Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 56 | (Bukan) Malam Pertama


__ADS_3

Hahaha bingung mau masukin ini ke 18+ atau enggak. Tapi adegannya ga vulgar sih jadi aku putusin buat enggak. Finally yah bisa update sehari 3x kek jadwal makan. Kalian lebih seneng aku update pagi-siang-malem gini atau sekali up langsung 3 bab?


Jangan lupa like komen vote 5stars gift dsb nya ♡


Luvluv,


Alana


***


Carlotta segera berdiri ketika telah selesai berbicara dengan ayah tirinya. Belum pernah ia merasa seperti ini. Seluruh hatinya meneriakkan nama Alessandro. Jika bisa, ia ingin berlari ke tempat lelaki itu berada. Ya Tuhan. Carlotta tidak tahan lagi. Ia merasa harus bertemu Alessandro sekarang.


Kemudian, seolah menjawab panggilan tak terucapnya, Alessandro muncul dari belakang Carlotta.


"Aku mencarimu ke mana-mana." Alessandro berkata.


Carlotta memandang suaminya dengan kelegaan di matanya. "Kau di sini? Aku juga mencarimu."


Alessandro merasa sedikit bingung melihat Carlotta. "Kenapa? Ada apa? Apakah ada masalah?"


Carlotta menggeleng, kemudian mengangguk. "Ya. Ya. Masalahnya, aku tidak bisa melihatmu sepanjang malam."


Alessandro semakin bingung. "Aku di sini, Sayang. Aku hanya berbicara dengan beberapa tamu dan-"


Carlotta mencium suaminya tanpa menunggu lelaki itu menyelesaikan kalimatnya. Alessandro langsung melingkarkan tangannya untuk menopang tubuh istrinya. Pria itu terkekeh geli ketika akhirnya Carlotta melepaskan dirinya.


"Apa ada yang salah denganmu?" Alessandro bertanya.


Carlotta tersipu. "Aku... Aku juga tidak tahu."


Alessandro terdiam sebentar. Lalu, ia memandang Carlotta dengan serius. "Apakah menurutmu ada yang akan keberatan jika kita berdua menghilang di resepsi kita sendiri?"


Carlotta terkesiap kecil. "Kau tidak mungkin-"


Alessandro menyeringai. "Kalau kau tidak berhenti bersikap menggemaskan, aku akan menculikmu dengan helikopter dan membawamu ke Santorini sekarang."


Carlotta mengernyitkan dahi. "Santorini?"


Alessandro mengangguk. "Tempat bulan madu kita."


"Kita akan berbulan madu ke Yunani?"


"Ya." Alessandro membenarkan. "Kalau kau mau. Aku sudah mengatur segala sesuatunya saat berada di Amerika. Tapi, kalau kau menginginkan tempat lain, aku bisa mengaturnya untukmu."


Carlotta tersenyum dan menggeleng pelan. "Apakah sudah ada yang memberitahumu kalau kau sangat tampan malam ini?"


Alessandro agak terkejut mendengar pujian Carlotta. Kemudian, sebuah senyum lebar menghiasi wajahnya. "Oh, Sayang. Kau yang memulai ini. Kau tidak akan bisa menghindariku lagi mulai sekarang."

__ADS_1


Alessandro tidak memedulikan sekitar. Ia mengangkat Carlotta ke dadanya, kemudian berjalan santai meninggalkan para tamu undangan dan membawa istrinya ke kamar.


***


Carlotta mendesah lega ketika akhirnya dapat terbebas dari balutan gaun malamnya yang berat. Alessandro membantunya melepas pakaian, kemudian merentangkannya di atas tempat tidur. Pria itu memandang istrinya dengan tatapan memuja terang-terangan.


"Aku gemuk." Carlotta berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut. Pipinya bersemu merah.


Alessandro menghampirinya. Pria itu tersenyum sembari membelai pipi Carlotta. "Kau sempurna."


Carlotta menempelkan pipinya lebih rapat ke tangan Alessandro yang menyentuhnya. Dingin. Perempuan itu jelas butuh kesegaran karena seluruh tubuhnya terasa panas.


"Banyak wanita cantik yang datang ke pesta kita." Carlotta berusaha memancing.


Alessandro terkekeh pelan. "Mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dirimu."


Carlotta tersenyum senang. Ia menyurukkan kepalanya ke lekukan leher suaminya. "Tadi aku bicara sebentar dengan Mama dan Signor Benito. Secara terpisah. Mereka bilang, kau mengunjungi mereka di New York."


Alessandro memeluk Carlotta di atas ranjang. "Benarkah? Mereka bilang apa lagi?"


Carlotta membelai otot di lengan atas Alessandro. "Mereka bilang, kau memberikan undangan pernikahan kita secara langsung. Mama juga bilang kau memastikan Papa tidak akan mengganggu Mama. Jadi, Mama merasa aman untuk datang."


Alessandro tersenyum sembari membelai rambut keemasan Carlotta yang kini sudah terbebas dari semua jepit berliannya. "Ya. Aku melakukan itu."


Carlotta mendongak. "Untukku?"


Carlotta tersipu-sipu. "Dari dulu kau memang pintar bicara."


"Itukah sebabnya kau menyukaiku?" Alessandro bertanya.


Carlotta terdiam sebentar, pura-pura berpikir. "Bisa jadi."


Alessandro mencium bibir ranum istrinya. "Kau sudah mengakui kalau kau menyukaiku. Tidak ada jalan kembali sekarang. Apa kau mengerti?"


Carlotta mendorong Alessandro sedikit. Bibirnya cemberut. "Aku tidak menyukaimu."


Alessandro menegang di tempatnya. Tidak, tidak. Carlotta tidak mungkin berniat menghancurkan hatinya untuk ketiga kalinya sekarang, kan? Mereka sedang berpelukan mesra di atas ranjang pengantin. Carlotta tidak mungkin tega, kan?


Carlotta tersenyum jahil. Ia menatap suaminya dengan penuh kasih sayang. Tangannya bergerak untuk membelai pipi dan hidung Alessandro. "Aku tidak menyukaimu." Carlotta mengulangi dengan lebih lembut. "Tapi, aku mencintaimu."


Alessandro menghembuskan napas lega. "Ya Tuhan, Carlotta. Kau membuatku hampir jantungan."


Pria itu menggulingkan istrinya dengan sedikit kasar. Carlotta memekik kecil. Alessandro kemudian mencium sekujur tubuh Carlotta secara brutal, tetapi berhati-hati dengan perut istrinya. Carlotta tertawa-tawa karena geli.


"Itu adalah hukumanmu, Nyonya Ferrara." Alessandro menyeringai ketika dilihatnya Carlotta mulai terengah-engah.


"Kau benar-benar nakal." Keluh Carlotta.

__ADS_1


Alessandro tersenyum lembut. "Apa kau merasa lelah?"


Setelah seharian menghadiri pesta pernikahan mereka dan menemui begitu banyak tamu undangan, tidak mungkin Carlotta tidak lelah. Ditambah lagi, janin dalam perutnya tidak mau diam di sekeliling Alessandro, seolah menyadari kehadiran ayahnya. Tapi, Carlotta tidak ingin mengecewakan suaminya. Jadi, ia menggeleng pelan.


Alessandro tertawa. Carlotta jelas-jelas berbohong. Kelopak mata perempuan itu sudah setengah menutup, meskipun ada sorot determinasi untuk tetap terjaga di sana. Kemudian, Alessandro mencium Carlotta lagi. Kali ini dengan teramat lembut sehingga istrinya merasa rileks.


"Sepertinya bayi kita sudah mengantuk." Alessandro berbisik.


Carlotta menggeleng. "Dia akan menjadi pemain bola suatu hari nanti."


"Oh, ya?"


"Dia terus menendang." Kata Carlotta. Alessandro terkekeh mendengarnya. Tangannya bergerak menuju perut Carlotta.


"Coba minta dia menendang. Aku ingin merasakannya." Pinta Alessandro.


Carlotta tertawa geli. "Aku tidak bisa menyuruhnya melakukan apa pun, Alessandro. Dia melakukan semua yang ingin dia lakukan sendiri. Persis seperti dirimu."


Hati Alessandro terusik ketika mendengar Carlotta menyamakan janinnya dengan dirinya. Benarkah bayi ini adalah putranya? Alessandro menahan lidahnya untuk menanyakan itu sekarang. Ini malam pertama mereka. Alessandro tidak ingin memulai pertengkaran. Semuanya bisa menunggu hingga esok hari. Atau lusa. Saat ini, yang diinginkannya hanya mendekap Carlotta dalam pelukannya dan tidak pernah melepaskan perempuan itu lagi.


***


Carlotta terbangun pagi-pagi sekali dengan perasaan cemas. Alessandro masih terlelap di sisinya. Semalam adalah malam pertama pernikahan mereka, tetapi Alessandro tidak bercinta dengannya. Carlotta jadi merasa uring-uringan. Apakah setelah bertemu tamu-tamu wanita cantik di pesta mereka kemarin, Alessandro jadi menganggap Carlotta tidak lagi menarik? Ia hamil enam bulan. Membengkak bagai badak purba. Badannya tidak lagi seksi seperti sebelumnya.


Perempuan itu memandangi tubuh polos suaminya. Ah. Alessandro memang sudah mempesona sejak dulu. Tetapi, sekarang pria itu lebih matang. Tulang rahangnya semakin tegas, membentuk jawline yang to die for. Bentuk tubuhnya juga makin sempurna. Setiap jengkal ototnya kencang dan berisi. Carlotta jadi merasa tidak percaya diri. Bagaimana jika suaminya berpaling pada wanita lain? Tidak ada wanita yang bisa menolak Alessandro sekarang, kan?


Kelopak mata Alessandro perlahan bergerak membuka. Ketika melihat Carlotta, bibirnya tersenyum lebar. "Selamat pagi, Istriku."


Carlotta ingin menangis. Bibirnya mulai mengerucut dan matanya mulai berkaca-kaca.


Alessandro langsung terjaga sepenuhnya. "Kenapa? Ada apa? Apa perutmu sakit?"


Carlotta menggeleng keras.


Alessandro panik. "Ya Tuhan, Carlotta, coba katakan. Apa yang salah? Apakah aku menyakitimu? Menimpamu sewaktu tidur? Perlukah aku memanggil dokter?" Alessandro segera mencari ponselnya di nakas. "Tidak, kau tidak perlu menjawab itu. Aku akan menelepon dokter sekarang."


Carlotta tertawa kecil. Air matanya surut. "Hentikan, Alessandro. Aku tidak sakit."


Alessandro memandang istrinya penuh tanda tanya. "Apa yang terjadi? Kau menakutiku, Carlotta!"


Carlotta terkikik lagi. Kemudian, ia menggeleng sedih. "Semalam kau tidak bercinta denganku."


Alessandro tertegun. Tubuhnya membeku sebentar. Pikirannya berputar cepat. Kemudian, ia tertawa terbahak-bahak. "Itukah yang kau cemaskan, Cara Mia?"


Carlotta melemparkan sebuah bantal ke muka suaminya. "Berhenti tertawa!"


Alessandro segera menerjang Carlotta hingga istrinya itu terbaring pasrah di bawahnya. "Jangan pernah mencemaskan itu, Sayang. Keinginanku padamu tidak akan pernah surut hingga seratus tahun ke depan."

__ADS_1


***


__ADS_2