
Bab 71 All Is Well
Azka sudah berada di hotel sesaat setelah adzan maghrib berkumandang. Bersamaan dengan ketibaan ayah dan bundanya setelah menempuh perjalanan panjang Jakarta - Jayapura dengan menggunakan jet pribadi keluarga mereka. Ini sungguh melegakan buat Dea yang terus memikirkan keadaan suaminya diluar sana ditengah kekacauan yang sempat membuat suasana kota mencekam.
Saat sedang bersantai dengan suasana hangat bersama di sofa, tiba-tiba pintu diketuk dari luar, Azka bergegas membuka pintu dan ia mendapati Aldo bersama seorang perempuan.
Tunggu... sepertinya Azka mengenali wajah perempuan itu yang sedari tadi menunduk di belakang Aldo. Azka memicingkan matanya menatap Aldo meminta penjelasan.
Menghiraukan Azka, Aldo menarik tangan Chyntia masuk ke kamar hotel kemudian berjalan mendekati Dea yang di sana juga ada ayah Arga dan bunda Aya.
"Assalamu'alaikum, om, tante.. Dea." Sapa Aldo dengan tangan terus menggenggam tangan Chyntia.
"Wa'alaikum salam." Jawab mereka bersamaan. Namun seketika mata mereka membulat melihat perempuan yang dibawa Aldo bersamanya.
Mereka baru tersadar bahwa itu Chyntia dengan perut membuncit, tertunduk dan sedikit bersembunyi dibalik lengan kekar Aldo.
"Chyn... ayok duduk di sini dekat bunda." Bunda Aya berusaha menetralisir keterkejutannya kemudian bergeser sedikir memberi ruang untuk Chyntia di sisinya yang masih kosong.
"I..iya tante." Ucap Chyntia ragu menatap Aldo yang kemudian diangguki Aldo.
Chyntia menyalami tangan bunda Aya kemudian duduk di sampignya. Ia masih tetap terdiam dan terus menunduk, rasa gugup semakin menguasainya, ia meremas ujung jilbabnya tanpa henti.
Semua orang tentu menyadari keadaan Chyntia saat ini. Azka juga hanya memilih diam, ia terus melingkarkan satu tangannya dipinggang Dea posesif dan satu tangannya lagi ia gunakan untuk menggenggam tangan Dea seolah ingin mengatakan, "all is well." Sebenarnya, Dea bukannya curiga atau tidak percaya kepada Azka, ia hanya cukup kaget melihat mba Chyntiq ada di sini dalam kondisi hamil besar.
"Aku mau menyampaikan sesuatu," ucap Aldo meminta perhatian membuat semua mata menatapnya tak sabar. Terkecuali Chyntia yang tiba-tiba menegang. Bunda Aya berusaha mengelus punggung Chyntia agar ia sedikit lebih rileks.
"Besok pagi, kami akan menikah. Saya meminta om dan Azka untuk menjadi saksi. Semuanya sudah saya siapkan. Mohon doa restunya." Ucap Aldo tegas.
Semua masih terdiam, tak ada tanggapan, namun Aldo tahu rasa penasaran orang-orang di dalam ruangan itu.
"Itu adalah anak saya, maaf baru memberi tau." Aldo tak ingin banyak berbicara, bukan saatnya untuk menjelaskan kondisinya. Ia hanya ingin memberi tahu saja.
"Baik, lebih cepat lebih baik." Ucap ayah Arga menatap tajam ke arah Aldo. Beliau cukup kecewa dengan Aldo yang menghamili perempuan diluar nikah. Meskipun Aldo bukan anaknya, namun beliau sudah menganggap Aldo seperti anaknya sendiri mengingat persahabatannya dengan Azka dan kesetiaannya dan komitmennya kepada perusahaan.
"Maaf." Ucap Aldo tertunduk, merasa bersalah.
Azka mendesah pelan, menatap satu-satu kedua sahabatnya tersebut. Hubungan rumit diantara mereka bertiga bukan hal yang mudah dihapus begitu saja, namun ia pun sadar bahwa itu hanyalah masa lalu. Kita tidak bisa melangkah ke belakang untuk mengubah cerita yang pernah terjadi, namun yang bisa dilakukan saat ini adalah memulai kembali dan membuat akhir yang lebih manusaiwi.
"Sayang, ajak Chyntia cerita dulu, abang ada urusan dengan Aldo." Bisiknya kepada Dea yang langsung disambut antusias oleh Dea.
"Mba Chyn, kita ke balkon yuk." Ajaknya tanpa ragu menarik tangan Chyntia.
Sesaat Chyntia sempat termangu menatap Dea, ia tidak pernah mengharapkan perlakuan baik dari Dea setelah apa yang dilakukannya dulu kepadanya. Rasanya itu sulit termaafkan. Chyntia menatap Aldo dan Azka ragu, meminta persetujuan mereka. Setelah merasa mendapatkan izin, ia pun akhirnya bangkit dan mengikuti Dea.
"Apa kabar mbak Chyn?" Tanya Dea setelah ia dan Chyntia sama-sama berdiri menyandarkan perut buncit mereka di pagar pembatas Balkon. Udara malam dan semilir angin laut melingkupi mereka.
__ADS_1
Chyntia menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya pelan, menahan di dadanya. Sedikit sesak masih tersisa, namun ia berusaha menelan semua perasaannya.
"Alhamdulillah, baik. Kamu bagaimana? Udah berapa bulan?" Tanyanya melirik sekilas ke perut buncit Dea.
"Alhamdulillah, baik juga mba. Ini udah jalan 6 bulan seminggu."
"Selamat yah." Ucap Chyntia tulus. Ia menatap Dea dengan mata berkaca-kaca. "Mbak minta maaf." Ucapnya tertunduk, beberapa bulir air matanya jatuh kini.
"Saya juga minta maaf, mbak." Dea menggenggam satu tangan Chyntia yang berpegangan pada pagar.
Chyntia kemudian memberanikan diri memeluk Dea. Sudah lama ia ingin melepaskan semua beban perasaan bersalah yang membayangi hidupnya, tak tenang.
Dea membalas pelukan Chyntia. Meskipun masih ada sedikit rasa marah yang menggelayuti hatinya, namun akal sehatnya membimbingnya untuk meredam semua itu. Entah tulus atau tidak, Dea tidak mungkin mengabaikan permintaan maaf Chyntia saat ini.
Dea mengelus lembut punggung Chyntia, dalam hening dan sesegukan tangis Chyntia. Mereka kemudian mengurai pelukan setelah Chyntia bisa meredakan sesegukannya.
"Maaf kalau mbak membuat kamu tidak nyaman." Ucap Chyntia merasa tidak nyaman dengan kelakuannya. Mereka tidak cukup dekat untuk membuatnya bisa menumpahkan sedikit beban hidupnya.
"Mbak gak udah sungkan, kita udah kenal lama. Sahabat bang Azka adalah sahabat saya juga jika mbak tidak keberatan."
Chyntia tertunduk, "terima kasih." Ucapnya.
"Sepertinya kalian betah banget berdiri di sana, apa kakinya gak kesemutan?" Tanya bunda Aya yang entah kapan sudah berdiri di pintu balkon.
"Eh..bunda." Dea tersenyum menatap mertuanya kemudian mengajak mereka duduk di kursi yang tersedia di balkon. "Duduk yuk mbak."
"Udah mau masuk 9 bulan, tante."
"Kapan HPLnya (hari perkiraan lahir)?" Tanya bunda Aya lagi.
"Tanggal 20 tante." Jawab Chyntia dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Ia takut juga merasa tidak enak. Masih terbebani dengan perbuatannya di masa lalu, padahal keluarga Azka begitu baik kepadanya dan juga kekuarganya.
"Sehat-sehat yah, tante doakan semoga lancar sampai hari-H. Kamu dan bayimu sehat. Aamiin."
"Aamiin." Ucap Chyntia dan Dea bersamaan.
"Kamu jangan sungkan jika membutuhkan sesuatu. Kami adalah keluarga kamu juga, sama seperti Aldo." Ucap bunda Aya yang sedikit tahu masalah yang menimpanya setelah ikut pembicaraan Azka dan Aldo di depan tadi.
"Iya tante, maaf." Jawab Chyntia merasa masih tidak enakan.
"Udah.. gak usah diingat-ingat lagi kejadian yang sudah lewat. Sekarang kamu fokus kepada diri dan anakmu juga keluarga yang akan kamu bina bersama Aldo. Berbahagialah, ambil semua hal-hal yang membahagiakan yang mendatangimu. Kamu berhak bahagia, mungkin bukan dengan orang yang kamu impikan, tetapi dengan orang yang memimpikan kebahagiaan bersama kamu. Itu tidaklah buruk, justru mungkin itulah kebahagiaan sejati yang sesungguhnya." Ucap bunda Aya mengelus lembut punggung tangan Chyntia.
"Iya tante, terima kasih. Terima kasih buat kebaikan tante dan Dea. Terima kasih." Kembali Chyntia tak bisa membendung air matanya.
Dea berdiri mendekati Chyntia lalu menepuk-nepuk pundaknya, menenangkannya.
__ADS_1
"Terima kasih, De. Mbak benar-benar meminta maaf sama kamu."
"Iya mbak, Dea udah maafin mbak. Sekarang mbak adalah saudara Dea. Kakak Dea seperti bang Aldo."
"Terima kasih, De. Terima kasih."
Suasana haru benar-benar melingkupi mereka. Meminta maaf bukanlah pekerjaan yang mudah, dan memaafkan juga jauh lebih sulit lagi, karena ada rasa ikhlas yang menyertainya. Sementara ikhlas itu tidak semudah diucapkan. Kita boleh saja mengatakan bahwa sudah ikhlas memaafkan, namun hati masih tercubit setiap kali mengingatnya, bukankah itu belum dikatakan ikhlas?
Aldo dan Azka ikut bergabung dengan mereka, suasana canggung kembali menguasai. Bunda Aya sendiri memilih meninggalkan mereka berempat. Masih menerka-nerka dengan fikiran masing-masing, saling menunggu siapa yang akan membuka suara terlebih dahulu.
"Kami istirahat dulu." Ucap Aldo memecah keheningan.
"Gak ikut makan malam bareng?" Azka menawarkan.
"Chyntia masih capek, besok aja sarapan bareng." Elak Aldo. "Ayok." Ucapnya menarik tangan Chyntia agar berdiri dari duduknya.
"Bro, belum halal. Lo ambil kamar lain sono." Tegur Azka sambil bercanda.
"Sialan lo." Ketus Aldo.
"Chyn..."
Gerakan Chyntia tertahan. Ia menatap sendu wajah Azka.
"Berbahagialah, gue benar-benar tidak ingin kehilangan lo lagi. Kita adalah sahabat selamanya."
Kembali mata Chyntia memanas, seulas senyum nampak di wajahnya. Dea kembali mengelus lembut punggung Chyntia, meyakinkannya bahwa mereka sungguh ingin memulai hal baru dan meninggalkan cerita lama yang sudah berlalu.
"Thanks, Ka." Ucapnya tulus. "Terima kasih, kalian selalu yang terbaik." Ucapnya sambil menyusut air matanya.
Aldo mendekatinya dan merangkul pundaknya lembut.
"Kami pamit dulu. De, besok bantuin kakak ipar kamu yah, bikin dia jadi yang tercantik." Ucap Aldo melirik Dea.
"Siap, bang." Dea tersenyum ceria sambil mengacungkan kedua jari jempolnya.
Azka dan Dea saling menautkan tangan, menatapi laut yang diseberangnya menyuguhkan keindahan kota Jayapura di malam hari. Mereka bernafas lega, ditengah masalah yang menerpa, ada setitik harapan kebaikan yang menyertai.
×××××
\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=
Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.
Jangan lupa baca juga novel author lainnya, KAPAL CINTA AYANA.
__ADS_1
Thanks, 😘