Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 78 | Interogasi Balik


__ADS_3

LIKE DULU SEBELUM BACA YAAA ♡


Luvluv,


Alana


***


Malam-malam terasa sangat panjang bagi Alessandro karena istrinya sedang kedatangan tamu bulanan. Namun, Alessandro merasa damai hanya dengan berbaring berpelukan dengan istrinya sembari memandangi putra mereka tidur. Pria itu membelai rambut keemasan Carlotta yang sangat dikaguminya sejak dulu kala. Ia kemudian berbisik. "Kau sangat cantik."


Carlotta mendongak dan tertawa pelan, takut membangunkan Maurizio. "Kenapa tiba-tiba--"


"Tidak tiba-tiba. Kau memang sangat cantik." Bisik Alessandro sembari menggigit daun telinga istrinya pelan.


Carlotta langsung bergerak menjauh. "Kita tidak bisa melakukannya sekarang, Alessandro!"


Alessandro balas tertawa. "Aku tahu, Cara Mia. Kemarilah, aku hanya ingin bicara denganmu."


Carlotta kembali masuk dalam pelukan suaminya. "Bicara apa?"


Alessandro berpikir sebentar. "Kau belum menjelaskan apa yang terjadi malam itu. Malam saat kau mengusirku ke jalanan."


Carlotta mendesah. "Ceritanya panjang, dan bukan jenis cerita yang kusukai."


"Ayolah, Sayang, aku ingin mendengarnya. Aku harus tahu apa yang terjadi." Bujuk Alessandro. "Aku tidak ingin terus salah paham dan percaya bahwa kau sungguh-sungguh ingin mengusirku hanya karena aku miskin. Itu tidak benar. Kau masih menyimpan semua foto kebersamaan dengan si miskin ini."


Carlotta mencubit lengan suaminya gemas. "Kenapa bicara begitu?"


"Kalau begitu, tolong beritahu aku."


"Baiklah, baiklah." Carlotta tertawa. Kemudian, saat mengingat kembali semua yang terjadi malam itu, Carlotta menghela napas berat. "Papa tahu hubungan kita. Beliau ingin kita putus. Beliau memukulimu dan mengusirmu tapi kau tidak mau pergi. Jadi, beliau datang padaku dan memintaku mengusirmu."


Alessandro menggeleng keras. "Kau tidak mungkin mau melakukan itu hanya karena ayahmu memintamu. Apa yang dia lakukan? Mengancammu?"


Carlotta menunduk sedih. "Beliau memukulku."

__ADS_1


Alessandro terbelalak. Mataya dipenuhi amarah. Tangannya sudah terkepal. "Memukulmu?"


Carlotta mengangguk pelan. "Aku keras kepala. Aku tidak takut dipukul. Aku sudah biasa dipukul, Alessandro. Tapi, beliau mengancam akan memukul Ciara dan Carina juga."


Alessandro mengumpat marah.


Carlotta melanjutkan. "Tidak hanya itu, beliau mengancam akan membunuhmu."


Sekarang, pandangan mata Alessandro seolah siap membunuh. "Dia mengancammu bahwa dia akan membunuhku?"


"Dan beliau tidak main-main dengan ancamannya. Jika kau tetap tinggal di mansion kami, kau benar-benar bisa mati konyol, Alessandro. Papa punya senjata. Beliau berkuasa. Kita berdua hanya anak ingusan yang tidak tahu apa-apa. Aku tidak bisa membiarkanmu mati karena keegoisanku. Aku harus melepaskanmu pergi. Mungkin dengan cara yang buruk. Aku minta maaf. Tapi, kau tidak akan mau pergi jika aku tidak mengatakan semua kata-kata menyakitkan yang kukatakan saat itu padamu." Kata Carlotta.


Melihat Alessandro terbakar amarah, Carlotta hanya bisa meletakkan tangan di dada suaminya sembari bersandar. "Itu semua sudah berlalu, Alessandro. Mari kita lupakan saja." Kata Carlotta lagi.


Alessandro melepaskan Carlotta. Ia bangkit berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir dengan gusar di dalam kamar. "Kau tidak bisa mengatakan itu semua dan mengharapkan aku untuk melupakan semuanya, Carlotta."


Carlotta tertawa gugup. "Kau sendiri yang meminta aku menceritakan semuanya."


Alessandro berhenti sejenak untuk memandang Carlotta tajam. "Kenapa kau tidak bilang padaku? Kita bisa melarikan diri bersama!"


"Ya Tuhan." Alessandro mencengkeram rambutnya sendiri dengan frustasi. "Selama ini aku membencimu yang telah mengatakan kata-kata menusuk. Padahal, kau yang lebih menderita. Kau dipukul dan diancam oleh ayahmu sendiri karena aku!"


Carlotta menggeleng. "Bukan karena kau. Karena aku. Aku yang egois dan tidak mau melepaskanmu."


Alessandro berlutut di sisi ranjang dan menggenggam tangan Carlotta. "Aku juga tidak ingin kau melepaskan aku, Sayang. Tapi, apa yang dilakukan ayahmu tetap salah."


"Sudahlah, Alessandro." Carlotta melepaskan tangannya dari genggaman suaminya. "Aku tidak ingin memperpanjang urusan dengan Papa. Dia bisa jadi orang yang mengerikan."


Alessandro berdiri. "Dia memang orang yang mengerikan. Ayah macam apa yang tega memukul putrinya sendiri?" Pria itu memandangi putranya di box bayi. "Aku bahkan tidak akan membiarkan apa pun atau siapa pun menyakiti Maurizio, apalagi memukulnya. Bagaimana mungkin ayahmu tega memukulmu, Carlotta?"


Carlotta ikut berdiri. Ia menghampiri Alessandro yang kini berdiri di sisi box bayi. "Tuhan baik sekali mengirimkan kau untuk jadi suamiku. Terima kasih sudah menjadi suami yang baik buatku dan ayah yang baik bagi anak kita, Sayang."


Alessandro mencium puncak kepala Carlotta. "Kau tidak perlu berterima kasih. Itu sudah kewajibanku."


Carlotta menghirup leher suaminya dalam-dalam. Wangi itu selalu dapat menenangkannya. "Sudahkah aku bilang aku mencintaimu hari ini?"

__ADS_1


Alessandro tertawa pelan. "Belum lima kali."


Carlotta berbisik di telinga Alessandro. "Aku mencintaimu."


Tangan Alessandro bergerak cepat memosisikan Carlotta tepat di hadapannya, kemudian ia mulai mencium Carlotta. Ia terus mencium dalam-dalam seperti orang yang kehausan. Ketika mereka berdua sudah mulai kesulitan bernapas, Alessandro melepaskan istrinya. "Aku mencintaimu lebih besar."


***


Keesokan harinya, Alessandro berbohong pada Carlotta dan berkata dia akan mengurus pekerjaan di Verona. Padahal, sebenarnya ia ingin pergi menemui Rocco Marinelli di kediaman keluarga Marinelli. Lombardi kaget sekali menerima perintah untuk menghentikan proyek pembangunan kembali mansion mewah keluarga Marinelli. Bukan hanya itu, Alessandro juga memutuskan untuk memberhentikan dana bantuan yang telah diberikannya pada beberapa perusahaan milik keluarga Marinelli.


"Ada masalah apa, Signor?" Lombardi tidak bisa tidak penasaran.


Alessandro menggeleng. "Rocco benar-benar keterlaluan. Dia adalah orang yang kejam, Lombardi. Aku tidak rela membebaskan dia begitu saja. Dia harus dihukum."


"Anda tidak mungkin membiarkan ayah Nyonya Carlotta jatuh dalam lubang kemiskinan, Signor. Bagaimana perasaan Nyonya Carlotta jika beliau sampai mendengar hal ini?" Lombardi berusaha mencegah.


Alessandro mendengus marah. "Dia tidak bisa menjadi ayah untuk Carlotta jika dia tidak bersikap seperti salah satunya." Suara Alessandro terdengar amat sangat jijik. "Bahkan ayah tiri Carlotta memperlakukan Carlotta jauh lebih baik daripada ayah kandungnya."


Lombardi terdiam.


"Aku juga seorang ayah, Lombardi. Aku tidak bisa membiarkan sikap semena-mena ayah terhadap anaknya sendiri. Terlebih, anak itu adalah istriku. Aku tidak akan melepaskan dia." Alessandro mempersiapkan tinjunya sampai jari-jarinya bunyi bergemeretak.


Lombardi mengangguk. "Apa yang akan Anda lakukan?"


"Menurutmu, apa yang harus kulakukan?" Kata Alessandro. Lombardi merasa agak takut saat mendeteksi keinginan membunuh dari tuannya.


"Jangan sampai terjadi sesuatu yang fatal, Signor. Tolong diingat, dia juga tetap ayah dari istri Anda." Lombardi berkata.


Alessandro menggeleng. "Dia sudah membuat masalah denganku sejak lama. Aku membiarkannya terlalu mudah. Tapi, sekarang aku tahu bahwa dia bertindak kasar kepada putri-putrinya juga. Aku tidak akan memaafkannya."


Lombardi membuntuti Alessandro yang sudah berderap cepat menuju salah satu mobil sport-nya. "Biarkan saya yang menyetir, Signor."


Alessandro diam beberapa detik sebelum teringat kembali kecelakaan mengerikan yang pernah dilaluinya. Lombardi benar. Tidak seharusnya dia menyetir dalam keadaan marah. Alessandro segera melemparkan kunci mobilnya pada Lombardi. "Cepat, kalau begitu. Bawa beberapa pengawal juga."


***

__ADS_1


__ADS_2