Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 49 | New York, New York


__ADS_3

LIKE DULU SEBELUM BACA ♡♡♡


Sehat-sehat terus kalian semua yaa! Makasih udah baca dan dukung cerita ini dengan like komen vote 5stars gift tips dll. I really really appreciate it.


Luvluv,


Alana


***


Ketika jet pribadi Alessandro mendarat di hanggar pribadinya di Bandara John F. Kennedy, Amerika Serikat, waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Pria itu langsung menuju apartemennya di 432 Park Avenue Penthouse. Ia berencana melepas penat sejenak di sana sebelum bertolak menuju sebuah suite yang telah disewanya di Empire State Building sebagai kantor pusat anak perusahaan barunya nanti.


Banyak sekali yang harus dilakukan oleh Alessandro, tetapi pikirannya terus-menerus tertuju pada Carlotta. Hati kecilnya berkata bahwa meninggalkan perempuan itu sekarang adalah sebuah kesalahan, meskipun alasannya adalah pekerjaan. Alessandro dilanda perasaan bersalah, entah mengapa.


Ponselnya sudah siap di tangan, tetapi ia masih ragu untuk melakukan panggilan jarak jauh ke Roma. Ah. Lagipula, di sana masih pagi. Carlotta harus disingkirkan dari benaknya sebelum perempuan itu membuat pikirannya semakin kacau.


Alessandro pergi membasuh diri di toilet apartemennya. Salah satu alasan ia memilih apartemen ini untuk dibeli adalah ubin pemanas yang terletak di kamar mandi. Pria itu begitu menyukainya karena dengan adanya teknologi itu, ia tidak perlu mengkhawatirkan musim dingin. Carlotta pasti akan senang menghabiskan musim dingin di sini. Terutama, perempuan itu bisa mengunjungi ibunya.


Bukankah Carlotta pernah mengatakan ia ingin pergi ke New York untuk bertemu dengan ibunya?


Alessandro memutar-mutar dua buah undangan cetak pernikahan mereka di tangannya. Ia begitu ingin memberikan kejutan untuk Carlotta dengan mengundang ibu kandung dan ayah tiri gadis itu.


Carlotta pasti akan senang, ya, kan?


Alessandro hanya berharap, suatu hari nanti perempuan itu akan melihat ketulusannya.


***


Signor Benito dan istrinya mendiami sebuah apartemen mewah di City Spire Penthouse, New York. Ketika mendengar Alessandro Ferrara ingin berkunjung, Signor Benito membatalkan semua janjinya hari itu. Istrinya, Caterina, juga mempersiapkan segalanya sebaik mungkin. Mereka berencana menjamu Alessandro makan siang di kediaman mereka.


Tepat pada waktu yang dijanjikan, seorang pria dengan setelan elegan datang. Alessandro Ferrara jelas jauh lebih menawan di kenyataan dibanding foto-fotonya di tabloid-tabloid selama ini.


Signor Benito menyalami anak muda itu dan segera mempersilakannya masuk.


"Sungguh sebuah kehormatan kau mau berkunjung kemari. Apakah Carlotta datang bersamamu?" Signor Benito bertanya.


Alessandro tersenyum. "Kehormatan ada pada saya, karena Anda berdua telah berbaik hati menerima kunjungan saya yang mendadak ini. Tidak, Carlotta tidak ikut. Dia sedang hamil besar."

__ADS_1


"Ah. Begitu." Signor Benito mengangguk penuh pengertian.


Signor Benito kemudian mempersilakan Alessandro masuk dan berderap duluan ke ruang makan. Caterina, ibu dari Carlotta, menyalami Alessandro setelah suaminya. "Senang sekali akhirnya dapat bertemu denganmu, Alessandro. Wajahmu tidak asing."


Alessandro tertawa pelan. "Aku putra dari Lucia Russo, Signora."


Caterina mengernyitkan dahi. Otaknya berputar cepat berusaha mengingat siapa Lucia Russo. Kemudian, ketika akhirnya ingat, mulut Caterina menganga saking terkejutnya dia. "Oh, Dio. Kau putra Lucia Russo... yang itu? Yang bekerja di mansion lama milik mantan suamiku?"


Alessandro tersenyum dan mengangguk.


Caterina masih menatapnya tak percaya. "Lucia memang sangat cantik. Aku mengingatnya dengan jelas. Dia adalah pelayan tercantik yang ada di mansion Marinelli. Tapi, aku sungguh tidak menyangka dia berhubungan dengan pria dari keluarga Ferrara."


Alessandro tertawa pelan. "Ya. Ternyata ada makna dibalik nama Ferrara yang dia berikan padaku. Sejak kecil aku juga bertanya-tanya kenapa ibuku tidak memberikan nama belakang keluarganya untukku. Toh, aku tidak punya ayah."


"Ya Tuhan." Caterina terkejut, tapi tampak senang. "Ayo, mari masuk. Banyak sekali yang harus kita bicarkan."


***


Caterina jelas mengingatkan Alessandro pada Carlotta. Kecantikannya, keanggunannya, cara bicara dan caranya tersenyum, semuanya menurun pada anak perempuan pertamanya itu. Dalam sekejap, Alessandro merasa nyaman bicara pada wanita paruh baya yang masih tampak sangat muda itu.


Alessandro jelas mengingat Nyonya Caterina Marinelli, semasa dulu. Beliau orang yang hangat, berbanding terbalik dengan ayah Carlotta. Alessandro tidak sempat mengenal Caterina lama, tetapi pertemuan singkat di masa lalu itu memberikan kesan yang bagus di benak Alessandro kecil.


Namun, Alessandro tahu semua orang punya jalan dan pilihannya masing-masing. Dan ia merasa tidak pada tempatnya untuk menghakimi keputusan ibu Carlotta dulu.


Lagipula, suaminya yang sekarang juga merupakan pria yang baik. Jauh lebih baik daripada ayah kandung Carlotta, jika Alessandro boleh berpendapat.


Apartemen sepasang suami istri ini sangat besar. Hampir sama besar dengan milik Alessandro sendiri. Ruang tengahnya sanggup menampung sekitar tiga ratus orang tamu undangan, jika pasangan itu ingin mengadakan sebuah pesta. Pemandangan kota yang terbentang dari jendela-jendela besarnya juga merupakan salah satu pemandangan paling menakjubkan yang bisa ditemukan di New York.


Caterina menerima anggur terbaik yang dibawa Alessandro dari Italia, kemudian membawa pria itu langsung mengikuti suaminya ke ruang makan.


Beberapa pelayan datang dan menyajikan makan siang. Signor Benito mempersilakan Alessandro untuk mulai mencicipi hidangan, dan ia sendiri juga mulai mengangkat garpu dan pisau. Makan siang kali itu dipenuhi hidangan laut yang bervariasi.


"Aku harap tidak ada makanan yang membuatmu alergi, Alessandro?" Signor Benito bertanya.


Alessandro menggeleng. "Aku bisa makan apa saja, Signor. Terima kasih."


Caterina berkata pada suaminya, "Ternyata aku sudah mengenal Alessandro sejak dia masih kecil, Sayang."

__ADS_1


Signor Benito agak terkejut. "Benarkah? Bagaimana bisa?"


Caterina tersenyum pada Alessandro. "Dia putra temanku, Lucia Russo."


Signor Benito mengangguk-angguk. "Dunia sempit sekali, ya? Aku tidak tahu kau kenal dengan menantu keluarga Ferrara. Bukankah selama ini kau tinggal di Verona?"


Caterina menghela napas. "Ceritanya panjang."


Alessandro tersenyum, mengerti bahwa Caterina tidak ingin menceritakan masa lalu Alessandro. "Tidak apa-apa, Signora. Aku sama sekali tidak keberatan." Lalu, Alessandro memandang Signor Benito. "Ibuku adalah pelayan di rumah keluarga Marinelli. Keluarga Ferrara sama sekali tidak tahu jika ibuku sedang mengandung saat meninggalkan rumah Ferrara di Roma. Sebelum bekerja di rumah Marinelli, ibuku menjalin hubungan dengan ayahku dan tidak mendapatkan restu."


Signor Benito tertegun. "Ya Tuhan. Rumit sekali. Aku senang kau sudah berada di tempatmu yang seharusnya sekarang."


"Omong-omong tentang restu, apakah keluarga Ferrara merestui hubunganmu dengan putriku Carlotta?" Caterina bertanya.


Alessandro mengangguk. "Kakek dan nenekku senang sekali mendengar kabar mereka akan segera memiliki cicit."


Caterina tampak berseri-seri. "Itu artinya aku akan menjadi seorang nenek sebentar lagi."


Alessandro tersipu sedikit. Pria itu mengeluarkan dua buah undangan dari balik saku jasnya, kemudian memberikannya pada Signor Benito dan istrinya. "Aku datang kemari untuk memberikan undangan ini. Aku harap kalian dapat bergabung di perayaan kami."


Signor Benito menerima undangan itu dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak memiliki anak, jadi aku sudah menganggap anak-anak Caterina sebagai anakku sendiri. Aku sangat ingin bertemu mereka."


Caterina memandang suaminya penuh rasa terima kasih. "Kau sudah melakukan cukup bamyak untuk mereka, Sayang. Terutama untuk kesuksesan karir Carlotta."


Kemudian, Caterina berbicara pada Alessandro. "Kudengar, mantan suamiku kini menjadi buron karena membawa lari uang dari keluarga Ferrara. Apa itu benar?"


Alessandro tertawa pelan. "Sebetulnya tidak. Aku sudah mencabut laporanku enam bulan lalu dan menganggap semuanya lunas, tapi sepertinya beliau tidak tahu."


"Benarkah? Jadi, apakah dia juga akan datang ke pesta pernikahan kalian? Siapa yang akan membawa Carlotta ke altar?" Signor Benito bertanya.


Alessandro menyeruput air mineralnya sebelum berkata, "Aku tidak tahu apakah beliau akan datang. Namun, jelas bukan beliau yang akan mengantar Carlotta ke altar."


"Ya, jika diijinkan, aku bisa melakukan itu." Signor Benito menawarkan diri.


Alessandro menatap Signor Benito dan istrinya, agak tidak enak hati. "Begini. Aku tidak tahu apakah kalian tahu, tapi Carlotta punya kakak laki-laki."


Caterina terdiam, lalu mendengus jijik. "Aku tahu. Giacomo namanya, bukan? Dia putra mantan suamiku dengan pelacur simpanannya di awal pernikahan kami."

__ADS_1


Signor Benito memandang istrinya prihatin. Alessandro melanjutkan makannya seolah tidak ada yang mengatakan apa-apa.


***


__ADS_2