
Bab 34 Puas?
Dea segera melipir ke kamar mandi sesaat setelah bunda Aya dan Caca keluar dari kamar. Dea benar-benar tidak menyangka akan kejadian seperti ini. Padahal sebulan lebih berstatus suami istri, Dea benar-benar berhasil tidak membuat kesalahan sekecil apapun yang bisa membuat Azka melihat auratnya. Meskipun ia sendiri ragu sejauh apa Azka sudah melihat tubuhnya saat dirinya tertidur.
Tok tok tok!
"Mau sampai kapan kamu di kamar mandi? Ini sudah jam berapa? Nanti masuk angin." Ucap Azka setelah beberapa menit Dea tidak keluar-keluar dari kamar mandi.
Dea cepat-cepat membersihkan tubuhnya. Sialnya, di dalam kamar mandi yang tersedia hanya handuk kecil. Dea bingung sendiri, kok kamar semewah ini tidak memiliki bathrobe gitu?
"Bang Azka!" Dea mencoba memanggil Azka.
"Hmmm.."
Dea senang, rupanya Azka masih menunggunya di depan pintu kamar mandi.
"Tolong koper Dea dong." Pintanya.
Beberapa detik kemudian pintu diketuk lagi dari luar.
"Ini kopernya."
Dea menggeser sedikit pintunya kemudian menarik cepat koper miliknya.
Dan alangkah frustasinya Dea saat melihat isi kopernya yang hanya diisi beberapa pasang pakaian dalam dan lingerie juga sebuah tas kecil berisi ponsel dan dompetnya.
"Kemana pakaianku?" Dea lemas sendiri melihat isi kopernya.
"Raraaaaaaaaaaa!" Teriak Dea yang malah membuat Azka segera masuk kamar mandi karena khawatir mendengar teriakan Dea.
"Kamu kenapa? Hei.. hei.. kamu kenapa?" Azka ikut berjongkok mengguncang kedua pundak Dea yang sudah menangis menatap isi kopernya.
Azka mengikuti arah pandangan Dea yang menatap nanar isi kopernya, namun Azka malah tertawa terbahak-bahak. Setelah tawanya reda, ia memilih satu lingerie berwarna merah menyala kemudian ia berikan ke Dea.
"Pakai ini saja." Ujarnya tanpa rasa risih.
Dea semakin meradang memukul-mukul pundak Azka gemas.
"Bang Azka puas?"
Azka hanya menyeringai nakal kemudian menatap Dea penuh perhatian.
Sial!
__ADS_1
Dea baru menyadari kalau tubuhnya kini hanya dibalut oleh selembar handuk kecil.
Spontan dua tangan Dea ia pakai menutup dadanya, namun melihat tatapan Azka ke bawah pahanya yang terekspos, satu tangannya ia pakai menarik turun ujung handuknya. Tentu saja itu adalah usaha yang sia-sia.
Azka sudah tidak bisa menahannya lagi, ia segera menggendong Dea ke dalam pangkuannya dan membawanya ke tempat tidur.
"Bang Azka mau ngapain?" Tanya Dea gugup. Ia sudah tidak bisa bergerak lagi karena tubuhnya sudah dikunci Azka.
Mata Azka sudah berkabut, irama detak jantungnya berkejaran, sesuatu mendesak dari tubuhnya ingin meminta persetujuan Dea.
Azka semakin memangkas jarak wajahnya ke wajah Dea. Ia mendaratkan bibirnya di atas ubun-ubun Dea kemudian merapalkan sebuah doa yang Dea juga tau itu doa apa.
"Bismillah, allahumma jannibnas-syaithaan wa jannibis-syaithaana maa razaq-tanaa."
Bibir Azka turun ke bibir Dea, karena merasa tak ada penolakan dari Dea, Azka semakin berani melancarkan serangannya yang membuat Dea ikut terbuai.
"Bolehkah?" Tanya Azka ditelinga Dea yang membuat darahnya berdesir, semua bulu halus di tubuhnya meremang, pipinya terasa memanas.
Azka mengangkat wajahnya menatap sendu pada Dea. Sungguh Dea tidak bisa lagi mengabaikan keinginan Azka. Akhirnya Dea mengangguk namun beberapa bulir air mata menetes dari sudut bola matanya.
"Jangan takut, aku akan bertanggung jawab!" Itulah janji Azka yang diucapkannya penuh keyakinan dan berhasil merobohkan semua benteng tinggi pertahanan Dea.
Akhirnya, mereka menghabiskan malam panjang ini dengan gairah yang membuncah, meluap-luap seperti hujan yang memenuhi penampungan air.
*****
Suara ponsel Azka benar-benar sangat mengganggu tidur mereka, Azka memaksa langkahnya mengambil poselnya yang semalam ia lempar di sofa. Rupanya bundanya yang menelpon mode video call.
Azka sigap mengangkatnya, khawatir, ada apa gerangan menelpon sepagi ini.
"Iya bunda!"
"Bangun, sholat subuh dulu!"
"Iya..iya.. kirain ada apa telpon subuh-subuh gini." Ucap Azka menjatuhkan bok*ngnya di sofa. Ia sudah sempat tegang khawatir ada apa-apa pada bundanya itu.
"Bunda hanya mengingatkan, jangan sampai kalian terlalu kecapean sampe subuhnya terlewatkan. Dea mana?"
"Iya, bunda.. iya.. tuh orangnya masih tidur!" Azka menekan tombol untuk kamera belakang ponselnya kemudian berjalan mendekati Dea yang jelas terlihat oleh bundanya tubuh Dea hanya dibungkus selimut tebal menampakkan satu sisi bahu putih mulusnya.
"Sayang... bangun!"
"Eeemmm... masih ngantuk, capek juga!" Jawab Dea malas.
__ADS_1
"Bunda lagi nelpon ini."
Dea tersentak kaget kemudian langsung bangun, tanpa menyadari kondisi rambutnya yang berantakan dan tubuhnya hanya ditutupi selimut.
Azka kembali mengubah pengaturan ponselnya memakai kamera depan, kemudian duduk di samping Dea.
"Bunda, maaf, Dea baru bangun." Ucapnya namun sesaat kemudian Dea berteriak setelah melihat pantulan dirinya di dalam ponsel Azka.
"Aaarrrgggghhhh... bang Azkaaaa!" Dea meraih ponsel Azka kemudian memutus sambungan telpon dari bundanya.
"Bang Azka apa-apaan sih, malu dilihat bunda tau!"
Azka tertawa keras tanpa ada rasa bersalah sama sekali pada Dea. Di matanya, Dea tampak lucu, menggemaskan dan "menggairahkan." Tanpa sadar Azka mengucapkan kata tersebut meski pelan namun masih bisa didengar Dea.
Dea menggeser tubuhnya hendak menjauhi Azka namun rasa sakit menyerang bagian bawahnya.
"Aawwww..." lirihya.
"Kenapa? Apa masih sakit?"
Wajah Dea tiba-tiba terasa panas, menyembulkan semburat merah di sana, beruntung ia masih tertolong oleh cahaya lampu yang tidak begitu terang di kamar mereka.
"Tapi masih bisa tahan kan kalau abang minta itu lagi?"
Dea menggeleng cepat.
"Engg--"
Belum sempat Dea berucap, bibir Azka sudah lebih dulu membungkam mulutnya.
Dan sekali lagi, Azka menerbangkan Dea jauh tinggi melayang ke nirwana.
Setelah mandi junub dan sholat subuh, Azka sepertinya belum bisa beranjak dari tubuh istri cantiknya itu. Lagi dan lagi ia menanamkan benihnya ke dalam rahim Dea berharap ia segera tumbuh secepatnya.
Dea sudah terkulai lemas, rasa laparnya tak ia hiraukan lagi, yang ia butuhkan saat ini adalah tidur di dalam pelukan hangat Azka. Baginya, aroma tubuh Azka sudah cukup sebagai makanan penunda laparnya pagi ini.
Begitupun dengan Azka. Meski matanya sudah tidak bisa lagi terpejam, namun kebahagiaan yang dirasakannya tak bisa lagi digantikan dengan kata-kata apapun di dunia ini. Tak henti-hentinya ia ciumi puncak kepala istrinya, ia memainkan rambut hitam sebahu Dea. Aroma strobery menguar lembut di penciumannya, membuatnya semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Dea.
Tidur Dea sama sekali tak terganggu dengan aktifitas Azka. Padahal tangan Azka terus membelai rambutnya, menciumi kepalanya, mengelus bibirnya, menciumi bibirnya, mengelus pipinya, menciumi pipinya, begitu terus.
Rasanya Azka tidak bisa puas dengan tubuh istrinya itu. Terlalu indah untuk dilewatkan, ia ingin memilikinya sepanjang usianya di dunia ini dan dipertemukan lagi di kehidupan berikutnya.
Azka beranjak bangun tanpa membuat tidur Dea terganggu. Ia membersihkan tubuhnya kemudian menemui keluarga besarnya yang juga sedang menginap di Hotel yang sama.
__ADS_1
×××××