Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Live, Half Alive


__ADS_3

Bab 57 Live, Half Alive


Brakkkk!


Sebuah ponsel terjatuh begitu saja dengan suara yang membuat hati si pemiliknya pasti perih melihatnya!


Dea begitu kaget demi melihat sebuah ponsel mahal dengan layar retak sempurna tergeletak di ujung kakinya. Dea menunduk memungutnya, mengusapnya berkali-kali berharap ponselnya baik-baik saja. Tentu itu hanya fikiran bodohnya saja, karena melihat penampakan ponsel yang ada di genggamannya saat ini, itu sudah sangat memprihatinkan.


"Sorry.. sorry, sorr--!" Mata Dea membulat ketika ia mendongak sedikit melihat wajah si pemilik ponsel. "Ba,,,Bang Azka!" Ucapnya pelan kemudian menutup mata keras-keras dan menggeleng-gelengkan kepala. Berfikir, mungkin ia terlalu merindukannya sampai melihat wajahnya ada di depan matanya saat ini.


"Bang Azka..." ucapnya lagi meyakinkan diri.


"Iya, kenapa? Kaget?" Tanyanya tersenyum miring.


Dengan gerakan cepat Dea menuju pintu unitnya yang jaraknya tinggal beberapa langkah di depan, karena panik Dea kesulitan menekan kode password-nya.


"Butuh bantuan?" Tanya Azka berdiri di sampingnya.


Dea mengabaikannya dan akhirnya berhasil membuka pintu. Ia langsung menutupnya cepat namun kaki Azka sudah menahannya duluan di bawah. Lalu dengan mudahnya ia ikut masuk kemudian menutup pintu.


Ia melempar topi yang menutupi kepala botaknya pasca umroh, kemudian tanpa aba-aba ia langsung memeluk Dea dengan erat, saking eratnya hingga kakinya sedikit melayang.


"Kenapa lama sekali? Kenapa kamu tinggalin aku? Aku sudah mencarimu kemana-mana tapi sekedar jejakmu pun tidak bisa kutemukan." Ucap Azka bertubi-tubi masih terus memeluk Dea.


Dea seperti kehabisan nafas, masih terlalu shock dengan pertemuan tak terduga ini. Azka melerai pelukannya memandangi wajah Dea penuh kerinduan dan rasa bersalah. Tubuhnya meluruh berlutut, memeluk kedua paha Dea kemudian menghujani perutnya dengan kecupan.


"Maafin daddy sayang! Maafin daddy!"


Melihat Dea tak ada respon sama sekali, Azka berdiri kemudian mengambil kedua tangan Dea ke dalam genggamannya.


"Maafin abang," ucapnya tulus memohon.


Mata Dea berkaca-kaca, beberapa bulir air mata sudah berjatuhan di pipinya. Sungguh, ia belum siap bertemu dengan Azka saat ini, namun rasa rindunya lebih kuat dibandingkan rasa sakit yang pernah dirasakannya.


Dea menghambur ke dalam pelukan Azka, menumpahkan semua kerinduannya, lukanya, sakitnya dan cintanya.


"Abang jahat!" Ucapnya dibalik sesegukannya.

__ADS_1


"Iya, abang memang jahat!" Azka tidak ingin membela diri. Kenyataannya memang dia tak termaafkan, mungkin!


"Abang jelek!" Ucapnya lagi.


"Iya, abang orang paling jelek sedunia." Ia sadar, tampangnya memang sedikit berantakan dengan cambang dan kumis mulai nampak menghitam tipis di wajahnya.


"Abang bau!"


"Iya, ab--!" Menyadari ucapan Dea, Azka langsung melepas pelukan Dea kemudian mencium lengan kanan dan lengan kirinya bergantian.


"Gak bau kok, sayang!" Ucapnya serius. "Ini wangi kok, tadi udah mandi sebelum sholat jum'at!"


Deg!


Seketika jantung Dea memompa cepat, membuat darahnya berdesir ke segala penjuru tubuhnya. Wajahnya memerah merona malu, mendengar kata 'sayang' dari bibir Azka kepadanya. Dea memalingkan wajahnya, tak ingin bersitatap dengan Azka.


Azka menangkup dagu Dea, membelainya lembut kemudian menariknya lembut agar ia bisa melihat wajah istrinya dengan sempurna. Dea mengikuti, hanya saja ia memilih menundukkan pandangannya.


"Sayang, daddy minta maaf. Mommy mau kan maafin daddy?" Sekali lagi Azka meminta maaf dengan nada dibuat semanja mungkin membuat Dea merasa geli sendiri mendengarnya.


Melihat muka sangar Azka dengan kepala plontos dan bulu-bulu yang tumbuh di wajahnya, berikut dengan postur tubuh kekarnya, rasanya gak pantes banget denger dia ngomong manja seperti ini. Itu menggelikan.


"Mau kemana? Abang dimaafin gak?" Azka mengekori Dea ke kamarnya.


"Mau sholat!" Ucap Dea cuek.


Dea masuk ke kamar mandi memgambil air wudhu, sementara Azka memilih berbaring di atas kasur empuk Dea, ukurannya tidak sebesar kasur mereka di rumah, tapi ini cukuplah untuk memuat tubuh mereka berdua. Azka tersenyum sendiri, ia begitu bahagia bisa dipertemukan dengan Dea dengan cara seperti ini. Tak terduga!


"Sayang, pinjam ponsel dong, abang mau ngabarin teman abang yang tinggal di unit sebelah kamu ini. Jangan sampai dia fikir ada yang nyulik abang pula nantinya." Pintanya saat Dea keluar dari kamar mandi.


"Tampang preman pasar minggu begitu mana ada yang minat nyulik, adanya penculiknya keder duluan!" Ucap Dea sambil memakai mukenahnya kemudian menarik bantal yang di pakai Azka di kepalanya. "Ini.." ucapnya menunjukkan ponsel yang ia ambil di bawah bantal kemudian mulai sholat.


Azka mengutak-atik ponsel Dea setelah mengirim pesan ke Kak Limpo. Sebenarnya ia penasaran, bagaimana bisa Dea bisa sampai di Dubai sementara ia sudah mengecek daftar nama penumpang ke semua bandara dan pelabuhan di Indonesia, namun tidak menemukan namanya di sana. Tapi, rasanya ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan itu, yang terpenting saat ini adalah mendapatkan maaf dari Dea.


"Udah selesai?" Tanya Dea mengagetkan Azka yang ketahuan memainkan ponsel Dea.


Azka hanya bisa nyengir kuda.

__ADS_1


Sejenak mereka terperangkap dalam kesunyian. Dea memilih duduk di kursi depan meja rias, memberi jarak diantara mereka.


Azka kini duduk di tepi tempat tidur, memandang Dea yang sepertinya sangat sibuk bermain ponsel, mengabaikannya. Azka mati gaya, bingung harus ngomong apa, takut salah bicara. Dengar-dengar, perempuan hamil itu perasaannya sangat sensitif, moody gitu. Ia takut salah ucap, terus ia diusir keluar dari sini. Tapi kalau terus diam-diaman begini, Azka juga tidak tahan.


Azka bergerak mendekati Dea kemudian menekuk kedua lututnya lalu meletakkan sisi kiri kepalanya di atas pangkuan Dea, menghadap perutnya. Satu tangannya ia lingkarkan di pinggang Dea.


"Maaf!" Ucapnya lirih.


Dea tidak tahu harus bagaimana merespon permintaan maaf Azka kepadanya. Ia sudah memaafkan Azka jauh sebelum ia memintanya, ia tidak bisa benar-benar membenci Azka meski kata-kata yang ia rapalkan setiap hari adalah tentang kebenciannya kepada Azka. Justru hatinya terlampau lebih sakit saat membenci.


Namun, ada kebimbangan dan ketakutan yang bergelayut di hatinya. Apakah Azka sudah mencintainya sebagaimana ia mencintai Azka? Apakah Azka tidak akan pernah lagi menyakitinya seperti ini? Karena jika itu terjadi, Dea mungkin sudah tidak sanggup lagi menanggungnya, dan bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?


Tubuh Azka terguncang di pangkuan Dea, ia sudah tidak mampu menahan perasaannya. Ia takut, takut tidak bisa mendapatkan maaf dari perempuan yang dicintainya ini.


"Maaf! Maafin abang!" Azka mengangkat wajahnya yang sudah memerah dan basah.


"Abang sayang sama kamu, Dea! Abang cinta sama kamu, sangat cinta, dari dulu, dari dulu sekali, maafin abang! Jangan tolak cinta abang, abang tidak bisa jika kamu tidak ada. Kamu sudah buat abang hidup setengah mati  setelah pergi, abang tidak mau kehilangan kamu lagi, ab--"


Bibir Dea membungkam bibir Azka cepat. Ia sudah merasa sempurna hanya dengan mendengar ucapan Azka barusan.


Tak ada lagi keraguan, tak ada ketakutan, yang ada hanya perasaan menggebu-gebu menyambut cinta dari lelaki yang mencintainya dan dicintainya.


×××××


\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=


Fiuuuhhhh..


Author nyesek tulis bab ini. Istirahat dulu yah. Author kebawa perasaan🤣🤣🤣


Ini judul bab-nya ambil dari potongan lirik lagu Christina Perri, jar of heart. Maka sempurnalah bapernya author😁


Eh, masih mau dilanjut apa dibuat tamat aja yah?😁


Lanjut aja yah.. hehehe


Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.

__ADS_1


Thanks, 😘


__ADS_2