
Selamat pagi Sayangnya Alana,
Jujur aja ini adalah salah satu bab kesukaan aku. Hahaha. Nulisnya bener-bener ngalir dan everything feels so real in my mind waktu itu. Kayak kebayang aja gitu tiap adegannya. Sooo, please banget kalo bisa komen yaa. Jangan lupa LIKE dulu sebelum baca, thank you! ♡
Happy reading!
Luvluv,
Alana
***
Ini adalah yang terbaik, Carlotta berulang kali meyakinkan diri sendiri. Ia harus merahasiakan ini dari Alessandro. Lebih baik anaknya tumbuh hanya berdua dengannya, tetapi penuh dengan cinta. Daripada memiliki ayah, tapi tidak pernah mendapatkan cinta ayahnya.
Seperti Carlotta.
Ia tumbuh sendirian di rumah keluarga Marinelli. Ayahnya tidak pernah ada di sana untuknya. Ibunya pergi meninggalkannya. Ia tidak mau anaknya merasakan hal yang sama. Ferrara mungkin adalah keluarga terkaya di Italia, tapi anaknya bukan anak yang diinginkan. Carlotta justru takut anaknya dituntut untuk meneruskan kejayaan Ferrara tanpa memedulikan dirinya sendiri.
Lihat saja Alessandro. Yang pria itu lakukan hanya menenggelamkan diri pada pekerjaan. Prestasinya berulang kali diulas di majalah bisnis. Dia disebut-sebut sebagai pemimpin perusahaan yang berhasil. Tapi apakah dia mendapatkan cinta dari keluarganya? Carlotta tidak yakin.
Carlotta harus melindungi anaknya. Ia tidak akan membiarkan anaknya sengsara.
Lagipula, Carlotta merasa juga tidak menginginkan pernikahan tanpa cinta. Kehidupan rumah tangga orang tuanya telah memberikan banyak trauma untuknya.
Ya, lebih baik semuanya tetap seperti ini. Namun, mengapa rasanya sulit sekali melihat Alessandro berbalik memunggunginya dan berjalan pergi tanpa sepatah kata pun?
Carlotta ingin memanggilnya. Carlotta merindukannya. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Carlotta ingin mengubur diri dalam dekapan ayah dari bayinya. Suasana pasar yang ramai dan matahari yang bersinar cerah berkebalikan dengan hatinya yang muram. Ia kesepian, merasa sedang berdiri sendirian di dunia ini. Air mata perlahan menuruni pipinya. Kali ini ia tidak peduli lagi orang-orang memandanginya. Ketika Alessandro telah menghilang di balik tikungan, Carlotta menangis terisak-isak.
Alessandro tidak mencintainya. Jika pria itu mencintainya, maka keluarga Marinelli tidak akan hancur seperti sekarang. Jika Alessandro mencintainya, maka pria itu tidak akan melakukan pelecehan yang membuat Carlotta melalui ini semua. Dan jika lelaki itu mencintainya, maka ia akan membantah pernyataan Carlotta tentang wanita-wanita lain yang keluar masuk rumahnya.
__ADS_1
Carlotta tidak mau bersaing dengan mereka. Pasti ada banyak sekali wanita yang mengelilingi Alessandro sekarang. Dan jika Alessandro telah bersama beberapa dari mereka, itu tidak akan menjamin Alessandro tidak akan melakukannya lagi.
Alessandro-nya telah berubah. Dulu, mungkin hanya Carlotta yang bisa lelaki itu dapatkan. Semua gadis lain di sekolah memandang rendah pemuda itu. Meskipun luar biasa tampan dan pintar, tidak ada gadis dari kalangan atas yang mau dekat dengannya. Tidak ada selain Carlotta.
Kini, Carlotta juga mulai meragukan cinta mereka di masa muda. Apakah Alessandro mendekatinya karena hanya ia yang terlihat mudah didapatkan? Apakah karena hanya ia satu-satunya gadis naif yang tidak peduli status orang lain di sekolah? Apakah Alessandro benar-benar sudah memperhatikannya sejak ia berumur delapan tahun, atau itu hanya rayuan gombal Alessandro saja?
Carlotta tidak lagi tahu mana yang benar dan mana yang salah.
***
Alessandro sudah berjanji pada kakeknya untuk berhenti minum. Namun, setelah bertemu Carlotta lagi hari ini, rasanya itu adalah janji yang mustahil. Alessandro kembali ke acara pentingnya dengan penampilan acak-acakan. Rambutnya tak lagi tersisir rapi. Wajahnya kusut. Matanya merah penuh emosi. Tangannya bergerak menarik-narik dasi yang sepertinya terikat terlalu kencang.
Pria itu tidak memedulikan orang lain lagi. Ia pergi ke meja minuman dan bukannya mengambil segelas sampanye, Alessandro justru mengambil botol yang belum terbuka. Beberapa pelayan hendak mencegah, tapi tidak berani. Alessandro membuka botol sampanye dengan giginya, kemudian menenggak isinya bagai menelan air mineral. Tidak cukup sampai di situ, Alessandro mengguyurkan sisa sampanye dalam botol ke kepalanya sekalian.
Cuaca sedang panas. Begitu pula suasana hatinya.
"Carlotta hamil." Alessandro berkata.
Lombardi hendak mengucapkan selamat, akan tetapi segera mengurungkan niatnya ketika melihat kondisi Alessandro sekarang. Sebagai gantinya, ia mengajukan pertanyaan, "Apakah itu anak Anda?"
Alessandro menggeleng. "Mungkin anak Johann von Schiller. Atau Roberto Mancini."
Lombardi menutup mulutnya rapat-rapat, menahan keterkejutan.
"Aku akan membuat ayah dari bayi itu bertanggung jawab. Kita berangkat ke Roma untuk menemui Johann dulu." Alessandro menggeram rendah. "Jika Johann tidak mengakuinya, kita pergi ke London untuk menyeret Roberto Mancini pulang."
Lombardi menghalangi jalan Alessandro. "Anda tidak boleh melakukan itu, Signor. Anda tidak boleh ikut campur."
"Minggir, Lombardi."
__ADS_1
"Tidak, Signor. Anda punya urusan yang jauh lebih penting di sini. Ini peresmian anak perusahaan dengan klien-klien potensial. Anda bisa kehilangan ratusan juta dollar jika menyia-nyiakan kesempatan ini."
Alessandro mengacak rambutnya frustasi. Kemudian, kesadaran kembali padanya. Benar, ia tidak boleh mengacaukan pekerjaan yang telah dibangunnya dengan keringat dan air mata.
"Aku akan menyegarkan diri terlebih dulu. Nanti aku kembali sebelum acara peresmian. Kau tetaplah di sini dan mengurus semuanya." Alessandro menyambar kunci salah satu mobil sport-nya dari kantong depan Lombardi. "Aku akan menyetir sendiri."
"Anda baru saja minum." Lombardi merebut kembali kunci mobil itu.
Alessandro menyambar kembali kuncinya secepat kilat. "Aku tidak mabuk."
Sebelum Lombardi mengeluarkan protes lebih jauh, Alessandro berjalan cepat keluar dari sana dan masuk ke dalam mobilnya. Tanpa terlalu peduli jalanan sedang ramai, ia melakukan manuver kilat dan melaju dengan kecepatan penuh.
***
Castello bergaya Romawi kuno milik Alessandro dibangun di pedesaan Veneto. Lanskapnya teramat indah, berbukit-bukit, dikelilingi perkebunan anggur yang menghasilkan wine terbaik. Jalanan pedesaan yang sepi membuat mobil Alessandro meluncur mulus tanpa hambatan. Mentari bagian utara Italia menyinari pepohonan hijau, menenangkan kalbu.
Tetapi, bayangan Carlotta tidur dengan pria lain membuat Alessandro jengkel setengah mati. Ia terus menekan gas dan hampir tidak pernah menginjak rem. Mobilnya melaju cepat bagai terbang. Pria itu mencengkeram erat kemudi, berusaha melampiaskan amarah yang bergemuruh dalam dada.
"Ya! Aku tidur dengan banyak pria! Memangnya kau pikir aku hanya boleh mendapatkan pengalaman seksual sekali seumur hidup, dengan pemaksaan pula? Aku juga ingin mencari pengalaman seksual yang kulakukan karena aku ingin!"
Perkataan Carlotta terus terngiang di benak Alessandro, membuat pria itu menyetir seperti orang kesetanan.
Dengan siapa Carlotta melakukannya? Damnit! Alessandro berulang kali merasa menyesal telah menyakiti Carlotta dan membuat gadis itu lari ke pelukan pria lain. Alessandro merasa marah kepada Carlotta karena memilih pria lain, tetapi sebetulnya ia lebih marah pada dirinya sendiri yang secara tidak langsung mendorong Carlotta melakukan hal itu.
Ketika melalui belokan terakhir menuju rumahnya, sebuah truk pembawa hasil produksi anggur miliknya tiba-tiba muncul dari arah berlawanan.
Dengan mata terbelalak, Alessandro berusaha menghindar. Ia membanting setir ke kanan. Mobilnya yang terlalu kencang tidak bisa direm sama sekali. Alessandro merasakan benturan-benturan keras dan mobilnya melayang selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Mobil itu pada akhirnya berhenti berputar dan menyentuh tanah kembali dalam keadaan terbalik.
***
__ADS_1