
Karena tabungan bab habisssss bersih dan belum nulis sama sekali buat update, aku agak keteteran ngejar Crazy Up. Bener-bener fresh from the oven banget nih bab ini. Abis nulis langsung dipost. Maafin kalo ada typo-typo atau salahnya ya, belum sempet baca ulang sama sekali juga. Feel free to comment and correct me if I'm wrong ♡
Enjoy my 2nd update today! Doain sempet ngepost bab selanjutnya sebelum tengah malem. Berasa Cinderella nih deg-degan jangan sampe lewat midnight hahaha ♡
Luvluv,
Alana
***
Carlotta memang harus menyiapkan mental untuk berbicara baik-baik dengan Gretta (dan Patrizia, tentu saja, meski belakangan sikap Patrizia yang tidak biasa justru terasa aneh). Gretta memang suka sekali memancing emosi orang-orang. Carlotta tidak merasa harus mempermasalahkan apapun jika dia yang dihina, tetapi jika perempuan itu sudah menyebut nama suaminya dengan konotasi buruk, Carlotta tidak akan tinggal diam.
"Aku mencintai Alessandro, Gretta. Sejak dulu hingga selamanya. Pertunanganku dengan Roberto adalah hasil kesepakatan ayahku dengan ayahmu. Itu semua tidak berkaitan dengan tuduhanmu bahwa aku mempermainkan perasaan orang." Carlotta berusaha menjelaskan baik-baik.
Diam-diam, wajah Alessandro menjadi bersemburat merah hingga ke telinga mendengar kata-kata penegasan dari mulut Carlotta. Ah, ternyata bertemu dengan anak-anak keluarga Mancini tidak seburuk yang Alessandro kira.
Gretta melipat tangannya di depan dada. "Lalu, bagaimana dengan adikmu?"
Roberto memutar bola mata. Ia merasa malu sekaligus marah. "Gretta, kalau kau masih ingin berbicara hal nonsense seperti ini, lebih baik kita pulang sekarang."
Gretta mengabaikan Roberto. Ia masih menunggu jawaban Carlotta.
Carlotta mendesah pelan. "Aku sungguh tidak tahu apa maksud Ciara. Namun, dia memang pernah bilang padaku bahwa dia butuh mendiskusikan tugas akhirnya dengan Roberto. Roberto memiliki firma hukum yang mulai naik daun di London. Adikku tertarik pada hukum sejak dulu. Kurasa, itu bukan sebuah ketertarikan secara romantis."
Roberto membenarkan Carlotta. "Tidak perlu mengeluarkan spekulasi, Gretta."
Gretta memandang antara Carlotta dan Roberto dengan ragu-ragu. "Ya, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk mempercayai kalian. Tapi, aku tidak bisa mempercayai Ciara. Dia itu--"
"Hati-hati, Gretta. Dia adikku." Carlotta memperingatkan.
__ADS_1
Gretta mengangkat tangannya di udara. "Intinya, aku minta maaf karena mengacaukan pestamu."
Carlotta mendengus pelan ketika mendengar permintaan maaf yang sama sekali tidak terdengar tulus itu. Tangannya kemudian bergerak untuk membuat sandwich lagi. Gretta dan Roberto juga mulai mengambil roti mereka masing-masing.
Hari itu, saat pesta Baby Shower, adalah salah satu hari paling menakutkan dalam hidup Carlotta. Dia takut sekali akan kehilangan bayinya. Itu semua sudah berlalu sekarang. Semuanya sudah baik-baik saja. Namun, masih ada satu hal yang mengganjal di benaknya.
Alessandro berdiri dan bergerak menuju sebuah pohon. Ada pembuka botol yang digantung berjejer di pohon tersebut. Pria itu membuka botol wine terbaik milik Ferrara, kemudian berbalik dan segera menuangkannya masing-masing segelas untuk Carlotta dan dirinya sendiri. Alessandro juga menawarkannya pada Roberto dan Gretta. "Kalian mau?"
Roberto dan Gretta Mancini sama-sama menggeleng. "Kami punya wine kami sendiri. Keluaran pabrik Mancini." Jawab Roberto. Pria itu juga segera membuka botol miliknya dan balas menawarkan pada Alessandro dan Carlotta. "Kalian harus mencicipi yang ini." Roberto menuangkan segelas dan menyodorkannya pada Carlotta.
Carlotta menerima gelas itu dan berterima kasih. Perempuan itu lalu menghidunya dan tersenyum. "Khas Mancini sekali. Keorisinalannya sebelas dua belas dengan wine milik Marinelli sebelum pabrik kami gulung tikar."
Alessandro langsung menekuk mukanya. "Penjualan wine milik Ferrara yang terlaris di seluruh Italia. Kami juga telah mengekspor ke berbagai negara."
Roberto tersenyum. "Itu karena kalian membuat wine dengan selera pasar. Sementara kami, Mancini dan Marinelli, mempertahankan resep turun temurun dari nenek moyang."
Alessandro sudah akan membuka mulut untuk berdebat masalah wine dengan Roberto Mancini, tetapi Carlotta sudah mendahuluinya membuka mulut dan bertanya pada Gretta. "Apakah kau tahu sesuatu tentang Patrizia, Gretta?"
Carlotta menggeleng cepat, lalu tersenyum manis. "Tidak apa-apa. Aku hanya sudah lama tidak mendengar kabarnya."
Gretta merasa pertanyaan Carlotta sungguh aneh, karena setahu Gretta, Carlotta dan Patrizia bukan teman. Justru ada yang perlu dipertanyakan jika mereka berdua saling bertukar kabar layaknya teman. Namun, Gretta pada akhirnya hanya menganggap pertanyaan Carlotta sebagai pertanyaan basa-basi saja. Jadi, dia bercerita lebih banyak. "Sudah sebulan ini aku tidak mendengar banyak tentangnya. Jika aku menelepon, dia hanya menjawab dengan sangat singkat seolah sedang amat disibukkan dengan sesuatu."
"Pekerjaan, mungkin?" Tanya Carlotta.
Gretta mengangkat bahu, masih asyik menata keju dan ham pada sandwich-nya. "Aku pernah sengaja datang ke kantor arsitektur milik ayahnya dan para pegawai di sana bilang, Patrizia sudah lama tidak datang ke kantor."
Kini, Carlotta benar-benar menjadi penasaran. "Kau tidak mencoba datang ke rumahnya?"
Gretta mengangkat bahu sekali lagi. "Dia tidak ada di rumah."
__ADS_1
***
"Kukira kau tidak terlalu dekat dengan Patrizia des Angelo. Kenapa menanyakannya pada Gretta?" Alessandro bertanya saat ia dan Carlotta sudah duduk di dalam mobil untuk pulang ke Veneto.
Carlotta mengenakan kacamata hitamnya dan mulai melajukan mobil Alessandro pelan membelah keramaian kota Verona. "Karena aku mencurigai sesuatu."
Alessandro menggerakkan tangannya untuk memainkan rambut Carlotta. "Sesuatu apakah itu?"
Carlotta mengangkat bahu. "Entahlah. Kebetulan sekali Kak Gio juga jarang berkomunikasi denganku sebulan belakangan. Tidak pernah mengunjungi Mauricio juga. Padahal, dia sangat sering datang bulan lalu."
Alessandro mengernyit. "Menurutmu, Giacomo dan Patrizia menghilang bersama?"
Setelah diucapkan keras-keras, gagasan itu terdengar begitu janggal hingga Carlotta bergidik. "Itu tidak mungkin." Jawab Carlotta.
Tangan Alessandro yang awalnya berada di rambut Carlotta, kini mulai membelai bagian belakang telinga perempuan itu. "Aku juga berpikir itu tidak mungkin. Tapi, siapa yang tahu? Katamu, Giacomo secara khusus mengundang Patrizia des Angelo ke pesta Baby Shower kita, kan?"
"Iya, kau benar." Carlotta terkikik geli. "Hentikan, Alessandro. Aku sedang menyetir."
Alessandro tertawa. "Sudah kubilang, biar aku saja yang membawa mobilnya. Aku ini multitasking. Bisa menyetir sambil menyentuhmu."
"Tidak." Kata Carlotta tegas. "Jika kau sudah mulai menggerayangiku, kita tidak akan tiba di rumah sampai seminggu kedepan. Kau pasti akan membelokkan mobil menuju penginapan terdekat. Atau lebih parah lagi, mengajakku bercinta di semak-semak!"
Alessandro tertawa sampai helai rambutnya terlempar ke belakang. "Semak-semak, katamu? Aku belum pernah melakukannya, dan kurasa itu ide yang bagus!"
Carlotta memutar bola matanya. "Apakah ide itu akan tetap bagus ketika ular datang dan menggigit kepunyaanmu?"
Alessandro tertawa lagi, merasa setiap yang dikatakan oleh istrinya luar biasa menarik. "Ular? Tidak ada ular di semak-semak. Hanya ada ular mililku yang menjadi favoritmu."
Carlotta tidak tahu harus tertawa atau menangis. "Ya Tuhan, tolong kuatkan aku."
__ADS_1
Tawa Alessandro menyembur lagi.
***