
Akhirnya resmi kelar juga Crazy Up-nya Alana seminggu penuh. Hope you'll enjoy it yaa! Jangan lupa dukungannya please biar aku semakin semangat update ♡♡♡
Sehat selalu, lancar rejeki, bahagia terus kalian yaa ♡
Luvluv,
Alana
***
Lombardi datang tepat ketika huru-hara terjadi. Pria itu segera berderap cepat menarik Alicia menjauh. "Apa yang kau lakukan?" Bisiknya.
Alessandro dan Carlotta memandang Lombardi heran.
"Ah. Maafkan saya. Selamat datang kembali, Signor Alessandro dan Nyonya Carlotta. Saya harap perjalanan Anda menyenangkan." Kata Lombardi sopan.
"Tentu saja menyenangkan, terima kasih." Carlotta menjawab dengan sopan juga.
Alessandro, yang tampaknya tidak begitu peduli pada sopan santun, langsung berteriak marah. "Jangan dekat-dekat dengan perempuan penipu seperti dia, Lombardi! Apa maksudmu mengundang dia masuk ke Castello Ferrara? Kau sengaja membuat istriku kesal, ya?"
Alicia sudah akan membuka mulutnya untuk membantah, tapi Lombardi menggeleng kecil pada gadis itu.
"Kami butuh bicara dengan Anda berdua." Ujar Lombardi.
Alessandro melipat tangannya di depan dada. "Aku tidak sudi."
Carlotta menirukan gaya suaminya. "Aku juga."
Alicia geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua orang dewasa di hadapannya. "Bukan main."
Lombardi menghela napas. "Baiklah, kalau begitu akan saya sampaikan sekarang saja. Alicia tidak pernah tidur dengan Anda, Signor Alessandro. Anda mabuk berat dan tertidur saat saya mengirimkannya ke kamar Anda di Veneto tiga tahun lalu. Dan bocah yang dibawa Alicia kemari adalah anak yang disewakan oleh orang tuanya."
Alessandro dan Carlotta sama-sama terkesiap. "Aku tidak tidur dengannya, kau bilang? Dan apa tadi, bayi sewaan?" Alessandro berkacak pinggang. "Berani sekali kau melakukan penipuan seperti itu pada kami? Kau tidak takut kutuntut?"
Di sisi lain, Carlotta terlihat senang. "Kau tidak tidur dengannya. Itu berita bagus."
Alicia memutar bola matanya. "Signor Alessandro bahkan menyebut-nyebut nama Anda dalam tidurnya, Nyonya Carlotta."
Muka Alessandro langsung memerah. "Aku sungguh melakukan itu?"
Alicia mengangguk.
__ADS_1
Carlotta mencubit pinggang suaminya dengan gemas. "Kau benar-benar mencintaiku, ya?"
Alessandro mencium Carlotta di depan semua orang. "Sangat."
Ciuman mesra Alessandro dan Carlotta membuat Alicia resah di tempatnya berdiri. Ia melirik Lombardi, tapi pria itu mempertahankan raut wajah tanpa ekspresi seolah tidak ada yang sedang terjadi. Bahkan mungkin, pikir Alicia heran, jika Signor Alessandro dan Nyonya Carlotta memutuskan untuk bercinta di sini, saat ini juga, Lombardi akan tetap tidak menunjukkan emosi apapun. Alicia heran sekali dengan kekakuan luar biasa yang dimiliki oleh Luca Lombardi. Apakah pria itu tidak punya perasaan?
"Kurasa sebaiknya kita pergi ke kamar." Bisik Alessandro ketika pria itu melepaskan istrinya yang sudah lemas.
"Ya. Aku sangat mencintaimu." Kini giliran Carlotta yang menangkup wajah suaminya dan mencium pria itu dalam-dalam.
"Aku juga sangat mencintaimu. Mauricio bisa menunggu." Balas Alessandro.
Carlotta langsung mendorong suaminya jauh-jauh. "Aku akan ke kamar bayi."
Alessandro tertawa terbahak-bahak. Ia segera berlari menyusul Carlotta yang sudah berderap cepat meninggalkannya. "Tunggu, Cara Mia, aku juga ingin ikut!"
Alicia mendesah iri ketika dua orang itu sudah pergi. Apakah kehidupan pernikahan memang semenyenangkan itu? Atau hanya untuk orang-orang yang beruntung? Alicia tidak pernah iri pada pernikahan orang tuanya sendiri yang penuh prahara. Tapi, jika ada sisi lain kehidupan pernikahan yang membahagiakan seperti yang dialami dua orang tadi, rasanya Alicia ingin sekali mencobanya.
Kini, hanya tersisa Alicia dan Lombardi di entrance hall. Karena terlalu larut dalam pikirannya sendiri, Alicia tidak sadar bahwa Lombardi sedang mengamatinya sejak tadi.
"Jadi, ada apa? Kenapa kau kemari?" Tanya Lombardi.
Alicia melarikan tangannya ke rambut karena gugup. Gadis itu memainkan ikalnya dan tersenyum canggung. "Bisakah kita bicara di tempat yang pribadi?"
Luca Lombardi berdehem. "Bicara di sini saja."
Alicia balas berdehem. "Begini. Kau tahu? Aku tidak suka berhutang. Kau ... eh, sudah membayarku. Jadi, aku harus memberikan apa yang seharusnya menjadi hakmu."
Lombardi tidak bergerak dari posisinya semula. "Tapi kau takut padaku."
Alicia segera menggerakkan tangannya seperti wiper kaca depan mobil. "Tentu saja tidak! Aku hanya takut karena itu kali pertamaku. Bukan takut padamu."
Lombardi mengernyit. "Benarkah?"
"K-kau sama sekali tidak menakutkan. Eh. Mungkin sedikit senyuman bisa membuatmu jadi ... kau tahu? Lebih tampan." Alicia jadi semakin gugup saja.
Lombardi memiringkan kepalanya sedikit. "Aku tidak tampan. Kau tidak perlu mengeluarkan pujian palsu seperti itu."
"Kau tampan, kok!" Alicia bersikeras.
"Tidak." Kata Lombardi.
__ADS_1
"Tampan!" Alicia ngotot.
"Tidak." Lombardi menggeleng.
Beberapa pelayan terkikik geli menonton mereka. Alicia dan Lombardi langsung terdiam dengan salah tingkah.
"Aku tahu kau suka wanita yang penuh percaya diri." Kata Alicia tiba-tiba. "Jadi, aku sudah mempersiapkan diri untuk menjadi wanita seperti itu hari ini."
Lombardi mengernyit. "Apa maksudmu?"
Alicia mulai melepaskan mantel tebalnya. Para pelayan dan penjaga keamanan terkesiap dan segera berbalik badan.
Lombardi terpana selama hampir sepuluh detik penuh, sebelum akhirnya berdehem dan memakaikan mantel Alicia kembali. Pria itu berujar pada para pelayan. "Bukakan sebuah kamar untukku sekarang."
Salah satu pelayan dengan siap berlari. "Segera, Signor."
***
Carlotta senang sekali melihat bayinya sehat dan ceria. Mauricio sekarang sudah lebih ekspresif. Bayi itu tersenyum cemerlang dengan matanya yang biru dan bulat besar. Senyumnya secerah mentari Veneto. Menularkan kebahagiaan pada semua orang, terutama pada Carlotta dan Alessandro.
"Baru tidak melihatnya selama tiga hari saja aku sudah sangat rindu." Kata Alessandro.
Carlotta mengangguk. "Aku juga."
"Bagaimana caranya agar dia cepat tumbuh besar? Aku sudah ingin membawanya ke mana-mana." Alessandro mendesah sedih.
Carlotta tertawa pelan. "Tapi kurasa dia sudah tumbuh dengan cepat. Saat pertama kali dilahirkan, dia jauh lebih mungil daripada sekarang."
Alessandro menyentuh telapak tangan putranya dengan jari telunjuk. Kemudian, dalam sekejap, Mauricio sudah menggenggam telunjuk Alessandro dengan tangan kecilnya. Bayi itu tertawa senang melihat Alessandro yang terkesiap pura-pura kesakitan akibat telunjuk yang terjepit.
"Kau sengaja menjepit Papa, ya?" Alessandro bertanya dengan nada memilukan pada Mauricio. Mauricio tertawa dengan tawa bayi yang menggemaskan.
"Lihat dia, Carlotta. Putra kita senang melihatku menderita." Keluh Alessandro pada istrinya.
Mauricio tertawa lagi. Carlotta juga ikut tertawa. "Dia menyukaimu." Kata Carlotta.
Alessandro memegang dadanya dengan sebelah tangan. "Apa maksudmu? Tentu saja dia menyukaiku. Aku ayahnya."
Carlotta mengendikkan bahu main-main. "Entahlah. Kurasa kau harus mengadakan tes DNA ulang. Mauricio terlalu pirang untuk menjadi putramu."
Alessandro menggelitiki pinggang Carlotta sampai perempuan itu menjerit dan tertawa keras. "Berani sekali kau! Kemarilah dan rasakan akibatnya. Dasar gadis nakal!" Alessandro mengejar Carlotta keliling ruangan. Carlotta menghindar sambil tertawa-tawa. Ketika akhirnya tertangkap, Alessandro langsung menciumnya sampai ia kehabisan napas.
__ADS_1
***