
Bab 32 Terluka
"Kita harus bicara!" Ucap Dea dengan mimik wajah serius setelah merapikan sisa makanan Azka.
"Bicara aja." Jawab Azka santai.
"Bang Azka kok masih bisa santai begini? Cari ide kek buat menghentikan acara buang-buang uang besar seperti ini. Toh pada akhirnya pernikahan kita akan segera berakhir, jadi untuk apa menggelar acara besar-besaran? Aku sudah tidak bisa terus membohongi ayah dan bunda. Mau sampai kapan kita beradu peran dalam drama kebohongan ini?" Kekesalan Dea sudah berada diubun-ubun apalagi melihat Azka yang seolah biasa-biasa saja membohongi kedua orang tuanya.
Azka menatap tajam ke arah Dea. "Trus mau kamu apa? Kamu atau aku yang kabur gitu? Atau berterus terang ke mereka? Kalau kamu sanggup, silahkan, tapi kalau aku, aku tidak mungkin mematahkan hati mereka. Tapi ingat, jika sesuatu terjadi pada bunda, aku tidak akan pernah melepaskan kamu!"
Hati Dea mencelos, ia terduduk lemas di sofa sisi Azka.
"Aku hanya sudah tidak kuat lagi berbohong pada bunda, aku juga sudah tidak kuat membawa rasa bersalah ini pada mereka. Bang Azka ngerti gak sih?" Air mata Dea sudah menggenang, ia terisak seperti anak kecil yang menyusut air mata dan ingusnya dengan kedua tangannya.
Sebenarnya Azka pun merasakan hal yang sama dengan Dea, dan hatinya semakin terasa berat melihat Dea menangis seperti ini, tapi melihat Dea menangis seperti anak kecil justru malah membuat Azka merasa lucu.
"Masih sama, tidak berubah." Senyum Azka mengembang mengingat Dea kecil yang suka merengek padanya meminta diajar pelajaran matematika dan ketika Azka menolaknya, senjata Dea adalah menangis.
"Ih.. jorok banget jadi cewek." Ucap Azka mendekati Dea namun tanpa sadar ia menarik kaosnya sendiri menghapus air mata Dea kemudian membersihkan ingusnya.
"Bang Azka yang jorok, pake baju penuh ingus."
Menyadari ucapan Dea, Azka langsung membuka kaosnya. Ia topless sekarang menampakkan bahu kekar dan perut kerasnya yang rata.
Dea langsung memalingkan wajahnya yang tiba-tiba merasa panas melihat pemandangan indah di depannya.
Azka semakin merapatkan tubuhnya dengan Dea kemudian mengikat perut Dea dengan kedua lengan kekarnya membuat jantung Dea melompat-lompat di tempatnya.
"Jantung kamu berdetak cepat, kenapa?" Bisik Azka tepat di telinga Dea.
Dea meremang, darahnya berdesir mengalir ke segala penjuru tubuhnya. Meskipun memakai jilbab, namun ia tetap merasa geli saat bibir Azka berada di telinganya seperti ini. Dea benar-benar gelisah, ia tetap berusaha menjaga kesadarannya, apalagi satu kaki Azka sekarang ikut membelitnya.
Saat Azka hendak merapatkan bibirnya ke bibir Dea, Dea menghindar, "stop bang, aku gak mau hamil!" Tegasnya.
Pelukan Azka melemah dan kesempatan itu tidak disia-siakan Dea untuk melepaskan diri kemudian keluar dari kamar. Dea bukannya tidak ingin hamil, Dea hanya tidak ingin hamil oleh laki-laki yang tidak mencintainya. Apalagi pernikahan ini jelas akan berakhir, cepat atau lambat.
Kalau Dea hamil, bagaimana nasib anaknya nanti? Dea tidak ingin anaknya besar tanpa ayah. Itu sungguh menakutkan baginya.
__ADS_1
Namun bagi Azka, ucapan Dea yang tidak ingin hamil anaknya jelas penolakan keras dari Dea. Berarti dia sudah tidak punya kesempatan mendapatkan Dea.
Arrrgghhhh!
Azka menghantam kaca meja di hadapannya dengan tinjunya. Darah mengucur deras dari tangannya namun tidak dipedulikannya. Hatinya terlalu kacau saat ini.
*****
Dea meneguk segelas air tanpa jeda di dapur, berusaha menghilangkan perasaan tertekannya dan rasa bersalahnya. Mau bagaimanapun Dea sadar, ada kebutuhan Azka yang tidak bisa dipenuhinya. Tak peduli bahwa pernikahan mereka suatu saat nanti akan berakhir, karena saat ini ia masih berstatus istri Azka, berarti Azka berhak penuh atas dirinya.
"Lagi mikirin apa?" Dea terkesiap saat sebuah suara mengagetkannya.
"Eh, bang Abi." Dea sedikit gelagapan dan gugup berada di dapur berdua dengan Abimanaf saat ini. "Enggak kok bang, gak mikirin apa-apa." Jawab Dea tersenyum kikuk.
"Kok tegang banget, kayak orang baru mau nikah aja. Ini kan tinggal resepsi, bukan akad lagi."
"Hehehe.. tetap aja sih menegangkan. Kalau akad dulu hanya dihadiri beberapa orang, kalau ini bakal banyak orang. Dea gak terbiasa ketemu banyak orang!" Ucap Dea beralasan.
"Ah, gak mungkin seorang kepala departemen di BM Shipyard tegang menghadapi orang banyak."
Sayangnya, tanpa mereka sadari, dari kejauhan ada sepasang mata yang menatap nanar dibakar api cemburu melihat Dea bisa tersenyum lepas di hadapan laki-laki yang menyukainya. Sementara dirinya, sekalipun Dea tidak pernah memberinya senyum seperti yang dia lakukan saat ini.
"Ah, sudah adzan maghrib bang, Dea ke kamar dulu." Ucap Dea segera pergi naik ke kamarnya.
Abimanaf hanya bisa memandangi kepergian Dea hingga menghilang dari pandangannya. Ia mendesah panjang, hatinya masih belum rela melepas Dea menikah dengan laki-laki lain.
Dea membuka pintu dan melihat kamar yang berantakan seperti kapal pecah. Matanya mencari-cari keberadaan Azka dan ternyata berbaring di karpet dekat jendela. Dea ingin mengabaikan namun baru selangkah ia berbalik, ia bisa melihat darah berceceran di mana-mana.
"Astaghfirullah..Bang Azka!" Dea membalik paksa tubuh Azka yang tengkurap, memeriksa tubuhnya dan terakhir melihat tangannya yang tidak berhenti mengeluarkan darah.
"Yaa Allah.." Dea panik.
"Tangan bang Azka berdarah!" Tak terasa air mata Dea meluruh. Ia bangkit mengambil kotak P3K untuk mengobati luka Azka.
"Bang Azka kenapa? Ini tangannya kok bisa luka begini?" Azka membatu, enggan menjawab. Satu lengannya ia pakai menutup matanya. Hatinya masih terlalu sakit. Setelah ditolak Dea, Dea malah asyik bercanda dengan Abimanaf yang notabene juga menyukainya.
Dea menarik tangan Azka ke pangkuannya, namun ditarik kembali oleh Azka.
__ADS_1
"Tidak usah sok peduli, bukankah kamu lebih suka Abimanaf, pergilah bersamanya!" Hati Azka begitu teriris dengan ucapannya sendiri, namun sakit hatinya dan rasa cemburunya lebih besar dari apapun saat ini.
"Abang marah sama Dea? Dea minta maaf! Please, Dea minta maaf. Dea menyesal. Dea gak sengaja ketemu bang Abi di bawah tadi. Abang salah faham. Abang jangan begini, jangan bikin Dea takut. Hiks..hiks..hikss.." tangis Dea pecah.
"Aku panggilin bunda dulu--"
"Jangan!" Tolak Azka cepat.
"Tapi tangan bang Azka terluka, ini tulang jarinya sepertinya ada yang patah!" Ucap Dea khawatir.
"Jangan dulu!" Azka bangkit dari tidurnya, menatap penuh permohonan pada Dea. "Bunda gak boleh lihat kondisi kamar seperti ini. Termasuk kondisiku." Imbuhnya.
Dea terenyuh melihat wajah frustasi Azka dan mata elangnya yang memerah menahan air mata.
"Kalau begitu biarkan aku membersihkan luka abang dulu." Tanpa menunggu jawaban Azka, Dea mulai membersihkan lukanya dan membebatnya dengan kain kasa setelah diberi sedikit obat.
Setelah itu ia berdiri mengambil pakaian bersih untuk Azka, membantunya memakainya kemudian dengan cepat merapikan kamar lalu sholat.
Setelah sholat, Dea kembali memeriksa tangan Azka. Darahnya belum berhenti keluar melihat kain kasa yang dipakainya membebat tangan Azka hampir seluruhnya berubah warna menjadi merah.
"Bang Azka, aku panggilin bunda yah, ini lukanya gak boleh dibiarin begini terus. Kalo infeksi bagaimana?" Dea masih berusaha membujuk Azka agar tangannya segera diobati oleh bundanya.
Azka kembali menggeleng.
"Kita ke klinik terdekat aja kalo gitu! Bang Azka mau yah?"
Azka langsung berdiri kemudian mengambil jaket hoodie-nya yang disampirkan di satu lengannya yang terluka. Khawatir ada yang melihatnya saat berjalan keluar dari kamar nanti.
Dea pun segera mengikuti Azka, mensejajarkan langkahnya kemudian memeluk satu lengan Azka yang bebas. Bukan karena ingin kelihatan mesra, Dea hanya takut Azka limbung karena sudah banyak kehilangan darah.
"Loh..kalian mau kemana?" Tanya oma Andini yang sedang menonton Sinetron di ruang keluarga.
"Mau keluar sebentar oma, mau cari angin berdua aja!" Jawab Dea canggung.
"Kami jalan yah Oma, bye!" Azka langsung menarik Dea pergi, kalau mau mengikuti omanya, bisa-bisa tertahan sampai berjam-jam di sini.
×××××
__ADS_1