
WEDDING DAAAAAYYYY ♡♡♡
FINALLY KAN YAA HAHAHA. Jangan lupa like dulu sebelum baca, klik love, gift, 5stars, dsb ♡
Luvluv,
Alana
***
Lombardi mengawasi semua dengan mata elangnya. Terutama bagian pengaturan tempat duduk tamu undangan. Tidak boleh ada kesalahan. Meja-meja bundar disusun berdasarkan kepentingan setiap tamu undangan dengan keluarga Ferrara. Tamu paling berpengaruh dan keluarga paling dekat ditempatkan di paling depan.
Sementara itu, Alessandro dibantu beberapa orang dari tim desainer mengepas tuksedo putihnya. Pria itu berusaha untuk tidak memikirkan apapun dan hanya berfokus pada upacara pernikahannya yang akan digelar siang ini.
Keluarga Carlotta, yang sama sekali tidak tahu apa yang terjadi belakangan ini, hadir di rumah Ferrara dengan keceriaan yang menular. Giacomo tampak luar biasa rapi tanpa jaket pemotor hitam yang sering dipakainya. Sebagai gantinya, ia tampak gagah dengan tuksedo berwarna peach yang matching dengan gaun-gaun pengiring pengantin yang dikenakan Ciara dan Carina. Meja mereka berada di urutan paling depan, bersebelahan dengan meja yang ditempati kakek dan nenek Alessandro.
Giacomo, Ciara, dan Carina bercanda dan tertawa hampir sepanjang hari. Senyum di wajah mereka baru lenyap ketika ibu mereka, Caterina, beserta suami barunya, Signor Benito, datang dan bergabung di meja mereka.
"Mama?" Ciara yang pertama kali bersuara. Caterina langsung menghampiri kedua putrinya dan memeluk mereka. Namun, Carina sama sekali tidak mengenali ibunya karena ditinggal saat masih terlalu kecil.
Giacomo berdiri dan mengulurkan tangan pada Caterina. Caterina menerima sambutan ramah itu, sama sekali tidak mengira putra pertama mantan suaminya bisa tumbuh sebaik ini. Ya. Giacomo bahkan tidak sedikit pun terlihat sebagai anak pelacur yang hidup di jalanan sejak kecil. Apakah ini pengaruh mantan suaminya yang diam-diam mengirimkan dukungan pada pria itu? Caterina menggeleng, tidak mau ambil pusing. Hari ini adalah hari besar putri sulungnya.
Ketika seluruh tamu undangan telah hadir dan menempati posisinya masing-masing, Alessandro berdiri di altar, sementara Giacomo menjemput Carlotta di kamarnya.
__ADS_1
"Kau tampak sangat cantik, Carlotta." Giacomo berkata ketika membuka pintu dan melihat adiknya sudah memakai gaun pernikahannya yang indah. Ciara dan Carina ikut masuk. Mereka berdua terkagum-kagum dengan penampilan yang dihasilkan oleh perpaduan gaun indah, polesan makeup yang apik, dan Carlotta yang memang sudah cantik.
"Kau mengalahkan seluruh pengantin wanita di dunia, Kak!" Ciara berseru riang. "Melihatmu dalam balutan gaun pernikahan membuatku jadi ingin menikah juga!"
Carina mencibir kakaknya. "Memangnya kau sudah punya calon mempelai pria?"
Ciara mencubit adik bungsunya tanpa ampun. Carlotta hanya tersenyum melihat kelakuan mereka.
Kemudian, Caterina masuk ke kamar itu juga, membuat Carlotta terkejut bukan main.
"M-mama...?"
Caterina berjalan cepat dan segera memeluk Carlotta. "Ya, Sayang, ini Mama."
"T-tapi...?" Carlotta merasakan air matanya hendak tumpah.
"Mama..." Carlotta memeluk Caterina erat-erat. Perasaannya berkecamuk. Sudah delapan belas tahun ia tidak bertemu dengan ibunya. Ia merasa sakit hati, kesepian, marah, dan benci. Namun, tidak bisa dipungkiri, Carlotta merasa sangat rindu. "Mama... Kau akan tinggal di sini, kan?"
Caterina memandang putrinya lembut. "Banyak yang harus kita bicarakan, Sayang. Tapi, sekarang, ayolah. Kau harus pergi ke altar."
Carlotta tidak ingin melepaskan ibunya. Ia sangat butuh ibunya sekarang, terutama karena ia sendiri akan segera menjadi seorang ibu. Perempuan itu merasa takut. Bagaimana jika ia tidak bisa menjadi ibu yang baik bagi bayi di kandungannya? Bagaimana jika dia tidak tahu caranya?
Giacomo menghampiri Carlotta dan menuntun perempuan itu dengan lembut. "Kita selesaikan pernikahanmu terlebih dulu. Nanti, kita semua akan berkumpul lagi. Bibi Caterina akan berada di sini sampai pesta resepsimu selesai malam nanti."
__ADS_1
Carlotta mengangguk, lalu meletakkan tangannya di siku bagian dalam kakaknya. Kemudian, mereka berdua berjalan menuju altar, diikuti Ciara dan Carina yang membawa bunga di belakang mereka.
***
Alessandro tidak berkedip sama sekali memandang mempelai wanitanya yang berjalan perlahan menuju tempatnya berada. Ia tahu Carlotta sangat cantik, tapi hari ini kecantikannya bertambah sepuluh kali lipat. Gaun desainer yang dipakainya membalut tubuhnya dengan sempurna, serta berhasil menyembunyikan perut perempuan itu yang mulai membuncit. Rambut Carlotta digelung dengan gaya rambut rumit di atas kepalanya, membuat lehernya tampak jenjang. Kulitnya tampak kemerahan, perpaduan sedikit gerah dan tersipu-sipu.
Ketika tiba di hadapannya, secara perlahan, perempuan itu mendongak untuk melihat wajahnya. Alessandro membuka veil Carlotta dengan lembut, merasa rindu untuk menatap perempuan itu dari dekat.
Alessandro tidak menyangka hari ini akan tiba dalam hidupnya. Sejak kecil, ia hanya bisa memimpikan Carlotta dalam diam. Ketika beranjak remaja, ia sempat menikmati sedikit kebahagiaan bersama gadis itu. Tapi, hanya sebentar. Hari ini, masa depan yang indah terbentang di hadapan mereka berdua.
Dulu, semasa remaja, Alessandro ingat mereka berdua pernah asal-asalan menulis janji pernikahan yang kelak suatu hari nanti akan mereka ucapkan pada saat menikah. Pria itu tidak tahu apakah Carlotta mengingatnya atau tidak. Tapi, Alessandro mengingat semuanya dengan jelas. Setiap kata. Setiap hurufnya. Ingatan akan itu terpatri kuat di benaknya.
"Aku, Alessandro Ferrara, percaya padamu, Carlotta Marinelli, dalam mengarungi bahtera rumah tangga ini. Dengan sepenuh hati, aku mengambilmu menjadi istriku. Menerima segala kelebihan dan kekuranganmu. Aku berjanji akan setia padamu dalam hal apapun. Aku akan selalu ada untukmu karena kau adalah prioritasku. Aku akan menjadi milikmu dan kau adalah milikku. Aku adalah kau."
Mulut Carlotta menganga selama beberapa detik saat Alessandro selesai mengucapkan janji pernikahannya. Perempuan itu tampak masih tak percaya Alessandro benar-benar mengucapkan semua yang mereka tulis saat masa remaja. Alessandro tidak peduli apakah Carlotta akan mengucapkan janji yang sama. Dia tidak peduli apakah dia lebih mencintai Carlotta daripada perempuan itu mencintai dirinya. Ia bertekad akan tetap mencintai Carlotta sebanyak mungkin, selamanya.
Kemudian, Carlotta membuka mulut.
"Aku, Carlotta Marinelli, percaya padamu, Alessandro Ferrara, dalam mengarungi bahtera rumah tangga ini. Dengan sepenuh hati, aku mengambilmu menjadi suamiku. Menerima segala kelebihan dan kekuranganmu. Aku berjanji akan setia padamu dalam hal apapun. Aku akan selalu ada untukmu karena kau adalah prioritasku. Aku akan menjadi milikmu dan kau adalah milikku. Aku adalah kau."
Alessandro melebarkan matanya karena terkejut. Ternyata, Carlotta ingat! Jantungnya berdegup keras. Kebahagiaan menari-nari di hatinya.
Pria itu langsung mencium Carlotta bahkan sebelum siapa pun mempersilakannya. "Aku mencintaimu, Carlotta." Alessandro berbisik.
__ADS_1
Seluruh hadirin berdiri dan bertepuk tangan meriah. Bunga-bunga ditaburkan, musik pernikahan dikumandangkan, kilatan lampu flash mulai bermunculan. Alessandro dan Carlotta tenggelam dalam ciuman satu sama lain sekali lagi.
***