Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 59 | Prahara Baru


__ADS_3

Besok hari terakhir kompetisi guyssss TBLTBLTBL (Takut Banget Loh) hahaha tolong keep up the supports yaaa! Jangan kasih kendor like vote 5stars gift dkk-nya! ♡♡♡


Enggak cerita ini belom tamat walaupun besok udah hari terakhir kompetisi kok. Belom ya. Tapi aku juga nggak pengen panjang-panjangin kek Tersanjung hahaha jadi secukupnya aja ya! Karya aku berikutnya ga kalah seru kok guys jangan khawatir. Yuk makanya difollow yuk biar ga ketinggalan update ♡


Luvluv,


Alana


***


Carlotta masuk kembali dalam kamar sebelum suaminya sadar bahwa ia menguping. Ia tahu. Selama ini, ia jelas-jelas tahu bahwa Alessandro tidak percaya bayi dalam kandungannya adalah anak lelaki itu. Semua memang salah Carlotta yang dari awal berbohong dan mengelak. Namun, hatinya tetap saja terasa sakit ketika mendengar itu semua secara langsung.


Selama sebulan pernikahan mereka, Carlotta berusaha meyakinkan Alessandro pelan-pelan. Ia sengaja menyelipkan penegasan di sana-sini bahwa bayinya bertingkah mirip dengan suaminya. Ternyata, itu semua tidak berbuah manis. Alessandro masih tidak mempercayainya.


Apa yang harus Carlotta lakukan sekarang? Apa yang bisa dilakukan perempuan itu agar Alessandro mau percaya?


"Nyonya..." Lombardi menghampiri Carlotta ketika dilihatnya perempuan itu keluar lagi dari kamar satu jam kemudian, lengkap dengan mantel tipis dan tas tangan. "Apakah Anda ingin pergi ke suatu tempat? Saya bisa meminta seseorang untuk mengantar Anda."


Carlotta menggeleng. "Aku bisa menyetir sendiri."


Lombardi menatap Carlotta horror. "Tidak, Nyonya. Signor Alessandro akan membunuh saya jika Anda sampai melakukan hal itu."


Carlotta memandang Lombardi beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Kalau begitu, ayo cepat sedikit. Aku ingin pergi ke apartemenku untuk menemui Ciara dan Carina."


Lombardi dengan sigap langsung menyalakan alat komunikasinya.


***


Carlotta merasa sangat suntuk di rumah. Ia ingin pergi ke mana pun asalkan tidak melihat wajah suaminya. Carlotta terlalu kecewa karena telah menggantungkan harapan tinggi-tinggi. Sepanjang perjalanan menuju apartemennya, Carlotta terus menerus berpikir. Apakah sungguh tidak ada yang bisa dilakukannya? Haruskah ia menunggu dua atau dua setengah bulan lagi agar tes DNA yang diimpikan Alessandro bisa segera dilaksanakan?


Tangan Carlotta bergerak ke perut. Perempuan itu membelai anaknya dengan sedih.


Ia memejamkan mata. Apa sebenarnya arti sebuah pernikahan tanpa rasa percaya? Bahkan Alessandro sudah mengucap janji pernikahan yang mencantumkan perihal kepercayaan. Namun, rupanya, pria itu telah melanggarnya. Carlotta terus dihantui pemikiran buruk hingga terbersit di hatinya untuk meminta cerai saja.


Bisakah ia melakukan itu? Sanggupkah ia berpisah dari Alessandro sekarang?

__ADS_1


Carlotta lagi-lagi menggeleng sedih. Ia terlalu mencintai Alessandro untuk bisa melepas pria itu. Setelah merasakan sendiri setiap hari bersama dengan pria itu, dua puluh empat jam dikali tujuh hari, Carlotta merasa teramat sayang untuk kembali ke kehidupannya sebelum menikah. Hari-harinya tanpa Alessandro terasa hampa. Bahkan, ia baru merasa benar-benar hidup saat telah menikah dengan kekasihnya.


Ciara tidak menyangka akan kedatangan Carlotta di apartemen mereka. Ketika membuka pintu, wajahnya jelas terkejut. "Kak? Ada apa?"


Carlotta tersenyum. "Tidak ada apa-apa. Memangnya tidak boleh berkunjung?"


Ciara segera membukakan pintu lebih lebar. "Tentu saja boleh. Di mana suamimu?"


Carlotta mengangkat bahu. "Bekerja, seperti biasa. Aku kemari untuk membicarakan Baby Shower."


Muka Ciara langsung antusias. "Ah. Begitu rupanya. Aku sudah menyebar undangan." Ciara membimbing Carlotta masuk lebih dalam ke apartemen dan membantu kakaknya itu duduk di sebuah sofa. "Tapi, aku terpaksa mengundang Gretta Mancini dan Patrizia des Angelo."


Carlotta mengernyit. Ada sorot geli di matanya. "Benarkah? Kenapa?"


Ciara mengambilkan air dingin untuk diminum oleh Carlotta, kemudian merebahkan diri di sofa samping Carlotta. "Gretta mengancam tidak memperbolehkan Roberto datang jika dia tidak diundang serta. Padahal, aku butuh bicara dengan Roberto terkait tugas akhir kuliahku."


"Oh, ya?"


Ciara menatap Carlotta lurus-lurus. "Aku bersumpah tidak punya hubungan apapun dengan Roberto. Kami hanya akan berdiskusi tentang permasalahan hukum."


Ciara menyipitkan mata. "Tatapanmu jelas mengatakan sesuatu."


Carlotta mengabaikan itu. "Lalu, apa ada alasan khusus kau mengundang Patrizia? Apakah Gretta juga mengancam tidak akan datang jika Patrizia tidak diundang?"


"Tidak, tidak." Ciara memutar bola matanya. "Ini bahkan lebih aneh lagi. Kak Gio yang memastikan padaku agar aku mengundang Patrizia des Angelo."


Carlotta mengernyit heran, tetapi penasaran juga. "Kak Gio mengundang Patrizia des Angelo? Untuk apa?"


Ciara mengangkat bahunya.


***


Ciara dan Marco memilih minggu ke-29 kehamilan Carlotta sebagai waktu yang paling pas untuk menggelar pesta Baby Shower. Seminggu berlalu dengan hectic akibat seluruh persiapan. Carlotta menyukai tema lautan, setelah menghabiskan bulan madunya di pantai selama sebulan. Lagipula, bayinya laki-laki. Warna biru pada akhirnya dipilih sebagai warna utama dekorasi pesta.


Marco dan timnya mengubah ballroom keluarga Ferrara menjadi ruangan khusus Baby Shower. Lantainya ditutupi karpet Turki berwarna biru muda. Langit-langitnya dipenuhi balon berwarna putih. Seluruh sisi ballroom dilapisi gorden berat dari sutera berwarna putih dan biru. Semua meja melingkar yang ada dipenuhi hiasan dan makanan bertema lautan.

__ADS_1


Ciara dan Carina memilihkan sebuah gaun longgar panjang yang cantik berwarna putih untuk Carlotta. Carlotta sudah mengakui selera kedua adiknya bagus ketika keduanya memilihkan gaun pengantin yang indah untuknya. Jadi, untuk acara kali ini pun Carlotta mempercayakan perihal gaunnya sekali lagi pada mereka.


Pesta akan dimulai selepas makan siang. Pada pagi harinya, Castello Ferrara sudah dipenuhi orang-orang. Marco Bruni sibuk mengatur tempat duduk tamu bersama orang-orang dari tim Lombardi, sementara Lombardi sendiri justru tidak nampak batang hidungnya.


Ciara dan Carlotta sedang mendiskusikan penataan meja melingkar di ballroom, ketika Lombardi mendekati Alessandro dan bicara dengan nada rendah. "Signor, ada tamu untuk Anda."


Alessandro masih asyik memainkan rambut Carlotta dari belakang. "Suruh datang lagi kapan-kapan. Kau tidak lihat aku sedang sibuk?"


Lombardi masih berdiri di tempatnya. Raut wajahnya agak bimbang. "Signor, situasi ini agak mendesak."


Carlotta langsung waspada. "Situasi apa yang kau maksud?"


Lombardi melirik Alessandro dan menggeleng pelan. Carlotta menjadi semakin curiga.


"Kalau kau tidak bicara di sini sekarang, Lombardi, aku akan memintamu menjadi pelayan pribadi nenek Alessandro." Carlotta mengancam.


Alessandro mengangkat bahunya. "Tidak apa-apa, Lombardi. Katakan saja di depan Carlotta."


"Ada wanita, Signor. Membawa seorang bocah berumur dua tahun..." Lombardi memberi jeda sebentar, berusaha mengamati perubahan suasana hati tuan dan nyonyanya.


Alessandro masih diam saja, sementara Carlotta sudah berputar menghadap Lombardi seratus persen. "Siapa wanita itu?"


Lombardi menggeleng. "Dia bilang sempat bertemu dengan Signor Alessandro tiga tahun lalu di Verona."


Carlotta berkacak pinggang. "Bertemu? Siapa dia, Alessandro?"


Alessandro mengangkat bahu. "Tidak ada wanita lain yang kuingat kecuali kau, Sayang."


Carlotta memelototinya. "Jangan bercanda."


Alessandro mencium puncak kepala Carlotta. "Demi Tuhan, aku tidak berbohong. Lagipula, wanita itu bilang dia bertemu denganku tiga tahun lalu, kan? Mana mungkin aku ingat?"


Carlotta mengabaikan penjelasan Alessandro, kemudian berfokus kembali pada Lombardi. "Siapa nama wanita ini? Mau apa dia kemari?"


Lombardi sempat ragu-ragu sesaat sebelum melanjutkan. "Dia mengaku bahwa bocah itu adalah putra Anda, Signor."

__ADS_1


***


__ADS_2