilitnya semakin menegaskan pesonanya sebagai ratu semalam di malam ini. Bukan hanya Azka yang terkesima, semua mata tamu undangan melirik penuh kekaguman pada sosok perempuan yang berhasil dengan mudah bersanding dengan seorang Arazka Alifaturrizky Argantara.
Azka dan Dea berhasil mematahkan beberapa hati malam ini.
Mata Aufar terasa memanas, cinta masa kecilnya yang tersimpan rapi di hatinya sudah dimiliki laki-laki lain yang tak lain adalah saudaranya sendiri. Aufar memang terlalu pandai menyembunyikan perasaannya, bahkan ia tidak pernah menunjukkan perasaannya itu meskipun kepada angin sekalipun.
Aufar berdiri menyambut kedatangan Dea, ini memang tidak ada di dalam catatan protokol acara malam ini, namun Aufar ingin mendampingi satu-satunya perempuan yang tinggal di hatinya itu untuk terakhir kalinya menyambut masa depannya.
"Selamat, kakak ipar!" Ucapnya berbisik saat berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Dea.
"Thanks, adik ipar." Dea membalasnya dengan penuh ketulusan.
"Lapor komandan, mempelai perempuan tiba dengan selamat. Laporan selesai!" Ucap Aufar pada Azka saat Dea sudah tiba di hadapan Azka.
Azka hanya mengangguk tanda mengerti, tatapannya tetap tertuju pada Dea, tidak bisa lagi berpaling. Ia mengulurkan tangan kanannya kemudian disambut oleh Dea. Azka menarik Dea ke dalam dekapannya beberapa saat, setelah mengurainya, satu kecupan manis ia layangkan di kening Dea yang tingginya setelinga Azka malam ini karena menggunakan sepatu hak tinggi.
Dea cukup terkejut dengan aksi Azka tadi, namun ia berhasil menguasai dirinya yang seketika dilanda rasa gugup. Harusnya ia sudah terbiasa dengan sikap romantis Azka padanya di hadapan keluarganya. Hanya saja Dea masih merasa aneh saja mengingat dua hari ini tak ada komunikasi diantara mereka.
Dea menatap pada sepasang mata yang menyala itu, seulas senyum mengembang membentuk garis bibir di wajah Azka. Dea mengikut saja saat Azka membawanya ikut duduk di kursi yang sudah disiapkan untuk mereka berdua.
Sementara, di sudut ruang ballroom mewah tersebut, ada sepasang mata yang menatap nanar melihat pemandangan di atas sana. Dialah Abimanaf, ternyata masih terlalu sakit kenyataan yang menekan dadanya. Ia hanya tak menyangka, mengapa Dea tidak pernah membalas pesannya, padahal jelas terlihat centang biru, mengapa tidak mengatakan yang sebenarnya jika dia telah bersama dengan Azka? Ia merasa seperti laki-laki bodoh yang mengharapkan milik orang lain.
Satu lagi pemandangan yang membuat para tamu memfokuskan pandangannya ke satu titik saat Chyntia datang. Siapa yang tidak tau gosip-gosip yang beredar di televisi lokal tentang kedekatan Azka dengan artis yang sedang naik daun tersebut.
"Jangan senang dulu, suatu saat Azka akan membuangmu sama seperti dia membuangku!" Ucap Chyntia dan menatap penuh kebencian kepada Dea.
"Stop it, Chyn! Dea tidak ada hubungannya dengan kamu." Azka melirik pada Aldo dan dengan gerakan sigap Aldo segera membawa Chyntia keluar meninggalkan ruangan tersebut.
Dea hanya bisa tertunduk memandangi ujung kakinya yang ditutupi sepatu yang senada dengan warna gaunnya saat ini. Genggaman erat tangan Azka pada tangannya menyadarkannya agar kembali fokus dan tersenyum menyambut para undangan yang memberi selamat dan doa kebahagiaan untuk mereka.
Setelah menyapa semua tamu-tamu yang seperti tiada berhenti datangnya, Dea benar-benar merasa kelelahan, terutama di bagian tumit dan betisnya. Azka yang menyadari kegelisahan Dea segera memberi kode kepada bundanya agar segera mendekat.
"Bunda, ini sudah cukup larut, bunda dan Dea istirahat saja duluan, nanti aku nyusul, masih ada beberapa kolega yang belum aku sapa."
Bunda Aya membenarkan ucapan Azka, ia pun jiga merasa sudah cukup lelah, apalagi mengingat kondisi kesehatannya baru saja pulih.
"Iya, ayo sayang, kamu pasti udah capek bukan?" Ajak bunda Aya pada Dea.
Dea hanya tersenyum dan segera mengikuti ibu mertuanya itu menuju kamar yang sudah disiapkan untuk mereka berdua.
Tidak tanggung-tanggung, ternyata kamar yang disiapkan adalah jenis presidential room. Ah, Dea baru sadar, bukankah hotel ini adalah milik bunda Aya?
Bunda Aya membantu Dea membuka gaunnya dan segala pernak pernik yang menghiasi jilbabnya. Setelah itu bunda Aya membersihkan make up di wajah Dea.
"Bunda istirahat aja, Dea bisa bersihin ini sendiri kok, bunda!" Tolak Dea lembut.
__ADS_1
"Gak, bunda ingin melakukan ini, kamu itu anak sekaligus menantu bunda, jangan larang bunda melakukan semua ini untuk putri kesayangan bunda."
"Jadi Caca ini gak disayang lagi gitu?" Celetuk Caca yang tiba-tiba masuk kamar membawa dua buah koper keperluan Dea dan Azka.
Bunda Aya dan Dea hanya melempar senyum pada Caca.
"Caca cemburu sama kak Dea, udah ambil cintanya abang Azka, sekarang ambil kasih sayang bunda juga." Imbuhnya cemberut kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.
"Jangan cemberut, nanti cantiknya luntur!" Ujar bunda namun tangannya masih sibuk menghapus make up Dea.
"Kalian baik-baik yah, terus rukun, saling menyayangi dan saling percaya apapun yang terjadi nanti." Ucap bunda Aya kepada Dea.
Mata mereka saling bersitatap lewat cermin.
"Selama apapun kalian hidup berumah tangga, pasti akan selalu ada sisi kebaruan, selalu ada sisi misteri, selalu ada sisi ketidaktahuan kita kepada pasangan, karenanya, layani suami kamu dengan kehangatanmu. Manjakan dengan kelincahan dan kecerdasanmu. Bantulah dia dengan kesabaran dan doamu. Bangkitkan dengan keceriaan dan kelembutanmu dan tutuplah segala aibnya dengan keindahan akhlakmu. Jika ada masalah, komunikasikan dengan baik, jangan pernah mengedepankan emosi sesaat karena itu hanya akan merugikan kalian berdua. Bunda doakan, semoga kalian segera dikarunia banyak keturunan sholeh sholeha, sehingga menjadi perekat dan pengikat hati kalian."
"Aamiin..." ucap Caca keras.
Sementara Dea sudah berlinangan air mata. Saat seperti ini, ia sangat merindukan mama dan papanya, entah petua apa yang mereka berikan andai mereka berdua masih ada di sini.
"Sudah, jangan menangis!" Ucap bunda menenangkan.
"Sekarang kamu bersihkan diri dulu, bunda dan Caca juga mau istirahat."
"Selamat malam pertama untuk kesekian kalinya kakak ipar." Goda Caca yang membuat wajah Dea memerah sekali lagi.
"Ha ha ha.. wajah kak Dea memerah.. ih.. baper!" Caca terbahak melihat Dea yang salah tingkah.
"Udah..udah.. jangan digodain terus." Ucap bunda menahan Caca. "Kami pergi dulu yah, istirahat yang cukup."
"Iya bunda, terima kasih. Dea sayang bunda." Sesaat mereka berpelukan penuh haru.
"Bunda belum istirahat?"
Deg!!!
Seketika mata Dea melotot, tubuhnya menegang mendengar suara yang sudah dihapalnya itu.
Kondisinya saat ini hanya memakai tanktop dan celana pendek ketat di atas lututnya.
Ingin rasanya ia segera berlari, namun fikiran warasnya menahannya. Di sini masih ada Caca dan bunda Aya bersama mereka. Ini betul-betul situasi yang tidak menguntungkan bagi Dea, namun tentu berbeda halnya untuk Azka.
Rezeki dadakan!!!
×××××
__ADS_1