Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Badai Katrina


__ADS_3

Bab 67 Badai Katrina


Setelah makan siang, Azka meminta Badai menemaninya turun ke lapangan. Jika biasanya Azka selalu di dampingi Aldo, untuk sementara Azka memilih meminta tolong kepada Badai, biar sekalian jadi momen baginya mendekatkan diri dengan sahabat istrinya tersebut.


Jika pada awalnya Azka merasa Badai sebagai pesaing terberatnya, namun seiring berjalannya waktu, sebagai laki-laki, ia bisa melihat ketulusan Badai kepada Dea. Ia bisa melihat dari tatapan mata Badai saat melihat Dea, tatapan hangat, melindungi, penuh perhatian dan sayang, tapi bukan tatapan menginginkan. Azka bisa lihat itu. Dan oleh karena itu Azka merasa tidak ada yang perlu ia khawatirkan, justru ia merasa bersyukur karena Badai telah menjaga Dea dengan baik selama ini.


Sebelum ke lapangan, Azka juga meminta Rara dan mbak Nisa menemani Dea di ruangannya, ia tahu Dea masih ingin berlama-lama berbagi cerita dengan Rara dan itu membuat Dea sangat bahagia karena Azka sendiri yang berinisiatif meminta kesediaan Rara menemaninya lebih lama lagi.


Dea bisa melihat banyak perubahan di dalam diri Azka semenjak pertemuan mereka di Dubai. Azka menjadi lebih hangat dan perhatian, dan ia bisa melihat usaha Azka untuk membawa dirinya masuk ke dalam lingkaran pertemanan Dea. Itu adalah kemajuan yang sangat berarti baginya.


Kali ini mbak Nisa ikut nimbrung dalam pembicaraan hangat antara Dea dan Rara. Tak lupa ia menyiapkan cemilan dan teh hangat. Dea dan Rara begitu semangat mendengar mbak Nisa bercerita tentang suka dukanya menjadi seorang ibu pekerja. Serba salah, di satu sisi ia begitu ingin selalu dekat dengan kedua anaknya, namun tuntutan ekonomi memaksanya tetap harus bekerja.


Mendengar cerita mbak Nisa, wajah Rara tiba-tiba murung, ia teringat dengan masalah yang sedang dihadapinya.


Dea yang menyadarinya tak bisa menahan diri untuk bertanya. "Kenapa Ra? Kok muka ditekuk begitu?"


Rara mendesah kasar. "Mas Deon memintaku resign, setelah ayahnya meninggal, kesehatan ibu menurun. Mas Deon memaksa ingin merawat beliau, tapi kalau kami berdua kerja, gak ada yang jaga ibu di rumah. Takut-takut penyakitnya kambuh saat kami lagi kerja." Ucapnya dengan wajah sendu.


"Saudara mas Deon kerja atau di rumah aja?" Tanya Dea penasaran.


"Dua saudara perempuannya ibu rumah tangga sih, kalau ketiga kakak laki-lakinya, entahlah, katanya rumahnya sempit, anak-anaknya pada masih kecil-kecil jadi repot semua."


"Lah, terus kenapa harus kamu yang resign buat urus mertua kamu? Ada ipar-ipar kamu, kan bisa sewa orang atau perawat buat jaga di tumah saat kalian berdua kerja." Ucap Dea tidak terima.


"Kan gak mungkin mas Deon yang resign, De. belum lagi tanggungan mas Deon, biaya merawat ibunya, kadang sadara-saudara perempuannya juga masih biasa minta sama mas Deon. Ini aja kadang aku tutupi pake gajiku." Rara kembali menekuk mukanya.


"Begitulah perempuan, ketika menjadi istri, mereka dituntut pandai merawat suami, pandai di dapur, jago di ranjang, hebat mengurus anak, bisa urus rumah, bisa menghasilkan uang, bisa merawat diri di saat yang sama harus menjadi pengasuh bagi orang tua sang suami. Iya, kalau kita dihargai, tapi yang ada, terkadang kita malah dihujat oleh ipar-ipar karena mereka menganggap kita tidak becus mengurus orang tuanya. Apalagi kalau suami juga ikut-ikutan menyalahkan dan menghakimi kita, maka bukan surga lagi yang di dapat dalam pernikahan, tetapi neraka sudah menanti kalau stock sabar dan stock imannya tipis." Ucap mbak Nisa panjang lebar.


"Terkadang orang melihat dari satu sisi saja, misal jika Rara bersikeras tidak resign, maka orang-orang di sekitarnya akan mengatakan Rara egois, pembangkang, istri durhaka, dan lain sebagainya, tapi masalahnya tidak semua istri  mampu berada di posisi Rara saat ini. Apalagi dalam kondisi hamil muda, dan nanti saat melahirkan, kemungkinan baby blues bisa menghampiri jika kondisi lingkungan di rumahnya tidak mendukung." Mbak Nisa kembali menambahkan.

__ADS_1


"Maaf yah, Ra. Saya gak tau sedekat apa kamu dengan ibu mertuamu, tapi sepengalaman saya, sedekat apapun kita dengan mertua, tetap saja ada sedikit jarak. Berbeda halnya dengan orang tua kita sendiri, saat mereka menegur kita dan kita merasa tidak terima dengan tegurannya, kita merasa punya power untuk menyanggah kata-kata orang tua kita, mungkin orang tua kita saat itu tersinggung, tapi namanya orang tua kandung, maafnya sudah kita kantongi sebelum melakukan kesalahan. Bukan berarti kita boleh mendebat orang tua, tapi ada namanya kelepasan karena tidak mampu menahan. Tetapi coba kalau itu adalah mertuamu, yakin bisa menyanggah? Yakin bisa mengeluarkan uneg-unegmu? Yang ada kamu akan memilih diam karena ada hati suami yang harus kamu jaga, mertuamu juga, namun lama kelamaan jika mertuamu terus merongrongmu, maka itu akan menjadi penyakit di hati kamu, karena kamu tidak bisa melepaskan apa yang ada di dalam kepalamu." Mbak Nisa kembali melanjutkan.


Bagaimanapun mbak Nisa pernah berada di posisi Rara dan itu hampir membuat rumah tangganya hancur, beruntung ia dan suaminya masih bisa saling mengingatkan dan mau saling instropeksi diri, bedanya, kondisi mbak Nisa memang tidak bisa menolak karena suaminya adalah anak tunggal. Hanya saja awalnya mertuanya begitu cerewet, semua dikomentarin, tak ada perbuatan mbak Nisa yang lewat dari komentarnya. Hal itulah yang membuat mbak Bisa hampir menyerah, namun karena kegigihan suaminya menenangkan dan mendamaikan kedua wanita yang dicintainya, akhirnya mereka bisa kembali rukun dengan catatan mertuanya berusaha menahan diri sementara mbak Nisa berusaha meng-upgrade level kesabarannya. Dan dari pengalaman itulah mengapa mbak Nisa mengatakan menantu dan mertua itu ada jarak karena setelah kejadian itu, mbak Nisa dan mertuanya sama-sama bertindak hati-hati, berbeda terhadap orang tuanya sendiri, masalah selesai yah selesai saja dan terlupakan tanpa menyisakan kecanggungan.


Rara semakin mencelos hatinya. Ketakutan mulai membayang di wajahnya.


"Jangan terlalu difikirin, Ra. Aku lihat ibu mertuamu baik kok. Kalau urusan ipar-iparmu, abaikan saja, selama Deon dan ibu mertuamu menghargai kamu, dijalanin aja." Ucap Dea berusaha menenangkan.


"Iya, Ra. Saya menceritakan ini hanya buat jadi bahan pertimbangan kok. Takdir setiap orang itu beda-beda, boleh saja masalah sama tapi hasil akhirnya beda. Ada yang merasa menderita, tapi ada yang merasa biasa-biasa saja." Mbak Nisa tampat tidak enak sama Rara.


"Iya mbak, gak apa-apa kok. Mas Deon orangnya baik banget sama aku, ibu juga begitu, aku memang merasa gak begitu cocok sama ipar-ipar, hanya saja aku memang belum siap berhenti bekerja. Justru aku makin sayang sama mas Deon karena menjadi laki-laki yamg bertanggung jawab padahal masih ada tiga kakak laki-lakinya, mereka dari enam bersaudara, hanya mas Deon yang aku lihat ingin merawat orang tuanya, yang lain sepertinya merasa yang paling sibuk semua padahal tau sendirilah kerjaan kita ini, seringnya harus lembur." 


"Sabar yah, Ra." Ucap Dea mengelus pundak Rara.


Rara merasa jadi tidak enak karena sudah terlalu jauh mencurahkan isi hatinya di sini, padahal ada mbak Nisa yang belum begitu akrab dengannya. Namun mendapatkan satu sudut pandang dari mbak Nisa cukup melegakan baginya.


"Just follow your heart." Imbuh Dea lagi.


Melihat pengalaman sahabatnya Rara, juga mbak Nisa membuat Dea tiada hentinya mengucapkan syukur di dalam hatinya. Ia diberi ibu dan ayah mertua yang begitu menyayanginya juga ipar-ipar yang peduli kepadanya.


Mungkin karena dalam hal ini kondisi ekonomi bagi Dea dan Azka bukan menjadi masalah dengan hal tersebut sehingga tidak perlu ada perebutan penghasilan suami antara istri dan keluarga besarnya.


Dea memandang Rara yang tertunduk seperti orang sedang memikul ratusan ton beban di pundaknya, membuat hati Dea terenyuh.


Tiba-tiba pintu diketuk dari luar dan muncul Deon bersama Azka masuk ke dalam ruangan.


"Wah..sepertinya asyik banget ceritanya, udah sampai bab berapa nih?" Tanya Deon mendekati Rara.


"Memangnya kita lagi baca novel apa? Orang juga hanya ngemil-ngemil doang kok." Elak Rara yang berusaha tersenyum dan mengubah air mukanya dari lesu menjadi sumringah di depan suaminya.

__ADS_1


Sementara mbak Nisa segera melipir keluar setelah Azka datang, Rara dan Deon pun segera pamit meninggalkan mereka.


"Capek?" Tanya Dea memberikan segelas air minum kepada Azka yang sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Lumayan, lumayan capek denger ocehan Katrina selama di lapangan tadi."


Kening Dea mengkerut. "Katrina siapa?" Tanyanya dengan intonasi suara yang mulai meninggi.


Azka menyadari kesalahannya, "maksud abang Badai, Yang. Badai Katrina." Ucap nyengir membuat Dea mengelus dadanya pelan.


Padahal hati Dea sudah mulai memanas dan tak disangka Azka hanya bercanda.


"Bang.."


"Hmmm."


"Boleh minta sesuatu?"


"Apapun, mommy." Jawab Azka menatap Dea serius.


"Gaji dan jabatan Deon dinaikin boleh?" Pinta Dea ragu.


"Siap laksanakan!" Ucap Azka berdiri tegap kemudian mencium keningnya dan disambut pelukan hangat oleh Dea.


×××××


\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=


Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.

__ADS_1


Jangan lupa baca juga novel author lainnya, KAPAL CINTA AYANA.


Thanks, 😘


__ADS_2