Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 84 | Jebakan


__ADS_3

Halooo guys ketemu lagi sama Lana ♡


Selamat membaca yaa semoga kalian suka! Jangan lupa LIKE COMMENTS FAV 5STARS GIFT thank you so much!


Luvluv,


Alana


***


Alessandro menyadari bahwa hari sudah malam saat ia membuka matanya. Lombardi ada di sisinya. Mereka tampak sedang berada di sebuah suite yang asing. Indah, sangat indah, tapi asing. Ruangan itu besarnya tak tanggung-tanggung. Segala sesuatunya didekorasi dengan apik. Alessandro mengerjapkan matanya bingung. Kemudian, perlahan, suara Lombardi dapat ia dengar.


" ... apapun, Signor?"


Alessandro mengernyit. "Ulang."


Lombardi tersenyum lega. "Saya bertanya kenapa Anda tidak mengatakan apapun padahal sudah membuka mata."


Tangan Alessandro langsung berlari ke kepalanya sendiri. Rasa sakit ini membuat ia merasa seolah akan mati. Sesaat kemudian, Giacomo masuk ke dalam suite itu dan tersenyum lebar.


"Alessandro! Akhirnya kau sadar juga!" Pria berambut pirang gondrong itu mendekat dan seketika, ekspresinya berubah murung. "Aku minta maaf atas apa yang dilakukan ayahku. Kalau tahu dia akan berbuat nekat, aku pasti akan mengurungnya di ruang bawah tanah."


Alessandro meringis. Kepalanya sakit bukan main, sampai ia jadi agak kesulitan untuk menjawab.


"Kudengar kau kena pukul salah satu anggota kelompokku. Aku benar-benar minta maaf. Mereka semua bodoh dan mau-mau saja mengikuti perintah Papa saat aku tidak di sini." Giacomo terus berceloteh. Tampaknya, rasa bersalah membuat pria itu jadi dua kali lebih talkative dari biasanya. "Aku sedang ada beberapa urusan di Verona. Urusan pribadi. Aku pergi sendiri tanpa membawa satu pun anggotaku. Mereka mungkin berpikir bahwa kekuasaan sementara berada di tangan ayahku. Aku sudah memberi mereka pelajaran."


Alessandro memejamkan mata. "Tidak apa-apa."


Jawaban Alessandro masih belum berhasil mengenyahkan perasaan bersalah pada diri Giacomo. "Aku sudah membawamu ke klinik pribadiku. Semua alat medis lengkap dan dokter terbaik ada di sana. Kepalamu baik-baik saja. Tidak ada kerusakan otak. Hanya ada sedikit memar, mungkin rasanya menyakitkan?"


'Ini sakit sekali, brengsek!' Pikir Alessandro muram. Pria itu hanya bisa berusaha tersenyum.


"Para anggotaku memang bodoh. Tapi mereka tidak setolol itu. Serangan yang kau terima hanya bertujuan untuk melumpuhkan sementara, bukan untuk melukai secara permanen. Aku sendiri yang mengajari mereka hal itu." Giacomo terkekeh, dan Alessandro berusaha sekuat tenaga tidak melayangkan tinjunya ke muka kakak iparnya itu.


Bisa-bisanya pria di hadapannya itu malah terlihat bangga.

__ADS_1


Alessandro memejamkan mata sekali lagi. "Kau sudah melihat CCTV-nya?" Ia bertanya.


Giacomo menggeleng sedih. "Papa mematikan CCTV ruang makan. Aku minta maaf sekali lagi."


Alessandro memutar bola mata. "Aku tidak bertanya padamu, Gio. Aku bertanya pada Lombardi. Tadi aku meminta Lombardi dan timku memasang CCTV baru di seluruh tempat yang mungkin akan digunakan ayahmu untuk menjebakku."


Lombardi mengangguk singkat. "Sudah, Signor."


Giacomo langsung bertepuk tangan. "Wah, bagus sekali! Ternyata kau juga tidak bodoh."


Alessandro nyengir. Berasal dari Giacomo, Alessandro tahu bahwa hal itu merupakan pujian.


"Tadinya aku mau bertanya padamu apa yang sebenarnya terjadi, tapi kurasa lebih baik kita menonton bersama saja rekaman CCTV itu." Giacomo mengusulkan.


Alessandro dan Lombardi mengangguk setuju.


***


Pada awalnya, Alessandro berniat untuk menemui Rocco Marinelli di rumah keluarga Marinelli di Verona. Ia dan para penjaga keamanannya bertolak dari Roma pagi-pagi sekali agar bisa secepatnya menuntaskan urusan. Rupanya, Rocco tidak ada di tempat. Rumah keluarga Marinelli kini sudah berdiri dengan megah seperti sedia kala, bahkan jauh lebih bagus. Alessandro menyesal kenapa dia harus menepati janji yang ia ucapkan pada ayah Carlotta di hari pernikahannya dulu.


Ketika Alessandro bertanya pada beberapa orang yang ditempatkannya di sana sebagai pegawai untuk Rocco, Alessandro mendapat informasi bahwa Rocco pergi ke Milan. Pasti ke tempat Giacomo. Tanpa pikir panjang, Alessandro membawa pasukan keamanannya menuju ke Giacomo Suites and Hotel di Milan.


Alessandro sama sekali tidak tahu bahwa Giacomo tidak ada di sana.


Kompleks apartemen dan hotel mewah milik Giacomo sangat menakjubkan. Mau tidak mau, Alessandro mengakui bahwa kakak iparnya itu punya selera yang bagus dalam seni bangunan. Alessandro berjalan penuh percaya diri masuk ke dalam gedung itu. Lombardi mengumumkan kedatangan tuannya pada resepsionis, dan wanita itu segera menginformasikan pada seseorang yang tampaknya adalah atasannya lewat sambungan telepon. Manajer hotel? Atau tangan kanan Giacomo? Atau keduanya?


" ... Benar, Signor. Signor Alessandro Ferrara ada di sini untuk menemui Signor Rocco Marinelli."


Jeda sejenak.


"Signor Rocco Marinelli akan menemui Anda di ruang makan pribadi milik Signor Giacomo, Signor. Kami akan menyiapkan ruangannya sebentar lagi." Resepsionis itu berkata dengan sopan.


Alessandro mengerling pada Lombardi, memberikan isyarat agar anak buah asistennya dan tim keamanan pribadi segera melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Memastikan segala sesuatunya aman. Lombardi mengangguk dan menangkap sinyal itu dalam satu kali kedipan. Beberapa tim Lombardi bergerak senyap mengikuti beberapa pegawai hotel menuju ruangan yang dimaksud.


"Di mana aku harus menunggu selagi ruang makan dipersiapkan?" Alessandro berkata pada si resepsionis, menuntut perhatian penuh sehingga wanita itu tidak dapat berkutik.

__ADS_1


Si resepsionis tersenyum sopan. "Silakan menunggu di lobi, Signor."


Alessandro pura-pura jengkel. "Apa kau belum pernah mendengar nama Ferrara sebelumnya? Apakah Milan merupakan kota yang begitu terbelakang?"


Si resepsionis lagi-lagi tersenyum, walau Alessandro dapat melihat bahwa wanita itu mulai kesal. "Mohon maaf, Signor. Tetapi semua tamu kami penting. Kami hanya ingin memberikan pelayanan terbaik bagi semua tamu."


Alessandro mengertakkan gigi. "Aku tidak bisa menunggu lama. Aku tidak punya banyak waktu. Dan aku bukan sembarang tamu."


Ketika Alessandro melihat anggota tim Lombardi telah kembali, Alessandro tersenyum puas. Hari ini, dia berencana untuk mengonfrontasi ayah Carlotta dan memberikan bukti-bukti kejahatan yang diakui sendiri oleh pria paruh baya kejam itu kepada pihak yang berwajib. Tidak boleh ada celah untuk kegagalan.


Lombardi tampak berdiskusi beberapa saat dengan anggota tim keamanan yang dibawanya dan mengangguk kecil sebelum menghampiri Alessandro.


"Mohon berhati-hati dengan sampanye yang akan dihidangkan untuk Anda, Signor. Signor Marinelli telah memasukkan obat tidur ke dalamnya." Lombardi berbisik.


Alessandro mengernyit. 'Sialan,' pikirnya kesal. Ia kemudian balas berbisik. "Ada hal lainnya?"


Lombardi mengangguk. "Beliau berencana membawa serta beberapa anak buah Signor Giacomo ke dalam ruang makan."


Dahi Alessandro mengerut semakin dalam. Oh, dia tidak suka ini. Menghadapi Rocco Marinelli adalah satu hal, dan menghadapi anggota mafia adalah hal lain lagi.


"Kalau begitu, kalian juga akan masuk ke ruang makan." Alessandro memutuskan.


Lombardi mengangguk setuju.


"Berapa persen kemungkinan tim keamanan Ferrara menang melawan anak buah Giacomo?" Alessandro bertanya lagi.


Lombardi tidak berniat menutupi apapun. "Tiga puluh persen."


Alessandro mengumpat lagi. Kali ini, agak keras. "Coba hubungi Giacomo."


Lombardi menggeleng. "Kami sudah mencoba. Ponsel beliau mati, Signor."


Alessandro menahan keinginan untuk mengumpat lebih keras lagi.


***

__ADS_1


__ADS_2