
Begitu sampai ke dalam tenda miliknya, Carlotta melepaskan pegangannya pada tangan Alessandro. Perempuan itu melipat tangan di depan dada. "Apa sebenarnya maumu?" Ia bertanya.
Alessandro mengernyitkan dahi. "Bukankah kau yang berulang kali melihat ke arahku untuk minta tolong?"
"Apa? Bisa diulangi lagi?" Carlotta tak habis pikir dengan jawaban tidak masuk akal dari Alessandro.
Alessandro memperhatikan keringat mulai bermunculan di wajah dan leher Carlotta. "Apa kau kepanasan di sini?"
"Jangan mengalihkan perhatian, Alessandro." Carlotta menepis tangan Alessandro yang berusaha mengusap keringatnya.
"Biarkan aku menyalakan pendingin." Alessandro bergegas pergi ke ujung ruangan untuk melakukannya. Setelah pendingin menyala, ia kembali pada Carlotta. "Apa kau sering kepanasan? Kau bisa pindah ke tendaku. Di sana lebih dingin."
Sebuah tawaran yang menggiurkan, sebenarnya, karena akhir-akhir ini Carlotta memang sering gerah, entah mengapa.
Carlotta menggeleng tegas, berusaha mengusir bayangan menyenangkan tenda yang dingin. "Tidak. Aku tidak butuh bantuanmu. Dalam hal apapun. Berhentilah ikut campur dan jika bisa, pergilah sejauh mungkin dari sini."
"Duduklah, Sayang." Alessandro menarik sebuah kursi dan menuntun Carlotta agar duduk di sana.
Carlotta menurutinya, tapi raut mukanya jengkel. "Jangan panggil aku begitu!"
Alessandro mengangkat bahu. "Memangnya kenapa? Marco Bruni melakukan itu sepanjang waktu denganmu."
Carlotta kehilangan kata-kata. Bisa-bisanya Alessandro membandingkan diri dengan Marco. "Kalian berbeda! Marco sudah seperti kakakku sendiri. Kakak perempuan, lebih tepatnya. Kau jelas tidak seperti itu."
Alessandro menatap Carlotta. "Lalu, aku ini apa bagimu, Carlotta?"
"Kau..." 'segalanya yang tidak bisa kumiliki', kata Carlotta dalam hati. "Kau jelas menyukai wanita, tidak seperti Marco."
Alessandro nyengir. "Tentu saja aku menyukai wanita. Terutama wanita cantik. Kau, contohnya."
Carlotta mendengus. "Jangan dikira aku tidak tahu. Wanita-wanita seksi keluar masuk rumah pribadimu di Verona untuk menghiburmu."
Alessandro terkejut, tapi senang, mengetahui bahwa Carlotta masih membaca berita tentang dirinya di media. "Wah, ada apa ini? Apa kau cemburu?"
"Dalam mimpimu!"
Alessandro tertawa terbahak-bahak. "Carlotta, Sayang, apa yang harus kulakukan denganmu?"
Carlotta mengacuhkan itu. "Tentang film ini, kau akan merusak keseluruhan script jika menghilangkan beberapa adegan, Alessandro."
Tawa menghilang dari wajah Alessandro. Lelaki itu kemudian berjalan mondar-mandir sejenak di depan Carlotta.
"Baiklah," katanya mengalah. "Aku tidak akan menghilangkan adegan apapun."
Carlotta langsung berdiri. Secara refleks, ia hampir melemparkan diri pada Alessandro untuk mengekspresikan terima kasihnya, tetapi untungnya ia tersadar sebelum benar-benar melakukannya.
__ADS_1
Sebagai gantinya, ia tersenyum manis pada lelaki itu. "Terima kasih atas pengertianmu, Alessandro. Aku tidak menyangka kau akan setuju secepat ini."
Alessandro tidak mengatakan apa-apa. Ia berjalan cepat kembali ke set pengambilan gambar, di mana semua orang sedang menunggu keputusannya. Carlotta mengekor di belakangnya. Senyum senang masih menghiasi wajah perempuan itu.
"Aku tidak akan menghilangkan adegan apapun di film ini." Alessandro mengumumkan. Johann terlihat lega. Beberapa kru yang lain bersorak gembira menyambut keputusan itu. Namun, rupanya Alessandro belum selesai bicara. "Tapi aku punya syarat."
Semua orang terdiam.
"Syarat apa itu?" Johann bertanya.
"Carlotta tidak akan melakukan adegan ciuman dengan dia." Alessandro menunjuk Antonio Aquinas dengan jijik. "Aku ingin pemeran pengganti."
Pandangan semua orang tertuju pada Fabrizio, stunt actor Antonio.
Alessandro menggeleng lagi. "Bukan dia juga."
Johann kembali berkacak pinggang. "Lalu, siapa yang akan menggantikan aktor utamaku?"
Alessandro tersenyum pongah. "Aku."
***
Carlotta terkesiap mendengar pernyataan Alessandro. Dan ternyata bukan ia saja yang terkejut. Satu-satunya orang yang seolah sudah menduga kelakuan Alessandro selanjutnya hanya Marco Bruni.
"Jangan macam-macam, Alessandro!" Bisik Carlotta.
Carlotta buru-buru membekap mulut Alessandro, takut pria itu bicara yang bukan-bukan.
Carlotta berbalik dan cepat-cepat meminta maaf. Lalu, ia berkata, "Aku menyerahkan keputusan pada Tuan von Schiller."
Johann tampak menimbang-nimbang dengan serius. "Tapi kau lebih tinggi daripada Antonio, Signor Ferrara. Postur tubuh kalian juga berbeda. Kami akan kesulitan mengedit footage-nya."
Alessandro menghampiri Johann dan menepuk-nepuk bahu pria itu. "Aku yakin timmu bisa melakukannya dengan baik. Aku percaya padamu. Kau hebat."
Tidak ada jalan lain, pikir Johann sembari memutar bola matanya. Daripada filmnya hancur, lebih baik dia menyetujui hal ini. "Baiklah. Kita akan melanjutkan syuting besok. Hari ini tim wardrobe akan menyesuaikan kostum baru Signor Ferrara."
Alessandro tersenyum puas. Beginilah seharusnya dunia berjalan. Semua menuruti keinginannya.
***
Marco Bruni mengikuti Carlotta masuk ke dalam tenda dan segera meminta timnya untuk membereskan barang-barang gadis itu.
"Kau baik-baik saja, Sayangku?" Marco bertanya.
Carlotta menggeleng. "Aku tidak akan pernah baik-baik saja jika dia terus menggangguku."
__ADS_1
Tidak perlu dijelaskan, Marco sudah tahu siapa 'dia' yang dimaksud Carlotta.
"Kita harus bersabar, Sayang. Syuting hanya dijadwalkan selama enam bulan. Setelah itu, kita akan terbebas darinya untuk selama-lamanya." Marco mulai memijat bagian belakang leher Carlotta yang nampak tegang.
"Aku butuh brendi." Kata Carlotta.
Marco langsung siaga. "Tidak. Kau tidak boleh menyentuh alkohol sebelum jadwal bulananmu datang."
Carlotta memelototi Marco. "Memangnya kau pikir aku hamil?"
"Bukan begitu, Sayang. Kau ingat aku membatasi konsumsi alkohol? Kurasa momen datang bulanmu akan menjadi momen yang patut kita rayakan dalam waktu dekat. Bagaimana menurutmu?"
Carlotta cemberut. "Tapi aku ingin sesuatu yang keras sekarang."
"Katakan padaku makanan lain yang kau inginkan. Aku akan membelikannya untukmu." Bujuk Marco.
Carlotta memejamkan mata, membayangkan makanan apa yang kira-kira cocok dimakan sekarang. Pizza? Pasta? Tidak, tidak. Sesuatu yang manis sepertinya akan terasa lezat.
"Marco, kau ingat toko kue di Verona yang terletak di ujung jalan menuju sekolah kita dulu?" Tanya Carlotta.
Marco mengangguk. "Tentu saja. Pemiliknya koki asli Prancis, kan?"
Carlotta mengangguk antusias. "Toko mereka menggunakan cokelat Belgia asli sebagai bahan baku kue-kuenya."
"Kau mau kupesankan cokelat Belgia asli?" Marco menawarkan.
"Bukan," kata Carlotta. "Aku lebih tertarik dengan strawberry cheesecake mereka untuk sekarang."
"Strawberry cheesecake?" Marco mulai memijat keningnya sendiri.
"Ya!" Carlotta berseru riang. "Kau bilang kau akan membelikan apapun yang kumau, kan?"
"Tapi aku harus berkendara 14 jam dengan mobil bolak-balik untuk mendapatkan kue yang kau inginkan." Marco memonyongkan bibirnya.
Carlotta tersenyum. "Aku akan menunggunya dengan sabar, Marco."
Marco menggaruk lehernya sendiri walau tidak gatal. "Lalu siapa yang akan mengantarmu pulang kalau aku harus ke Verona sekarang? Siapa yang akan menyiapkan keperluanmu untuk syuting besok?"
Carlotta tertawa. "Aku bisa pulang sendiri naik taksi, Marco. Jangan cemas. Dan aku masih bisa menyiapkan keperluanku sendiri."
"Aku tidak bisa pergi meninggalkanmu ke sana, Sayang. Tapi aku akan mencari seseorang yang bisa." Jawab Marco pada akhirnya. "Kau tunggu di sini sebentar. Jangan pergi ke mana-mana."
Marco kemudian berkata pada orang-orang di timnya. "Kalian semua di sini sebentar, tolong jaga Carlotta. Tolong pastikan dia tidak kegerahan dan berikan minuman. Hanya air mineral!"
"Baik, Signor!" Orang-orang dalam timnya berseru kompak.
__ADS_1
Marco mengangguk, lalu melenggang keluar. Diam-diam, dia masuk ke dalam tenda milik produser eksekutif.
***