Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 50 | Menjelang Pernikahan


__ADS_3

LIKE DULU SEBELUM BACA PLEASE BANGET ♡♡♡♡♡


Ga nyangka kompetisi 'Mengubah Takdir' bakal segera berakhir nanti tanggal 12 guys. Makasih banget buat semua dukungan kalian yaa. Menang kalah ga masalah, tapi pengennya menang kan ya? Hahaha ngarep gapapa deh. But, yang paling penting buat aku adalah semoga kalian bisa menikmati cerita dari aku ini. I already give my best for you guys.


Kalian sehat-sehat terus, jaga makan, jangan kecapean. The world would be just fine kalau kalian istirahat sebentar dan take your 'me time' kok. Will always pray for your happiness.


Luvluv,


Alana


***


Ketika Carlotta membuka mata, langit sudah terang keemasan. Ia berada di sebuah ruangan serba putih yang jelas-jelas bukan rumah keluarga Ferrara. Nenek dan kakek Alessandro menungguinya sembari bersandar di sofa. Marco yang pertama kali datang mendekatinya.


"Ya Tuhan, Carlotta, akhirnya kau bangun juga. Aku takut sekali!" Marco duduk di sisi ranjang Carlotta dan menggenggam tangan Carlotta yang tidak dibebat infus.


Yang mengerikan di mata Carlotta, terdapat kantong-kantong darah di sisi tempat tidurnya. Mengikuti arah pandangan Carlotta, Marco segera menjelaskan, "Kau pingsan dan mengalami perdarahan. Jauh lebih banyak daripada sebelumnya. Ya Tuhan, aku tidak pernah melihat ada darah sebanyak itu sebelumnya." Marco mulai menangis. "Aku takut sekali, Carlotta. Aku takut sekali."


Kakek Alessandro meraih Marco dan menepuk-nepuk punggung pemuda itu. Nenek Alessandro langsung mendekati Carlotta.


"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" Nenek Alessandro membelai rambut Carlotta lembut.


Carlotta mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengumpulkan kesadaran. "Bayiku...?"


Marco yang menjawab. "Bayimu hampir tidak bisa diselamatkan, Carlotta. Tapi, dia adalah anak yang kuat. Dia masih bertahan di sana."


Carlotta meraba perutnya sendiri. Air mata mulai mengalir di pipinya.


"Sudah... Tidak apa-apa, Sayang. Semuanya baik-baik saja sekarang. Kau dan bayimu, kalian berdua kuat." Nenek Alessandro berkata menenangkan.


Kakek Alessandro bertanya dengan perlahan. "Apa yang sebenarnya terjadi, Nak? Apakah Alessandro melakukan sesuatu?"


Carlotta menggeleng. "Ini salahku..." Ucapnya di sela isakan.


Kakek Alessandro sudah siap dengan ponselnya. "Alessandro tidak tahu calon istrinya terbaring di rumah sakit karena malam itu dia berangkat ke New York. Aku akan menyuruh Alessandro pulang sekarang."


Carlotta menggeleng sekali lagi. "Tolong, jangan. Tolong rahasiakan ini dari Alessandro. Aku mohon..." Carlotta mengusap air matanya dan berkata dengan serius. "Aku tidak bisa menghadapi Alessandro sekarang."


Kakek dan nenek Alessandro saling berpandangan dengan sedih. Namun, pada akhirnya, mereka berdua menghargai keputusan Carlotta dan melakukan apa yang Carlotta inginkan.

__ADS_1


"Dokter memintamu dirawat selama dua minggu. Kita akan mengundur pernikahanmu, ya? Bagaimana menurutmu?" Marco bertanya.


Carlotta menggeleng pelan. "Aku akan berusaha agar cepat pulih. Kita tidak perlu melakukan perubahan."


Kakek Alessandro mengangguk. "Sebentar. Kupanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu, Nak." Kemudian, sang kakek keluar dari ruang rawat inap Carlotta.


Carlotta berpaling pada Marco. "Kau tidak memberitahu keluargaku, kan? Aku tidak ingin mereka khawatir."


Marco menggeleng. "Tidak. Aku panik dan hanya fokus mencemaskanmu."


Carlotta tersenyum penuh terima kasih.


***


Carlotta terbaring di rumah sakit selama seminggu penuh sebelum perdarahannya benar-benar berhenti. Ketika perdarahannya telah berhenti, perempuan itu ngotot meminta pulang. Ia harus pulang sebelum Alessandro kembali dari New York. Dia sungguh tidak ingin mengganggu pekerjaan Alessandro lagi.


Dia tidak ingin melakukan apa pun yang sekiranya akan merepotkan bagi Alessandro. Mulai detik ini, Carlotta memilih untuk berdiri di atas kakinya sendiri dan menutup hati. Alessandro atau siapa pun tidak akan bisa menyakitinya lagi.


Ia harus melindungi bayinya. Hanya itu yang paling penting sekarang.


Sesampainya di rumah Ferrara, Carlotta meminta dibukakan sebuah kamar baru agar ia tidak perlu tidur di kamar yang sama dengan Alessandro. Ia bertekad untuk menghindari calon suaminya itu sebisa mungkin. Nanti, setelah mereka resmi menikah, Carlotta juga berencana untuk minta pisah rumah.


"Jika kau tidak kembali ke kamar kita, aku yang akan tidur di sini." Ucap Alessandro ketika melihat Carlotta berbaring di salah satu sisi ranjang.


Carlotta tidak mendongak sedikit pun. Ia masih menatap kosong ke sisi lain ruangan. Dia terlalu lelah. "Terserah kau saja."


Alessandro semakin gusar. "Apa yang salah denganmu, Carlotta? Kenapa kau jadi begini?"


Carlotta memejamkan mata dan memilih untuk pura-pura tidak dengar.


"Hari pernikahan kita adalah besok, dan saat ini kau memilih untuk memulai perang dingin?" Alessandro terdengar kesal sekali.


Carlotta tidak bergerak dari posisinya semula.


Kemudian, Alessandro menyadari ada yang aneh dengan posisi berbaring Carlotta. Perempuan itu tampak berusaha sangat keras untuk melindungi perutnya. Alessandro mendengus marah. Memangnya apa yang perempuan itu pikir akan Alessandro lakukan? Menyakiti Carlotta dan bayinya?


Alessandro sering mendengar bahwa wanita hamil sangat sensitif, tetapi tidak menyangka akan sesensitif ini. Carlotta bahkan tampak berusaha keras menutupi ketakutannya pada Alessandro. Demi Tuhan, Alessandro tidak pernah berlaku kasar pada perempuan mana pun. Apalagi pada perempuan hamil. Alessandro jadi ingin mengguncang Carlotta agar perempuan itu sadar.


Pria itu memutuskan untuk melakukan pendekatan yang lebih halus. "Aku membelikanmu oleh-oleh dari New York. Kuletakkan di kamar kita."

__ADS_1


Carlotta masih memejamkan mata, tapi ia menjawab, "Terima kasih. Kau perhatian sekali."


Alessandro menangkap nada sarkastis yang digunakan Carlotta. "Carlotta..."


Perempuan itu bergelung seperti cacing yang sedang mempertahankan diri dari serangan lawan. "Bisakah kau tinggalkan aku sendiri? Aku sedang beristirahat."


***


Alessandro bingung bukan main. Ia sudah pergi cukup lama dengan harapan ketika pulang nanti, Carlotta telah berhenti bertingkah dan menjadi dirinya sendiri lagi. Namun, harapannya sama sekali tidak terwujud. Jika minggu lalu Carlotta masih mau marah-marah padanya, hari ini Carlotta justru menutup diri. Tidak ada teriakan, tatapan membara, dan juga pukulan. Perempuan itu malah menjauh seolah Alessandro adalah makhluk mengerikan.


"Tolong jangan berbuat kasar pada Nona Carlotta, Signor." Lombardi berkata ketika melihat Alessandro tampak murka.


Alessandro melirik Lombardi tajam. "Jadi sekarang kau membela Carlotta? Untuk siapa kau bekerja sebenarnya?"


Lombardi seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkannya.


"Apa ada sesuatu yang kulewatkan?" Alessandro mulai menyelidik. Sesuatu terasa tidak beres di sini.


Lombardi cepat-cepat menggeleng. Ia teringat pesan Carlotta untuk tidak menceritakan apa pun pada Alessandro. Juga pesan Alessandro untuk tidak melaporkan apa-apa tentang Carlotta.


Alessandro menuang wiski, kemudian menenggak isinya dalam satu tegukan. "Besok kami akan menikah, tapi sikapnya justru seperti ini."


Lombardi bertanya, "Apakah Anda akan menuruti keinginan Nona Carlotta untuk membatalkan pernikahan, Signor?"


Alessandro memutar bola mata. "Itu tidak akan terjadi. Meski dunia runtuh sekali pun, besok kami akan tetap menikah. Dan tugasmu adalah memastikan semuanya berjalan lancar, Lombardi."


Lombardi mengangguk. "Baik, Signor."


"Tadi kau mau bilang sesuatu, kan? Cepat katakan saja." Alessandro berkata dengan nada menuntut.


"Tidak ada, Signor." Kata Lombardi, kemudian pria itu berubah pikiran dan mulai membuka mulut lagi. "Hanya saja, tolong perlakukan Nona Carlotta dengan lebih lembut, Signor. Dia sedang hamil."


Alessandro tertegun. Tidak biasanya Lombardi berani menasehatinya.


"Apakah Carlotta mengatakan sesuatu kepadamu?" Tanya Alessandro.


Lombardi menggeleng. "Tidak ada, Signor."


Alessandro mencurigai Lombardi berbohong, tapi tidak punya alasan yang kuat untuk memaksanya bicara. Jadi, Alessandro memutuskan untuk melepaskannya kali ini. Ada hal-hal yang lebih penting yang harus dipikirkannya sekarang. Pernikahan, misalnya.

__ADS_1


***


__ADS_2