Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 24 | Carlotta Menghilang


__ADS_3

"Bukankah sudah kubilang kalau aku menitipkan Carlotta padamu?!" Marco tidak pernah membayangkan akan datang hari dia bisa berteriak marah kepada seorang produser eksekutif. Terlebih, orang itu sekaligus penerus dari salah satu keluarga paling berpengaruh di negaranya.


Alessandro Ferrara, tampak amat berantakan pagi itu, terkejut mendengar Marco murka. "Apa maksudmu?"


"Semalam aku menitipkan Carlotta padamu. Aku menawarkan diri untuk menjemputnya, tapi kau bilang kau akan mengantarnya pulang!"


Alessandro menggeleng pelan. "Dia bilang ingin pergi dariku."


Marco ingin sekali memukul Alessandro, meskipun tahu jika dipukul balik, dia akan langsung terkapar. "Tahukah kau, Carlotta tidak pulang ke rumahnya semalam. Hingga pagi ini, aku tidak bisa menghubunginya dan tidak bisa menemukan keberadaannya."


Alessandro membelalakkan mata. "Ke mana dia pergi?"


"Jika aku tahu, aku tidak akan berada di sini mencarinya sekarang." Marco benar-benar kesal. "Bisa-bisanya kau membiarkan dia pergi, dasar bodoh!"


Alessandro tampak tidak peduli Marco mengatainya. Dia panik sekarang. "Mungkin dia menginap di rumah temannya?"


Kini Marco tidak tahan lagi. Pria itu mendorong Alessandro hingga terhuyung. "Dia tidak punya teman sejak kau membuat bangkrut keluarganya!"


Alessandro merasa sekujur tubuhnya menjadi dingin. "Bagaimana dengan mobilnya? Ponselnya? Dia membawanya, kan? Aku akan menugaskan seseorang untuk melacaknya."


Marco menggeleng frustasi. "Dia meninggalkan tas tangan berisi kunci mobil, ponsel, dan semua kartu perbankannya di dalam tendanya. Mobilnya masih ada di parkiran."


Alessandro merasa bumi di sekelilingnya berputar. Dia kehilangan pijakan. "Aku tidak tahu dia bisa senekat itu pergi meninggalkan semuanya demi menjauh dariku."


Yang jelas, Carlotta tidak mungkin pergi ke New York seperti katanya semalam, tanpa membawa tanda pengenal, ponsel, kartu perbankan, dan paspornya. Dengan apa ia akan memesan tiket pesawat? Bagaimana dia akan melewati petugas imigrasi?


"Dan kau begitu bodoh karena membiarkannya pergi dengan kondisi seperti itu." Tuduh Marco.


Alessandro mengernyit. "Kondisi apa? Apa maksudmu?"

__ADS_1


Lalu, sebuah kesadaran melanda Marco Bruni. Rupanya Carlotta memutuskan untuk tidak memberitahu Alessandro sampai akhir. Perempuan itu lebih memilih untuk pergi meninggalkan karir dan kehidupan yang telah susah payah dibangunnya daripada menuntut Alessandro untuk bertanggung jawab. Dan Carlotta juga tidak bisa merelakan bayi mereka digugurkan. Oleh karena itu, perempuan itu lebih memilih untuk mengorbankan dirinya sendiri.


Marco Bruni tiba-tiba tertawa. Air mata terbit di ujung-ujung matanya. "Ya Tuhan. Dia benar-benar mencintaimu, ya, kan?"


Alessandro memelototi Marco tidak suka. "Jangan mencoba memutar balik fakta di sini, Bruni. Dia pergi untuk meninggalkanku. Mana mungkin masuk akal saat kau bilang dia mencintaiku?"


Marco memandang Alessandro dengan sedih. Kini, tampak jelas bahwa Alessandro juga terluka. Mungkin sebesar Carlotta. Namun, Marco tahu Carlotta-lah yang paling menderita. Dia tidak sanggup membayangkan Carlotta harus merahasiakan kehamilan dan mengasingkan diri di tempat yang jauh, tempat yang berada sejauh mungkin dari ayah sang bayi.


Tiba-tiba ponsel Marco berbunyi. Sebuah pesan dari nomor Carlotta.


Tidak mungkin, pikir Marco bingung. Jelas-jelas ponsel Carlotta berada di tangannya yang satu lagi.


Diam-diam, Marco membuka pesannya dan membacanya dalam hati. Rupanya itu adalah pesan yang sudah diprogram akan dikirimkan pada waktu tertentu.


'Maaf aku harus pergi, Marco. Aku akan kembali tahun depan atau dua tahun lagi. Tolong pakai saja uang dari Alessandro dan uang simpananku di bank untuk membayar ganti rugi semua proyek film yang sudah kita terima dua tahun ke depan. Gunakan juga untuk keperluan sekolah Ciara dan Carina. Juga untuk gajimu. Aku janji akan kembali secepat yang aku bisa. Kita akan bekerja keras lagi dan aku akan mengembalikan semua uang Alessandro yang kita pakai dua tahun ke depan. Hanya kau dan Ciara yang tahu kata sandi akun perbankanku. Aku meninggalkannya untuk keperluan kalian. Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja. Teruslah jadi orang yang relijius dan doakan aku, Marco.


Sahabatmu,


Marco langsung mengumpat pelan. Apa, sih, yang dipikirkan Carlotta? Bisa-bisanya Carlotta pergi tanpa membawa apa-apa. Bahkan uang di ATM-nya pun tidak! Marco merasa sedih sekaligus jengkel. Bagaimana gadis itu akan hidup sekarang? Apalagi dia sedang hamil!


"Aku akan mencari lewat CCTV di seluruh kota Roma. Kita pasti akan menemukannya." Alessandro menyentakkan lamunan Marco.


Marco menelan kembali air matanya yang hendak tumpah. "Tidak, tidak. Maafkan aku. Aku panik. Carlotta tidak hilang. Dia sudah menghubungiku."


Alessandro tampak sangsi.


Marco berkata lagi, meskipun tahu kata-kata yang keluar dari mulutnya akan menambah luka Alessandro. Setidaknya, pria itu harus merasakannya sebagai akibat telah membuat hidup Carlotta menderita. "Ternyata kau benar, Alessandro. Dia pergi karena muak harus berurusan lagi denganmu. Sebaiknya kau pergi sekarang. Kembalilah ke kantormu yang besar itu dan jalankan bisnismu seperti biasa. Jangan berusaha menghubungi Carlotta lagi."


Alessandro terlihat seperti baru saja terkena peluru tepat di jantung.

__ADS_1


Marco menggelengkan kepala, lalu berbalik dan pergi membereskan barang-barang Carlotta. Banyak yang harus ia selesaikan setelah Carlotta memutuskan untuk hengkang dari dunia hiburan dua tahun ke depan. Marco tidak punya waktu untuk mengurusi cucu keluarga Ferrara sekarang.


***


"Sudah cukup, Signor. Ini berbahaya untuk liver Anda." Lombardi berusaha menarik botol wiski dari tangan Alessandro. Entah sudah berapa banyak yang ditenggak oleh tuannya.


Lombardi dengan sigap meminta beberapa pelayan masuk dan membereskan kekacauan yang ada.


Alessandro menyalahkan kekebalan tubuhnya terhadap alkohol. Ia sudah menenggelamkan diri dalam cairan-cairan membakar itu, tetapi pikirannya tetap fokus. Rasa sakit di hatinya tidak juga hilang. Alessandro membanting botol-botol wiski itu pada akhirnya. Merasa kesal karena mereka sama sekali tidak membantu.


Dulu, saat pertama kali Carlotta mengusirnya, Alessandro dapat bertahan. Dia merasa masih memiliki harapan. Carlotta hanya tidak suka pemuda yang statusnya rendah, kan? Alessandro bertekad untuk bekerja keras agar dia bisa menjadi pria yang pantas untuk Carlotta. Agar suatu hari nanti, jika ia bertemu lagi dengan Carlotta, maka Carlotta tidak akan menolaknya. Mereka akan bahagia selamanya.


Namun, pada kenyataannya, semua yang terjadi justru amat jauh dari bayangannya. Ditolak sekali lagi oleh Carlotta di saat Alessandro memiliki segalanya justru jauh lebih menyakitkan.


Karena itu artinya Carlotta benar-benar tidak menginginkan Alessandro, apa pun status sosialnya. Tidak ada harapan lagi bagi Alessandro untuk mendapatkan gadis itu.


"Brengsek!" Alessandro mengumpat sembari meninju sebuah kaca besar di ruang tamunya. Ia benci dirinya sendiri. Ia benci keseluruhan dirinya yang tak pernah cukup baik untuk Carlotta. Dan yang paling menyakitkan, ia benci dirinya sendiri karena tidak pernah bisa berhenti mencintai Carlotta meskipun gadis itu telah menyakitinya berulang kali.


"Maaf, Signor. Anda tidak boleh terlihat seperti ini. Kakek dan nenek Anda akan berkunjung sebentar lagi." Lombardi memandangi keadaan Alessandro dengan iba. Ada lingkaran hitam di sekeliling mata pria itu. Buku-buku jari tangannya berdarah setelah memukul kaca dengan keras. Napasnya bau alkohol menyengat. Wajahnya muram. Pakaiannya lusuh. Beberapa kancing kemejanya terlepas entah ke mana.


Alessandro menatap Lombardi tajam. "Aku tidak akan bertemu siapa pun hari ini. Kau saja yang urus mereka."


***


Makasih Sayang-sayangnya Alana yang udah setia baca ♡♡♡


Jangan lupa KLIK LIKE KLIK LIKE KLIK LIKE


Vote, gift, & comment juga ya biar makin semangat aku nulisnya. Karya ini aku ikutin lomba Mengubah Takdir guysss buat yg belum pada tau hehe, dukung terus yaa. Thank you ♡

__ADS_1


Luvluv,


Alana


__ADS_2