Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Rencana


__ADS_3

Bab 30 Rencana


Sebulan berlalu, kesehatan bunda Aya terus membaik bahkan sudah bisa berjalan tanpa bantuan kursi roda. Sayangnya hubungan Azka dan Dea masih berjalan di tempat. Mereka terlalu disibukkan dengan urusan pekerjaan, bahkan jika dihitung-hitung, dalam sebulan ini, jika ditotalkan, Azka hanya seminggu menginap di rumah. Ia terlalu disibukkan dengan kunjungan kerja ke beberapa kota dan negara tetangga.


Namun bunda Aya sudah memberi ultimatum pada Azka agar segera memyelesaikan urusannya karena resepsi pernikahan mereka akan segera digelar seminggu lagi.


Hati Dea semakin galau, ia terus dilanda kebimbangan. Ia masih sangat ingat akan janjinya pada Azka dulu bahwa ia akan menghilang dalam hidup Azka saat bunda sudah membaik. Tapi yang ada kini resepsi pernikahannya sudah di depan mata, ribuan undangan telah disebar. Tidak mungkin bukan ia kabur di hari pernikahannya? Itu sama saja membunuh bunda Aya dengan cara kejam. Tapi bagaimana dengan Azka?


Dea bingung, ingin bicara dengan Azka juga susah, mereka sulit ketemu waktu karena Dea pun tak kalah sibuknya di kantor, banyak pekerjaan Azka yang dilimpahkan padanya.


Otak Dea rasanya ingin meledak, ini terlalu menakutkan baginya. Tak tahan memendam kegelisahannya, Dea akhirnya menumpahkannya kepada Rara. Meminta izin pada Deon untuk meminjam istrinya beberapa jam untuk ia bawa ke apartemennya.


"Kenapa kamu gak pernah bilang kalo pernikahan kalian ini hanya pernikahan sementara? Trus sekarang bagaimana?" Tanya Rara memendam rasa kesalnya setelah mendengar semua pengakuan Dea. Ia ingin marah namun ia sadar bahwa Dea sekarang butuh tempat untuk mengadukan masalahnya bukan butuh ceramah.


"Entahlah, Ra. Aku juga bingung."


"Terus, perasaan kamu sendiri ke pak Azka bagaimana? Sudah ada rasa atau malah mati rasa?"


"Aku juga gak tau, Ra. Aku terlalu takut menyimpan sedikit perasaan padanya. Itu terlalu beresiko untuk kesehatan hatiku. Tapi saat bersamanya, meskipun ia datar-datar saja, minim ekspresi tapi aku selalu merasa nyaman dan tenang saat melihatnya. Aku selalu merasa hampa saat dia tidak di rumah. Apalagi saat ia tersenyum, rasanya waktu seperti berhenti, senyumnya selalu menghipnotis. Aku senang tapi di saat yang sama aku takut, karena pada akhirnya aku tau aku harus pergi. Lalu di bagian mananya aku boleh memiliki perasaan padanya, Ra?" Tak terasa air mataku menetes, terasa panas di pipi.


Rara mendesah, ia sangat kasihan melihat sahabatnya itu.


"Apa pak Azka pernah menyentuh kamu? Maksud aku, apa kalian sudah melakukan 'itu'? Tanya Rara lagi sambil menggoyangkan dua jarinya yang dimaksud tanda petik.


Dea menggeleng. Sementara Rara menatap Dea tidak percaya.


"Ini pak Azka yang tidak normal atau kamu yang tidak menarik? Sorry, maksud aku.. kalian tidur sekamar bukan?"


Dea memgangguk.


"Tidur seranjang?"


Kembali Dea mengangguk.

__ADS_1


"Terus dia tidak pernah menyentuh kamu?"


Dea mengangguk ragu.


"Fixed! Berarti pak Azka memang tidak normal. Aku aja cewek ngiler banget lihat tubuh seksimu itu, De!"


"Lepas jilbab di hadapan dia aja gak pernah, mana bisa dia lihat tubuhku, Ra?"


"Yang namanya laki-laki, De.. kamu mau pake pakaian setertutup apapun, kalo otaknya lagi korslet, tetap saja dia akan melihat kamu dengan tatapan menelanjangi. Tapi masak sih dia sama sekali gak pernah sentuh kamu? Minimal cium kamu lah?"


Dea bengong mendengar Rara yang terus menyerocos. Ia mengingat beberapa kali dirinya mendapati kissmark di tubuhnya. Awalnya Dea fikir hanya digigit serangga, tapi anehnya, tanda itu hanya akan ada jika Azka di rumah, jika Azka tidak di rumah, tanda itu akan segera menghilang tanpa ada tanda baru lagi.


Suatu malam, Dea merasa ada yang menggerayangi tubuhnya, ia seperti bermimpi sedang dicumbu mesra oleh Azka. Dea terbuai, merasakan sensasi nikmat tiada tara yang baru pertama kali dirasakannya. Dea terkesiap saat dirinya menyadari bahwa ini bukan mimpi, ini nyata.


Azka masih terus melanjutkan aksinya tanpa ragu, mencecapi rasa manis tubuh istrinya yang sudah seperti candu baginya. Dari lima kancing piyama Dea, sekarang hanya tertinggal satu di bagian paling bawah yang tidak dibukanya.


Otak Dea seperti buntu, tubuhnya menyukai sentuhan-sentuhan memabukkan yang diberikan oleh Azka. Seharusnya ia tidak membiarkan ini terjadi, namun ia juga penasaran ingin tau pada rasa baru yang membuat perutnya seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan di sana, membuat tubuhnya terasa panas dingin, berdebar-debar tidak karuan dan ia juga ingin tau sampai dimana Azka akan menyentuhnya.


Pelukan yang hangat dan menenangkan lebih dari pelukan ayahnya selama ini, tidak terasa air mata Dea mengucur deras. Andai boleh berharap, ia sungguh tidak ingin kehilangan kehangatan ini, rasanya ia ingin memilikinya di sepanjang usianya.


Azka semakin mempererat pelukannya. Ia tau Dea terbangun dari tadi dan membiarkannya mengambil sebagian dari sari patinya. Azka merasa bersalah karena telah mencuri sesuatu yang sangat berharga dari Dea.


"Maaf!" Hanya itu yang bisa diucapkan Azka.


Sementara hati Dea merasa semakin teriris. Azka meminta maaf, berarti menyentuhnya adalah sebuah kesalahan menurut Azka, fikir Dea.


"De..Dea Ali!!! Bengong aja? Ngelamunin apa sih?"


"Ha.. aku.. enggak kok, gak ngelamunin apa-apa." Ucap Dea gelagapan.


"Jawab dulu pertanyaan gue tadi, pak Azka pernah gak modus-modus gitu buat cium atau sentuh-sentuh kamu?" Rara masih penasaran, masak nikah sudah lebih sebulan, tidur seranjang tapi gak pernah kissing-kissing sekalipun.


"Sebenarnya kalau cium, udah beberapa kali yang aku tau--"

__ADS_1


"Maksudnya?" Potong Rara.


"Bang Azka suka cium aku, katanya itu hukuman, banyak alasan pokoknya biar dia bisa menghukum aku, terus aku sering mendapati kissmark di beberapa bagian tubuhku. Aku fikir digigit serangga, tapi beberapa malam yang lalu aku mendapatinya di atas tubuhku dan melakukan banyak hal di sana."


"Rasanya bagaimana?"


Pletak! Satu bantal melayang ke wajah Rara.


"Panas dingin gak? Ngaku.. ayo ngaku!" Rara tertawa terbahak. Sementara wajah Dea sudah merah padam karena merasa malu membicarakan hal-hal yang masih dianggapnya tabu seperti ini.


"Dea..Dea.. kamu itu polos banget sih. Itu artinya pak Azka itu tergila-gila sama kamu, paling minimal sama tubuh kamu. Tapi kalau menurut aku sih ya, pak Azka itu aslinya suka sama kamu, menginginkan kamu, tapi mungkin masih ada yang mengganjal, entah itu dari dianya atau dari kamunya. Dia bisa saja mengambil paksa haknya meskipun kamu menolak, tapi dia tidak melakukannya, saat hasratnya memuncak melihat kamu, ia masih bisa menahannya, paling hanya memilih mencuri-curi cium kamu, itu mah kuat banget pertahanannya sebagai laki-laki. Ibarat kata, kucing dibiarin semeja sama ikan asin, ya diembatlah. Mana tahan???" Cerocos Rara memberi penilaian.


"Tapi aku ragu, Ra. Bang Azka tidak pernah menunjukkan sikap romantis saat kami hanya berdua, ia sih kalo di depan ayah sama bunda tapi itu dilakukannya karena tidak ingin ayah dan bunda tau tentang yang sebenarnya." Dea menghela nafas panjang, memandangi cahaya lampu di atas langit-langit kamarnya.


"Kamu macam gak kenal aja sama dia, kan orangnya gengsinya tinggi. Susah buat dia menunjukkan perasaannya. Makanya kamu inisiatif dikit dong, jangan pake jubah mulu di depannya, pake lingeri kek sekali-kali. Dijamin dia bakal membuang semua gengsinya dan bertekuk lutut sama kamu."


"Memangnya aku perempuan apaan?" Dea cemberut memikirkan ide gila Rara.


"Itu suami kamu, De. Lihat kamu polosan gak bakal menurunkan harga dirimu, malah berpahala." Seringai nakal mengembang di wajah Rara.


"No..no..no.. pantang bagi gue agresif sama laki-laki even itu adalah suami gue sendiri."


"Ya sudah.. gitu-gitu aja terus sampai tua dan kalian masih sama-sama perawan dan perjaka," Lagi tawa Rara meledak sementara Dea semakin cemberut.


"Aku tanya kamu sekarang, kamu siap jadi janda perawan? Apa kamu ingin menikah lagi setelah bercerai dari pak Azka, aku hanya takut setelah ini kamu trauma dengan pernikahan. Apa kamu tidak ingin memiliki anak? Urusan suatu saat nanti kalian akan bercerai, tinggalkan saja dulu rencana itu, karena kita tidak pernah tau dengan rencana Allah. Banyak yang saling mencintai saat sebelum menikah, tak pernah sekalipun terlintas di benak mereka untuk berpisah, namun takdir berkata lain, pada akhirnya mereka bercerai. Ada juga yang menikah pada awalnya tidak saling mencintai bahkan mungkin saling membenci, tapi pada akhirnya mereka hidup bahagia. Lagian yang namanya berpisah, kalau bukan berpisah karena bercerai, ya berpisah karena ajal, entah siapa yang meninggalkan dan ditinggalkan terlebih dahulu, tapi begitulah polanya, sunnatullah!"


Rara menarik tubuh Dea agar ikut duduk bersila sepertinya di atas tempat tidur, kemudian memegang erat satu tangan Dea dan menatapnya penuh sayang.


"Biarkan masa depan itu hingga dia datang sendiri, dan jangan terlalu berkepentingan dengan hari esok. Karena jika kita melakukan yang terbaik dihari ini maka hari esok juga akan menjadi lebih baik. Sekali-kali lepaskan dirimu dari bayang-bayang profesimu sebagai seorang Planner. Ini hidup kamu, bukan kapal yang bisa kamu atur-atur sedemikian rupa agar berjalan sesuai rencana kamu sebagaimana yang tertulis di dalam software Primavera itu. Kita ini makhluk hidup yang selalu mengalami pertumbuhan, perkembangan dan perubahan setiap hari, kondisinya kita tidak pernah sama, jadi akan banyak hal-hal yang diluar kendali kita. Tanyakan kepada hatimu, apa yang diinginkannya. Jika kamu menginginkan pak Azka sebagai satu-satunya laki-laki yang menyentuh hatimu dan tubuhmu, maka kejar dia. Dia suami kamu, De. Kamu berhak mendapatkan jiwa raganya bahkan cintanya secara penuh!"


Dea memeluk Rara penuh haru, nasehat-nasehat menenangkan seperti inilah yang paling dibutuhkannya saat ini. Bukan menggurui, bukan menghakimi, bukan pula memanas-manasi, tapi memberi ketenangan berfikir, mengembalikan semuanya pada hati dan Sang penggenggam hati itu sendiri.


×××××

__ADS_1


__ADS_2