Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 23 | Keputusan Sulit


__ADS_3

Ada banyak sekali pikiran di kepala Carlotta sekarang, sehingga membuat gadis itu sering melamun. Berkali-kali tanpa sadar tangannya mengusap perut. Perasaan sayang yang asing mulai dirasakannya. Sialan, janin itu bahkan mungkin baru sebesar kacang polong. Bagaimana mungkin Carlotta sudah menyayanginya?


Pilihan untuk menggugurkan kandungannya adalah pilihan paling rasional. Semuanya akan kembali seperti semula, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Jika ia bilang pada pihak rumah sakit bahwa ia mengandung janin hasil perkosaan, tidak akan ada yang menentang keputusannya. Ia akan mendapat dukungan dari semua orang. Karirnya tetap berada di puncak. Ia tidak akan kehilangan apa-apa.


Selain bayi itu.


Entah mengapa, perasaan Carlotta pada janin itu semakin kuat. Ia merasa tidak sanggup kehilangan bayinya. Ini adalah bayinya dengan Alessandro, pria yang sudah dicintainya selama sepuluh tahun.


Namun, jika Carlotta memilih untuk mempertahankan bayinya, jalan yang sulit akan terbentang di hadapannya. Orang-orang akan bertanya siapa ayah si jabang bayi. Jika ia diam, ia akan dicap sebagai perempuan murahan yang tidur dengan sembarang lelaki yang bahkan bukan kekasihnya.


Apabila Carlotta mengatakan yang sejujurnya bahwa Alessandro adalah ayah dari anaknya, keadaannya akan lebih sulit lagi. Mengingat Alessandro pria yang seperti apa, Carlotta yakin Alessandro akan bersikeras untuk bertanggung jawab. Ia akan dengan terpaksa menikahi Carlotta, tanpa cinta. Kemungkinan yang lebih buruk adalah, Alessandro akan membenci bayi mereka. Bayi itu lahir tanpa keinginan Alessandro. Atau mungkin, Alessandro bahkan akan meragukan anak itu sebagai anaknya. Malam itu jelas-jelas Alessandro mengenakan pengaman.


Carlotta merasa tidak sanggup jika harus menikah dengan orang yang akan membencinya dan membenci anaknya.


Tentang opsi-opsi lain yang dikemukakan Marco, Carlotta bahkan tidak sanggup memikirkannya. Semuanya buruk.


Tanpa sadar, tenggat waktu seminggu yang diberikan Marco telah habis. Ketika jam syuting telah berakhir, Marco mendatangi Carlotta di dalam tendanya.


"Jadi, keputusan apa yang akan kau ambil?" Marco bertanya, dan Carlotta merasa belum siap mendengar pertanyaan itu.


Marco menunggu jawaban Carlotta selama hampir lima menit penuh. Pria itu akhirnya berdiri dan berkata dengan tegas. "Jika kau tidak bisa memilih, aku akan memilihkannya untukmu. Kita ke rumah sakit sekarang."


"Tidak, Marco..." Carlotta mengiba.


"Carlotta, Sayang, dengarkan aku. Janin di perutmu bahkan belum punya nyawa. Dia baru berupa gumpalan darah. Kau akan baik-baik saja. Besok pagi, kau bahkan akan lupa kalau dia pernah ada di sana." Marco menunjuk perut Carlotta.


Carlotta mulai menangis.


"Sayang, ini semua hanya pengaruh hormon. Kudengar kau bahkan tidak menangis saat bekerja sebagai pelayan di pesta des Angelo. Kau tidak menangis saat ayahmu kabur meninggalkan kau dan adik-adikmu. Akhir-akhir ini kau jadi lebih sensitif karena kehamilan sialan ini. Kita harus segera menyingkirkannya dan mendapatkan kembali hidupmu yang bebas."


"Aku tidak bisa, Marco..." Carlotta masih menangis sesenggukan.


Marco memaksa Carlotta berdiri. Ia menggandeng, setengah menyeret, Carlotta keluar tendanya.


Tak disangka, Alessandro Ferrara sedang berjalan mendekat. Pria itu melihat Carlotta menangis, dan sudah pasti mengira Marco yang menyakiti gadis itu. Sialan, pikir Marco, padahal dia yang menyakiti Carlotta.


"Ada apa ini?" Alessandro melepaskan tangan Marco dari lengan Carlotta dengan kasar. "Apa yang kau lakukan pada Carlotta?" Kemarahan tampak berkobar di mata Alessandro.


Marco mengangkat bahu. Ia berpaling pada Carlotta. "Baiklah, jika kau tidak mau ikut denganku sekarang, aku akan mengatakan semuanya pada Signor Ferrara. Keputusan di tanganmu, Carlotta."


Carlotta menggeleng cepat. Ia melemparkan tatapan memohon pada Marco. "Tidak, tidak, jangan lakukan itu..."


Alessandro berdiri di antara mereka dengan bingung. "Mengatakan apa? Katakan saja kalau begitu, Marco. Aku siap mendengarkanmu."

__ADS_1


Carlotta menangis semakin keras. "Tidak, tolong, Marco. Tidak. Aku bisa mengatakannya sendiri!"


Marco mendesah berat, lalu memandang bolak-balik antara Carlotta dan Alessandro. "Baiklah. Aku akan meninggalkan kalian untuk bicara, kalau begitu. Aku akan menjemputmu lagi setelah... tiga puluh menit?"


Carlotta diam saja.


Alessandro menepuk bahu Marco. "Jangan khawatir. Aku akan mengantarnya pulang."


Marco meminta persetujuan Carlotta, dan Carlotta hanya bisa mengangguk lemah.


"Kalau begitu, tolong jaga dia." Marco berpesan pada Alessandro sebelum pergi.


***


Belum pernah Alessandro melihat Carlotta menangis sampai seperti ini. Carlotta gadis yang kuat, dan terbiasa memendam perasaannya sendiri karena takut membuat orang lain mengkhawatirkannya. Melihat Carlotta bersedih, hati Alessandro rasanya seperti tersayat-sayat.


Memang, sejak terusir dari kediaman Marinelli, Alessandro menginginkan sebuah balas dendam. Ia berupaya melakukan apa pun yang sekiranya akan menghancurkan Carlotta dan keluarganya. Namun, Carlotta membuktikan dirinya bukan lawan yang lemah. Gadis itu berdiri setegar karang, tidak terombang-ambing walau tersapu badai.


Alessandro penasaran apa yang terjadi malam ini. Apa yang membuat Carlotta-nya menangis? Siapa yang sudah menyakitinya? Mulai detik ini juga, Alessandro memutuskan bahwa ia tidak akan lagi membalas dendam. Cukup sudah semuanya.


Ia ingin memulai semuanya lagi dari awal dengan Carlotta. Bukankah sekarang sudah tidak ada lagi penghalang? Lagipula, Carlotta sepertinya masih menyimpan rasa suka pada Alessandro. Meskipun hanya sedikit, Alessandro akan menerima itu.


"Di mana kita akan bicara, Carlotta?" Alessandro membuka percakapan.


Alessandro mengangguk. Ia membawa Carlotta ke tendanya, serta memerintahkan Lombardi untuk mengawasi sekeliling, jangan sampai ada yang menguping pembicaraannya.


Tenda Alessandro lebih besar dan mewah dibanding tenda Carlotta. Ada sebuah sofa-bed di sana untuk beristirahat, serta satu set sofa untuk tempat duduk tamu. Pantry-nya pun lengkap dengan bahan makanan premium. Juga mesin pembuat kopi yang mahal.


Carlotta menginginkan kopi sekarang, tapi itu tidak akan terlalu bagus untuk janinnya.


Alessandro pergi ke pantry. "Kau mau sesuatu? Minuman hangat, mungkin?"


Carlotta mengangguk. "Cokelat panas sepertinya menyenangkan."


Alessandro tersenyum. Rasanya seperti kembali ke sepuluh tahun lalu, di mana dirinya dengan mahir membuatkan Carlotta apa pun yang diinginkan oleh gadis itu.


"Dua cangkir cokelat panas datang." Alessandro membawa minuman mereka dengan sebuah baki kayu. Carlotta mengekor di belakang Alessandro, lalu duduk tepat di depan secangkir cokelat panas yang dihidangkan Alessandro untuknya.


Carlotta menangkup cangkir cokelat dengan kedua tangannya, sembari menghangatkan diri. Hari ini bukannya kepanasan, Carlotta merasa badannya dingin. Kedua tangan dan kakinya terasa seolah membeku. Ia terlalu gugup untuk bicara.


"Jadi, apa yang akan kita bicarakan? Sesuatu yang menyenangkan, kuharap?" Tanya Alessandro.


Carlotta memejamkan mata. "Aku datang untuk minta maaf."

__ADS_1


Alessandro langsung duduk tegak. "Tidak ada yang perlu dimaafkan sekarang, Carlotta. Kita akan mengubur masa lalu. Kau mau, kan?"


Carlotta mulai menangis lagi. "A-aku bukan meminta maaf untuk m-masa lalu." Gadis itu mulai terisak. Alessandro segera mendekatinya, menaruh cangkir yang masih digenggam Carlotta ke atas meja karena takut cairan panas itu akan menyiram gadis itu.


Alessandro kemudian mengalungkan lengannya ke punggung Carlotta, membelai gadis itu dengan gerakan menenangkan. "Ceritakan pelan-pelan. Ada apa sebenarnya? Apa kau butuh bantuanku?"


Carlotta menggeleng cepat, tidak mau Alessandro berpikir Carlotta hanya datang padanya jika sedang butuh bantuan saja.


"Aku minta maaf karena sepertinya aku tidak bisa melanjutkan film ini." Carlotta berkata. "Aku akan meninggalkan dunia hiburan sementara. Mungkin untuk satu atau dua tahun."


"Apa yang terjadi? Kau tidak bisa begini, Carlotta. Kau akan kena penalti yang besar."


Carlotta menggeleng. "Maafkan aku, tapi aku tidak akan mengubah keputusanku."


"Ke mana kau akan pergi?" Alessandro bertanya. Tubuhnya tegang dan tangannya terkepal erat. Ia tidak menyangka Carlotta menginginkan untuk pergi, di saat ia ingin memulai kembali.


Carlotta hanya menggeleng. "New York. Aku akan bertemu ibuku. Sudah terlalu lama aku tidak bertemu dengannya."


Kepalan tangan Alessandro mengendur. "Aku bisa mengantarmu ke sana, Carlotta. Pesawat pribadiku siap berangkat malam ini juga jika kau menginginkannya."


Carlotta menatapnya tajam. Masih ada sisa-sisa air mata di sana, tapi tatapan Carlotta tak tergoyahkan. "Tidakkah kau mengerti, Alessandro? Aku ingin pergi darimu!"


"Apa maksudmu, Carlotta?" Alessandro tampak terluka. Hanya Carlotta yang bisa melukainya seperti ini, bahkan sampai dua kali.


"Aku ingin menjauh darimu. Aku tidak tahan terus berada di dekatmu. Saat aku kembali ke dunia hiburan setahun atau dua tahun lagi, kuharap kau tidak pernah melibatkan dirimu lagi denganku. Apa kau mengerti?" Carlotta berdiri.


Alessandro memegang tangan Carlotta, mencegah gadis itu pergi. "Aku tahu aku banyak melakukan kesalahan padamu, Carlotta. Dan aku belum sempat minta maaf. Maka dari itu, aku minta maaf." Alessandro menggenggam kedua tangan Carlotta sekarang. "Maukah kau memaafkanku? Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku menyesal."


Carlotta melepaskan tangannya dengan sentakan keras. Air matanya terancam tumpah lagi. "Jangan pernah mencari dan menggangguku lagi, Alessandro. Selamat tinggal!"


Lalu, gadis itu pergi begitu saja.


***


♡♡♡ Haloo Sayang-sayangnya Alana


Makasih udah baca yaa, jangan lupa:


KLIK LIKE KLIK LIKE KLIK LIKE ♡♡♡


Vote & comment & 5 stars & gift juga kalo kamu suka ceritanya yaa, itu bakal berarti banget buat penulis.


Luvluv,

__ADS_1


Alana


__ADS_2