
Bab 39 Konspirasi
Rara datang tepat saat Azka meninggalkan ruangan. Mata Dea menatapnya tajam sementara dia bersikap biasa-biasa saja, mungkin dia sudah amnesia dengan kelakuannya malam itu yang menjadi awal dari petualangan liarnya bersama Azka, suaminya.
"Siang bu boss! Itu muka serem amat, gak dapat jatah yah tadi pagi?" Tanya Rara meledek.
Sebuah bola baseball melayang ke Rara namun dengan gerakan tangkas mampu ditangkapnya dengan baik. Dea memang punya kebiasaan menyimpan beberapa bola baseball yang akan dipantul-pantulkannya entah itu ke lantai atau dinding saat dia sedang mumet. Rara sudah terbiasa dengan itu karena sejak kuliah ia sudah sering mendapat serangan tiba-tiba dan akhirnya ia pun mulai hebat menangkap bola.
"Jatah aja yang ada di otak lo. Aku masih benar-benar marah sama kamu!" Ucap Dea mendekatinya ke sofa.
"Kamu marah?"
"Selamat karena rencanamu berhasil!" Dea melipat kedua tangannya di dada sambil memyandarkan tubuhnya ke bahu sofa.
"Alhamdulillah, ini kabar yang luar biasa membahagiakan. Akhirnya kalian sempurna saling memiliki. Harusnya kamu berterima kasih sama aku!" Rara tersenyum nakal ke arah Dea.
"Tapi Ra, aku merasa seperti perempuan murahan sekarang." Ucap Dea lemah.
Rara menautkan kedua alisnya, "maksudnya?"
"Sampai sekarang aku belum tau bagaimana perasaan bang Azka padaku, yang aku tau dia membenciku sejak dulu, sementara aku dengan tidak tau malunya menyerahkan tubuhku padanya setiap kali dia menginginkannya. Menurut kamu, gelar apa yang disematkan bang Azka padaku saat ini?" Dea menyugar wajahnya kasar.
Rara menghela nafasnya pelan, "kamu ini bodoh apa oon? Pak Azka tidak mungkin tergila-gila sama tubuh kamu kalau dia masih membenci kamu."
"Tapi bang Azka tidak pernah bilang suka sama aku, Ra!"
"Gak bilang cinta bukan berarti gak cinta. Lo sendiri gue yakin udah cinta banget sama dia, memangnya kamu pernah ngomong cinta gitu sama pak Azka? Enggak pernah bukan?" Tanya Rara tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.
"Gue kan cewek, masak cewek yang nembak duluan?" Dea membuat alasan.
"Itu suami kamu, De! Bukan suami orang lain. Apa salahnya ngomong gitu?" Suara Rara mulai naik satu oktaf.
"Iya, tapi masalahnya dia gak pernah ngomong cinta sama aku!"
"Maka inisiatif sendiri lah kalo gitu! Laki-laki tipe pak Azka itu bukan laki-laki yang suka mengumbar kata-kata manis. Baginya, pembuktian cinta bukan sekedar hanya kata-kata, tapi lebih pada tingkah laku dan perbuatan. Sekarang aku tanya kamu. Apa pak Azka pernah berlaku kasar sama kamu?"
Dea menggeleng.
__ADS_1
"Apa pak Azka pernah mengumpat kamu, meneriaki kamu, menatap kamu penuh kebencian dan tidak peduli sama kamu?"
Lagi-lagi Dea menggeleng. Azka selama ini selalu bersikap manis padanya. Meskipun jarang berbicara jika bukan Dea yang memulai tapi Azka tidak pernah berkata kasar ataupun marah padanya.
"Lalu menurut kamu, dari semua kebaikan pak Azka itu, apa kamu masih berfikir kalau dia masih membenci kamu?"
"Entahlah, Ra! Aku hanya masih ragu, bisa saja bukan dia berlaku manis hanya karena dia sudah kecanduan menyentuhku?"
"Kamu itu terlalu overthinking tau gak! Kamu itu terlalu sibuk dengan prasangka-prasangka yang kamu bangun sendiri. Padahal kalau kamu mau mengubah sedikit perspektif kamu, mudah sekali bagimu menjadi perempuan yang paling bahagia di dunia ini." Adakalanya Rara frustasi melihat sikap Dea yang satu ini.
Dea menghela nafasnya kasar. "Kali ini kamu gak ngerti, Ra. Bukan kamu yang berada di posisiku, bukan kamu yang merasakan apa yang aku rasakan saat ini." Dea hanya bisa membatin. Ia juga tidak tau bagaimana menjelaskan kegelisahan yang menghantuinya selama ini.
Tiba-tiba Rara tertawa kecil.
"Gak nyangka, akhirnya kamu jatuh cinta juga. Sorry yah, De. Kadang aku fikir kamu ini penyuka sesama jenis loh."
Mata Dea melotot pada Rara, atas dasar apa dia meragukan kemurniannya sebagai perempuan normal?
"Habisnya, sekian banyak cowok yang dekati kamu, gak satupun yang nyantol. Padahal apa kurangnya mereka coba? Saking banyaknya yang suka sama kamu, aku jadi malas menanggapi laki-laki yang mendekatiku karena kebanyakan hanya modus buat dekatin kamu."
Dea melirik Rara, memandanginya penuh perhatian.
"Maaf kalau aku gak peka, aku benar-benar gak sadar loh kalau selama ini kamu berfikir seperti itu sama aku." Ucap Dea tersenyum kecut.
Resiko jadi gadis tomboy dan memilih hidup tanpa pacaran, fikiran liar dari orang-orang di sekitar tidak bisa dikendalikan, akan ada saja yang menatap curiga, normal apa tidak? Bahkan ada yang terasa seolah menjaga jarak. Makanya Dea tidak punya banyak teman perempuan. Selain karena kuliahnya di sarang laki-laki, kerja pun lagi-lagi di sarang laki-laki, membuat peluang dirinya mempunyai banyak teman perempuan semakin berkurang. Dan itu jugalah yang membuatnya masih merasa risih saat Azka memintanya memakai pakaian minim saat mereka di kamar. Dea pakai pakaian tertutup saja, gairah Azka sudah susah dibendung, apalagi kalau pakai pakaian kekurangan bahan, itu sama saja dengan memancing dunia persilatan.
Jika dalam bersahabat kebanyakan perempuan merasa sentuhan fisik itu sudah biasa, cipika cipiki biasa, pelukan biasa, pegangan tangan biasa, tukaran pakaian biasa, bahkan tanpa ragu ada yang mandi bareng dan menunjukkan sebagian besar tubuhnya kepada sahabatnya, untuk Dea, itu tidak berlaku. Selama bersahabat dengan Rara, paling jauh Dea hanya memakai tanktop dan hotpants di depannya. Lagian, Dea memang merasa risih tampil seksi meskipun itu di depan sesamanya perempuan.
"Makanya aku sangat bahagia saat kamu nikah sama pak Azka, rasanya pak Azka memiliki semua pesona yang bisa membuatmu bertekuk lutut sama dia, aku tau itu." Rara menyeringai.
"Kamu betul Ra, dari kecil hanya bang Azka yang bisa mengambil perhatianku. Meskipun ada bang Aufar, bang Umar dan bang Abimanaf sekalipun, entah kenapa justru sikap cuek bang Azka ini yang bisa membuat jiwa kewanitaanku merasa tertantang. Apalagi meskipun dia cuek, dibalik itu semua ia tetap bisa memberikan perhatian dengan caranya sendiri. Hal-hal yang tidak bisa kudapatkan dari siapapun selain dia."
"Nah, itu.. makanya, pepet aja! Penuhi segala kebutuhannya dan dia tidak akan pernah berpaling dari kamu. Kamu itu cantik, cerdas, baik, seksi pula, gak mungkin pak Azka tidak panas dingin saat berada di dekat kamu. Pada dasarnya, kamu itu adalah pawangnya di sini, pak Azka mah ikut aja dengan skenario apapun yang kamu mainkan sama dia."
Tok tok tok
"Masuk.."
__ADS_1
Nisa muncul di balik pintu.
"Pesanan makan siangnya, bu."
Dea bangkit mengambil makanan yang dibawa Nisa.
"Makasih mba, ikut makan di sini aja mba." Tawar Dea.
"Terima kasih, bu Dea. Lain kali aja, udah terlanjur janjian sama anak-anak HRD mau makan di kantin."
"Oh, gitu. Makasih banyak yah mba!"
"Iya, sama-sama. Mari bu, bu Rara." Pamitnya sopan.
"Iya, mari." Balas Rara menyunggingkan senyumnya.
"Ini buat lo!" Dea memberikan seporsi makanan Padang kesukaan Rara.
"Thanks!"
"Oh yah, hampir lupa. Mana isi dompetku? Kembalikan semuanya!"
"Iya, iya." Rara membuka tas tangan yang dibawanya tadi .
"Dapat ide darimana sampe semua isi koper dan isi dompetku bisa kamu sabotase?"
"Dari bunda Aya dan omanya pak Azka?" Jawab Rara santai.
"Apa??? Kok bisa? Jangan bercanda yah Ra!"
"Dibilangin gak percaya. Aku aja masih gak habis fikir otak mertuamu itu bisa segesrek itu." Rara mulai menyuap makanannya.
"Tapi hasilnya, kamu berhasil di unboxing pak Azka. Sepertinya mertua kamu itu dulunya penulis skenario sinetron ikan terbang. Soalnya rencananya tokjer!" Rara menyeringai nakal.
Dea menggeleng, dia masih tidak habis fikir dengan pengakuan Rara barusan, ternyata dirinya dan Azka adalah korban konspirasi keluarganya sendiri. Konspirasi yang membuat mereka berdua selalu tersenyum puas!
×××××
__ADS_1
Author sarankan para readers membaca novel KAPAL CINTA AYANA jika ingin tau darimana sifat gesrek bunda Aya dan oma Andini dalam bab ini.
Thanks yah untuk dukungannya.