
Bab 54 Dream Come True
Setiap orang punya mimpi, aku juga. Dan salah satu impianku saat kuliah dulu adalah bekerja di McDermott. Tanyakan kepada seluruh mahasiswa yang mengambil jurusan Teknik Perkapalan dan Teknik Kelautan di Indonesia, hampir bisa dipastikan bahwa salah satu mimpi mereka adalah bekerja di perusahaan raksasa tersebut. Bisa kerja praktek di sana saja, bahagianya sudah luar biasa.
Kenapa?
Karena McDermott adalah perusahaan besar penyedia jasa konstruksi bangunan pengeboran minyak lepas pantai terkemuka di dunia untuk industri minyak dan gas. Dan ketika ingin meng-upgrade diri ke level yang lebih tinggi, punya modal experience dari McDermott sangatlah menjual, mau di Indonesia mau di luar negeri, rasa-rasanya pintunya sudah terbuka lebar.
Suatu hari, aku melihat sekumpulan teman-temanku begitu antusias bercerita tentang dua orang senior yang diterima kerja praktek di McDermott, dalam hati aku bergumam, "jika mereka diterima kerja praktek di sana, maka suatu saat nanti aku yang akan bekerja di sana."
(Ini mah kisah nyata author 😍😍😍)
Kata orang bijak, setiap kata adalah doa, bahkan lintasan fikiran sekalipun bisa juga menjadi doa. Makanya berkatalah yang baik-baik saja, dan berfikirlah yang positif-positif saja, terutama pada diri sendiri karena bisa jadi kata-kata dan fikiran-fikiran itulah yang akan kita jumpai di kemudian hari. Saat kamu berbuat baik kepada orang lain sejatinya kamu sedang berbuat baik pada dirimu sendiri dan ketika kamu membantu orang lain saat ini, berarti kamu sedang membantu dirimu di masa depan. Percayalah!
Hari pertama bekerja, setelah dari HRD mereka langsung mengantarku ke gedung tempat ruanganku berada. Penampakannya tidak jauh beda dengan BM Shipyard. Khas galangan! Yang membedakan, kalau di BM shipyard banyak dipenuhi kapal dari yang masih berbentuk block (bagian-bagian kecil) sampai yang sudah jadi kapal memenuhi seisi yard, berbeda dengan di sini, banyak pipa-pipa raksasa yang disatukan membentuk Jacket Platform, ada yang sudah berdiri dengan 4 kaki dan 8 kaki, terlihat juga beberapa konstruksi topside masih dalam masa pengerjaan.
Beruntung, sejak awal dinyatakan bergabung dengan perusahaan ini, aku sudah meminta izin untuk mengakses data-data milik departemen planning agar bisa mempelajarinya terlebih dahulu. Ini bukan hal yang sulit, hanya saja aku perlu penyesuaian karena objek pekerjaannya berbeda jenis, yang satu kapal, yang satunya lagi kilang minyak, tentu jenis pekerjaannya berbeda, ada work sequence (urutan pekerjaan) yang wajib difahami, dan banyak lagi.
Akhirnya aku bisa duduk di kursi kebesaranku, aku memalingkan wajahku ke sisi kiriku, melihat birunya laut sejauh mata memandang. Terlihat anyak kapal-kapal besar sedang melepas sauh menunggu giliran masuk ke Pelabuhan.
Mau tidak mau aku teringat kepada bang Azka. Apa yang dilakukannya saat ini? Adakah dia merindukan aku seperti aku yang selalu merindukannya? Aku hanyalah perempuan yang lemah menahan rindu. Setitik air mataku jatuh, namun kuhapus cepat, satu tanganku mengelus perutku yang masih rata, "selamat 9 minggu, baby mommy!"
*****
Sementara di tempat lain, Azka menjadi gila kerja setelah kembali menginjakkan kakinya di kantor. Kantor sudah menjadi rumah utamanya, ia merasa tidak punya tempat untuk pulang, ke rumah orang tua, ia ditolak mentah-mentah oleh bundanya, mau tinggal di apartemen miliknya, ia malas, ia tidak ingin punya waktu kosong selain daripada bekerja dan tidur, karena jika tidak ia akan seperti orang gila karena terlalu merindukan istrinya.
Bukan apanya, sampai saat ini ia masih sering mengalami mual saat pagi, ia kefikiran Dea, apakah Dea juga mengalami hal yang sama? Bagaimana Dea menjalani hari berat masa ngidam tanpa ada suami di sisinya?
Saat memeriksakan diri ke dokter, dokter mengatakan bahwa dirinya terkena sindrom couvade atau kehamilan simpatik dimana suami mengalami gejala kehamilan seperti yang dialami istrinya tanpa benar-benar hamil. Azka sebenarnya tidak heran, karena ia pernah mendengar bundanya bercerita bahwa dalam tiga kali hamil, ayahnya juga ikut mengalami morning sickness, jadi terkadang mereka berebutan wastafel saat pagi hari.
Azka memandang keluar, menatapi awan putih yang memayungi laut biru, ia teringat Dea, teringat kebiasaan Dea yang paling sering berdiri di sisi dinding kaca atau keluar ke anjungan, berdiri berpuluh-puluh menit demi menikmati pemandangan laut diluar sana.
Jantungnya terasa diremas, terlalu sakit untuk diingat, mungkin Dea sudah membencinya, terlalu dalam luka yang sudah ia goreskan di hati Dea. Namun ia tidak akan menyerah untuk meminta satu kesempatan lagi.
"Deaaa...kamu dimana sih? Mengapa begitu sulit menemukan jejakmu? Dimana lagi aku harus mencarimu???" Azka memejamkan matanya, menarik nafas kuat-kuat dan menghembuskannya kasar melalui mulutnya.
__ADS_1
Ia bahkan sudah menyewa detektif di berbagai negara yang kemungkinan di datangi Dea, namun hingga hari ini, belum ada kabar baik menghampirinya.
Sebulan kemudian...
Azka mengambil gagang telpon di atas mejanya kemudian menekan nomor ekstensi Aldo, "Do, keruangan!"
Beberapa detik kemudian Aldo sudah muncul di ruangannya.
"Ada apa, bos?" Tanya Aldo setelah duduk di kursi depan meja kerja Azka.
"Ada berapa perusahaan kompetitor kita yang ikut tender Tyra project?" Tanya Azka tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.
"Ada lima, MMHE dari Malaysia, McDermott, Saipem, Bechtel dan kita. Semua sudah pemain lama. Tapi kali ini gue optimis kita bisa mendapatkan proyek ini. Galangan di Papua sudah menanti proyek pertamanya." Ucap Aldo penuh semangat.
Azka mengalihkan perhatiannya kepada Aldo. "Dapat wangsit dari mana sampe lo bisa seyakin itu?" Tanya Azka serius.
"Feeling!" Tawa Aldo meledak.
"Dasar!" Azka mendecih, "kapan pengumuman pemenangnya?"
"Coba kosongkan waktuku sekitar dua minggu setelah itu. Aku ingin umroh, nanti suruh Nisa urus semua kelengkapan dokumen keberangkatanku dari Denmark ke Mekkah.
"Kirain mau fokus nyari bini?" Mata Aldo seketika membulat, "nyari bini lama apa bini baru?"
Plak!
Satu pulpen mendarat sempurna di jidat Aldo. Membuatnya wajahnya berubah pias kemudian mengelus-elusnya pelan.
"Woi..kena mata bahaya?"
"Makanya mulut dijaga! Bini gue hanya Dea, gak bakal ada bini-bini baru atau lainnya." Tegas Azka.
"Bercanda, nyet! Lagian kalo lo berniat mau cari bini baru, gue yang akan jadi orang pertama mengebiri lo. Enak saja mau nikah lagi, istri sama anak belum tau bagaimana kehidupannya di luar sana, eh suaminya langsung mau ***-*** sendiri. Jahannam tau!" Emosi Aldo meletup-letup.
"Ini gue udah mau gila rasanya, Do! Kalau gak ingat dosa, gue udah bunuh diri mungkin." Ucap Azka putus asa.
__ADS_1
"Trus kalo lo mati, lo rela gitu anak lo manggil papa ke laki-laki lain?"
"Gak lah.. makanya gue butuh cari dia dengan cara lain, soalnya orang-orang yang udah kita sebar se-Indonesia dan beberapa negara betul-betul tidak menemukan jejaknya."
"Caranya?"
"Minta sama Allah! Mau minta tolong sama siapa lagi? Makanya gue pengen umroh, biar bisa lebih khusyu' mintanya." Azka menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, berputar sedikit ke kiri, kemudian ke kanan, kemudian ke kiri lagi dan kembali ke kanan, begitu terus sampai berkali-kali. Membuat Aldo merasa pusing melihatnya.
"Lo ngapain begitu?"
"Oh Aldo, tidak bisakah sejenak lo mewakili dan mengambil alih rasa bersalah gue? Biar sedikit ringan kepala ini." Ucap Azka frustasi.
"Sepertinya lo memang sudah gila, Ka. Apa perlu gue carikan psikolog?" Tanya Aldo serius.
"Iya, gue memang sudah gila, gila karena cinta, gila karena rindu, rindu sama emaknya anak gue, rindu sama anak gue, gue rindu segalanya apapun tentang Dea. Kalo ada obatnya, tolong lo beli sekarang!"
Aldo menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat kondisi sahabatnya seperti saat ini. Rasa bencinya pada Chyntia semakin memuncak. Aldo benar-benar tidak habis fikir, mengapa Chyntia melakukan semua ini kepada Azka dan Dea. Ini bukan cinta, tapi obsesi. Lagian, untuk apa dia mengejar laki-laki yang tidak mungkin mencintainya. Apa dia tidak pernah berfikir bahwa bagi perempuan itu, lebih baik menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai namun mencintainya daripada menikah dengan laki-laki yang ia cintai tapi tidak mencintainya. Ini sama saja masuk neraka sebelum mati.
"Lo yang sabar yah, Bro! Jangan putus Asa, hanya orang bodoh yang berputus Asa. Lo pasti bisa kembali bersama Dea, yang penting lo terus berusaha dan mulailah berbenah diri." Ucap Aldo menguatkan sahabatnya itu.
Namun sesaat kemudian yang terdengar adalah suara dengkuran halus Azka. Ia tertidur, setelah lelah dengan pekerjaannya dan lelah dengan masalah rumah tangganya.
×××××
Hai Readers..
Thanks udah sekalu sabar menunggu updatenya. Buat yang baru bergabung dan marathon bacanya, kalian bisa baca novelku yang lain, "Kapal Cinta Ayana" sambil nunggu update terbaru novel ini.
Berikan like dan comment sebanyak-banyaknya yah, votenya juga😍
Btw, jika suatu saat ada diantara readers yang ternyata karyawan McDermott atau eks-McDermott seperti Author, atau ada readers dari Teknik Perkapalan juga, salam kenal yah. Tolong dibantu jika ada kesalahan ilmu dan informasi yang author sampaikan selama menulis novel ini.
Buat readers semua, maaf jika novelnya berasa kurang greget, atau diluar espektasi kalian, karena dari awal author sudah membuat plotnya, jadi tinggal dikembangin aja. Kebanyakan sudah ketebak sih sama kalian 😊
Thanks yah😘🤗
__ADS_1