Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 88 | Surat Cerai


__ADS_3

LIKE DULU SEBELUM BACA ya guysss, jangan lupa KOMEN juga abis bacanya yaa ♡ dan mumpung hari Senin please vote for this story if you like ♡


Luvluv,


Alana


***


Alessandro pulang ke Roma lima hari kemudian karena sudah tidak tahan lagi. Lagipula, kepalanya sudah tidak terlalu sakit. Kini, yang paling menyakitkan baginya adalah kehampaan karena sudah lama tidak bertemu dengan istri dan putra semata wayangnya.


Ketika sampai di Castello Ferrara, kakek dan neneknya menyambutnya dengan hangat, seolah sudah tidak bertemu dengannya selama bertahun-tahun.


"Aku tidak apa-apa." Alessandro tersenyum menenangkan mereka berdua.


Kakek Alessandro tampak marah. "Aku hampir saja mengirim pasukan untuk membunuh Rocco Marinelli jika Lombardi terlambat sebentar saja mengirim pesan bahwa kau baik-baik saja."


Alessandro memeluk kakeknya erat-erat. "Sungguh tidak perlu. Aku baik-baik saja."


"Awalnya kami tidak percaya bahwa Giacomo membantumu. Bagaimana pun, dia adalah putra Rocco." Neneknya berkata dengan khawatir.


Alessandro tertawa pelan. "Giacomo adalah putra yang tidak diakui dan tidak mendapatkan apa-apa dari Rocco selain penghinaan. Dia diperlakukan dengan buruk saat masih bocah oleh Rocco, Nek."


Nenek Helena masih merasa ragu. "Tapi dia berbaik hati mau menampung Rocco di markasnya."


Alessandro mencium kedua pipi neneknya. "Dan sekarang dia sendiri yang telah mengantarkan Rocco ke dalam penjara."


Kakek dan nenek Alessandro saling berpandangan. Alessandro tahu mereka masih sangsi. Oleh karena itu, Alessandro berkata jujur. "Tidak akan lama. Rocco akan keluar dari penjara dalam waktu dekat karena tidak ada tuduhan yang bisa memberatkannya. Kita harus berhati-hati ketika masa itu tiba."


Namun, yang paling mengusik hati Alessandro adalah alasan dibalik semua perbuatan Rocco selama ini. Rocco memang melakukan hal-hal buruk, tapi semua itu didasarkan oleh keinginan agar putri-putrinya mendapatkan segala yang terbaik di matanya.


Rocco dan semua ayah lain di Verona pasti akan memilih Roberto Mancini daripada Alessandro pada saat Alessandro masih menjadi tukang kebun. Bahkan mungkin jika Alessandro berada di posisi Rocco, Alessandro juga lebih ingin putrinya bersanding dengan seseorang seperti Roberto Mancini.

__ADS_1


Saat jatuh miskin dan menjadi buron, Rocco memilih untuk kabur. Karena jika dia mendekam di penjara pun dia tetap tidak akan sanggup melindungi putri-putrinya di jalanan. Maka, Rocco pergi ke Milan dan memohon bantuan pada Giacomo. Rupanya, Giacomo memang diam-diam membantu adik-adiknya dari jauh. Memastikan ketiga gadis itu aman dari orang-orang yang berniat buruk pada mereka. Kecuali Alessandro. Giacomo pun sudah mengakui sendiri bahwa ia kecolongan malam saat Alessandro berniat meniduri Carlotta pertama kalinya.


"Aku tidak bisa melindunginya dalam jarak dekat. Aku tidak pernah punya keluarga yang harus kulindungi." Giacomo mengakui banyak hal pada Alessandro selama Alessandro terbaring di suite milik Giacomo. "Musuhku banyak. Aku tidak mau mereka menargetkan adik-adikku. Itu terlalu berbahaya."


Alessandro mengernyit saat mendengar itu. "Lalu, kenapa kau keluar dari tempat persembunyianmu dan memutuskan untuk masuk dalam kehidupan mereka?"


Giacomo memandangnya tajam. "Menurutmu gara-gara siapa?"


Alessandro mengedikkan bahu.


"Kau. Gara-gara kau." Giacomo berkata. "Kau membuat Carlotta hamil. Aku tidak mau keponakanku terlahir sebagai anak haram sepertiku. Aku tidak akan pernah membiarkan hal seperti itu terjadi."


Alessandro berdeham. Pipinya terasa panas. "Kurasa aku harus berterima kasih padamu karena itu. Jika bukan karena tuntutanmu agar aku menikahi Carlotta, sepertinya Carlotta berniat untuk menyembunyikan fakta bahwa dia akan melahirkan putraku dariku selamanya."


Giacomo mengangguk. "Oh. Ya. Itu benar. Bahkan, tahukah kau, alasan Carlotta untuk berusaha menyimpan kabar itu darimu adalah karena dia tidak ingin menyusahkanmu. Dia tidak ingin kau merasa terpaksa menikah dengannya hanya karena dia mengandung anakmu."


Mulut Alessandro menganga. "Dia sungguh mengatakan itu? Kalau begitu, dia benar-benar menganggap aku tidak mencintainya?"


Giacomo tertawa. "Bukan. Dia terlalu mencintaimu sampai takut dia dan bayinya hanya akan membebanimu."


"Ya." Giacomo menjawab dengan penuh keyakinan.


Alessandro tertawa sambil menggelengkan kepala. "Padahal justru dia dan putra kamilah sumber kebahagiaanku."


Giacomo tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Alessandro. "Kalau begitu, kejar dia dan katakan itu langsung padanya."


***


Alessandro berderap ke kamarnya untuk mencari dokumen-dokumen yang harus ia bawa untuk perjalanan ke Amerika. Ia tahu istrinya tidak akan ada di sana, tapi begitu membuka pintu kamar, perasaan hampa tetap menghantuinya. Kamarnya kosong. Apalagi walk in closet milik Carlotta. Perempuan itu ternyata mengemasi semua barang-barangnya. Semua pakaian, tas, perhiasan, dan aksesoris lain yang dibelinya sebelum menjadi istri Alessandro.


Sialan.

__ADS_1


Alessandro merasa tak menentu. Pria itu kemudian berjalan menuju sebelah kanan ranjang, sisi yang biasanya ditempati oleh Carlotta. Di atas nakas di samping ranjang, ada sebuah amplop cokelat resmi. Ketika membukanya, hati Alessandro semakin panas.


Surat gugatan cerai yang dilayangkan Carlotta padanya. Dikirim dari firma hukum milik Roberto Mancini. Kurang ajar. Alessandro meremas kertas di tangannya hingga kusut tak berbentuk, lalu mengumpat dalam bahasa Italia yang cepat dan keras.


Tak menunggu apa-apa lagi, ia segera kembali ke ruang kerja dan berteriak marah. "Lombardi! Siapkan jet pribadiku. Aku akan berangkat ke New York sekarang!"


Lombardi bergerak dengan cepat dan efisien, menempelkan ponselnya ke telinga, menghubungi anak buahnya yang berada di bandara. Hanggar milik Ferrara selalu siap terbang kapan pun dibutuhkan. Jadi, permintaan dadakan Alessandro bukan masalah. Tapi, tiba-tiba Lombardi mendapatkan sebuah panggilan masuk dari salah satu anak buahnya di apartemen milik Alessandro di New York.


"Ciao? Lombardi di sini." Lombardi mengangkat panggilan itu.


Seorang wanita berkata dengan bahasa Italia yang sedikit beraksen American. "Signor Lombardi, saya Martha, resepsionis di apartemen milik Signor Alessandro Ferrara di New York."


Lombardi mengiyakan. "Bicaralah, Martha. Aku mendengarkan."


"Bisakah aku bicara langsung dengan Signor Alessandro?"


Lombardi menjawab dengan tegas. "Tidak."


Perempuan di seberang tidak terdengar kecewa. Nadanya berhati-hati dan tenang. "Ini tentang istrinya, Nyonya Carlotta Ferrara."


Lombardi melirik sekilas pada Alessandro. "Resepsionis apartemen Anda ingin berbicara langsung dengan Anda tentang Nyonya Carlotta, Signor." Lombardi menyodorkan ponselnya.


Alessandro menyambar ponsel Lombardi tanpa menunggu apa-apa lagi. "Ini Alessandro. Ada kabar apa tentang istriku?"


Wanita di seberang sana terdengar lega. "Saya melihat istri Anda berdiri mematung di luar gedung apartemen ini, Signor. Lalu, saya berinisiatif untuk menawarinya masuk ke dalam apartemen Anda. Saya harap itu tidak menyinggung Anda, Signor. Maafkan kelancangan saya. Saya tidak tahu apa yang terjadi antara--"


"Kerjamu bagus." Alessandro memotong dengan tidak sabar. "Pastikan dia tidak pergi ke mana-mana sampai aku datang. Kalau perlu, kurung dia di apartemenku. Kunci dari luar."


"T-tapi, Signor, kami tidak bisa melakukan itu!" Si resepsionis merasa keberatan. Melakukan penyekapan adalah tindak kriminal. Ia takut.


Alessandro mengumpat pelan. "Kalau begitu, jika dia ingin keluar, bujuk dia agar kembali ke dalam. Lakukan saja dengan caramu."

__ADS_1


"Baik, Signor."


***


__ADS_2