
Readersssku sayang ♡ maapin kalo Lana ilang-ilangan minggu kemarin yaa. Mulai hari ini bakal update tiap hari lagi kayak sebelum-sebelumnya karena udah kelar nyiapin naskah lomba baru (doain semoga diterima) hehehe. Thank you dukungannya semuaaa semoga kalian suka ♡
Aku mau cerita dikit. Kebiasaan yee si Lana hobi curcol *digeplak readers. Awalnya aku masukin cerita yg anaknya si Alessandro & Carlotta buat lomba baru, tapi ternyata ceritanya kurang masuk ke tema. Jadi aku bikin cerita baru lagi, kali ini tentang temennya si Maurizio. Jangan sedih ya kalo bukan si Maurizio tokoh utama di next novel aku. Dia bakal tetep nongol-nongol di sana karena sohiban sama si Male Lead-nya kok. Penasaran nggak? Hahaha
Udah segini dulu guys. Jangan lupa LIKE FAV COMMENTS GIFTS nya yaaa. See you tomorrow ♡
Luvluv,
Alana
***
Carlotta tidak tahu kenapa, tapi hatinya tidak tenang siang ini. Sejak semalam setelah memberi tahu Alessandro apa yang sebenarnya terjadi sepuluh tahun lalu, Carlotta merasa ada yang salah dari sikap suaminya. Alessandro tampak seperti sedang menahan diri. Pria itu jelas marah, tapi Carlotta tidak tahu kepada siapa.
Mungkin, lebih kepada keadaan. Jelas situasi di antara mereka sebelumnya benar-benar merugikan, di mata Alessandro. Namun, Carlotta sendiri lebih memilih berdamai dengan masa lalu. Jika keadaan berbeda, dan Alessandro tidak pernah diusir dari Verona, mungkin pria itu tidak akan pernah pergi ke Roma dan bertemu dengan kakek dan neneknya. Jika situasi berbeda, mungkin Carlotta akan terlalu nyaman hidup sederhana sebagai istri tukang kebun, bukannya berusaha keras mendapatkan kegemilangan prestasi di dunia hiburan. Tidak ada yang perlu disesali. Toh sekarang mereka sudah bahagia bersama.
Carlotta mendadak takut Alessandro melakukan hal yang nekat. Perempuan itu tidak bisa berhenti berpikiran negatif. Ditambah lagi, sejak Alessandro pergi dari rumah pagi tadi, Maurizio terus-terusan menangis gelisah tanpa sebab.
Marco duduk dengan kaki disilangkan sembari membaca sebuah majalah fashion. Sesekali, matanya melirik Carlotta yang sedang berjalan mondar-mandir di tengah ruangan. "Tenanglah, Carlotta. Justru kau yang membuat Maurizio gelisah. Kudengar bayi sangat sensitif dengan perasaan ibunya."
Carlotta menepuk-nepuk pelan bayinya yang didekapnya di dada dan menggumamkan kata-kata untuk menghentikan tangisan putranya.
Marco kini menutup majalahnya dan berdiri. "Sini, biar aku saja." Ia buru-buru mengambil alih Maurizio dan mengangkat bayi laki-laki gembul itu tinggi-tinggi. "Anak manis, pintar sekali dirimu. Ayo, Sayang, berhentilah menangis." Marco mengeluarkan ekspresi-ekspresi lucu, kemudian Maurizio benar-benar berhenti menangis.
"Kau hebat dengan anak-anak." Kata Carlotta penuh terima kasih.
Marco tertawa. "Bukan aku yang hebat dengan mereka, tapi kau yang membuat bayimu sendiri gelisah, Carlotta."
Carlotta mendesah. "Ponsel Alessandro tidak bisa dihubungi. Begitu pula dengan ponsel Lombardi."
"Mungkin mereka sedang rapat penting atau semacamnya. Ponsel sengaja dimatikan agar tidak mengganggu." Ujar Marco. "Lagipula, dia belum pergi setengah hari, tapi kau sudah merindukannya saja."
Carlotta berhenti berjalan mondar-mandir. "Tidak, aku bukannya merindukannya." Pipi perempuan itu bersemu merah seperti gadis sekolahan yang baru saja naksir seseorang.
Marco menyerahkan Maurizio kembali pada Carlotta, kemudian merebahkan dirinya ke sofa besar dengan wajah malas. "Bisa-bisanya kalian masih dimabuk cinta setelah menjalin cinta selama ... sepuluh tahun?"
Carlotta memutar bola mata. "Kami berpisah selama sepuluh tahun, Marco."
__ADS_1
"Dan masih saling mencintai satu sama lain selama berpisah. Luar biasa. Kalau aku tidak bertemu pacarku selama seminggu saja, rasanya aku akan lupa kalau aku sudah punya pacar." Kata Marco geli.
"Masalahnya bukan itu. Semalam aku menceritakan sesuatu yang membuat Alessandro marah." Carlotta kembali bergerak gelisah dan Maurizio mulai menangis lagi.
Marco memanggil salah satu pengasuh Carlotta yang berjaga di luar pintu kamar anak dan buru-buru menyerahkan Maurizio padanya sebelum tangisan bayi itu makin keras.
"Kau benar. Aku yang membuat bayiku gelisah." Kata Carlotta pelan saat melihat Maurizio diam di tangan orang lain.
Marco mengendikkan bahu. Tatapannya berkata, 'Kubilang juga apa.' Pria itu menunjuk pintu keluar. "Sebaiknya kita pergi ke tempat lain. Aku tidak ingin kau mengganggu waktu tidur siang putramu sendiri."
***
Kakek dan nenek Alessandro sedang minum teh di paviliun saat melihat Carlotta dan Marco berjalan ke arah taman. Carlotta tampak seperti orang yang kehilangan arah. Oleh karena itu, nenek Alessandro memanggilnya untuk mendekat.
"Carlotta! Marco! Kemarilah, ayo minum teh bersama kami!" Seru Nenek Helena.
Carlotta dan Marco segera mendekat dan duduk di paviliun bersama kakek dan nenek suaminya. Paviliun itu tidak terlalu besar, tetapi sesungguhnya mampu memuat beberapa meja bundar. Namun, kakek dan nenek Alessandro lebih suka meletakkan hanya satu meja dengan enam tempat duduk yang mengitarinya. Taman Ferrara di sore hari sangat hijau dan menyegarkan mata. Burung-burung dan kupu-kupu banyak berterbangan. Sementara itu, bebungaan wangi tercium dari rangkaian bunga dalam vas yang setiap pagi diganti oleh florist profesional.
"Kau ingin minum sesuatu?" Tanya Nenek Helena pada Carlotta.
Nenek Helena mengajukan pertanyaan yang sama pada Marco. Marco menjawab bahwa dia ingin espresso. Double shot.
Kemudian, Carlotta mengubah pikiran. "Bolehkah aku minta wine? Aku butuh alkohol."
Nenek dan kakek Alessandro menatap Carlotta bingung. "Apa ada masalah, Sayang?" Tanya sang nenek.
Marco tertawa geli. "Carlotta hanya merasa khawatir karena Alessandro belum pulang dan ponselnya tidak bisa dihubungi."
Kakek Alessandro ikut tertawa. "Astaga, Nak. Kukira ada masalah apa. Itu hal yang biasa bagi Alessandro. Dia memang suka begitu jika sudah terlalu fokus pada pekerjaan. Ketika ponselnya lowbat dan mati pun dia tidak akan tahu."
Penuturan kakek Alessandro sedikit menenangkan Carlotta. Hanya sedikit. Carlotta tidak tahu bagaimana Alessandro sebelumnya, tetapi saat bersamanya, Alessandro selalu ada. Ketidakhadiran Alessandro barang sebentar sudah mengusik ketenangan hati Carlotta.
Minuman pesanan Carlotta dan Marco datang. Tanpa menunggu apa-apa lagi, Carlotta menenggak wine-nya bagai sedang minum bir. Kepalanya sedikit terasa melayang.
Tiba-tiba, ponsel Carlotta berdering. Carlotta segera membukanya dan berharap itu adalah Alessandro. Ternyata bukan. Sebuah nomor baru yang tidak dikenal.
Tanpa curiga, Carlotta mengangkat panggilan itu. "Ciao?"
__ADS_1
"Ciao, Carlotta." Terdengar suara yang sangat amat familiar di telinga Carlotta.
"Papa?" Carlotta terkejut setengah mati.
Ayahnya tertawa di seberang sana. "Kau tidak terdengar senang mendapat telepon dariku."
"T-tidak, tentu saja aku senang. Papa, bagaimana kabarmu?" Carlotta mengeluarkan jenis suara riang agar tidak menyinggung ayahnya.
Ayahnya kembali tertawa di seberang sana. "Kabarku sangat baik. Apalagi, aku sedang bersama dengan menantuku sekarang."
Jantung Carlotta seolah berhenti berdetak. "Bersama Alessandro?"
Rocco Marinelli terkekeh lagi. "Ya. Kau mau bicara dengan suamimu?"
"Ya! Ya, Papa. Tolong berikan teleponnya pada Alessandro. Aku cemas karena tidak bisa menghubunginya sejak tadi." Carlotta terdengar putus asa.
"Tapi, bagaimana, ya? Alessandro Ferrara sedang tidur." Kata Rocco.
"Ap-apa maksud Papa?" Carlotta mulai was-was.
Rocco Marinelli mengubah mode teleponnya menjadi videocall. Kemudian, Carlotta melihat Rocco mengarahkan kameranya pada Alessandro yang tengah tertidur di sebuah meja makan mewah.
"Suamimu tampak kelelahan." Rocco berkata dengan mimik muka penuh kesedihan palsu.
Carlotta sungguh takut bukan main. "Apa yang kau lakukan pada Alessandro, Papa?"
Rocco Marinelli pura-pura cemberut. "Menurutmu apa? Dia tampak kurang tidur dan aku hanya membantunya beristirahat sebentar."
Carlotta menahan diri agar tidak berteriak. "Papa ..."
Rocco Marinelli tampak mengangkat sebuah pisau roti main-main. "Atau aku bisa membantunya beristirahat untuk selamanya."
Carlotta hampir menjatuhkan ponsel di tangannya.
***
Luv you all always ♡ Happy terus sehat terus semangat terus, jangan lupa mam yang banyak ♡
__ADS_1