Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 46 | Taman Air Mancur


__ADS_3

Halooooooo guys jan lupa klik LIKE sebelum baca kek biasa yah. Terus vote, kasih 5 stars, gift, tips kalo bisa juga hehehe. Thank you all so much. Selamat membaca! Hope you'll like it!


Luvluv,


Alana


***


Carlotta memang sengaja mengajak semua tamunya untuk melakukan piknik sore di taman air mancur. Ia berpikir, mengundang Johann dan Roberto saja tidak akan cukup. Namun, ternyata bersantai sore di taman air mancur adalah kegiatan yang menenangkan hati.


Marco membentangkan sebuah selimut besar dan Carlotta meminta Monsieur Pierre untuk membuatkan kue-kue yang lezat. Dalam sekejap, selimut besar mereka terisi penuh dengan bekal piknik. Carina mengerjakan tugas sekolahnya sambil tidur menelungkup. Marco berbaring menatap dedaunan dan langit keemasan yang indah. Carlotta dan Johann duduk di tepi kolam sembari berusaha mengikuti percakapan sengit antara Ciara dan Roberto.


"Pendapatmu itu salah, Ciara. Konstitusi sekarang bukan lagi hukum tertinggi. Kita harus mengakui hukum internasional untuk mengatur kepentingan orang banyak." Kata Roberto.


Ciara berkacak pinggang. "Memangnya ada negara yang mau diatur-atur oleh hukum yang seperti itu?"


Roberto menjelaskan dengan perlahan. "Tidak semua. Namun, aku bisa memberikan contohnya. Belanda. Pada prinsipnya, hukum internasional atau yang diatur dalam perjanjian dan keputusan organisasi internasional, selalu lebih diutamakan daripada hukum nasional. Hanya sedikit yang perlu dikhawatirkan bagi warga biasa. Bagaimanapun, hukum internasional berfokus pada hubungan antar negara, sedangkan hukum nasional pada hubungan antara negara dan warga negara. Akan tetapi, jika sebuah perjanjian atau keputusan internasional ingin mencapai warga negara, hal itu pada prinsipnya harus 'diterjemahkan' ke dalam undang-undang atau pun peraturan nasional."


Ciara sudah bersiap untuk mendebat lagi, sedangkan Carlotta langsung mengalihkan perhatian dari kedua orang itu karena tidak mau merasa pusing. Ia beralih pada Johann dan bertanya, "Apa proyek filmmu selanjutnya?"


Johann von Schiller terdiam sejenak. "Tidak ada." Katanya kemudian. "Tahun ini, aku hanya fokus pada film kita kemarin. Kurasa, aku akan membuat film lagi mulai tahun depan."


Carlotta mengangguk, sedikit merasa bersalah. "Liburan akan bagus untukmu."


Johann mengiyakan. "Aku memang tetap tinggal di Roma untuk liburan selama beberapa bulan ini." Johann kemudian berdiri. "Tempat ini sangat bagus. Akan tampak luar biasa di layar lebar."


Carlotta tertawa. "Jangan berpikir ke sana jika tidak ingin kecewa, Johann. Pemiliknya tidak begitu ramah, terutama padamu."


Johann ikut tertawa. "Dia memang agak pencemburu, ya, kan?"


Carlotta mengangguk. Ia berbisik penuh konspirasi di telinga Johann. "Sangat. Nah, sekarang kau sudah diperingatkan."


Johann terbahak. "Apa kau ingat saat dia mencegahmu berciuman dengan Antonio Aquinas?"


Carlotta ikut tertawa. "Dan membuat dirinya sendiri menjadi pemeran pengganti?"


Johann mengangguk sambil tertawa. "Aku tidak menyangka laki-laki seperti dia benar-benar ada di dunia."


Mata Carlotta menyipit. "Mengerikan, bukan?"

__ADS_1


Johann menggeleng. "Sedikit. Tapi aku bisa memahaminya. Untuk perempuan seperti dirimu, tentu saja dia akan setergila-gila itu."


Carlotta tersipu malu. "Kau tidak sungguh-sungguh."


Johann tersenyum. "Bagaimana jika aku memang sungguh-sungguh?"


Carlotta hendak menjawab, tetapi tiba-tiba terdengar suara langkah kaki orang yang berlari cepat mendekat. Jantung Carlotta berdegup dua kali lebih cepat ketika akhirnya Alessandro Ferrara muncul di hadapannya.


***


Alessandro tampak berantakan. Tiga kancing kemeja bagian atasnya entah ke mana, dasinya sudah tidak pada tempatnya, rambutnya acak-acakan, dan ada sorot liar di matanya. Itu semua bukannya membuat Alessandro tampak buruk. Justru sebaliknya, pesona Alessandro malah memancar berkali lipat. Seksi.


Carlotta merasa jemari kakinya menekuk karena antisipasi. Tanpa sadar, perempuan itu menggigit bibir bagian bawahnya sendiri.


"Kalian semua di sini." Alessandro berkata, tanpa mengalihkan pandangan dari Carlotta.


"Signor Ferrara! Kudengar Anda melakukan perjalanan bisnis ke New York pagi ini. Bagaimana Anda bisa berada di sini sekarang?" Johann yang pertama maju untuk menyambut Alessandro.


Alessandro memaksa dirinya agar tetap waras. Ia menjabat tangan Johann yang terulur dan mengeluarkan senyum bisnisnya. "Ya, aku memutar balik pesawatku." Ujarnya dengan santai.


Semua orang di sana terkesiap.


Alessandro tersenyum samar. "Tidak perlu memikirkan itu."


Johann berbisik pada Carlotta. "Ternyata dia lebih gila daripada dugaan kita."


Carlotta balas berbisik. "Sekarang sepertinya 'mengerikan' sudah menjadi kata yang pas untuk mendeskripsikan dia."


Johann menjawab, "Sangat."


Alessandro tampak semakin gusar melihat Carlotta asyik sendiri dengan Johann vom Schiller. Namun, perhatiannya teralihkan oleh Roberto Mancini yang berjalan mendekat.


Sialan. Pria itu tampak lebih mempesona dibandingkan dengan sosoknya dulu di masa sekolah. Apakah Carlotta semakin terpesona kepada mantan tunangannya ini?


"Ciao, Alessandro. Aku ingat kau adalah seniorku sewaktu kita SMA. Kau ingat aku?" Roberto mengulurkan tangan.


Alessandro menjabat tangan itu kuat-kuat. Senyumnya masih terpasang rapi. "Tentu saja aku ingat. Roberto Mancini, bukan?"


Roberto tertawa kecil. "Benar. Lama tidak bertemu. Kau banyak berubah."

__ADS_1


Alessandro langsung waspada. Apa maksudnya itu? Berubah dari miskin menjadi kaya atau? "Tidak sebanyak itu. Aku masih orang yang sama." Alessandro menunjuk Carlotta. "Orang yang sama dengan orang yang sejak dulu menyukai dia."


Roberto memahami peringatan secara tidak langsung itu. "Tentu saja. Oh, dan aku datang kemari untuk mengucapkan selamat. Kau dan Carlotta adalah pasangan yang serasi."


Alessandro tampak berbahaya. "Aku dan Carlotta tidak akan terpisahkan seandainya dulu kau tidak masuk di antara kami dan menjadikannya tunanganmu, bukan?"


Carlotta langsung maju untuk menengahi. Situasi sepertinya mulai berbahaya. "Itu sudah masa lalu, Alessandro. Dia datang sebagai teman."


Alessandro masih tampak tegang di tempatnya berada, tetapi karena Carlotta berdiri di dekatnya sekarang, dia jadi lebih tenang. "Ah. Kau benar, Sayang. Maafkan kata-kataku tadi, Roberto."


Roberto menggeleng cepat. "Tidak masalah. Lagipula, dulu aku dan Carlotta hanya bertunangan dalam waktu seminggu."


'Seminggu yang membuatku terbakar di neraka', pikir Alessandro jengkel. Namun, Alessandro kembali memasang senyum formalnya. "Kau tidak ingin mencoba memperpanjang pengalaman itu hingga lebih dari seminggu, bukan?"


Carlotta mencubit lengan Alessandro. "Hentikan." Bisik perempuan itu.


Alessandro mengaduh kecil.


Roberto tertawa saja menanggapinya. "Tidak. Jangan khawatir."


Alessandro mengangguk. "Baguslah. Karena aku dan Carlotta juga baru bertunangan seminggu. Dan aku berniat untuk memperpanjangnya hingga minggu depan, sebelum kami melangkah ke altar."


Roberto mengangguk-angguk. "Aku tahu. Carlotta mengundangku ke pernikahan kalian minggu depan. Sepertinya akan jadi acara yang meriah."


Alessandro langsung memelototi Carlotta. "Kau mengundangnya?"


Sementara itu, Carlotta hanya menjawabnya dengan mengangkat bahu.


Marco Bruni berusaha mencairkan suasana. "Bukankah sore ini indah? Bagaimana jika kita semua masuk ke dalam dan menyegarkan diri sebelum makan malam?"


Alessandro menyipitkan matanya. "Kata siapa mereka akan ikut makan malam di sini?"


Carlotta mengangkat tangannya. "Kataku. Mereka tamuku. Jika aku ingin mereka ikut makan malam, maka mereka akan ikut makan malam."


Alessandro mengepalkan tangannya di sisi tubuh karena kesal. Namun, tidak ada lagi yang memperhatikannya. Semua orang sudah mengikuti Marco Bruni berjalan kembali ke rumah utama.


Sialan.


***

__ADS_1


__ADS_2