
Hello guys I'm back too soon alias langsung update 2 bab kayak janji aku tadi ♡
Jangan lupa LIKE dulu sebelum baca, komen2 apa kesan-kesan kamu selama bacain novel ini, NO PLAGIAT, 5 stars. Gift & vote juga kalau kalian masih punya poin/jatah vote hehe.
Makasih udah dukung aku & novel ini yaa. Tetep dukung buat kedepannya please? ♡
Luvluv,
Alana
***
Ketika bersumpah setia melayani keluarga Ferrara, Lombardi tidak bermaksud melakukan pekerjaan yang memusingkan seperti ini. Lebih tepatnya, dia tidak mendaftar untuk melayani tuannya yang suka sekali melakukan hal-hal secara impulsif. Terutama jika menyangkut perempuan yang disukainya. Lombardi pusing bukan main saat Alessandro Ferrara, yang baru saja lolos dari maut, rupanya telah menyewa seorang detektif sebelum kecelakaan itu terjadi. Detektif untuk mencari keberadaan Carlotta Marinelli.
Dan detektif swasta sialan itu baru saja keluar dari ruang perawatan tuannya, mengabarkan bahwa Carlotta Marinelli saat ini berada di panti asuhan dekat Rumah Juliet di Verona. Panti asuhan yang dikelola Bibi Valentina! Alessandro yang kelewat bersemangat langsung turun dari tempat tidur dan meminta untuk diantarkan ke sana. Malam ini juga.
Lombardi menggelengkan kepalanya pasrah. Tuan besar, kakek Alessandro pasti akan membunuhnya kali ini, jika ada hal buruk lain menimpa cucunya.
"Baiklah, tapi Anda tidak boleh menyetir." Lombardi berkata pada Alessandro.
Alessandro tampak menyembunyikan kesakitannya agar diijinkan pergi. "Tidak, aku tidak akan menyetir. Aku akan mengendarai helikopterku sendiri."
Lombardi memijat lehernya yang mendadak terasa kaku. "Saya akan menyiapkan helikopter Anda. Beserta pilotnya."
Setengah jam kemudian, mereka telah mengudara menuju Verona.
Helikopter mendarat mulus di helipad rumah Alessandro dan Lombardi buru-buru menyiapkan mobil. Mereka akan segera melewati TKP kecelakaan yang baru terjadi beberapa hari lalu. Dan Lombardi tidak mau kejadian mengerikan itu sampai terulang kembali.
Ketika mobil berhenti di depan panti, Alessandro segera turun sambil memegangi dadanya.
"Seharusnya Anda masih beristirahat di rumah sakit." Lombardi berkata.
Alessandro meringis menahan sakit. "Tidak apa-apa Lombardi. Aku lebih suka di sini."
Nyonya Valentina langsung keluar dan menyambut kedatangannya begitu melihat mobil Alessandro terparkir rapi. "Ya Tuhan, anakku! Alessandro! Kudengar kau mengalami kecelakaan parah. Apa kau baik-baik saja?"
Alessandro tersenyum hangat. "Seperti yang Bibi lihat. Aku tak kurang suatu apa pun."
"Ayo, masuklah!" Nyonya Valentina mempersilakan Alessandro masuk. "Mau minum sesuatu?"
"Tidak, Bi. Aku mau bertemu Carlotta." Jawab Alessandro.
Nyonya Valentina terbelalak. Wanita itu tidak bisa menahan keterkejutan. "Kau tahu dia ada di sini?"
"Ya." Alessandro tersenyum penuh kemenangan. "Aku tahu dia ada di sini. Dan aku tahu dia sedang hamil."
Nyonya Valentina terkesiap. Terkuak sudah semua rahasia Carlotta, pikirnya takut.
"Tapi aku tidak tahu siapa ayah dari bayi yang dikandungnya." Alessandro berkata lagi.
__ADS_1
Nyonya Valentina diam-diam menghembuskan napas lega.
"Apa Bibi tahu?"
"Tahu apa?"
"Siapa ayah dari bayi Carlotta?"
Nyonya Valentina hendak berbohong, tapi ketika melihat keadaan Alessandro yang tidak tampak baik-baik saja, ia tidak tega. "Aku tahu."
Alessandro duduk tegak. "Siapa dia?"
Nyonya Valentina menggeleng. "Aku sudah berjanji pada Nona Carlotta untuk tidak memberitahu siapa pun. Maafkan aku, Nak."
Alessandro sudah menduga jawaban itu. Tidak mungkin Bibi Valentina akan memberitahunya semudah ini. Tidak hilang akal, Alessandro bertanya lagi, "Kalau begitu, setidaknya beritahu aku mana yang benar. Apakah pria ini berkebangsaan Italia atau bukan?"
"Tentu saja berkebangsaan Italia." Nyonya Valentina menjawabnya sambil tertawa gugup.
Alessandro bertanya lagi. "Apakah dia lahir dan besar di Verona atau pindah ke tempat lain?"
Nyonya Valentina tampak berpikir sebentar. "Ya, dia lahir dan besar di Verona, tetapi pindah ke tempat lain setelah lulus SMA."
'Roberto Mancini', pikir Alessandro dengan muram.
"Di mana Carlotta sekarang, Bi?" Alessandro bertanya.
Alis Alessandro bertaut. "Bukan di kamar tamu?"
Bibi Valentina menggeleng. "Dia tahu itu kamarmu."
Alessandro tertawa masam. "Dia tidak mau tidur di sana karena itu kamarku? Dan memilih tidur di kamar sempit di lantai atas? Bibi, bukankah ranjang di kamar atas adalah ranjang untuk anak kecil?"
Bibi Valentina tersenyum. "Begitulah."
"Lihat saja nanti, Carlotta." Alessandro bergumam. Otaknya mulai menyusun sebuah rencana.
***
Alessandro berjingkat ke lantai atas dan membuka pintu kamar Carlotta dengan amat perlahan. Malam sudah larut. Anak-anak panti sudah tidur. Alessandro tidak mau membangunkan mereka. Dan terutama, Alessandro tidak mau membangunkan Carlotta.
Ketika ia melihat keadaan Carlotta, hatinya mencelos. Carlotta tertidur dengan posisi meringkuk, melindungi perutnya. Ranjang itu sungguh terlalu sempit untuk orang dewasa, apalagi untuk ibu hamil.
Pelan-pelan, Alessandro mendekati ranjang Carlotta. Tanpa menimbulkan suara, ia mulai mengangkat tubuh Carlotta. Rasa sakit menyerbu tempat rusuknya patah, tetapi ia tidak peduli. Ia memindahkan Carlotta ke kamar tamu yang lebih besar. Lombardi membantunya membuka pintu-pintu dengan lembut. Namun, Alessandro tidak mengijinkannya membantu menggendong Carlotta.
Setelah berhasil memindahkan perempuan itu tanpa membangunkannya, Alessandro menahan napas karena rasa sakit di dadanya datang berkali lipat. Ia memandang Lombardi, kemudian melemparkan kunci mobilnya. "Pulanglah ke Veneto. Aku akan bermalam di sini."
Lombardi tidak terkejut sama sekali. Ia hanya mengangkat bahu, kemudian pergi meninggalkan tuannya dan menutup pintu kamar tamu itu rapat-rapat.
Alessandro naik ke ranjang dan menyelimuti Carlotta. Kemudian, ia menyusup juga ke dalam selimut dan tidur sambil memeluk Carlotta.
__ADS_1
***
Carlotta tidur dengan nyenyak. Ini adalah tidur nyenyak pertamanya setelah berbulan-bulan tinggal di panti asuhan. Ia tidak mimpi buruk, tidak gelisah, serta tidak terbangun di tengah malam. Di pagi harinya, ia terbangun dengan perasaan tenang. Nyaris bahagia, jika saja ia tidak mengingat apa yang terjadi pada Alessandro beberapa hari yang lalu. Hingga hari ini, belum ada kabar apa pun. Koran dan TV yang biasanya selalu tahu kabar terkini pun tidak mengabarkan apa-apa.
Gara-gara Alessandro, belakangan ini Carlotta jadi hafal jadwal jam tayang berita di televisi lokal.
Carlotta meregangkan tubuh sebelum membuka mata. Tumben sekali kamarnya hangat. Rasanya seperti sedang dipeluk oleh seseorang. Seseorang yang harum baunya seperti Alessandro Ferrara.
'Tunggu sebentar. Tangan siapa ini?' Carlotta kaget setengah mati ketika ia menyadari ada sebuah tangan yang melingkari badannya.
Dan ada satu tangan lagi di bawah kepalanya, sebuah tangan yang dijadikan bantal olehnya.
Secara refleks, Carlotta memekik dan bergerak menjauh.
"Aduh!" Carlotta mendengar sebuah geraman parau dari balik punggungnya. Ketika Carlotta berbalik, ia menemukan Alessandro.
Carlotta membeku selama beberapa detik, kemudian berusaha bangun. Namun, lengan Alessandro yang sekeras baja menahannya agar tetap di tempat.
"Berhentilah bergerak, Sayang. Kau menyakiti rusukku." Bisik Alessandro, masih dengan suara parau sehabis tidur.
Carlotta langsung berhenti melawan. Benar. Bukankah Alessandro baru saja mengalami kecelakaan?
"Bagaimana kau bisa berada di sini?" Tanya Carlotta dengan waspada. "Bagaimana keadaanmu? Apa kau terluka parah?"
Alessandro kesakitan karena rusuknya tersikut oleh Carlotta tadi, tapi kini ia tersenyum. Hatinya hangat mendengar Carlotta mengkhawatirkannya.
"Tidak ada yang tidak bisa ditahan." Alessandro menjawab santai. Senyum lebar masih menghiasi bibirnya. "Ayo, kemarilah, kita tidur lagi sebentar. Aku masih mengantuk."
"Tidak, tidak. Tunggu dulu sebentar. Bagaimana kita bisa tidur bersama di... di mana ini?"
Alessandro nyengir kuda. "Kamar tamu."
Carlotta terkesiap. "Kamar tamu panti asuhan? Bagaimana jika anak-anak dan Bibi Valentina melihat? Aku harus bangun."
Alessandro mengerang. "Hari ini saja, tolong. Aku sedang kesakitan. Tolong peluk aku sebentar saja."
Carlotta tidak mau jatuh pada tipuan trik itu, tetapi Alessandro memang tampak kesakitan. Wajahnya pucat. Lehernya berkeringat. Napasnya pendek-pendek.
"Mana yang sakit?" Carlotta bertanya.
Alessandro menjawab pelan. "Rusukku patah."
Carlotta terkejut. "Ya Tuhan. Sungguh? Kau seharusnya masih di rumah sakit!"
Alessandro mengeluarkan seringai lagi. "Tapi dokterku ada di sini. Kau. Tolong sembuhkan aku, Dokter Carlotta."
Carlotta mencubit lengan Alessandro agak keras. Kemudian, Alessandro mengaduh sambil tertawa.
***
__ADS_1