Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 72 | Gadis Jalanan


__ADS_3

LIKE SETIAP BAB jangan lupa yaaa sayang-sayangkuuu ♡♡♡


Today is the last day of my Crazy Up session. Enjoyyy! *brb ngebut nulis lagi.


Luvluv,


Alana


***


Alicia tidak pernah merasa semalu sekarang. Gadis itu baru berumur dua puluh dua. Ia selalu menyembunyikan kecantikannya dengan berdandan lusuh. Jalanan bukan tempat yang ramah untuk wanita cantik. Ia takut diperkosa. Pakaiannya selalu tertutup rapat. Wajahnya selalu penuh debu. Rambutnya selalu kusut masai. Tetapi, Luca Lombardi berhasil melihat dibalik itu semua.


Luca Lombardi tahu bahwa ada kecantikan tersembunyi dibalik semua topeng yang dipakai Alicia. Sejak saat itu, Alicia merasa berdebar-debar hanya dengan mendengar nama Lombardi.


"Tunggu apa lagi?" Lombardi masih memandanginya.


Alicia menghela napas. Pria di hadapannya jelas bisa jadi sangat mengintimidasi. Dan luar biasa kaku. Seandainya saja Lombardi tidak begitu kaku, Alicia yakin banyak perempuan yang akan melemparkan diri pada pria itu tanpa pria itu perlu mengeluarkan segepok uang.


Lombardi pria yang jangkung. Darah Sisilia murni tampak mengalir deras dalam nadinya. Segala hal dalam perawakan pria itu tegas. Rambut gelap, hidung tegak, kulit cokelat, badan liat, serta sorot mata yang sanggup melelehkan es di antartika. Alicia dapat menerka otot-otot Lombardi pasti bagus sekali di balik kemejanya yang selalu rapi. Dan bibirnya... Ya Tuhan, itu adalah bibir paling seksi yang pernah dilihat Alicia.


Alicia berdiri. Ia segera menyimpan uang yang dilemparkan Lombardi ke dalam brankasnya dalam kamar. Kemudian, ia kembali ke ruang  tamu dengan pakaian yang sama sekali berbeda. Sebuah lingerie merah membara yang menantang. Ia juga melepaskan ikatan rambutnya dan menggerainya bebas.


"Kita akan melakukannya di sini atau di kamarku?" Tanya Alicia. Gadis itu berhati-hati agar suaranya tidak terdengar bergetar.


Lombardi sudah melepaskan jasnya dan melonggarkan dasinya sendiri. Pria itu duduk bersandar santai di sofa. Salah satu tangannya terentang di sandaran tempat duduk, sementara kakinya disilangkan. "Aku suka gadis yang penuh percaya diri." Lombardi berkata. Matanya mulai menelanjangi keseluruhan tubuh Alicia.


Gadis itu semampai. Kulitnya bersih. Matanya biru jernih. Rambutnya tampak selembut sutera. Badannya menggiurkan dengan cara yang tidak berlebihan, seperti model-model pakaian dalam wanita. Lombardi sampai merasa heran kenapa tuannya sama sekali tidak tertarik menyentuh gadis ini dan lebih memilih untuk menenggak minuman keras tiga tahun lalu.

__ADS_1


Alicia merasa seluruh badannya menjadi hangat dipandangi penuh minat seperti itu oleh Lombardi.


"Kamarmu." Lombardi menjawab pertanyaan Alicia tadi.


Apartemen Alicia sangat cantik. Seluruh dekorasinya mendapat persetujuan dalam hati Lombardi. Tempat yang indah. Cocok sekali dengan pemiliknya. Lombardi mengikuti Alicia berjalan menuju sebuah pintu besar yang sepertinya adalah kamar utama.


Kamar utama Alicia tertata rapi. Didominasi dengan warna merah muda lembut yang membuat Lombardi sadar betapa mudanya gadis itu.


Alicia sudah hendak mulai membuka lingerie-nya, tetapi Lombardi mendahuluinya dengan bertanya. "Kau sendirian? Di mana keluargamu?"


"Aku tidak punya keluarga." Alicia menjawab ringan, seolah pertanyaan itu bukan apa-apa.


Namun, Lombardi juga tidak punya keluarga. Ia ditinggalkan saat masih bayi di salah satu panti asuhan yang didirikan oleh Keluarga Ferrara. Ia paham dan sadar betul segala kemudahan yang ia dapatkan tidak cuma-cuma. Keluarga Ferrara menampungnya, membesarkannya, memberinya perlindungan dari kerasnya kehidupan di luar sana. Jadi, Lombardi berusaha sekuat tenaga untuk menjadi yang terbaik dalam hal apapun, dengan tujuan agar dapat menjadi orang yang bisa membalas budi pada keluarga yang telah banyak berjasa padanya. Akan tetapi, sama seperti Alicia, Lombardi tahu betapa kesepiannya tidak memiliki keluarga.


"Dari mana asalmu?" Lombardi bertanya lagi.


Lombardi langsung mengeluarkan buku ceknya dan menulis sebuah nominal. Alicia terbelalak tak percaya saat melihat angka-angka itu.


"Sekarang, ceritakan asal usulmu." Lombardi menyerahkan selembar kertas itu pada Alicia.


Alicia masih terbengong-bengong sambil berdiri di pinggir ranjang dan memegangi cek dari Lombardi. "A-aku pergi dari rumah saat umurku lima belas." Alicia mengawali ceritanya. "Ayah dan ibuku berniat menjualku ke rumah pelacuran."


Lombardi terkejut, tapi tidak berkata apa-apa. Jadi, Alicia melanjutkan.


"Salah satu temanku juga dijual ke tempat pelacuran. Dia bercerita, tempat itu mengerikan. Pria-pria yang datang ke sana kejam dan bau. Beberapa suka menyiksa, dan beberapa lainnya memiliki fantasi seksual yang membahayakan nyawa. Belum lagi penyakit kelamin yang mengintai. Aku tidak mau dibawa ke sana. Jadi, aku kabur." Alicia bercerita dengan cepat. Kenangan itu menyakitkan baginya dan ia tidak ingin mengingatnya lama-lama.


Lombardi mengangguk. "Keputusanmu sangat benar. Lalu? Apa yang terjadi selanjutnya?"

__ADS_1


Alicia mengendikkan bahu. "Aku punya teman yang bergabung dalam sebuah geng. Mereka kadang membawaku ikut serta dalam misi kriminal mereka."


"Misi kriminal apa?" Tanya Lombardi.


"Mencopet. Mencuri. Hal-hal semacam itu. Aku tidak punya keahlian dan tidak ada orang yang mau menerimaku bekerja." Alicia menggeleng pelan. "Aku juga bukan orang yang mudah bergaul. Aku tidak cocok bekerja sebagai pelayan dan penjaga toko. Beberapa kali aku dipecat dengan alasan tidak sopan kepada pelanggan. Padahal mereka duluan yang berlaku tidak sopan padaku."


Lombardi mengamati Alicia lekat-lekat. Senang karena gadis itu begitu ekspresif, meskipun semua ekspresinya suram.


"Teman-temanku berkata, aku cukup cantik. Seharusnya dunia menjadi tempat yang menyenangkan bagiku jika aku bisa menjadi simpanan seorang laki-laki dari keluarga kaya." Alicia memandang Lombardi penuh tekad. "Dan aku ingin keluarga Ferrara. Tidak akan ada orang yang bisa menindasku lagi jika posisiku setinggi itu, kan?"


Lombardi tertawa kecil. Tawa pertamanya yang sungguh-sungguh. "Kau ini polos, lugu, atau naif?"


Alicia melipat tangannya di depan dada. "Teman-temanku berkata, aku harus bermimpi setinggi langit. Jika jatuh, paling tidak, aku akan jatuh ke bulan. Atau ke bintang. Atau ke pelukanmu."


Lombardi langsung berhenti tertawa. Matanya pekat karena gairah, akibat kata-kata Alicia barusan. Alicia langsung menutup mulutnya sendiri yang selalu saja bicara sembarangan. Tidak, gadis itu sama sekali tidak bermaksud mengatakan hal seperti itu. Alicia ingin menarik kembali kata-katanya, tapi sepertinya sudah terlambat.


Lombardi sudah mulai melepas kancing-kancing kecil pada kemejanya.


"T-tunggu dulu. M-maksudku..." Alicia merasa bulu kuduknya meremang dan badannya gemetar karena antisipasi. Lingerie-nya tadi terasa baik-baik saja, tapi mendadak Alicia merasa lingerie-nya jadi terlalu terbuka.


"Kau menginginkan aku, sama seperti aku menginginkanmu. Benar begitu, kan?" Lombardi mulai melangkah maju.


Alicia secara refleks berjalan mundur. "I-itu... Aku..."


Sial. Tidak ada lagi ruang untuk mundur karena kaki Alicia sudah menyentuh sisi ranjang.


"Alicia Contadino." Lombardi menyebutkan nama gadis itu. "Mulai sekarang, kau adalah milikku."

__ADS_1


***


__ADS_2