
Jangan lupa dukungannya ♡
Luvluv,
Alana
***
Usai mengalami ancaman terberat dalam hidupnya, Carlotta terdiam cukup lama. Air mata telah mengering di pipinya. Paviliun terbuka di taman Ferrara menjadi senyap. Ketika Carlotta akhirnya mendongak untuk menatap orang-orang, semua orang berebut bicara.
"Kau tidak boleh melakukan itu, Sayang." Kata Marco.
Nenek Helena Ferrara buru-buru mengangguk. "Carlotta, kalian baru saja menikah. Baru dua bulan. Kau juga baru beberapa bulan lalu melahirkan Maurizio. Kalian tidak bisa bercerai."
Kakek Alessandro berdehem. "Kita bisa mengirim polisi atau pasukan keamanan ke sana."
Carlotta menggeleng cepat. "Papa tidak bodoh. Dia pasti sudah memastikan keberadaannya sulit dilacak. Ketika polisi atau tim apapun sampai di lokasi, semuanya akan terlambat. Aku tidak ingin bermain-main dengan nyawa Alessandro."
Kini kakek dan nenek Alessandro yang terdiam. Mereka jelas tidak mau hal buruk terjadi pada cucu mereka. Darah daging langsung yang menghubungkan putra semata wayang mereka yang telah tiada. Meskipun sekarang ada Maurizio, Alessandro tetap cucu mereka yang sangat berharga. Carlotta tahu pada akhirnya kakek dan nenek Alessandro tidak akan menentang gagasan perceraian ini.
Perceraian ini pasti bukan apa-apa dibandingkan nyawa Alessandro di mata mereka.
Namun, ini sangat sulit bagi Carlotta. Perempuan itu butuh menguatkan diri. Saat ini, keselamatan Alessandro adalah hal yang paling penting. Semakin ia menunda, semakin nyawa Alessandro dalam bahaya.
Jadi, ia cepat-cepat menekan nomor Ciara. "Berikan aku nomor Roberto Mancini."
Ciara terdengar agak terkejut di seberang sana. Tidak biasanya Carlotta menelepon tanpa sapaan penuh kata-kata berkasih sayang yang hangat. Tetapi Ciara cepat tanggap dan mengenali betul urgensi dalam kalimat Carlotta.
"Oke, aku akan mengirimkannya sekarang." Ciara menyahut seketika. "Dan aku akan pergi ke rumah Ferrara bersama dengan Carina."
Carlotta hampir menangis lagi. "Ciara ..."
"Tidak. Kau tidak perlu menjelaskan apa pun. Kita akan bicara di sana. Tunggu aku." Ciara mematikan sambungan telepon, mengirim kontak Roberto Mancini, kemudian bersiap-siap pergi.
Carlotta mendesah dengan berat hati. Dia tidak ingin semuanya akan berakhir seperti ini. Kebahagiaannya baru saja dimulai. Belum lama. Ia tidak ingin berpisah dari Alessandro, dan juga semua orang yang dekat dengannya di Roma. Sialan. Jika ayahnya ingin ia tidak muncul lagi di hadapan Alessandro, itu artinya ia harus pergi dari sini ke tempat yang jauh.
Verona jelas bukan lagi pilihan. Ia sudah pernah bersembunyi di sana dan gagal. Satu-satunya tempat jauh yang terpikirkan olehnya hanyalah New York. Bukankah itu adalah tempat ibunya melarikan diri dari ayahnya?
__ADS_1
Carlotta tidak buang-buang waktu lagi dan segera melakukan panggilan jarak jauh ke London untuk menelepon Roberto. "Ciao, Roberto, ini aku. Carlotta."
Suara Roberto terdengar senang ketika menjawab. "Carlotta! Bagaimana kabarmu?"
Carlotta menggeleng. "Tidak begitu baik. Aku ingin minta tolong sesuatu padamu."
"Oh? Minta tolong apa? Katakan saja. Aku akan melakukan semua yang kubisa untukmu." Ujar Roberto Mancini sungguh-sungguh.
Carlotta terdiam sejenak. Rasanya pahit sekali untuk mengatakan kalimat selanjutnya. Carlotta menggigit bibir dan memejamkan mata. Menahan semua sakit dalam dada. "Aku akan menggugat cerai Alessandro."
Roberto terdengar terkejut sekali. "Apa kau sudah memikirkan ini matang-matang, Carlotta? Perceraian bukan suatu hal yang sederhana. Prosesnya akan lama dan berbelit-belit, apalagi jika kalian tidak bercerai secara baik-baik. Sial. Tidak ada yang namanya perceraian baik-baik. Jika semuanya baik-baik saja, tidak akan ada perceraian. Tapi, kukira kalian berdua saling mencintai?"
Carlotta menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Tidak. Kami tidak saling mencintai. Tolong usahakan perceraian kami berlangsung dengan cepat. Aku tidak akan mengajukan tuntutan apa pun selain hak asuh atas Maurizio."
Roberto terdengar tidak yakin. "Kau sungguh-sungguh?"
Carlotta menahan air matanya agar tidak menetes. "Ya. Dan tolong kabarkan ini semua pada Papaku. Apa dia masih sering menghubungimu?"
Roberto terdiam selama beberapa detik. "Ya. Sejujurnya, beliau cukup sering menghubungiku dan menyesalkan mengapa bukan aku yang menikah denganmu."
"Aku minta maaf untuk semua kelakuan Papa, Roberto. Aku harap kau tidak salah paham." Kata Carlotta.
Roberto buru-buru menjawab. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Carlotta. Jangan merasa tidak enak hati padaku. Aku akan membantumu sebisaku. Tapi, kau harus tahu satu hal."
"Apa itu?" Tanya Carlotta.
Roberto terdengar tidak yakin untuk mengatakan ini pada Carlotta. "Ayahmu masih ingin kita menikah. Jika kau resmi bercerai dengan Alessandro, aku yakin ayahmu akan kembali menjejalkan gagasan pernikahan pada kita berdua."
Carlotta memegangi kepalanya sendiri yang mulai terasa sakit. "Papa benar-benar keterlaluan."
"Hanya itu yang bisa kusampaikan, Carlotta. Aku akan segera mengurus gugatan ceraimu jika tidak ada lagi hal yang bisa kubantu." Ujar Roberto.
"Tidak ada lagi. Terima kasih banyak." Sahut Carlotta sebelum mematikan sambungan telepon.
"Dasar pria tua bangka tidak tahu malu!" Marco mulai mengumpat setelah selesai menguping apa saja yang dikatakan oleh Roberto Mancini tentang ayah Carlotta.
Carlotta memandang kakek dan nenek Alessandro dengan sorot mata penuh penyesalan. "Aku minta maaf atas perbuatan ayahku."
__ADS_1
Nenek Alessandro bangkit dari duduk dan segera memeluk Carlotta erat-erat. "Bukan salahmu, Nak."
Kakek Alessandro juga bergabung dalam grup berpelukan tersebut, meski tidak berkata apa-apa.
Carlotta mengusap air matanya yang kembali mengalir tanpa bisa dicegah. "Dan tolong jangan katakan apa pun pada Alessandro. Dia harus percaya aku pergi meninggalkannya karena keinginanku sendiri. Jika dia tahu aku pergi karena permintaan Papa, dia pasti akan mencari masalah lagi dengan Papa. Aku tidak ingin membahayakan nyawa Alessandro dan Maurizio."
Nenek Alessandro mengangguk cepat. "Baiklah. Kami janji."
Carlotta tersenyum lega. "Terima kasih."
"Memangnya ke mana kau akan pergi?" Tanya Marco.
"New York. Tolong pesankan tiket pesawat ke New York untuk hari ini, Marco. Penerbangan paling cepat yang bisa kau temukan. Aku dan Mauricio akan pergi ke bandara sekarang." Kata Carlotta.
Marco menggeleng. "Aku ikut."
Carlotta menatap Marco sedih. "Tidak, Marco. Kau punya kehidupanmu sendiri di sini. Aku tidak mungkin menyeretmu dalam hal ini."
Marco tersenyum cemerlang. "Siapa bilang aku mau ikut karena kau? Aku memang ingin pergi ke Amerika."
Ketika Carlotta dan Marco berjalan cepat untuk membereskan barang-barang Carlotta, tinggal tersisa kakek dan nenek Alessandro saja di paviliun.
"Helena?" Kakek Alessandro memandang istrinya serius.
"Ya, Julius?" Nenek Alessandro balas memandang suaminya. Wajahnya masih murung.
"Aku belum pernah membunuh seseorang sebelumnya. Bolehkah aku melakukannya sekarang? Rocco Marinelli tidak pantas hidup." Julius Ferrara menggeram marah.
Helena tidak kaget atas perkataan suaminya itu, karena sejujurnya dia juga memikirkan hal yang sama. "Pria itu memang sudah keterlaluan. Tapi, kita perlu ingat bahwa dia tetap ayah dari Carlotta. Carlotta bisa membenci kita dan Alessandro jika sampai kita melakukannya."
"Aku siap menanggung dosa itu, Sayang. Aku sudah sangat tua dan mungkin umurku tidak akan lama lagi. Aku akan menebus dosa itu di neraka nanti. Tidak masalah asalkan cucu kita bisa berbahagia dengan orang-orang yang dicintainya." Julius berkata sungguh-sungguh.
Helena menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Sekali lagi, wanita itu menggeleng.
***
Jangan lupa klik LIKE FAV COMMENTS & GIFTS nya yaaa ♡ Thank you so much my luvs
__ADS_1