Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Aku Pergi


__ADS_3

Bab 49 Aku Pergi


Aku terbangun saat sayup-sayup suara adzan memecah sepinya malam yang tertidur mengistirahatkan diri. Tanganku meraba-raba sisi tempat tidur di sampingku. Aku menutup mata, memgetatkan kedua alisku, kemudian menghela nafas kasar, tak ada bang Azka!


Berarti sudah sehari semalam dia pergi tanpa kabar kepadaku. Aku tersenyum kecut, merasa miris sendiri melihat keadaanku kini. Aku menarik selimut yang menutupi tubuhku kemudian berjalan ke kamar mandi, berkali-kali kucapkan pada diriku bahwa semuanya baik-baik saja, apapun yang terjadi aku harus tetap baik-baik saja.


Aku tidak boleh egois dengan terpuruk terlalu dalam, anakku membutuhkan aku yang dalam versi bahagia, bukan yang dilingkupi kesedihan.


Meskipun keraguanku semakin membesar, namun aku berusaha melalui pagi ini seperti biasanya dan tetap berprasangka baik, bang Azka pasti segera pulang.


Aku menyiapkan pakaian kantornya, dilanjutkan membuat sarapan setelah itu aku membersihkan diri.


Aku memeriksa ponselku yang sejak semalam tak kusentuh, mungkin ada kabar dari bang Azka. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tak kukenali. Saat kubuka, ponselku terjatuh begitu saja karena begitu shock melihat foto yang muncul. Rasanya, kakiku sudah tidak kuat menumpu berat badanku, aku meluruh ke lantai. Sedikit kesadaran membuatku berfikir, aku mungkin hanya salah lihat, kuraih kembali ponselku yang layarnya masih menyala.


Tidak! Semua ini benar.


"Bagaimana rasanya kehilangan dia untuk wanita lain?"


Mbak Chyntia.. di dalam foto itu terlihat bang Azka tertidur dan Chyntia mengambil potret mereka dengan mendekatkan wajahnya dan senyum kemenangan.


Pantas saja bang Azka tidak pulang dan mengabaikanku.


Aku menghapus air mataku, mengumpulkan semua kekuatanku untuk menata hati dan fikiranku. Setelah tenang, aku berjalan ke walk in closet dan mengambil beberapa barang-barang yang dulu aku bawa ke kamar ini setelah sah menjadi istri bang Azka.


Aku mengambil ponselku, menuliskan hal terakhir yang sudah sangat lama ingin kusampaikan padanya.


Dear bang Azka.


Sometimes, it's hard to find words to tell you how much you mean to me. If i did anything right in my life, it was when i gave my heart to you.


Sorry, but thanks for everything!


Never forget that I LOVE YOU!!!


Sekali lagi, maaf! Maafkan atas kelancanganku telah mencintaimu. Tapi kamu tenang saja, kamu tidak punya kewajiban untuk balik mencintaiku. Bukankah cinta tak harus saling memiliki, right?

__ADS_1


Sampaikan maafku dan terima kasihku pada bunda, ayah, oma, Caca dan bang Aufar.


Aku pergi!


Kubaca beberapa kali kalimat tersebut kemudian kutekan tombol enter, send! Tak lupa kukirimkan foto yang dikirim mbak Chyntia tadi kemudian kuberi caption; Selamat merayakan cinta!


Saat hendak melangkah keluar dari kamar, mataku menangkap amplop putih yang diberi dokter Vita saat diriku memeriksa kandunganku di tempat prakteknya. Hatiku gamang, apa bang Azka perlu tau kehamilanku atau tidak, tapi ia berhak tau bahwa ada janin yang sedang berkembang di dalam rahimku, dan itu adalah anaknya. Tapi bagaimana jika dia tidak mengakuinya? Bukankah dalam pandangannya aku ini istri peselingkuh dan murahan?


Kuputuskan tetap meninggalkan amplop tersebut di atas nakas. Urusan apakah bang Azka mau mengakui anak yang kukandung agau tidak, aku tidak peduli lagi, toh tak ada pengaruhnya bagiku, ia akan hidup dengan wanitanya dan aku akan hidup dengan anakku.


Ini salahku yang tidak memegang kata-kataku diawal pernikahan, aku terlalu terlena dan terbuai dengan apa yang diberikan bang Azka, membuatku melupakan janji yang telah kuikrarkan di hadapannya untuk pergi jauh dari kehidupannya setelah kondisi bunda membaik. Namun aku terlalu serakah ingin memiliki bang Azka di sepanjang usiaku dan bermimpi sehidup sesurga dengannya.


Kuhapus air mataku, kutegarkan hatiku, kumantapkan langkahku keluar dari rumah ini.


Inilah waktunya. Aku pergi!


*****


Tidur Azka terganggu saat mendengar suara notifikasi beberapa pesan yang masuk ke dalam aplikasi pesan dari ponselnya. Ia masih sangat lemas, sehabis sholat subuh tadi, kembali ia muntah-muntah hebat, membuatnya harus beristirahat lagi sejenak di ruang inap Chyntia. Padahal niatnya ingin segera pulang menemui Dea pagi ini. Semalam Azka gagal pulang dikarenakan Chyntia yang mengamuk-ngamuk tak ingin ditinggalkan, bahkan ia nekat ingin mengakhiri nyawanya.


Namu seketika air mukanya berubah membaca pesan ketiga dan seterusnya, apalagi saat melihat foto yang Dea kirim. Tangannya mencengkram kuat ponselnya kemudian matanya nyalang menatap Chyntia yang tersenyum manis di hadapannya.


****!!!


Kurang ajar!


Azka langsung bangkit mencengkram kerah baju Chyntia mendorongnya keras sampai berhenti di dinding tembok Rumah Sakit!


"Gue udah bersikap baik sama elo, dan ini balasan lo sama gue?" Azka mengetatkan rahangnya menekan kemarahannya. "Jika sesuatu terjadi pada Dea, gue gak bakal pernah maafin lo. Ingat itu!!!" Azka menghempaskan tubuh Chyntia dengan kasar kemudian berlari pergi, berharap ia masih menemukan Dea di rumah.


"Azka!!!" Teriak Chyntia. "Azka, jangan pergiiiii!!!" Chyntia mengamuk di dalam ruangannya namun Azka sudah tidak peduli lagi.


Apapun akan dilakukannya untuk membuat Dea bertahan di sisinya, meski harus bersujud di kakinya, Azka akan lakukan, ia sudah meninggalkan semua harga dirinya, ia akan menjadi pengemis di hadapan Dea asal Dea mau memaafkannya dan tidak meninggalkannya.


Azka mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, beberapa kali ia diteriaki oleh pengguna jalan lainnya karena aksi Azka cukup membahayakan bagi dirinya maupun yang lain.

__ADS_1


Azka berlari masuk rumah, memanggil-manggil nama Dea. Tiba di kamarnya, ia tidak menemukan Dea. Ia seperti orang kesetanan, mencari Dea ke segala penjuru rumah hingga satpam di rumahnya menghampirinya.


"Den Azka nyari non Dea?" Tanyanya polos.


"Iya pak, bapak tau kemana dia?" Tanya Azka.


"Sekitar sejam yang lalu, Non Dea buru-buru pergi, bapak tawari diantar sopir tapi ditolak, katanya naik taksi aja."


Tanpa menanggapi ucapan satpam tadi, ia kembali berlari ke kamarnya, ia memeriksa barang-barang Dea.


"No.. no..no.." Azka menjatuhkan tubuhnya ke lantai kemudian menjambak rambutnya frustasi.


"Jangan tinggalin aku, Dea!" Lirihnya pilu.


"Jangan tinggalin aku, aku belum sempat meminta maaf padamu, aku belum sempat mengungkapkan cintaku kepadamu."


"Deaaaaaaaaaaaaa!" Teriaknya frustasi.


Ia bangkit berjalan keluar dari walk in closet, saat hendak menutup pintu kamarnya, matanya menangkap beberapa barang di atas nakas. Ia berjalan mendekati nakas.


Itu adalah dompetnya dan ponsel Dea dan sebuah amplop yang bertuliskan nama tempat praktek seorang dokter kandungan.


Tangan Azka bergetar membuka isi amplop tersebut. Dua buah foto hasil USG di sana dan sebuah testpack bergaris dua. Azka bukan orang bodoh yang tidak mengerti dengan dua benda tersebut.


Tangis Azka akhirnya pecah!


Menyesal!!!


"The beginning of anger is madness and the end of it is regret.”


×××××


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


So, harapan para readers terpenuhi, Dea pergi dan Azka menyesal😆

__ADS_1


__ADS_2