
Lagi mood banget nulis yang manis-manis. Hope you'll like it ♡
Luvluv,
Alana
***
Sudah dua bulan Mauricio lahir. Sudah dua bulan pula jadwal tidur Carlotta dan Alessandro terganggu akibat tangisan bayi di tengah malam. Mereka memang mempekerjakan beberapa orang baby sitter, tapi mereka tetap merasa tidak bisa jauh-jauh dari Mauricio. Namun, di tengah sibuknya pekerjaan bagi Alessandro dan kebosanan Carlotta karena tidak pernah pergi ke mana-mana, kakek dan nenek Alessandro memandang mereka berdua dengan cemas pagi itu di ruang makan.
"Kalian butuh liburan." Kakek Alessandro berkata.
Alessandro mengunyah makanannya dengan cepat sebelum menjawab. "Tidak bisa, Kek. Aku sudah meninggalkan banyak sekali pekerjaan saat pergi ke Santorini selama sebulan dan--" Alessandro langsung berhenti berbicara saat melihat Carlotta cemberut.
Alessandro menarik napas panjang. "Maksudku, bukan itu. Liburan di Santorini sangat menyenangkan dan sekarang... Oh, sial. Bagaimana aku harus mengatakannya?"
Carlotta mengaduk-aduk makanannya. "Kau mau bilang bahwa kau menyesal berbulan madu denganku, kan?"
"Tidak, tidak, Cara Mia. Tentu saja tidak begitu!" Alessandro langsung membantah keras.
Nenek Alessandro dan Carlotta diam-diam saling mengedipkan mata. "Lihat lingkaran hitam di bawah matamu itu." Ujar sang nenek. "Dan juga lingkaran hitam di bawah mata istrimu. Kau tidak kasihan jika kecantikannya yang legendaris perlahan memudar karena terlalu sibuk merawat putramu sampai tidak sempat bersenang-senang untuk dirinya sendiri?"
Alessandro memandangi Carlotta dengan sedih. "Maafkan aku, Sayang. Kau pasti lelah."
Carlotta mengangguk, berpura-pura sedih. "Aku ingin liburan denganmu. Hanya sehari atau dua hari. Kita juga tidak bisa meninggalkan Mauricio lama-lama karena aku berniat memberinya ASI eksklusif selama enam bulan."
Alessandro tampak berpikir sejenak. "Aku juga ingin liburan denganmu, tapi--"
"Kalau begitu, kalian berangkat pagi ini juga." Kakek Alessandro yang memutuskan. "Ke mana kalian ingin pergi?"
Alessandro menggeleng sekali lagi. "Aku punya banyak agenda, Kek. Kali ini, aku berniat melebarkan sayap bisnis ke dunia perfilman. Aku ingin lebih mengerti dunia yang membesarkan nama istriku."
__ADS_1
Carlotta langsung tersedak. "Tidak, tidak. Kau tidak perlu melakukan itu." Katanya cepat. Bisa gawat jika Alessandro benar-benar melakukannya.
Tidak bisa dipungkiri, perjalanan karir Carlotta memang difasilitasi oleh ayah tirinya. Namun, Carlotta telah membuktikan diri bahwa dia bisa berada di puncak juga karena kemampuannya sendiri. Jika sekarang suaminya ikut-ikutan dalam dunia perfilman, masyarakat jelas tidak akan menghargai kemampuannya seperti selayaknya Carlotta mendapatkan penghargaan atas kerja kerasnya sendiri.
"Jika kau tidak mau pergi liburan denganku, maka aku akan pergi sendiri dengan Mauricio. Kau tidak kan bertemu dengan kami selama seminggu penuh." Carlotta mengancam.
Kini, Alessandro yang cemberut. Tidak bertemu dengan Carlotta selama enam jam per hari karena pekerjaan saja sudah sangat menyiksa. Apalagi seminggu! Alessandro menggeleng cepat, tak mampu membayangkan.
"Baiklah, kita akan pergi liburan sekarang juga. Ke mana kau ingin pergi?" Alessandro akhirnya menyerah kalah, membuat Carlotta dan kakek neneknya tersenyum lebar.
Carlotta menatap Alesssndro serius. "Aku selalu penasaran akan vilamu di Veneto. Tempat yang identik dengan kehidupan masa bujanganmu."
Alessandro langsung berjengit dan meringis ngeri mendengarnya. Kakek dan nenek Alessandro terkekeh bersama-sama.
Alessandro menyudahi sarapannya. "Carlotta... Aku tidak pernah lagi datang ke sana setelah menikah dan--"
"Dan kau tidak akan pergi ke sana sendirian. Mulai sekarang, tempat itu hanya boleh kau datangi bersamaku. Dan Mauricio." Carlotta meneruskan ucapan Alessandro.
***
Rumah pedesaan bergaya Romawi kuno milik Alessandro sama sekali tidak tampak seperti sebuah rumah. Carlotta melihatnya lebih mirip sebuah balai pertemuan raja-raja berabad silam. Bagian depannya disangga dan dihiasi dua belas buah pilar yang bagian kepalanya bercorak floral. Atapnya berbentuk kubah besar, menegaskan kesan megah. Tidak ada denah yang jelas karena Alessandro memilih untuk menggabungkan ruangan berbentuk lingkaran dan pergi tanpa sekat.
Pada taman belakang rumah, Alessandro memiliki sebuah kolam renang besar yang berbatasan langsung dengan lapangan golf. Keseluruhan properti itu dikelilingi oleh perkebunan anggur terbaik di Veneto milik Alessandro sendiri.
"Aku mengikutsertakan rumah ini dan seluruh perkebunan anggurku sebagai hadiah pernikahan untukmu." Kata Alessandro ketika Carlotta memandang ke area perkebunan yang luas.
Carlotta terkesiap. "Kau benar-benar melakukannya?"
Alessandro mengangguk. "Tempat ini adalah hal pertama yang kubeli dengan keuntungan bersihku setelah meningkatkan pendapatan tahunan sebanyak tujuh kali lipat. Seluruh propertiku di Verona adalah atas nama pribadiku. Semua hal lain di luar sana kuberikan pada Ferrara."
Carlotta tersenyum. "Kenapa harus Verona?"
__ADS_1
Alessandro balas tersenyum sambil mencium pipi Carlotta. "Karena di sinilah kisah kita bermula."
Carlotta masuk ke pelukan Alessandro dan tersenyum senang. "Terima kasih karena sudah mencintaiku."
Alessandro tertawa. "Aku yang berterima kasih karena kau sudah membalas cintaku."
Ketika melihat para pelayan sudah selesai membawa masuk barang bawaan mereka dan tidak ada orang yang mengganggu, Alessandro mulai mencium sisi leher Carlotta. "Kau semakin cantik saja. Bagaimana mungkin kau terus bertambah cantik setiap hari?" Bisik Alessandro.
Carlotta memejamkan matanya dan terkikik karena merasa geli. "Jangan menggodaku, Alessandro. Kau tahu aku tidak tahan godaan."
Alessandro tertawa senang. Ia mulai mencium Carlotta dengan lembut. Mereka berdua berciuman sangat lama, seolah memiliki seluruh waktu di dunia. Ketika Carlotta sudah merasa tak sanggup lagi untuk berdiri, Alessandro berbisik dengan amat persuasif. "Apakah kau ingin kita mencoba melakukannya di perkebunan anggur?"
Jika saja sedang tidak kehabisan napas, Carlotta pasti sudah tertawa terbahak-bahak mendengar bujuk rayu suaminya. Namun, kali ia hanya bisa balas berbisik. "Bagaimana jika ada yang melihat?"
Alessandro tersenyum manis. "Tidak akan ada. Aku sudah meminta seluruh petaniku untuk libur hari ini. Aku juga memberikan bonus jika mereka mau tetap di rumah saja dan tidak berkeliaran di area perkebunan."
Carlotta terkesiap lagi ketika Alessandro tiba-tiba saja sudah menggendongnya dan membawanya menuju area perkebunan.
"T-tunggu sebentar, Alessandro. K-kau sudah bawa pengaman, kan? Dokter di Maggio melarangku hamil lagi dalam jarak waktu yang terlalu dekat!" Carlotta setengah berteriak karena Alessandro sudah mulai berlari dengan cepat, seolah-olah bobot tubuh perempuan itu bukan apa-apa.
Alessandro mengerling padanya dan mengedipkan sebelah mata. "Jangan khawatir, Cara Mia, aku akan sangat berhati-hati kali ini."
Carlotta tertawa sambil memukul dada Alessandro main-main. "Aku tidak percaya padamu!"
Alessandro tertawa terbahak-bahak. "Aku juga tidak sepenuhnya percaya pada diriku sendiri."
Carlotta mendesah pasrah. Perempuan itu mengalungkan tangan di leher suaminya dan merasakan angin sepoi-sepoi memainkan rambutnya ketika ia dibawa berlari. "Kau memang tidak pernah bisa menahan diri di sekitarku." Keluh Carlotta.
Tawa Alessandro semakin keras.
***
__ADS_1