Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 67 | Musim Gugur Tiba


__ADS_3

Enjoy my Crazy Up while it lasts yaa hahaha ♡♡♡


Sehat selalu kalian, jangan lupa jaga pola makan, wear a comfy and warm clothes, don't be sick. Selamat membaca!


Luvluv,


Alana


***


Salah satu musim favorit Carlotta adalah musim gugur. Perempuan itu senang dengan warna-warna hangat dari daun-daun yang berguguran. Cokelat, merah, kuning, oranye, juga keemasan. Bayinya kini sudah berumur sebulan dan tumbuh besar dengan cepat. Carlotta senang membawa Maurizio ke taman. Alessandro dengan sigap menggendong putra mereka ke mana pun yang Carlotta inginkan.


"Sini, biarkan aku yang membawanya." Carlotta meminta Alessandro untuk menyerahkan Maurizio.


Alessandro menggeleng manis. "Kau sudah membawanya selama tujuh bulan penuh. Sekarang dia sudah berat. Biar aku yang membawakannya untukmu."


Carlotta tertawa. "Seandainya saja kau mau membantuku dengan kotoran bayi."


Alessandro cemberut. "Aku mau melakukan semuanya kecuali yang satu itu."


Carlotta tertawa semakin keras. Alessandro memang sudah membuktikan diri sebagai suami dan ayah siaga selama ini. Pria itu sudah mahir memandikan bayi, membantu Carlotta memompa ASI, mengemas ASI perahan dalam botol-botol khusus yang disimpan dalam pendingin, menghangatkan ASI beku, bahkan Alessandro lebih pintar menggendong bayi dibandingkan dengan Carlotta.


Tapi, Alessandro tidak bisa melihat kotoran bayi. Setiap melihatnya, Alessandro selalu muntah. Carlotta jadi merasa kasihan pada suaminya itu.


Sambil berjalan di taman, Carlotta memeluk lengan Alessandro. "Aku masih tidak percaya kita menjadi sebuah keluarga sekarang. Ditambah lagi, kita punya Maurizio."


Alessandro tersenyum hangat pada Carlotta. "Aku juga merasa begitu. Kukira, aku sudah tidak punya kesempatan lagi denganmu."


Carlotta tertawa. "Kau sungguh berpikir begitu?"


Alessandro mengangguk. "Kau pintar sekali menyembunyikan perasaanmu. Aku sampai mengira kau tidak lagi mencintaiku."


Tawa Carlotta makin keras. "Justru aku yang berpikir kau tidak mencintaiku lagi."


Alessandro menepuk-nepuk punggung putranya yang tengah tertidur dalam gendongannya. Lalu, ia menatap Carlotta dengan serius. "Mana mungkin aku bisa tidak mencintaimu lagi? Aku sudah dihantui olehmu sejak berumur sepuluh tahun. Kalau kau sudah mencintaiku selama sepuluh tahun, aku sudah mencintaimu selama delapan belas tahun."


Pipi Carlotta bersemu merah mendengar itu semua. "Kau tidak berbohong, kan?"


"Tidak."

__ADS_1


Carlotta tersenyum. "Kenapa kau tidak mendatangiku lebih cepat?"


Alessandro tertawa, kemudian raut wajahnya berubah serius. "Percayalah, kau tidak akan suka mendengar semua rencana busukku selama ini."


"Oh, ya?"


Alessandro mengajak Carlotta duduk di sebuah bangku taman. "Ya. Awalnya, kau mengusirku dan bilang tidak mau bermain-main dengan pemuda rendahan sepertiku lagi. Aku berusaha dan bekerja keras untuk menghasilkan pundi-pundi tambahan bagi Ferrara."


"Dan kau jelas berhasil melakukannya." Puji Carlotta.


Alessandro tersenyum. "Setelah usahaku membuahkan hasil, aku ingin mengejarmu kembali."


Carlotta memandang suaminya heran. "Kenapa kau tidak melakukannya?"


Alessandro memindahkan posisi bayi mereka di tangannya sejenak sebelum menjawab. "Aku ingin melakukannya, kemudian aku mendengar berita pertunanganmu dengan Roberto Mancini."


Carlotta terkesiap. "Astaga."


Alessandro menggeleng muram. "Kau tidak tahu betapa frustasinya aku saat itu, Carlotta. Saat kau mengusirku, kau berkata bahwa kau akan bertunangan dengan Roberto Mancini. Tapi, kalian berdua tak kunjung bertunangan. Itu adalah angin segar bagiku, memberiku harapan untuk mendekatimu lagi, nanti setelah aku membuktikan diri sebagai seorang pria yang sukses. Kenyataan bahwa aku tidak punya kesempatan lagi denganmu membuatku dikuasai keinginan balas dendam. Itulah saat di mana aku melakukan rencana penggulingan perusahaan milik keluargamu."


Carlotta memandang Alessandro tanpa berkedip. "Aku minta maaf kau harus merasakan itu semua."


Carlotta ikut menggeleng. "Kau tidak menghancurkan milik Papa. Kau hanya tidak lagi menyokong hutang Papa. Itu adalah hakmu."


"Aku memang berhak, tapi seharusnya aku tidak melakukannya. Aku membuatmu hidup kesulitan di jalanan. Padahal, aku tidak ingin kau kesulitan. Itulah sebabnya aku ingin memberimu penawaran di pesta Patrizia de Angelo." Ujar Alessandro. "Tapi kau sama sekali tidak ingin mendengar penawaranku."


Carlotta tersenyum geli. "Penawaran apakah itu, jika aku masih boleh mendengarnya sekarang?"


Alessandro mencubit hidung Carlotta gemas. "Penawaran untuk menikah denganku, tentu saja. Memangnya kau pikir apa lagi?"


Carlotta tertawa senang. "Saat itu usiamu baru dua puluh tiga. Dan kau sudah merencanakan pernikahan?"


Alessandro geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan Carlotta. "Aku bahkan sudah merencanakan pernikahan sejak kau melihatku dengan pipi bersemu merah saat pertama kita bertemu."


Carlotta terkesiap sekali lagi. "Astaga."


Alessandro tertawa melihat Carlotta begitu terkejut. "Aku tahu aku tidak akan melepaskanmu seumur hidupku sejak menyadari ada kemungkinan kau merasakan perasaan yang sama denganku."


Carlotta tersenyum lembut. "Kau sungguh percaya diri."

__ADS_1


Alessandro terbahak. "Jika tidak, bagaimana aku bisa bersaing dengan pemuda-pemuda lain yang lebih segalanya dariku, untuk memperebutkanmu? Aku hanya tukang kebun rendahan saat itu, Cara Mia."


Carlotta mengusap pipi suaminya dengan lembut. "Tapi kau harus tahu bahwa tidak ada pemuda lain yang sebanding denganmu. Mataku hanya tertuju padamu."


Alessandro tersenyum jahil. "Aku tahu. Itu sebabnya aku tidak kehilangan harapan."


Carlotta tersenyum manis, kemudian Alessandro bergerak untuk mencium istrinya.


Tapi, Carlotta belum selesai dengan semua pertanyaan yang mengganjal benaknya selama ini. "Lalu, apa yang terjadi setelah pesta de Angelo?"


Alessandro mengangkat bahu. "Kau menolakku dengan keras. Aku tetap ingin kau putus dengan Roberto. Aku tahu kau sudah tidak mencintaiku, tapi aku masih tidak rela orang lain memilikimu."


Carlotta tertawa masam. "Kau tidak tahu saja, aku selalu memikirkanmu setiap malam."


Alessandro menatap istrinya berbinar-binar. "Hanya setiap malam?"


"Tidak." Carlotta tertawa. "Mungkin sekitar lima menit sekali?"


Alessandro memandang Carlotta dengan pandangan memuja. Kemudian, ia melanjutkan. "Aku kehilangan harapan saat itu dan berniat melepaskanmu pergi. Aku kembali ke Roma dan mulai mencari wanita lain yang mirip denganmu. Aku menjalin banyak cinta satu malam dengan perempuan berambut pirang dan bermata biru."


Carlotta tercengang mendengarnya. "K-kau? Menjalin hubungan seperti itu dengan wanita-wanita yang punya kemiripan denganku?"


"Mereka semua tidak ada artinya." Alessandro menggeleng sedih. "Aku masih tetap menginginkanmu. Hanya kau. Itulah sebabnya ketika melihat fotomu terpasang di baliho terbesar di kota Roma untuk promosi film Putri Gaia, aku hilang kendali. Aku sangat amat menginginkanmu. Aku berpikir mungkin semalam bersamamu sudah cukup. Aku akan mengenangmu untuk seluruh malam panjang seumur hidupku."


"Apa semalam bersamaku benar-benar cukup?" Tanya Carlotta.


Alessandro menggeleng sambil tersenyum miris. "Kenyataannya, setelah bersamamu, aku semakin tidak bisa melepaskan diri darimu. Bahkan seumur hidup denganmu rasanya tidak juga cukup."


Carlotta tersenyum lembut. "Oh, Alessandro..."


"Maafkan semua yang kulakukan malam itu, Cara Mia. Aku benar-benar bersalah padamu. Kukira kau membenciku. Aku sungguh sangat menginginkanmu dan aku tidak tahu apa lagi yang bisa kulakukan untuk mendapatkanmu." Alessandro berkata dengan sedih.


Carlotta pura-pura cemberut. "Padahal kau tinggal bilang kalau kau mencintaiku. Itu saja sudah cukup."


Alessandro tersenyum. "Aku mencintaimu."


Carlotta balas tersenyum. "Aku juga mencintaimu."


***

__ADS_1


__ADS_2