
Alessandro nyaris tidak peduli akan kehadiran Marco. Tidak, jika ia masih asyik mencium Carlotta. Pria itu pada awalnya berpikir bahwa Carlotta sangat membencinya. Ingatan tentang hari di mana Carlotta mengusirnya dari mansion Marinelli terus membayanginya.
Dan Alessandro sendiri juga sudah melakukan kesalahan fatal di mata Carlotta. Hal itu membuatnya berpikir bahwa cara satu-satunya untuk mendapatkan Carlotta di ranjangnya adalah dengan pemaksaan.
Namun, ternyata tidak. Alessandro sekarang bisa melihat bahwa masih ada rasa suka di mata Carlotta. Gadis itu tidak imun pada pesonanya. Ia mungkin hanya butuh beberapa bujukan dan rayuan lembut.
Beserta satu box kue kesukaannya.
Karena Carlotta masih memejamkan mata dan tidak sadar apa yang sedang terjadi di sekelilingnya, Alessandro memutuskan untuk mengangkat tubuh gadis itu dalam pelukannya. Ia membawa Carlotta ke kamarnya tanpa melepaskan ciuman.
"Kau cantik sekali." Bisik Alessandro saat mereka menjauhkan kepala sedikit untuk mengambil napas.
Carlotta terengah-engah. Perempuan itu membuka mata perlahan. Bulu matanya bergetar. "Apa yang kau lakukan?" Carlotta bertanya, suaranya sedikit parau.
Alessandro tersenyum. "Aku tidak melakukan apa pun, Mia Cara. Kau tampak agak lelah karena sudah syuting seharian, jadi aku membuatmu beristirahat sebentar."
Carlotta mengerjapkan matanya cepat. Ia baru menyadari bahwa ia berada di atas ranjang king size di kamar Alessandro, lengkap dengan pria itu di atasnya.
"Kalau begitu di mana Marco? Aku datang kemari bersama Marco!"
"Sst, tenang, Sayang. Bagaimana jika kalian berdua menginap saja di sini? Hari sudah malam, dan besok kita akan kembali ke Colosseum. Tempat ini lebih dekat dari sana." Alessandro berdiri, mengamati Carlotta yang masih tergolek di ranjangnya. "Aku akan meminta pelayanku menyiapkan kamar tamu untuk Marco."
Carlotta memandangnya bingung. "Lalu di mana aku akan tidur?"
Alessandro melenggang pergi. "Kau pikir di mana kau akan tidur?" Pria itu balas bertanya sembari tersenyum separo.
***
Setelah pikirannya kembali fokus seperti sedia kala, Carlotta segera keluar dari kamar terkutuk itu dan bergabung dengan yang lain di ruang makan. Tidak tampak Monsieur Pierre di mana-mana, sehingga sempat terlintas di benak Carlotta bahwa Alessandro hanya menipunya.
"Carlotta! Kemarilah!" Marco melambaikan tangan ke arahnya. Pria itu menunjuk sesuatu di meja makan, yang tidak kelihatan karena tertutup punggung kekar Alessandro.
Sebuah loyang penuh berisi strawberry cheesecake.
Semakin Carlotta berjalan mendekat, aromanya semakin menggugah selera. Benar, ini dia kue yang diinginkannya. Dari tampilan dan baunya, Carlotta jadi bisa membayangkan dirinya sedang berada di Verona.
Ia selalu ingin kembali ke sana.
Alessandro tiba-tiba menarik pinggang Carlotta dan mendudukkan gadis itu di sampingnya.
"Apa yang kau-" Carlotta tidak sempat meneruskan kata-katanya karena Alessandro menyodorkan sesendok strawberry cheesecake di depan mulutnya. Ia ingin menolak, tapi tak sanggup.
__ADS_1
"Bagaimana? Enak?" Alessandro mengamati Carlotta lekat-lekat.
"Mmm..." Carlotta mengunyah sambil memejamkan mata. Enak sekali, ini terasa seperti dirimu, pikir Carlotta. Kemudian, gadis itu cepat-cepat menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran macam-macamnya.
Carlotta terus mengunyah. Sepotong. Dua potong. Belum apa-apa, dia sudah menghabiskan lima potong strawberry cheesecake.
"Pelan-pelan, Sayang. Tidak ada yang akan merebutnya darimu." Alessandro membelai punggung Carlotta.
Tiba-tiba saja, Carlotta merasakan gelombang mual yang akhir-akhir ini memang sering dirasakannya. Wajahnya langsung pucat pasi.
Dengan sigap, Alessandro mengambilkan segelas air. "Ada apa, Carlotta? Kau baik-baik saja?"
Marco mendorong Alessandro menjauh. "Menyingkirlah, Signor, atau kali ini kau akan terkena muntahan."
Alessandro minggir dengan bingung. Apalagi saat ia melihat Marco membantu Carlotta berdiri.
"Apa yang akan kau lakukan pada Carlotta?" Alessandro menarik lengan Marco agar pria itu melepaskan Carlotta.
Marco memutar bola mata. "Jika kau ingin membantu, tolong tunjukkan di mana kamar mandinya."
Alessandro menjulurkan tangan menunjuk sebuah pintu.
"Terima kasih." Marco cepat-cepat menuntun Carlotta ke toilet. Alessandro bisa mendengar Carlotta memuntahkan semua isi perutnya.
Carlotta menggeleng cepat. "Tidak."
"Kalau begitu, kita akan ke dokter." Marco membantu Carlotta berdiri. "Dan yang paling penting, kita butuh bicara."
***
Carlotta menuruti Marco ketika pria itu membawanya pulang. Alessandro tampak tidak senang, tapi dia tidak punya hak menahan Carlotta di tempatnya. Pada akhirnya, yang bisa dilakukan Alessandro adalah membungkuskan sisa kue (yang masih ada setengah loyang) untuk dibawa pulang oleh Carlotta. Pria itu bingung dan bertanya-tanya apakah Carlotta punya penyakit tertentu yang tidak diketahuinya? Namun, baik Carlotta maupun Marco sepertinya tidak akan memberitahunya apa pun.
Marco menuntun Carlotta masuk ke dalam mobil, setelah itu ia masuk ke tempat di balik kemudi. Tanpa menunggu perintah, Marco melajukan mobilnya menuju sebuah apotek yang buka 24 jam terdekat dari lokasi mereka berada sekarang.
Ketika sampai di tempat tujuan, Marco memandang Carlotta dengan iba. "Apa pun hasilnya, kau akan baik-baik saja, Sayang."
Carlotta menggeleng. "Aku hanya terlalu banyak makan kue, Marco. Tidak ada gunanya melakukan tes ini."
Marco tersenyum menenangkan. "Kita hanya akan memastikan. Oke?"
Carlotta hendak menolak, tapi Marco sudah melesat turun dan masuk ke dalam apotek. Pria itu kembali beberapa menit kemudian dengan sebuah bungkusan. Ia menyerahkan bungkusan itu pada Carlotta.
__ADS_1
"Tolong beritahu aku hasilnya. Gunakan air seni pertama di pagi hari agar hasilnya akurat." Marco mendesah. "Aku membelikanmu sebuah test pack dengan sensitifitas yang tinggi. Hasilnya akurat 99%. Dan aku membelikanmu dari beberapa merek, agar kau bisa melakukan tes berulang, jika kau masih ragu dengan hasil test pack yang pertama."
Carlotta menerima bungkusan itu ragu-ragu.
Setelah mobil kembali melaju, Carlotta membuka mulut. "Apa yang akan kita lakukan jika kemungkinan terburuk yang terjadi?"
Marco menggeleng pelan. "Pertama, aku akan bertanya padamu apakah kau siap menjadi seorang ibu?"
Carlotta tersentak. "Tidak. Tidak pernah kubayangkan aku akan menjadi seorang ibu."
Marco tidak kaget dengan jawaban itu. "Aku juga berpikir begitu. Bukan bermaksud menghina, Sayang, tapi menjadi seorang ibu butuh banyak pengorbanan. Lagipula, karirmu sedang di puncak."
"Kau benar."
Marco melanjutkan. "Kalau kau memutuskan tidak siap, aku akan mencarikan sebuah rumah sakit yang bagus untuk menggugurkannya. Akan kupastikan tidak ada yang tahu selain kita berdua dan Tuhan. Sialan, gara-gara kau aku benar-benar jadi orang yang relijius."
Carlotta tertawa kecil di tengah kegugupannya. Namun, menggugurkan kandungan terdengar mengerikan. Ia takut.
"Tidak akan sakit sama sekali. Kau akan dibius total dan bangun dengan segar. Tanpa bayi. Mungkin perutmu akan sedikit perih pada jadwal bulanan berikutnya. Tak ada yang tak bisa ditahan."
Carlotta termenung.
Marco mengamati perubahan ekspresi Carlotta. "Namun, jika kau ingin mempertahankan bayi ini, aku tidak punya pilihan lain selain memberitahu Signor Ferrara."
Carlotta terkesiap. "Oh, tidak. Jangan, Marco!"
"Kau tidak bisa membesarkan bayi ini sendirian, Carlotta. Aku tidak akan terima jika anakmu lahir di luar ikatan pernikahan karena kesalahanku. Dia akan jadi pewaris sah keluarga Ferrara. Dan kau akan menjadi Nyonya Ferrara. Aku akan memastikan Alessandro brengsek itu menikahimu." Mata Marco berapi-api. Belum pernah Carlotta melihat Marco hilang kesabaran begini.
"Marco..."
Marco menoleh kepada Carlotta. Kini matanya berkaca-kaca. "Aku sudah melakukan kesalahan besar dengan menyetujui penawaran Alessandro malam itu, Carlotta. Aku tidak tahu betapa dia akan melukaimu. Dan aku tidak mau kau hidup menderita lagi karena dia."
Carlotta terdiam. Kata-kata Marco masuk akal, tapi tidak satu pun yang ia suka di antara kedua pilhan yang dikatakan Marco.
***
Halooo Sayang-sayangnya Alana ♡
Makasih yaa kamu udah sempetin baca. Jangan lupa like setiap bab & tinggalin komen biar aku makin semangat nulisnya yaa. Klik fav juga biar kamu ga ketinggalan update-nya setiap hari ♡
Will see you very very soon.
__ADS_1
Luv, Alana.