Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Diabaikan


__ADS_3

Bab 47 Diabaikan


Azka menghambur ke kamar mandi karena tiba-tiba perutnya terasa mual, ia seperti orang yang sedang mengeluarkan semua isi perutnya, namun anehnya yang keluar hanya semacam air yang pekat. Suaranya terus menggelegar di balik pintu kamar mandi membuat tidur Dea terganggu.


Dea segera mendekati Azka, memijat-mijat tengkuknya. Azka pasrah karena ia merasa lemas banget saat ini. Setelah merasa tak ada lagi gejolak menyiksa di dalam perutnya, ia menepis tangan Dea yang masih setia memberikan pijatan ringan di pundak dan leher belakangnya.


Azka berjalan keluar kamar mandi dan menuju kamar tidur mereka. Ia membersihkan diri terlebih dahulu kemudian memakai baju koko siap-siap untuk sholat namun bukannya sholat bareng Dea, ia memilih keluar rumah.


Dea menghela nafasnya pelan, berusaha tetap berprasangka baik pada suaminya itu. Memang sebaiknya laki-laki itu sholat di Mesjid, bukan di rumah jika tidak ada uzur syar'ie.


Dea menyiapkan pakaian kerja Azka, menyiapkan sarapan dan tak lupa menyiapkan secangkir kopi kesukaan Azka.


Saat Azka turun dari tangga, Dea mengernyitkan kedua alisnya melihat penampilan Azka. Ia tidak memakai pakaian yang disediakannya tadi. Sedikit rasa kecewa mencubit hatinya.


Dea mendekatinya, namun Azka berjalan melewatinya tanpa ada sapa atau senyum apalagi sentuhan dan kecupan lembut di keningnya seperti pagi biasanya.


Azka mengambil gelas, Dea bergegas memberikan segelas air putih yang dari tadi sudah ia siapkan namun Azka mengabaikannya dan memilih mengambil air minum sendiri.


Hati Dea semakin perih, matanya sudah mulai berkaca-kaca, dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang mendesak tertahan di kerongkongannya.


"Bang!" Dea memeluk Azka dari belakang. "Aku minta maaf!" Akhirnya runtuh juga pertahanannya, tangisnya pecah.


Azka hanya berdiri mematung, memilih diam seribu bahasa, tak ingin menanggapi ucapan Dea.


"A.. aku minta ma..hiks..af. Abang..hiks..salah faham. Hiks hiks hiks. Aaku dan hiks..bang Abi hiks..gak ada hubungan ap..hiks..a-apa. Aku hanya hikss cin--!"


Azka langsung memintanya diam dengan kode tangan ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Ia mengangkat telponnya kemudian melepaskan diri dari pelukan Dea.


"Halo!"


" ............ "


"Iya, Chyn! Kamu tenang dulu.. Pelan-pelan, kamu kenapa?"


" ........... "

__ADS_1


"Oke..oke.. kamu diam di situ, aku akan segera ke sana. Jangan kemana-mana, oke!" Azka mematikan sambungan telponnya dan langsung bergegas pergi meninggalkan Dea dengan perasaan yang begitu kacau.


Tak tahukah Azka bahwa ada jiwa yang lebih membutuhkannya saat ini?


Tak sadarkah Azka jika keputusannya memilih pergi menemui perempuan lain di saat istrinya sedang lemah adalah keputusan salah dan akan disesalinya seumur hidupnya nanti?


Mengapa rasa empati itu terkadang lebih besar kepada orang lain yang bukan siapa-siapa dibanding kepada orang-orang terdekat kita?


Dea menyusut air matanya, ia sudah terlalu banyak menangis sejak semalam. Ia duduk menatap sendu pada sarapan yang ia siapkan namun tak tersentuh. Ia mengambil piring kemudian mengambil makanan untuk dirinya, susah payah ia menelan makanannya, jika tidak mengingat satu nyawa yang sedang berkembang di dalam rahimnya. Ingin rasanya ia berhenti makan, berhenti bernafas dan sekalian berhenti hidup.


Kembali Dea mengelus-elus perut ratanya penuh sayang. "Kamu yang kuat yah sayang, mommy juga akan kuat. Kita harus kuat! Mommy kuat karena ada kamu. Temani mommy yah sayang, kita pasti bisa melewatinya."


Perlahan tapi pasti, Dea merasakan sedikit lebih tenang setelah berbicara dengan bayinya yang masih sebesar biji wijen di dalam rahimnya itu.


*****


Azka tidak bisa mengabaikan telopon Chyntia saat itu karena setelah publik tau hubungannya berakhir dengan Azka, tiba-tiba job-nya berkurang bahkan beberapa kontrak kerja yang sedang berjalan diputus sebelah pihak. Ditambah lagi orang tuanya yang marah dan mengusirnya dari rumah.


Aldo sendiri sudah tidak ingin peduli lagi padanya, rasa kecewa yang dirasakan Aldo pada Chyntia sudah terlalu besar. Bertahun-tahun Aldo setia mendampinginya dalam suka dan duka, Aldo rela merendahkan harga dirinya di depan Azka, sahabatnya hanya demi melihat Chyntia mendapatkan impiannya. Namun apa yang ia dapatkan hanya pengkhianatan dan luka. Bagi Aldo, Chyntia sudah tidak termaafkan.


Azka melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, setelah memarkirkan mobilnya asal di basement apartemen Chyntia, ia berlari menuju lift dan naik ke lantai 5 temoat unit Chyntia berada.


Sebelumnya Chyntia sudah mengirim pesan password kunci pintu unitnya jadi tidak butuh waktu lama Azka sudah masuk ke dalam.


Benar saja, Chyntia sudah tergeletak di bawah sofa. Azka mengguncang-guncang pundaknya, sesekali memukul pelan pipinya, namun tidak ada reaksi. Ia memeriksa nadinya, masih ada!


Azka segera mengangkat Chyntia ke dalam pangkuannya kemudian berlari ke dalam lift lalu membawanya ke Rumah Sakit terdekat.


Setelah mendapat tindakan, setelah beberapa saat Chyntia dipindahkan ke ruang inap. Azka berusaha memghubungi Aldo namun tidak ada jawaban. Azka baru ingat kalau saat ini Aldo pasti sudah di atas pesawat untuk penerbangan ke Papua. Saat ini perusahaan mereka akan melakukan ekspansi ke pulau paling ujung timur Indonesia itu.


Azka menghubungi ayah Chyntia namun yang didapatnya hanyalah caci maki, begitupun dengan ibu Chyntia.


Azka menyandarkan tubuh lelahnya di sofa, menghela nafas panjang. Chyntia belum juga sadar, ia tidak tega meninggalkannya. Tiba-tiba ia teringat Dea, dadanya terasa sesak memikirkannya. Banyangan Dea dan Abimanaf tertawa bahagia saat memasang cincin di jari Dea terus bermain di pelupuk matanya.


Sakit! Itulah yang dirasakannya saat ini. Tapi jika hatinya ditanya apa yang dirasakannya kepada Dea? Ia akan menjawabnya, rindu!

__ADS_1


Azka sangat merindukan istri kesayangannya itu. Namun ia tidak yakin pada dirinya sendiri, apakah kerinduannya bisa menjadi penawar pada rasa marahnya saat melihat Dea. Ia takut kembali menyakiti Dea, dan sekarang ia sadar, ia akan menyesalinya sebagaimana dulu ia menyesali perbuatannya.


Azka meremas rambutnya kasar, ingin rasanya ia berteriak sekeras-kerasnya, sampai lelah, sampai habis, agar setelah itu ia tidak lagi punya kekuatan untuk marah.


"Azka..!"


Terdengar suara lemah Chyntia memanggil nama Azka.


"Iya Chyn, kamu jangan bicara dulu. Istirahat!" Azka mendekati Chyntia lalu memperbaiki selimutnya.


"Jangan tinggalin aku, Ka." Air mata Chyntia meluruh deras.


"Husss... jangan menangis. Aku akan menemani kamu di sini. Aku gak akan pergi."


"Thanks, Ka."


Azka mengangguk, "tidurlah lagi, aku akan menunggumu di sofa sana." Ucap Azka sambil menunjuk ke arah sofa dekat pintu masuk kamar inap tempat mereka saat ini.


Setelah memastikan Chyntia sudah kembali tertidur, Azka keluar dari ruang rawat inap untuk melakukan beberapa panggilan telepon.


Ia mengabarkan kepada Nisa sekertarisnya bahwa hari ini dia tidak akan ke kantor dan mengalihkan semua meeting-nya besok saja.


Untuk Dea, sudahlah.. Azka fikir menghilang sehari sudah cukup baginya untuk menenangkan fikirannya. Biar besok saja setelah bekerja ia menemuinya dan meminta penjelasannya. Bagaimanapun Azka tidak ingin rumah tangganya berada dalam ketidakjelasan seperti ini. Ia akan memberi waktu pada Dea untuk menjelaskan semuanya. Jika memang Dea dan Abimanaf saling mencintai, maka Azka akan melepasnya. Untuk apa hidup bersama wanita yang hatinya telah dimiliki oleh laki-laki lain?


×××××


Hai Reader tersayang..


Thanks berat yah atas support-nya.


Tak bosan-bosannya author ingatkan untuk memberikan like, comment dan vote-nya agar popularitas novel ini meningkat sehingga bisa dinikmati oleh lebih banyak lagi pembaca di NT.


Tak lupa author sampaikan kepada pembaca baru di novel "Rekayasa Perasaan" agar klick profil author kemudian membaca juga novel "KAPAL CINTA AYANA".


Semoga bermanfaat😊

__ADS_1


Thanks😘


__ADS_2