Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 39 | Isi Ponsel Carlotta


__ADS_3

I couldn't have done this without you guys. Thank you for always supporting me. Thank you for the likes, comments, votes, 5 stars, and the tips. Please continue to support me in the future. Let's make this story as our journey together. Alana loves you ♡


Luvluv,


Alana


***


Alessandro pulang ke apartemennya karena ingin menghindari Carlotta. Ia tidak percaya pada dirinya sendiri untuk tidak mengatakan sesuatu yang akan membuat Carlotta stres. Namun, ia membawa ponsel Carlotta bersamanya. Ia takut Carlotta meminta seseorang untuk menjemputnya dan membawanya pergi dari Castello Ferrara.


Pria itu takut tidak bisa bertemu dengan Carlotta lagi dalam waktu yang lama. Terlebih, sekarang ia tahu bahwa anak dalam kandungan gadis itu adalah anaknya.


Ya Tuhan, ia akan segera menjadi ayah. Alessandro merasa takut, marah, tapi juga diam-diam senang. Melihat perut Carlotta yang membesar akibat perbuatannya membuatnya merasa posesif. Carlotta kini miliknya sepenuhnya. Tidak boleh ada yang merebut perempuan itu darinya. Tidak sekarang dan tidak selamanya.


Dan dokter yang ditugaskan kakek Alessandro memeriksa Carlotta berkata, bahwa bayi dalam kandungan gadis itu berjenis kelamin laki-laki. Alessandro tidak percaya ini. Ia akan segera memiliki anak laki-laki!


Sambil masih tersenyum senang, Alessandro memutuskan untuk melihat-lihat ponsel Carlotta selagi benda itu ada di tangannya. Ia tahu itu adalah pelanggaran privasi, tetapi dia terlalu penasaran.


Hal yang pertama ia buka adalah perpesanan. Carlotta tidak banyak berkirim pesan dengan orang lain. Alessandro menduga semua kontak yang masuk ke dalam ponsel Carlotta telah disaring terlebih dulu lewat sang manajer, Marco Bruni. Alessandro mengapresiasi kerja keras Marco dalam menjaga Carlotta selama ini. Bagus sekali. Tidak banyak pria yang mendapat kesempatan untuk mendekati Carlotta-nya.


Pesan dalam ponsel Carlotta didominasi oleh Marco Bruni dan adik-adik Carlotta. Pesan yang baru-baru ini masuk berasal dari Giacomo Marinelli. Kemudian, Alessandro memeriksa kontak yang disimpan Carlotta di ponsel itu. Carlotta menyimpan kontak Johann von Schiller, tapi tidak memiliki kontak Roberto Mancini. Rupanya Carlotta memang tidak ada hubungan lagi dengan mantan tunangannya itu. Alessandro jadi merasa bersalah sudah mengatakan hal-hal bodoh karena tersulut emosi.


Beralih dari menu kontak, Alessandro membuka galeri foto. Banyak sekali foto hasil pemotretan Carlotta dari berbagai sudut. Foto iklan, poster penayangan film terbaru, bintang tamu reality show, dan lain sebagainya. Alessandro cepat-cepat menyalin foto-foto itu ke laptopnya. Untuk arsip, ia meyakinkan diri sendiri. Bukan karena apa-apa.


Dan astaga, Carlotta begitu cantik sampai Alessandro tidak rela kecantikannya dilihat oleh orang lain selain dirinya.


Lalu, Alessandro menemukan sebuah folder berisi foto-foto lama. Foto-foto sepuluh tahun lalu. Jantung Alessandro seolah berhenti berdetak. Ia terkejut bukan main melihat Carlotta masih menyimpan semua kenangan mereka bersama.

__ADS_1


Semuanya. Ada ribuan foto saat mereka masih menjadi sepasang kekasih. Tidak ada satu pun yang hilang. Alessandro membuka salah satu foto favoritnya dulu. Dalam foto itu, Carlotta sedang makan es krim di pinggir sungai. Alessandro mengerjainya dengan cara menggigit seluruh es krim milik Carlotta dalam satu gigitan, menyisakan cone-nya saja. Kemudian, Alessandro mengambil foto selfie mereka berdua berlatar belakang Sungai Adige dan Ponte Scaligero, jembatan paling terkenal di Verona. Alessandro suka sekali dengan foto yang satu itu, karena Carlotta yang sedang cemberut tampak menggemaskan.


Foto berikutnya yang dibuka oleh Alessandro adalah foto mereka bersama di pesta ulang tahun Carlotta yang ke-16. Alessandro tidak punya apa-apa saat itu, jadi ia memetik bunga di taman dan merangkainya menjadi sebuah buket kecil. Meskipun bukan benda mahal seperti pemberian teman-temannya yang lain, Carlotta tampak senang sekali menerima kado Alessandro.


Alessandro menutup foto-foto itu dan berusaha menenangkan diri. Kupu-kupu beterbangan di hatinya. Rasa bahagia yang dulu pernah ada saat ia bersama Carlotta kembali muncul.


Mungkinkah Carlotta masih mencintainya?


***


Carlotta kesal setengah mati. Alessandro menempatkannya di kamarnya, di rumah keluarganya, tapi tak menampakkan batang hidungnya sekali pun selama lima hari ini. Keterlaluan.


Pada hari ketiganya berada di rumah Ferrara, Carlotta sudah tidak tahan terus istirahat di kamar. Ia memaksa turun dari tempat tidur dan berjalan-jalan ke taman. Terkadang, nenek dan kakek Alessandro menemaninya, tapi ia lebih sering sendirian.


Dasar Alessandro kurang ajar. Awas saja jika pulang nanti. Carlotta sudah berencana akan marah padanya.


Pada sore harinya, Carlotta duduk di taman sambil membaca sebuah buku yang diambilnya dari perpustakaan keluarga. Buku silsilah keluarga Ferrara dirunut dari jaman Kaisar Augustus. Belum selesai ia membaca, seorang tiba-tiba menjulang di hadapannya.


Bukannya pada hari lainnya pria itu tidak mempesona. Hanya saja, entah mengapa, hari ini pria itu memancarkan aura yang berbeda. Aura yang sama saat Carlotta bertemu dengannya sepuluh tahun lalu di taman rumahnya.


Carlotta hendak berdiri, tapi tidak yakin kakinya akan mampu menopang tubuhnya yang melemas hanya karena dipandang seperti itu oleh Alessandro. Jadi, ia tetap duduk dan tidak tahu harus berbuat apa.


Alessandro berjongkok di hadapannya, membuat mata mereka berada di level yang sama.


"Selamat sore, Cara Mia. Bagaimana kabarmu hari ini?" Alessandro tersenyum. Tangannya bergerak untuk menggenggam tangan Carlotta.


Carlotta sudah berencana marah, tapi rencana tinggallah rencana. Perempuan itu tidak bisa mencegah dirinya membalas senyuman Alessandro. "Aku baik-baik saja."

__ADS_1


Alessandro mengangguk puas. Pria itu mengambil tangan Carlotta yang tadi digenggamnya, lalu mengarahkannya ke bibirnya. Alessandro mendaratkan sebuah ciuman lembut ke punggung tangan Carlotta. "Kuharap bayi kita juga baik-baik saja?" Pria itu bertanya.


Carlotta hampir menangis terharu saat mendengar Alessandro menyebut bayinya dengan sebutan 'bayi kita'. Rasanya luar biasa sekali. Jadi, Carlotta tersenyum dan berkata, "Aku ingin dia cepat lahir. Dia membuatku bengkak seperti gajah."


Alessandro menatapnya intens, matanya dipenuhi emosi asing yang aneh. Sesuatu yang terasa seperti cinta. "Kalau kau gajah, maka kau adalah gajah yang cantik. Aku juga ingin dia segera lahir. Tapi, jangan terlalu cepat. Boleh aku menciumnya?"


Carlotta mengangguk.


Alessandro menangkup muka Carlotta, lalu mengecup bibir perempuan itu dengan lembut. Carlotta terkesiap kecil. Perutnya bergejolak sedikit, tetapi tidak ada kaitannya dengan janin yang dikandungnya. Ia hanya merasa sedikit gugup.


"Ibunya terlebih dulu." Alessandro mengedipkan sebelah matanya pada Carlotta, sebelum menunduk dan mencium perut Carlotta yang membulat.


Carlotta terkesiap sekali lagi saat Alessandro membuat kontak dengan perutnya.


"Apa kau sudah diberitahu? Anak kita laki-laki." Kata Alessandro.


Carlotta melebarkan matanya dengan antusias. "Benarkah?"


Alessandro mengangguk. "Apa kau sudah menyiapkan sebuah nama?"


Carlotta menggeleng malu. "Kau boleh menamainya kalau kau mau."


Alessandro tersenyum. Ia berdiri, kemudian duduk di sebelah Carlotta. Untuk mengapresiasi perempuan menakjubkan yang sedang mengandung putranya ini, Alessandro merengkuh Carlotta dalam pelukannya. Tak berapa lama, Alessandro mulai mencium Carlotta. Mulai dari leher, ke belakang telinga, sampai ke bibir gadis itu yang telah membuka untuknya.


Carlotta terengah-engah ketika Alessandro sudah berhenti menciumnya. Matanya berkabut dan jadi tidak fokus.


"Aku menginginkanmu, Carlotta." Alessandro berbisik.

__ADS_1


Carlotta mengangguk. Ketika berbicara, suaranya seperti orang yang baru terbangun dari tidur panjang. "Aku juga."


***


__ADS_2