
Guyssss omg it's been so nice to be here with you all. Kompetisi Mengubah Takdir bakal berakhir tanggal 12 Januari. Please please keep up with the LIKES VOTES GIFTS COMMENTS FAVS & TIPS I beg you pleaseee ♡
Makasih buat kalian semua yang baca ceritaku ini. Semoga kalian suka yaa! Yuk follow aku yuk ♡
Luvluv,
Alana
***
Alessandro Ferrara memilih penerbangan komersil sebagai bentuk efisiensi. Dia terbang dengan maskapai paling mahal di kelasnya hari itu, First Class milik Air France. Kebetulan sekali dia harus mampir ke Paris untuk mengurus pakta kerjasama lain dengan Monsieur Arnaud, tentang perkebunan anggur miliknya di Bordeaux. Jadi, pada tengah hari ia baru lepas landas menuju John F. Kennedy International Airport dari Charles de Gaulle.
Saat pesan dari Lombardi masuk ke ponselnya via Wi-Fi pesawat, Alessandro langsung mengutuk keputusannya untuk menggunakan maskapai umum ketimbang jet pribadi. Sialan. Butuh delapan jam empat puluh menit lagi untuk mendarat di New York dan bahkan waktu yang lebih lama lagi untuk memesan penerbangan kembali ke Roma.
Alessandro kesal bukan main. Berani-beraninya Carlotta Marinelli membawa dua laki-laki paling tidak disukainya di dunia itu masuk ke rumahnya saat ia tidak ada! Apa yang sebenarnya wanita itu pikirkan?
Ah, persetan dengan semuanya. Alessandro mengangkat ponselnya ke telinga, dengan posisi menghubungi Lombardi.
"Ya, Signor?" Terdengar jawaban Lombardi di seberang sana.
"Putar balik pesawat ini, Lombardi." Hanya itu yang Alessandro katakan.
Lombardi mendesah berat. "Signor..."
"Siapkan uang ganti rugi untuk semua tiket penumpang yang naik pesawat ini. Berikan voucher menginap semalam di hotel paling bagus di Paris atau di mana pun dan voucher makanan juga. Pesankan tiket pesawat penerbangan berikutnya untuk semua orang. Lakukan apa saja, Lombardi! Jika perlu, beli sekalian maskapai ini." Alessandro sudah hampir meledak di tempatnya berada.
"Saya bukan jin, Signor..." Lombardi mengeluh pelan.
Alessandro menggeram. "Kau sebaiknya berubah menjadi salah satunya."
Lombardi menggelengkan kepala menghadapi kegilaan paling baru tuannya ini. "Baiklah, Signor, saya akan berusaha."
Alessandro terdengar puas. "Aku mau penerbangan ini putar balik ke Roma. Bukan ke Paris. Sekalian kau urus perijinan masuk Air France ke Fiumicino."
Lombardi terdengar frustasi. "Brengs-"
__ADS_1
"Apa kau baru saja mengumpat padaku, Lombardi?" Suara Alessandro terdengar berbahaya.
"T-tidak, Signor. Saya akan segera mengurus semuanya." Lombardi buru-buru mematikan sambungan telepon.
Tidak sampai satu jam kemudian, Alessandro mendengar pengumuman dari pramugari lewat pengeras suara. Isinya permohonan maaf karena pesawat harus putar balik menuju Roma. Pihak maskapai berjanji memberikan ganti rugi, voucher penginapan bintang lima, voucher makan, sekaligus tambahan tur keliling Roma jika para penumpang menginginkannya.
"Bagus sekali." Alessandro berkata pelan. Pria itu duduk bersandar dengan rileks. Ia menggoyang gelas wine di tangannya. Sekarang, hanya perlu memikirkan hukuman apa yang akan dia berikan pada Carlotta Marinelli.
***
Carlotta senang sekali berkumpul dengan teman-temannya seperti ini. Ternyata, ia berhutang banyak penjelasan pada Johann dan Roberto. Pria-pria ini dengan begitu tulus mengkhawatirkannya bahkan sejak berita tentang percobaan bunuh dirinya tersebar. Berbicara dengan teman-temannya seperti ini ternyata cukup efektif untuk mengalihkan pikirannya dari dokumen permohonan tes DNA dan entah apa lagi rencana busuk Alessandro Ferrara. Dan Carlotta jadi menyadari satu hal yang mencengangkan.
Roberto Mancini sangat peduli kepada gadis-gadis di keluarga Marinelli. Terutama pada Ciara.
"Adikmu berkata bahwa dia akan mengajukan protes pada Alessandro Ferrara. Aku saat itu sedang berada di sebuah supermarket di London saat meneleponnya." Roberto bercerita sembari memotong steik yang disajikan untuk makan siangnya.
"Oh, ya?" Carlotta tampak antusias. "Lalu apa yang kau lakukan?"
Roberto tertawa manis, sementara Ciara tersipu-sipu. "Apa lagi yang bisa kulakukan? Aku memesan penerbangan selanjutnya menuju Roma."
Johann menanggapi. "Bukankah itu manis sekali?"
Ciara merasa ingin melempar Roberto dengan sesuatu. "Tapi, sekarang, rasanya sia-sia saja aku ingin memprotes kelakuan Alessandro. Dia akhirnya akan menikahi kakakku juga."
Johann mengangguk. Sembari mengaduk kentang gorengnya ke dalam saus keju, pria itu berkata, "Jujur saja, aku terkejut mendengar berita itu di media."
Carlotta hanya tersenyum masam, tidak begitu antusias membahas kisahnya dengan Alessandro. "Semuanya terjadi begitu saja." Ujarnya. Perempuan itu kemudian memutar otak untuk mengalihkan obrolan ke tempat lain. "Omong-omong, apakah kalian sudah mendapatkan undangan?"
Johann dan Roberto menggeleng bersamaan. Carlotta mencibir dalam hati, 'Aku tahu Alessandro pasti tidak akan mengundang mereka.'
"Kalau begitu, Marco, tolong mintakan dua buah undangan pada Lombardi." Carlotta berkata.
Marco meletakkan garpu dan pisaunya. "Baiklah. Tunggu sebentar."
Sembari menunggu Marco melakukan tugasnya, Carlotta membuka pembicaraan lagi. "Apa kalian menikmati makan siangnya? Maafkan aku karena mengundang kalian tiba-tiba seperti ini."
__ADS_1
Johann tersenyum ramah. "Makan siangnya luar biasa, Carlotta. Aku jelas tidak akan melewatkan kesempatan makan siang di Castello Ferrara yang terkenal."
Roberto Mancini juga mengeluarkan jawaban yang hampir sama. "Aku juga berpikir begitu. Lagipula, aku sudah lama tidak bertemu denganmu, Carlotta. Aku ingin melihat sendiri kalau kau baik-baik saja."
Carlotta tertawa. "Tentu saja aku baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkan aku."
Marco kembali tak lama kemudian, tanpa hasil. "Lombardi berada di ruang pantau. Saluran komunikasinya menyala dan terhubung dengan bandara Leonardo da Vinci. Alat lainnya terhubung dengan kementerian pariwisata dan kementerian perhubungan. Sepertinya dia sangat sibuk."
Carlotta mendesah kecewa. "Kalau begitu, Johann dan Roberto, maafkan aku karena kalian tidak mendapat undangan cetak. Kalian mendapatkan undangan langsung dariku. Kedatangan kalian akan sangat berarti bagiku."
Johann von Schiller dan Roberto Mancini mengiyakan. Carlotta tersenyum puas.
***
Setelah melalui perjalanan panjang yang menyiksa dari Fiumicino kembali ke Roma, Alessandro turun dari limo-nya di depan pintu utama Castello Ferrara. Lombardi berdiri dengan posisi siaga untuk menyambut kedatangannya.
"Di mana Carlotta?" Tanya Alessandro tanpa basa-basi.
"Nona Carlotta beserta tamu-tamunya berada di kolam air mancur di dalam labirin, Signor." Sahut Lombardi cepat.
Alessandro berteriak marah sambil membanting tas kerjanya. Dengan sigap, Lombardi menyelamatkan tas itu sebelum menyentuh tanah.
"Sebaiknya Anda merapikan diri terlebih dulu sebelum menemui mereka, Signor." Lombardi mengusulkan dengan sungguh-sungguh karena penampilan tuannya sekarang seperti orang gila.
Alessandro menunjuk muka Lombardi dengan marah. "Jangan coba katakan padaku apa yang harus kulakukan, Lombardi."
Lombardi mundur dengan tenang. "Maaf, Signor."
Alessandro menyisir rambutnya ke belakang, mengusahakan dirinya tampak sedikit lebih rapi. "Kerjamu bagus hari ini. Kau bisa beristirahat sekarang. Tidak perlu menyiagakan pasukan pengamanan. Aku bisa mengurus dua pria itu sendiri."
Lombardi mengangguk patuh. "Jangan sampai ada pertumpahan darah, Signor."
Alessandro melepas jasnya dan melemparkannya pada pelayan pria di belakang Lombardi. Pelayan itu menangkap jas tuannya cepat.
"Entahlah, Lombardi." Alessandro membuka beberapa kancing paling atas kemejanya karena merasa kegerahan. "Aku merasa sangat marah sampai benar-benar ingin meremukkan leher seseorang."
__ADS_1
Carlotta benar-benar keterlaluan. Bukan hanya mengundang dua pria yang paling mengusik kestabilan jiwa Alessandro, perempuan itu juga membawa mereka ke tempat favorit Alessandro di rumah ini. Tempat mereka pernah bercinta. Tanpa menunggu apa-apa lagi, Alessandro berderap menuju taman dan mencari labirin terkutuk itu.
***