
Guys berhubung review 21+ kira-kira bakal makan waktu seharian, aku upload pagi-pagi banget ya! Semoga nanti sore atau malem udah bisa kalian baca. Ayok, yang masih belom usia 21, cepet close! Hahaha 🔞🔞🔞
Jangan lupa LIKE dulu sebelum baca kayak biasa ya guys! Please gimme VOTE COMMENTS GIFT dan kalau bisa TIPS jiga ♡
This chapter dedicated to Kak Yen Lamour, thank you so much for the tips kak baik banget sumpah sampe ngirimin 76 koin loh aku terharu. Dan buat semua pembaca aku, makasih banyak atas semua dukungan kalian juga ya! Kalau kalian suka cerita ini dan pengen aku tetep lanjut, please don't stop supporting me ♡
Luvluv,
Alana
***
"Apakah seharusnya kita mengundang Gretta dan Patrizia atau tidak?" Carlotta bertanya pada dua adiknya.
Sementara itu, kaum laki-laki yang terdiri dari Alessandro dan Giacomo sedang sibuk mencicipi berbagai macam makanan yang tersaji di sebuah meja besar di ruang tengah. Test food untuk sajian pernikahan, dalih mereka. Alessandro meletakkan canape-nya, kemudian berkata dengan mulut penuh, "Undang saja semuanya."
Ciara menggeleng tidak setuju. "Kau tahu sendiri mereka seperti apa. Kak Carlotta bahkan pernah terpaksa menjadi waitress di rumah keluarga de Angelo."
Giacomo tersedak. Ia ingat Carlotta sempat menjadi seorang waiter, tetapi tidak menyangka jika itu pekerjaan yang ditawarkan oleh teman Carlotta sebagai bahan olok-olokan. "Siapa tadi yang menawarkan Carlotta menjadi waiter?" Tanya Giacomo. Urat tangannya sudah keluar semua saking jengkelnya lelaki itu.
Carlotta menjawab sambil lalu. "Namanya Patrizia de Angelo. Sudahlah, itu semua sudah berlalu."
Ciara memandang Carlotta tidak setuju. "Tapi dia sudah merundungmu jauh sebelum itu. Di sekolah, jika kau tidak ingat, aku akan mengingatkanmu. Kau pernah pulang dengan baju berlumuran darah babi karena Patrizia menuduhmu merebut pemuda yang dia sukai."
Carlotta justru tertawa. "Sungguh tuduhan yang konyol, bukan? Padahal semua orang tahu aku berpacaran dengan Alessandro."
Alessandro tersenyum malu-malu. "Aku sungguh sangat mencintaimu, Carlotta. Kau bahkan tidak malu mengakui bahwa kau berpacaran dengan tukang kebunmu sendiri."
Carlotta melempar tatapan sayang pada Alessandro. "Bagaimana mungkin aku malu, jika tukang kebunku setampan dirimu?"
Alessandro tidak tahan lagi. Ia berdiri, melompati meja, mendarat di hadapan Carlotta, lalu mengangkat gadis itu dan menciumnya di depan umum. Carlotta memekik senang. Ciara dengan sigap menutup mata Carina, sementara Giacomo tertawa keras saat melihat Alessandro membawa Carlotta menghilang ke dalam kamar.
"Pasangan yang sedang dimabuk cinta." Begitu komentar Giacomo sambil geleng-geleng kepala.
"Mereka sudah seperti itu sejak SMA," keluh Ciara. "Hanya saja, sekarang semakin menjadi-jadi."
Giacomo terbahak-bahak. "Luar biasa sekali."
"Kau akan muntah jika aku menceritakan seluruh kelakuan gila mereka." Ciara berkata lagi.
__ADS_1
Giacomo tertawa. "Kalau begitu jangan."
Ciara mengangkat bahu dan kembali menekuni katalog gaun pengantin. Carina menggelar laptop dan buku-bukunya, merasa ini situasi yang pas untuk mulai belajar, karena Carlotta dan Alessandro jelas tidak akan keluar kamar sampai beberapa jam ke depan. Giacomo kembali mencicipi beberapa kue cokelat.
"Omong-omong, teman-teman Carlotta yang jahat padanya tadi, apa lagi kelakuan jahatnya pada Carlotta?" Giacomo bertanya pada Ciara, sengaja memakai nada ringan yang membuat gadis di hadapannya tidak ragu untuk mengatakan semuanya.
"Gretta Mancini tidak terlalu bermasalah. Dia hanya suka mencemooh dan banyak omong. Patrizia des Angelo yang suka membuat masalah. Kau sudah dengar kelakuannya tentang darah babi." Ciara berkata sambil lalu. Perhatiannya masih fokus di baju-baju pernikahan yang indah.
Giacomo tidak lagi pura-pura menikmati makanan di hadapannya. "Lalu? Apa lagi?"
Ciara tampak berpikir sejenak. "Oh, ada lagi. Patrizia juga menyebarkan berita tentang Kak Carlotta yang berpacaran dengan tukang kebunnya. Itu membuat Kak Carlotta agak dikucilkan oleh sebagian teman-temannya di sekolah."
Brengsek sekali gadis bernama Patrizia de Angelo ini, pikir Giacomo marah.
"Sepertinya Patrizia sudah menyimpan kebencian lama pada Kak Carlotta. Dia menganggap Kak Carlotta memiliki semua yang dia inginkan. Para pemuda yang disukainya malah menyukai Kak Carlotta. Cewek-cewek yang dia harapkan akan bergabung di gengnya juga malah bergabung jadi teman Kak Carlotta." Ciara meneruskan tanpa membaca situasi.
Giacomo menahan diri. "Kalau kau dan Carina, apakah ada teman sekolah yang mengganggu kalian?"
Ciara menggeleng. "Aku galak dan tidak baik hati seperti Kak Carlotta. Kalau ada yang menggangguku, pasti sudah kupukul."
Gio memandang Ciara dengan bangga. "Bagus sekali. Kau memang harus seperti itu."
Gio yang tadinya marah, sekarang tertawa terbahak-bahak lagi. "Kau memang anak rajin, Carina. Sepertinya hanya dirimu yang menaruh minat pada belajar di keluarga kita."
Ciara tidak mau kalah. "Aku juga suka belajar. Bedanya, aku lebih suka berkomunikasi dengan manusia daripada buku-buku."
Carina mencebik pada Ciara. "Buku-buku tidak menyebalkan seperti orang. Terutama orang-orang seperti dirimu."
Lalu, Carina segera melesat pergi menghindari serangan cubitan maut dari Ciara. Giacomo hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua adik bungsunya.
***
"Carlotta... Apa yang kau perbuat padaku?" Alessandro mendesah dengan suara dalam penuh pemujaan.
Carlotta kehabisan napas menanggapi ciuman beruntun calon suaminya. "Aku sangat mencintaimu."
Alessandro menggeleng. "Aku mencintaimu lebih banyak."
Mereka berselimut bersama. Kaki keduanya saling bertaut. Carlotta menggerakkan tangan di dada Alessandro, merasakan otot-otot kekasihnya. "Di mana kita akan tinggal setelah menikah?"
__ADS_1
Alessandro tersenyum. "Di mana pun kau mau. Apakah kau ingin sebuah rumah di Bellagio? Pemandangan Danau Como sangat indah. Atau di Tuscany?"
Carlotta balas tersenyum. Dirinya berdebar senang membayangkan apa saja yang akan mereka lakukan setelah menikah nanti. Ke mana saja mereka akan pergi, di mana saja mereka akan tinggal, serta petualangan apa saja yang akan terjadi.
"Tempat-tempat yang kau sebutkan memang indah." Carlotta berkata. Jemarinya masih betah berlama-lama di badan Alessandro. "Tapi di mana pun akan menyenangkan selama ada kau."
Alessandro tertawa. Matanya berbinar penuh kasih sayang. "Kau adalah makhluk menajubkan, Carlotta. Apakah kau tahu?"
Carlotta menggeleng. "Hanya kau yang menganggapku begitu."
Tawa Alessandro semakin keras. "Kau punya banyak sekali penggemar di luar sana karena kau terlalu cantik. Dan kau bahkan tidak menyadari itu."
Carlotta tersenyum malu. "Mereka semua bukan dirimu."
Alessandro menunduk dan mencium kekasihnya. "Aku ingin memakanmu."
Carlotta bergelung menjauh. Alessandro sudah mulai menggigit telinganya. Ia tidak mau bagian tubuhnya yang lain jadi korban selanjutnya. Alessandro terkekeh, lalu menggulingkan Carlotta kembali ke sisinya dengan mudah. "Kau tidak bisa lari dariku, Sayang."
Carlotta terkesiap ketika Alessandro mulai menggigit lehernya pelan.
"Tidak, jangan, akan menimbulkan bekas!" Carlotta mendesis.
Alessandro tertawa pelan. "Kalau begitu aku akan melakukannya di tempat yang lebih tertutup."
Tanpa menunggu aba-aba, pria itu menggigit bagian tubuh Carlotta yang lain.
"Ya Tuhan!" Carlotta menjerit kecil.
Alessandro terkekeh lagi. "Kukira kau bukan orang yang relijius."
Carlotta mengumpulkan napasnya kembali. Ia agak tersengal-sengal. "Memang tidak. Tapi kelakuanmu membuatku selalu teringat Tuhan."
Alessandro membenamkan tubuhnya ke tubuh Carlotta, lalu berkata pelan, "Kau akan menjeritkan nama Tuhan dan namaku kali ini, Sayang."
Carlotta berusaha mendorong Alessandro menjauh. "Kita masih punya tamu, dasar bodoh!"
Lalu, Alessandro bergerak dan Carlotta terlalu lemah untuk melawan. Perempuan itu hanya tertawa melihat Alessandro kembali dikuasai gairah. "Kau tidak pernah lelah, ya?"
Alessandro menggigit bibir bawah Carlotta pelan. "Untukmu? Tidak pernah."
__ADS_1
***