
Halooooi guys JANGAN LUPA LIKE DULU SEBELUM BACA dan please COMMENT FAV 5 STARS & GIFT jangan sampe ketinggalan yaa ♡
Luvluv,
Alana
***
Penthouse milik ibu Carlotta hanya berjarak dua blok dari Central Park yang ramai. Ketika sampai di depan gedung apartemen itu, salju mulai turun. Carlotta menyukai salju, tapi takut bayinya kedinginan. Ia buru-buru masuk untuk menghangatkan diri.
Baru saja Carlotta hendak memberitahukan kedatangannya pada ibunya lewat resepsionis, Carlotta justru kebetulan melihat ibunya dan ayah tirinya baru keluar dari lift.
"Mama!" Carlotta berseru.
Caterina menoleh mendengar suara Carlotta. Matanya terbelalak lebar. Begitu pula dengan senyum yang mulai menghiasi wajah cantiknya. "Carlotta! Ya Tuhan, benarkah itu kau?"
Carlotta menyerahkan Maurizio pada Marco, kemudian berlari dan memeluk ibunya erat-erat. "Mama! Aku merindukanmu!"
"Aku juga merindukanmu, Sayang!" Caterina balas memeluk putrinya. "Bagaimana kau bisa berada di sini? Ini pagi-pagi buta, Sayang! Kenapa tidak menghubungiku dulu? Aku bisa menjemputmu di bandara."
Carlotta sengaja tidak menjawab pertanyaan itu. Ia mengalihkan perhatian pada ayah tirinya. "Selamat pagi, Signor Benito. Apa kabar?"
Signor Benito menyalami Carlotta. "Baik, Carlotta. Bagaimana denganmu?"
Marco membawa Maurizio mendekat. "Selamat pagi, Signor dan Signora Benito."
Signor Benito dan Caterina menjawab Marco dengan kompak. "Selamat pagi, Marco!"
Caterina langsung terfokus pada bayi di gendongan Marco. "Ini cucuku? Ah. Tampan sekali! Bolehkah aku menggendongnya?" Caterina mengulurkan tangan pada Marco.
Carlotta mengangguk. "Tentu saja, Mama. Ini Maurizio." Carlotta menunduk dan tersenyum pada bayinya. Dengan suara yang lebih lembut, ia berkata pelan. "Maurizio, ini nenekmu!"
Bayi Maurizio tertawa menggemaskan menanggapi kata-kata ibunya.
Caterina menggendong Maurizio dengan bahagia. "Dia sudah besar sekali! Oh, dan dia mewarisi warna rambut dan warna matamu, Carlotta. Tapi ekspresinya mirip dengan Alessandro."
__ADS_1
Signor Benito langsung menimpali. "Omong-omong, di mana Alessandro?"
Carlotta dan Marco saling berpandangan dengan sedih. "Ceritanya panjang, Signor Benito." Marco yang menjawabnya untuk Carlotta.
Kini, Signor dan Signora Benito yang saling berpandangan bingung.
"Kita masuk dulu. Kalian pasti lelah. Ini seharusnya masih tengah malam di Roma. Kalian butuh tidur." Signor Benito mengusulkan.
Carlotta mengamati pakaian olahraga khusus musim dingin yang dikenakan oleh Signor Benito dan ibunya, kemudian jadi merasa bersalah. "Aku pasti mengganggu waktu kalian." Ia berujar sambil tersenyum ragu-ragu.
Caterina menggeleng cepat. "Apa yang kau katakan, Carlotta? Tidak mungkin kau mengganggu Mama."
Signor Benito mengangguk setuju. "Tidak mungkin kedatangan kalian mengganggu kami. Justru kami merasa senang sekali. Sudah lama rumah kami begitu sepi."
Carlotta tersenyum penuh rasa terima kasih sekarang. Ia dan Marco segera mengikuti Signor Benito dan istrinya kembali memasuki lift.
***
Rupanya, Carlotta benar-benar kelelahan secara mental dan spiritual. Begitu menyentuh kasur, ia langsung terlelap ke alam mimpi. Matanya terasa berat, ditambah mulai bengkak karena seharian menangis.
Caterina mendengus marah. "Mantan suamiku tidak berubah. Dia ingin selalu merasa punya kendali pada hidup orang-orang di sekitarnya. Ketika tidak lagi bisa mengendalikan aku, sekarang dia ingin mengendalikan anak-anakku."
Signor Benito merangkul istrinya erat, berusaha memberikan dukungan moral. "Jika ada yang bisa kulakukan untuk membantumu dan putri-putrimu, aku akan melakukannya." Janji pria itu.
Caterina mengangguk kaku. "Terima kasih, Sayang. Tapi, aku sendiri tidak tahu apa yang bisa kulakukan." Caterina bertanya lagi pada Marco. "Bagaimana kabar Alessandro sekarang? Rocco tidak benar-benar ingin membunuhnya, kan?"
Marco Bruni mengedikkan bahu. "Itu yang paling membuat Carlotta stres sekarang."
Caterina paham itu. "Untunglah ia dan bayinya sudah bisa tidur sekarang."
Marco mengangguk. "Aku juga khawatir dengan kesehatannya."
Sekarang Caterina mulai berdiri dan berjalan dengan gusar. "Aku benar-benar marah pada Rocco. Aku tahu dia kasar, tapi aku tidak tahu dia bisa melakukan tindakan tidak bermoral seperti ini."
Signor Benito mengernyit heran. "Apakah pihak Ferrara tidak melakukan pergerakan apapun? Mereka tetap orang-orang yang berkuasa."
__ADS_1
Kini, Marco berbicara dengan suara berupa bisikan. "Ini rahasia. Kakek Alessandro sudah melacak keberadaan cucunya sejak ancaman itu kami terima tadi siang. Ternyata Alessandro berada di markas salah satu geng mafia paling berbahaya di seluruh Italia."
Caterina terkesiap. "Mafia? Sekarang Rocco bersekutu dengan kelompok mafia?"
Marco memandang ke arah pintu kamar yang ditempati Carlotta takut-takut. Jangan sampai Carlotta mendengar apa yang hendak ia katakan. "Sebenarnya, Giacomo kakak tiri Carlotta adalah pemimpin kelompok mafia itu."
Signor dan Signora Benito terkejut bukan main. Mereka berusaha mencerna informasi itu. Tiba-tiba Marco dan semua orang dikejutkan oleh bunyi ponsel Marco. Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal.
"Ciao?" Marco mengangkat ponselnya ke telinga.
"Ciao, Marco. Di mana kau dan Nyonya Carlotta?" Terdengar suara Lombardi di seberang sana. Marco dilanda kelegaan yang luar biasa. Jika Lombardi masih hidup dan bisa meneleponnya, itu artinya Alessandro juga masih hidup, kan?
Marco Bruni butuh memastikan hal itu. "Kami di rumah Signor dan Signora Benito di New York. Bagaimana keadaan Alessandro?"
"Signor Alessandro mengalami cedera di kepala. Tidak terlalu serius. Kami masih berada di Milan. Mungkin untuk beberapa hari. Signor Giacomo menyarankan agar Signor Alessandro beristirahat setidaknya selama seminggu." Lombardi menuturkan.
Marco berusaha untuk tidak merasa seperti tersengat saat mendengar nama Giacomo. Sungguh kurang ajar. Bisa-bisanya lelaki itu mengkhianati adiknya dan justru bekerja sama dengan ayah bejatnya untuk memisahkan Carlotta dan suaminya? Marco paham Giacomo pasti marah besar pada Alessandro saat tahu bahwa Alessandro pernah melecehkan Carlotta. Namun, bukankan Giacomo tahu bahwa Carlotta dan Alessandro saling mencintai satu sama lain?
"Apakah Alessandro dan Giacomo bertarung mati-matian satu sama lain?" Marco bertanya.
Terdengar tawa parau Lombardi di seberang. "Apa maksudmu, Marco? Terkadang aku tak habis pikir dengan imajinasimu yang luar biasa. Dan untuk menjawab pertanyaanmu, tidak. Mereka tidak bertarung. Signor Giacomo sedang pergi ke Verona untuk mengurus urusan pribadi dengan pacarnya. Ayah Nyonya Carlotta memanfaatkan momentum itu dengan memegang kendali semua anak buah Signor Giacomo. Entah bagaimana caranya, mereka bahkan menonaktifkan jaringan seluler di simcard kami begitu kami memasuki ruangan yang telah mereka persiapkan untuk pertemuan."
Marco meringis ngeri. "Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?"
"Untungnya Signor Giacomo kembali tak lama setelah salah satu anggotanya menyerang Signor Alessandro. Signor Giacomo meringkus ayahnya sendiri." Lombardi tiba-tiba terdengar amat serius. "Rahasiakan ini dari Nyonya Carlotta. Signor Giacomo tidak ingin adik-adiknya tahu bahwa ia adalah seorang gangster."
"Baiklah." Marco menyahut cepat.
Nyonya Benito menghampiri Marco begitu pria itu menutup sambungan telepon. "Benarkah Giacomo membantu ayahnya menjebak Alessandro? Dasar brengsek! Aku tahu anak haram itu hanya berpura-pura baik di depan Carlotta!"
Marco meringis malu. "Tidak, Nyonya. Kita semua salah paham. Justru Signor Giacomo yang membantu Signor Alessandro keluar dari kesulitan. Tolong rahasiakan ini di antara kita bertiga saja, Nyonya. Jangan sampai Carlotta tahu."
Pintu kamar Carlotta terbuka. "Rahasia apa, Marco?"
***
__ADS_1