
LIKE BEFORE YOU READ YAAA ♡♡♡
HAPPY READING
Luvluv,
Alana
***
Carlotta tidak bisa tidur semenjak Alessandro meninggalkan kamarnya dengan gusar malam itu. Perempuan itu bergelung semakin rapat di dalam selimutnya, tetapi pikirannya melayang entah ke mana. Pernikahan di depan matanya terasa tidak nyata.
Tangannya meraba perut, merasakan bayinya berpindah tempat. Sungguh, ia ingin membatalkan pernikahannya. Bagaimana nasib anaknya kelak jika Alessandro tidak mampu mencintai mereka? Seharusnya ia tidak mengaku pada pria itu. Untuk apa mengakui bayi ini adalah milik Alessandro jika pria itu tidak akan mempercayainya?
Keputusan awalnya sudah benar. Seharusnya ia tetap pergi dan bersembunyi. Jauh dari Alessandro. Air mata putus asa mengalir pelan di pipi perempuan itu. Yang ia inginkan sekarang hanya pergi sejauh mungkin dari sini.
Marco bilang dia punya kebiasaan untuk melarikan diri. Tapi, bukankah lari memang solusi terbaik dari semua hal yang tidak bisa dihadapi? Bukankah lari akan jauh lebih baik daripada menjalani pernikahan penuh kecurigaan dan tanpa rasa percaya di dalamnya?
Carlotta bangun dari posisi tidurnya. Sanggupkah ia lari sekarang? Castello Ferrara sudah ramai oleh para pekerja yang mengurus semua persiapan pernikahan. Dekorasi telah terpasang cantik. Bangku-bangku berlapis kain putih berkilau telah ditempatkan mengelilingi meja-meja bundar yang mewah. Bunga-bunga telah dirangkai dan disusun indah di semua tempat.
Di kamar yang Carlotta tempati sendiri, seseorang telah masuk dan memasang sebuah manekin di samping ranjangnya. Sebuah manekin yang mengenakan gaun pernikahan paling indah yang pernah Carlotta lihat. Ciara dan Carina yang memilihkan untuknya. Gaun itu tanpa lengan, berpotongan V rendah, dengan bagian bawah gaun mengembang cantik, serta bentuk keseluruhan yang elegan tanpa terlalu banyak hiasan. Adik-adiknya punya selera yang bagus, Carlotta harus mengakui itu.
Pesta pernikahannya digadang-gadang akan menjadi pesta pernikahan paling spektakuler di seluruh penjuru Italia. Kakek dan nenek Alessandro mengundang banyak sekali orang, hingga pesta ini hampir terasa seperti pesta rakyat. Marco Bruni juga tidak mau kalah dengan mengundang semua orang penting di dunia hiburan, memastikan pesta akbar ini akan bertabur bintang. Dunia bisnis dan entertainment dipastikan akan menyoroti pernikahannya tanpa ampun.
Bagaimana jika Carlotta melarikan diri sekarang? Resiko apa yang harus ditanggungnya di kemudian hari? Alessandro mungkin mencintainya. Tidak sebanyak ia mencintai pria itu, ia yakin. Namun, Alessandro jelas-jelas tidak akan tinggal diam jika Carlotta melakukan sesuatu yang tidak disukainya.
Carlotta pernah mengusirnya ke jalanan, menghinanya, memakinya, melemparinya cokelat panas yang bekasnya masih ada di tangan lelaki itu hingga saat ini. Lihat balasan apa yang didapatkan perempuan itu? Keluarganya dibangkrutkan, rumahnya disita dan dirobohkan, sehingga ia terpaksa harus hidup di jalanan dan mengemis pekerjaan pada ayah tiri yang selama ini dibencinya.
__ADS_1
Ketika melihat Carlotta sukses dengan karirnya, Alessandro masih tidak puas. Pria itu membelinya, membuatnya hamil, dan sekarang tidak percaya bahwa ialah yang menghamili Carlotta dengan dalih malam itu ia mengenakan pengaman. Carlotta memegang kepalanya yang mulai sakit. Ia tidak ingin menikah dengan pria mengerikan seperti Alessandro. Jika pria itu mengaku mencintainya, dia jelas-jelas tidak tahu bagaimana cara mencintai yang benar.
Namun, jika Carlotta melarikan diri sekarang, itu artinya perempuan itu membuat masalah baru. Dan ia tidak mau mengira-ngira hukuman apa yang akan Alessandro berikan padanya di kemudian hari. Pasti jauh lebih mengerikan. Lagipula, Carlotta baru saja keluar dari rumah sakit. Kondisinya belum pulih benar. Ia tidak ingin membahayakan kesehatan bayinya dengan mengajak putranya melarikan diri.
Satu-satunya cara yang terlintas di pikirannya adalah perceraian.
***
Marco dan tim makeup artist beserta jajaran stylist, desainer gaun, desainer sepatu, seseorang dari florist, dan beberapa pelayan wanita memasuki kamar Carlotta di pagi hari.
"Rise and shine, our beautiful bride!" Marco berteriak centil, penuh sukacita. Ketika menyadari Carlotta sudah bangun dan sedang duduk di pinggir ranjangnya, ia segera menutup mulut. "Carlotta?" Marco memanggil dengan suara yang lebih pelan.
Carlotta tidak menoleh sama sekali. Pandangannya lurus ke tembok.
"Carlotta, Sayang... Sudah waktunya kita bersiap untuk hari besarmu." Marco menghampiri Carlotta sementara timnya masih berdiri di sisi lain kamar.
Marco menghembuskan napas berat. "Sayangku, mungkin ini hanyalah keraguan menjelang pernikahan. Banyak orang yang mengalaminya. Begini. Jika kalian memang tidak saling mencintai, kalian berdua jelas berhasil menipu seluruh Italia dengan acara pertunangan pribadi kalian yang super romantis di Venezia minggu lalu."
Carlotta menggeleng. "Saat itu aku juga percaya dia mencintai kami, Marco. Dia menyebut bayiku dengan sebutan 'bayi kami'. Dia menciumku dan berkata dia mencintaiku. Entah kenapa aku begitu bodoh dan mudah saja percaya!"
Marco berusaha menenangkan Carlotta yang mulai histeris. "Ssst... Carlotta Sayangku... Dia boleh saja tidak mempercayaimu. Tapi, kurasa dia memang mencintaimu."
Carlotta bangkit berdiri sekarang. "Tidak, Marco. Dia pergi ke New York selama seminggu dan tidak pernah bertanya bagaimana keadaanku!"
Marco memijat keningnya sendiri. "Apa kau ingin aku memberitahunya bahwa kau terbaring di rumah sakit selama seminggu ini?"
Carlotta terduduk kembali di pinggir ranjangnya. Energinya menguap. "Tidak perlu. Dia tidak akan peduli."
__ADS_1
"Oh, percayalah, Sayang. Dia peduli. Dan dia akan mengamuk pada semua orang. Terutama pada dirinya sendiri. Setelah itu dia akan mengembalikanmu ke rumah sakit dan tidak akan memperbolehkanmu keluar dari sana sampai kau melahirkan dengan aman." Marco tertawa.
Carlotta terdiam. "Dia akan bertingkah seperti orang gila."
Marco duduk di samping Carlotta. "Bukankah orang yang sedang kasmaran selalu bertingkah seperti orang gila? Mereka semua akan bertindak bodoh, bahkan terkadang memalukan. Itulah bahayanya cinta."
Carlotta memandang Marco. Ada secercah harapan di mata sebiru lautan perempuan itu. "Kau benar-benar berpikir begitu?"
Marco mengangguk. "Demi Tuhan."
Carlotta tertawa pelan.
"Dengarkan aku, Sayang. Alessandro boleh saja tidak percaya padamu sekarang. Namun, dia mencintaimu. Dia menginginkanmu. Kau tinggal membuatnya mau percaya lagi kepadamu. Tunjukkan sebanyak mungkin cinta yang kau punya, dan bersabarlah atas dirinya. Percaya padaku, dia akan mencintaimu lebih banyak lagi suatu saat nanti." Marco bicara dengan sungguh-sungguh. "Mungkin aku bukan orangtua atau keluargamu, Carlotta. Dan bukan aku yang seharusnya memberikan nasehat menjelang pernikahan padamu. Tapi, aku hanya ingin kebahagiaan untukmu."
Carlotta langsung menangis haru dan memeluk sahabatnya itu. "Kau adalah keluarga terbaik yang kupilih untuk diriku sendiri selama ini, Marco."
Marco memeluk Carlotta lebih erat. "Terima kasih, Sayang. Sekarang, usap air matamu dan mari bersiap untuk pesta pernikahan paling megah abad ini."
Carlotta tertawa pelan. "Haruskah?"
Marco menyipitkan mata. "Apakah aku perlu memaksamu masuk ke dalam gaun sialan itu?"
Carlotta mengangkat tangan. "Tidak perlu, terima kasih. Aku bisa sendiri."
Marco tersenyum menyemangati. "Itu baru gadisku!"
***
__ADS_1