Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 17 | Produser Eksekutif Baru


__ADS_3

Carlotta merasa nyaman di lokasi syuting terbarunya. Marco memastikan segala sesuatu disiapkan sesuai preferensi pribadi gadis itu. Ia juga telah kenal lama dengan beberapa pemain yang akan beradu peran dengannya.


Antonio Aquinas, pemeran utama pria, sudah malang melintang di dunia hiburan Italia sejak kecil. Sungguh sebuah kehormatan bagi Carlotta untuk berakting dengan Antonio. Meskipun usia mereka tidak terpaut begitu jauh, Antonio sudah jauh lebih senior dalam dunia perfilman dibanding dirinya.


Pembacaan naskah sudah dilakukan lama sebelum ini, tetapi Nyonya Sevillo memberikan pengarahan ulang sesuai naskahnya. Johann von Schiller melanjutkan dengan melakukan pengarahan gaya. Film ini adalah sebuah film kolosal bergenre romantis. Pengambilan gambar awal akan dilakukan di Colosseum sore nanti.


"Ingat, Carlotta. Peran awalmu adalah menjadi seorang putri dari Kerajaan Gaia. Setelah Legate Aquila meluluhlantakkan kerajaanmu, kau pergi ke Roma dan berniat balas dendam." Johann berkata. "Aku tidak akan mulai dari sana. Kita akan mulai setelah kau sampai di Roma dan menjadi seorang Courtesan. Kau adalah Courtesan, tapi di dalam hatimu, kau tetap seorang putri kerajaan. Kau bisa melakukan itu?"


Carlotta mengangguk.


Johann tidak meragukan kemampuan aktris-aktrisnya. Ia hanya ingin menegaskan peran masing-masing agar segalanya berjalan sesuai skenario. "Bagus. Syuting akan dilakukan sore nanti. Kita akan berkumpul dengan seluruh kru saat makan siang, tepat setelah aku selesai memberikan briefing pada aktor yang lain."


Carlotta berkata, "Baiklah. Kalau begitu aku akan pergi duluan ke tempat makan siang?"


Johann mengangguk. Colosseum sudah ditutup untuk hari itu. Tim produksi telah mendirikan tenda-tenda besar berwarna putih di tengah Colosseum sebagai tempat makan siang seluruh kru. "Duluan saja, Carlotta. Banyak kru lain telah berkumpul di sana. Isi tenagamu dengan baik, jangan sampai kurang makan."


Carlotta tersenyum. "Pas sekali aku sudah lapar."


Ketika Carlotta sampai di depan tenda putih besar itu, Marco Bruni cepat-cepat menariknya ke samping, mencegah Carlotta masuk.


"Kau tidak boleh ke sana." Begitu kata Marco.


Carlotta mengernyitkan dahi. "Tapi aku ingin makan, Marco."


Marco menggeleng keras. "Tunggu di luar. Aku akan membawakan makananmu ke luar."


Carlotta semakin bingung. "Ada apa sebenarnya, Marco? Percuma saja aku makan di luar. Sebentar lagi seluruh kru akan berkumpul di dalam."


Carlotta menepis tangan Marco dengan bingung, kemudian melangkah masuk.

__ADS_1


Jantungnya langsung berdegup keras dan kakinya jadi lemas ketika melihat 'dia' ada di kepala meja.


Alessandro Ferrara.


***


Alessandro Ferrara langsung berdiri dari tempat duduknya begitu melihat Carlotta datang. Orang-orang di sekelilingnya ikut menoleh untuk melihat siapa yang datang.


"Itu dia Princess of Gaia kita!" Kata Alessandro, sembari melebarkan kedua tangannya, menyambut kedatangan Carlotta.


Carlotta terdiam menatapnya. Ada sorot ketidaksukaan di matanya, tapi pipi gadis itu bersemu sedikit. Untuk saat ini, Alessandro merasa cukup puas dengan itu.


Beberapa kru film bergeser, memberi jalan pada Carlotta. Tempat duduk Carlotta berada di sebelah kanan kepala meja, sebelah kanan Alessandro. Pengaturannya memang seperti itu ssbelumnya. Namun, Carlotta mengira Signor Benito, ayah tirinya yang akan duduk di tempat duduk Alessandro. Sekarang, Carlotta tidak tahu harus berbuat apa.


Seorang kru film mengantar Carlotta sampai ke kursinya, kemudian Alessandro berdiri dan menarikkan kursi itu untuk Carlotta. "Silakan duduk." Ujar Alessandro ramah.


Carlotta merasa kepalanya pusing mendadak. Alessandro adalah orang terakhir yang ingin dilihatnya saat ini. Atau saat kapan pun. Karena begitu melihatnya, yang ingin dilakukan Carlotta adalah mencakar mukanya yang bagai pahatan itu. Atau mematahkan hidungnya yang tegak dan runcing. Atau mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Atau...tidak, Carlotta tidak butuh membayangkan apa yang ingin dilakukannya pada Alessandro. Terlebih lagi saat orangnya ada di hadapan Carlotta.


"Tolong bawakan buah-buahan segar di awal. Carlotta senang makan buah sebelum makanan utama. Bukan begitu, Sayang?" Alessandro bertanya padanya.


Carlotta ingin menjejalkan potongan roti bawang di piringnya ke mulut Alessandro karena pria itu telah seenaknya saja mengucapkan panggilan yang terlalu akrab di depan banyak orang. Tapi, pada akhirnya Carlotta hanya bisa mengangguk.


Ada sesuatu di sup krim yang ada di hadapannya. Terlalu kental, tampilannya mengingatkan Carlotta akan muntahan bayi. Kemudian, roti bawang di depannya juga aneh. Baunya terlalu menyengat.


Perut Carlotta menjadi mual.


"Kau baik-baik saja, Carlotta?" Alessandro memandanginya khawatir.


Carlotta menggeleng. "Aku mau muntah."

__ADS_1


Alessandro mengeluarkan tawa yang rendah dan dalam. "Apa kau menyiratkan bahwa kau muak melihatku ada di sini?"


"Tidak," sahut Carlotta cepat. Lalu, ia berubah pikiran. "Kurasa kau benar. Bisakah kau pergi dari sini dan jangan muncul di hadapanku lagi?"


Alessandro memegangi dadanya sendiri, seolah merasa amat tersakiti dengan kata-kata Carlotta. "Sayangnya, itu tidak mungkin terjadi. Sekarang aku adalah produser eksekutif pembuatan film ini."


Carlotta memandangnya tajam. "Jangan mengada-ada, Alessandro. Produser eksekutifnya adalah suami ibuku! Beliau sendiri yang mendanai film ini begitu tahu aku akan jadi pemeran utama."


"Sekarang beliau telah menyerahkan posisinya padaku, Carlotta. Dan omong-omong, aku lebih menyukai ayah tirimu dibandingkan ayah kandungmu. Jika kita menikah nanti, tolong biarkan ayah tirimu yang menggandengmu ke altar." Alessandro hanya bercanda, tapi Carlotta benar-benar marah.


Gadis itu memelototinya selama beberapa detik, kemudian matanya mulai berkaca-kaca beberapa detik selanjutnya.


Oh, tidak, tidak. Alessandro tidak tahu bagaimana caranya menghadapi tangisan wanita. Carlotta tidak boleh menangis. Tidak di sini, di hadapan semua orang.


"Tenanglah, Sayang. Aku tidak bersungguh-sungguh. Aku berniat melajang seumur hidup. Kurasa informasi itu akan sedikit menenangkanmu?" Alessandro bertanya.


Carlotta mengerjapkan matanya untuk menghilangkan air mata yang siap tumpah tadi. Buah-buahan segarnya telah datang dan selera makannya telah kembali. Tanpa menjawab Alessandro, Carlotta mulai makan. Setelah menghabiskan satu piring, Carlotta meletakkan garpunya dan mengusap mulutnya pelan dengan serbet makan.


"Satu piring lagi." Alessandro menginstruksikan seorang pelayan wanita untuk membawakan piring kedua untuk Carlotta.


Carlotta memandangnya tidak setuju, tapi Alessandro hanya tertawa kecil. "Aku tahu kau masih lapar. Apa gunanya menyiksa diri dengan menahan lapar, Carlotta? Lagipula, ini hanya buah-buahan. Berat badanmu tidak akan naik dan dietmu tidak akan rusak."


Ia ingin membangkang. Ia tidak ingin menuruti kata-kata Alessandro. Namun, kali ini Carlotta sungguh-sungguh masih lapar. Dan demi Tuhan, buah-buahan di hadapannya terlihat snagat menggiurkan. Mangga, stoberi, bluberi, kiwi, melon, dan juga delima. Semua buah yang disukai Carlotta.


"Makan, Carlotta. Jam makan siang akan berakhir sebentar lagi. Syutingmu sampai malam. Kau butuh energi ekstra jika tidak ingin pingsan sebelum jam kerjamu selesai." Alessandro kembali membujuk.


Carlotta meraih garpunya.


"Gadis pintar." Alessandro membelai rambut Carlotta, tetapi gadis itu tidak menyadarinya karena sudah disibukkan dengan makanannya.

__ADS_1


***


__ADS_2