Rekayasa Perasaan

Rekayasa Perasaan
Skenario


__ADS_3

Bab 64 Skenario


Tidur Dea terganggu ketika mendengar suara pintu kamar mandi tertutup, tak lama kemudian terdengar suara gemericik air dari dalam. Ia mencoba menyesuaikan pandangan matanya dengan cahaya lampu yang cukup menyilaukan. Ia melirik ke jam dinding, jam 9 malam. Ia ketiduran setelah makan rujak habis isya tadi.


Dea beranjak ke walk in closet menyiapkan pakaian ganti untuk Azka yang sedang mandi. Ia tidak tau kapan isi kopernya berpindah ke lemari, mungkin mba Sari melakukannya saat ia tidur tadi. Tak lama kemudian Azka masuk.


"Abang kirain kamu kemana, tadi masih tidur saat masuk kamat mandi, keluar-keluar udah gak ada aja." Ucapnya sambil memberi kecupan-kecupan kecil di kening Dea. "Hai anak daddy, kamu gak nakal kan hari ini?" Imbuhnya sambil membungkuk membawa wajahnya ke perut Dea.


"Dia anak baik kok daddy, sayang sama mommy-nya." Ucap Dea mengelus lembut kepala Azka.


Azka menegakkan badannya kemudian mengambil pakaian yang sudah disiapkan Dea lalu memakainya.


"Udah makan?" Tanya Azka setelah memasang kaosnya.


Dea memgedikkan kedua bahunya, menggeleng. "Gak selera bang."


"Makan sedikit aja yah, abang temani. Kalian berdua butuh asupan makanan." Azka meraih tangan Dea dan menggandengnya ke bawah mengambil makanan.


Azka sendiri sudah tidak mengalami morning sickness semenjak kembali berkumpul dengan Dea. Dea jarang mengalami mual, hanya saja selera makannya berkurang. Memasuki kehamilannya yang sudah hampir empat bulan, tubuhnya belum mengalami perubahan berarti, hanya perutnya saja yang sudah mulai membuncit.


Setelah tiga suap, Dea menyerah. "Udah!" Ucapnya menggeser piring sedikit menjauh ke samping.


"Ya udah, siniin piringnya." Azka tidak ingin memaksa, yang penting ada. Ia kemudian menarik piring berisi soto ayam itu kemudian melahapnya.


"Kok di makan bang? Itu kan sisa aku." Dea merasa sungkan, anak sultan kok makan sisa istri.


"Gak papa, ini kan sisa kamu, istriku. Bisa jadi berkahnya makanan ini ada di suapan terakhirnya." Ucapnya cuek dan terus makan hingga piring jadi kosong.


Untung ambilnya sedikit, padahal Dea tahu kalau Azka dan ayah Arga tadi sedang makan malam di luar bersama client.


Azka mengangkat piring dan gelas yang mereka pakai ke dapur lalu mencucinya. Setelah itu mereka kembali ke kamar.


Dea mengambil buku yang berjejer rapi di salah satu sisi kamar, rasa kantuknya sudah hilang, ia memilih membaca untuk menjemput kembali rasa kantuknya.


"Gak tidur?" Tanya Azka mendekatinya yang sebelumnya memeriksa email di ponselnya.


"Udah gak ngantuk." Jawab Dea fokus pada buku yang dibacanya.

__ADS_1


"Mau abang buat ngantuk gak?" Tanya Azka menyeringai nakal.


"Caranya?" Dea penasaran.


Azka mengambil buku yang dipegang Dea dan meletakkannya lalu membawa Dea ke kasur dan memulai aksinya.


Menyadari pikiran mesum suaminya, dengan gerakan cepat Dea memiting tangan Azka ke belakang. Posisi Azka kini tengkurap dengan Dea duduk di atasnya.


"Awww.. "


"Abang yah, modus mulu. Kirain apa." Kesalnya.


"Lepasin dong sayang, kok sama suami gini amat." Protes Azka, tentu saja ia hanya membiarkan Dea menguasainya. Dari segi kekuatan dan kemampuan bela diri, Azka jauh di atas Dea. Kebetulan Azka memang pemegang sabuk hitam jiu-jitsu.


Sementara keahlian Dea ini ia dapatkan dari Azka saat masih SMP dulu. Jadi Dea dan Caca menjadi murid privat Azka untuk diajari teknik kuncian ketika ditangkap atau dibekap lawan.


"Makanya jangan suka modus." Ucap Dea melepaskan kunciannya kemudian turun dari badan Azka.


Namun sekarang giliran Azka yang mengunci tubuh Dea, tentu saja perut Dea tetap aman. Karena Azka hanya mengunci kedua tangan Dea di atas kepalanya kemudian mengunci kaki Dea di bawah dengan kakinya. Dea kalah kekuatan jika melawan. Buang-buang energi.


"Siapa dulu dong gurunya." Ucap Dea tersenyum bangga.


"Siapa gurunya?" Tanya Azka menggoda.


"Suami masa depanku saat SMP dulu." Jawab Dea terkikik, karena kelakuan Azka yang bermain di telinganya dengan lidah. "Ampun bang, geli." Ucap Dea tidak bisa menahan rasa gelinya.


Azka melepaskan kunciannya kemudian menarik Dea ke dalam pelukannya.


"Abang kangen!" Ucapnya dengan nafas berat.


Dea tersenyum dan membalas erat pelukan suaminya.


Setelah beberapa saat Azka melonggarkan pelukannya, memberi jarak agar mereka bisa saling memandang. Tangannya mengusap lembut pipi Dea kemudian memainkan anak rambut Dea. Senyum tak pernah pudar dari wajah mereka berdua.


"Yang, kamu hutang penjelasan loh sama abang tentang tadi pagi."


Dea terpaksa senyum masam, pada akhirnya Azka akan tahu juga.

__ADS_1


"Skenario apa maksudnya?" Kejar Azka lagi.


Dea menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.


"Tapi abang janji gak bakal marah sama om Bara, yah. Kalau abang marah sama om Bara, nanti aku akan kabur la--"


"Iya..iya.. abang janji. Abang gak akan marah!" Ucap Azka cepat. Ia merasa trauma dengar kata kabur.


"Jadi, waktu di Surabaya, ternyata om Bara sudah tau keberadaanku di sana, tapi ia pura-pura tidak tau dan tetap menaruh anak buahnya di sana agar aku tidak curiga. Saat anak buahnya mengabari keberadaanku, ternyata om Bara sedang bersama ayah, akhirnya mereka sepakat membiarkan aku pergi tanpa memberi tahu abang. Tiga hari setelah di Dubai, ayah dan bunda mendatangi aku di apartemen. Kalau ayah sih maunya langsung bawa aku pulang. Tapi bunda menahan. Katanya biar abang usaha sendiri cari aku. Bunda mau melihat seberapa besar usaha abang."


"Dan kamu mengikuti rencana bunda begitu saja?"


Dea mengangguk.


"Aku memang belum siap ketemu abang saat itu. Lagian aku belum tau bagaimana perasaan abang sama aku, jadi untuk apa aku pulang?"


Azka menghela nafasnya kasar.


"Kamu tidak tau bagaimana hancurnya aku saat itu, kamu pergi meninggalkan beban yang kutanggung sendiri, diacuhkan dan dibuang oleh orang tua sendiri. Aku seperti orang gila mencarimu. Seperti yang pernah abang bilang, jika tidak takut dosa, mungkin aku sudah gantung diri di monas saat itu juga. Tapi aku ingat, ada seseorang yang tumbuh di sini," Azka mengelus lembut perut Dea. "abang tidak mau ia memanggil laki-laki lain sebagai daddy-nya dan abang gak mau kamu dimiliki oleh laki-laki lain karena kamu itu hanya takdirku, tidak akan tertukar dengan yang lain." Wajah Azka berubah sendu, matanya sedikit memerah.


"Maafin aku yah, bang. Harusnya aku juga memberi abang kesempatan untuk menjelaskan foto itu, aku fikir abang tidak menginginkan aku di sisi abang, makanya aku pilih pergi."


Azka menggeleng, "itu kesalahan abang, abang tidak pernah mengungkapkan perasaan abang yang sesungguhnya. Abang fikir kamu sudah bisa merasakannya dari perlakukan abang ke kamu, tapi rupanya itu tidak cukup. Saat itu abang menunggu, menunggu kamu yang duluan tergila-gila sama abang. Eh, malah kamu kelihatan cuek. Bahkan setelah abang sudah mengambil mahkota kebanggaan kamu, sikap kamu seolah-olah biasa saja, dan tetap berfikir suatu saat akan pergi seperti yang kamu katakan di hari pertama kita nikah." Ucap Azka panjang lebar, ia tersenyum kecut mengingat kebodohannya.


"Aku ini perempuan bang, prinsip aku itu, pantang cinta mati sama laki-laki yang gak cinta sama aku. Aku memang suka abang, dari dulu, dari kita kecil, tapi aku ini perempuan, perempuan itu adalah makhluk yang paling pandai merekayasa perasaannya. Ia bisa menangis, tapi yang nampak adalah senyum. Ia bisa mencintai dalam diam di sepanjang hidupnya tanpa seorang pun yang tau, bahkan bayangannya pun tidak tau karena ia baru bisa menampakkan perasaannya, di tempat yang gelap dan sepi. Seperti aku mencintai abang selama ini."


Azka kembali memeluk Dea, "i love you!" Bisik Azka.


×××××


\=\=\=\=\=***\=\=\=\=\=


Kasi like, comment dan vote-nya yah, biar jadi suntikan semangat buat author dan popularitas novel ini semakin meningkat.


Jangan lupa baca juga novel author lainnya, KAPAL CINTA AYANA.


Thanks, 😘

__ADS_1


__ADS_2