
Helloooo guyssss welcome back to my story, ayok ikutin terus pantengin terus karena udah detik-detik mau ending nih kira-kira yah kurang lebih 10 bab lagi lah. I'm so glad kalian udah pada setia bacain sampe sini. Semoga kalian suka yaa ♡
Jangan lupa KLIK LIKE DULU SEBELUM BACA kayak biasanya hehehe, fav comments gift 5 stars juga jangan sampe ketinggalan ya beb ♡
Luvluv,
Alana
***
"Papa memiliki banyak kekurangan. Kau pasti sudah tahu itu." Giacomo mengawali dengan muram, ketika ia, Alessandro, dan Lombardi telah selesai menonton rekaman CCTV. "Aku tidak akan membenarkan perbuatan Papa. Tapi, aku juga tidak akan seratus persen menyalahkannya. Kau juga melakukan banyak kesalahan padanya, Alessandro. Aku bisa merasakan bahwa kau dan Carlotta memang saling mencintai, tapi caramu mendapatkan adikku jelas salah."
Alessandro memegangi kepalanya yang masih terasa berat dan tidak berkata apa-apa.
Giacomo melanjutkan. "Tapi, perbuatan Papa mengancam Carlotta bahwa ia akan membunuhmu dan anak kalian, itu juga salah besar. Satu hal yang pasti, Papa bukan pembunuh. Jika ada salah satu dari kita semua yang pernah dan sanggup membunuh orang, itu adalah aku."
Pikiran Alessandro berputar cepat.
"Jadi, ancaman Papa sudah pasti hanya bualan belaka." Giacomo berusaha meyakinkan Alessandro. "Meskipun begitu, aku akan menyerahkan keputusan untuk memberikan hukuman pada Papa atas perbuatannya ke pihak berwajib, jika itu yang kau inginkan."
Alessandro mengangguk. "Aku ingin dia mendekam dalam jeruji besi."
Giacomo mengernyit. "Penjara atas dakwaan perintah penyerangan dan ancaman pembunuhan tidak akan lama."
Alessandro memandang Giacomo kesal. "Kalau begitu, bisakah kau mengawasinya dengan benar setelah dia keluar dari penjara nanti?"
"Baiklah." Giacomo setuju.
Alessandro mengalihkan pikirannya dari Rocco, dan mengembalikan fokusnya pada Carlotta. Ia memberikan isyarat pada Lombardi untuk mendekat. "Tutup semua penerbangan dari dalam ke luar negeri malam ini."
Lombardi hampir mengumpat, tapi berhasil menahannya. "Itu tidak mungkin, Signor."
"Kalau begitu lakukan sesuatu agar Carlotta dan putraku tidak bisa pergi dari Italia!" Alessandro meraung marah.
Lombardi mengangguk sopan. "Kita bisa meminta pihak bandara untuk mengeluarkan larangan bagi Nyonya Carlotta untuk terbang."
"Lakukan itu!" Alessandro berseru tak sabar. Entah sudah berapa lama ia tidak sadarkan diri. Berapa jam waktu berlalu sejak Rocco mengancam Carlotta? Hari sudah malam sekarang. Alessandro hanya bisa berdoa semoga Carlotta tidak melakukan hal nekat.
Lombardi segera keluar dari suite itu dan melakukan beberapa panggilan pada pihak-pihak yang dapat melancarkan tujuan tuannya. Tak lama kemudian, Lombardi kembali dengan raut penuh penyesalan.
__ADS_1
"Nyonya Carlotta sudah pergi, Signor." Lombardi menginformasikan.
Alessandro hendak melompat berdiri dengan marah, tapi Giacomo menahannya dengan mudah. "Hati-hati dengan kepalamu. Sebaiknya kau beristirahat terlebih dulu." Giacomo mengingatkan.
Alessandro memang merasa kepalanya langsung berdenyut menyakitkan sekali lagi. Tapi, pria itu tidak peduli. Carlotta sudah pergi? Bisa-bisanya perempuan itu pergi begitu saja!
"Ke mana?" Alessandro bertanya gusar.
"New York, Signor."
Alessandro mengumpat pelan. "Kau pernah memutar balik sebuah pesawat, bukan? Lakukan sekali lagi." Pria itu berkata pada Lombardi.
Lombardi menggeleng. "Pesawat yang ditumpangi Nyonya Carlotta sudah mendarat ke New York satu jam yang lalu, Signor."
"Sialan!" Alessandro mengepalkan tangannya erat-erat.
Giacomo merasa prihatin melihat keadaan adik iparnya itu. "Tenang saja, Alessandro. Carlotta aman di New York. Dia pasti akan ada di rumah ibunya. Memangnya, ke mana lagi dia bisa pergi? Lebih baik kau memulihkan diri terlebih dulu. Kau butuh istirahat setidaknya selama seminggu sebelum benar-benar pulih."
"Seminggu?" Alessandro mengulangi dengan marah. "Kau membuat aku harus berbaring selama seminggu?"
Giacomo nyengir. "Secara teknis bukan aku. Hanya anggotaku."
Giacomo mengacuhkan Alessandro yang masih bersungut-sungut. Ia berpaling pada Lombardi dan tersenyum ramah. "Kalian semua diterima di sini. Stafku sudah membukakan kamar. Tinggallah dengan nyaman selama yang kalian butuhkan."
"Terima kasih, Signor Giacomo." Lombardi mengangguk.
"Tunggu sebentar." Alessandro berkata sebelum Giacomo berjalan pergi lebih jauh. "Ajari pasukan keamananku teknik itu."
Giacomo mengernyit. "Teknik apa?"
Alessandro memutar bola mata. "Teknik melumpuhkan lawan, tentu saja."
Giacomo tertawa terbahak-bahak. "Maksudmu, teknik menyerang ala orang jalanan?"
Alessandro mengangguk.
"Hati-hati dengan permintaanmu, Alessandro. Setelah ini pasukan keamananmu tidak akan berkelahi dengan cara yang bermartabat lagi." Giacomo nyengir lebar.
Alessandro balas nyengir. "Itulah yang kubutuhkan."
__ADS_1
***
Carlotta pernah bermimpi pergi ke Amerika. Ia sempat memiliki keinginan untuk berkarir di Hollywood. Selain itu, di hari pernikahannya, ibunya mengundangnya untuk datang berkunjung. Carlotta pada awalnya berniat membawa Maurizio dan Alessandro mengunjungi ibunya nanti saat Maurizio sudah berumur setidaknya setahun. Tidak secepat ini dan jelas tidak dalam kondisi seperti ini.
Carlotta merapatkan mantel tebal milik Alessandro di badannya. Aroma lembut wangi memabukkan dari suaminya masih menyelubunginya hingga kini, dan itu menguatkan hatinya sedikit.
Marco menyerahkan Maurizio pada Carlotta. "Aku akan mengambil bagasi."
Carlotta mengiyakan, lalu mencari sebuah kursi kosong dan duduk memeluk bayinya di sana. Bandara John F. Kennedy tidak pernah sepi. Apalagi di musim dingin dan musim liburan seperti ini. Orang-orang berlalu lalang dengan sibuk. Semuanya tampak memiliki tujuan yang pasti. Sementara itu, Carlotta sama sekali tidak memiliki bayangan akan dibawa ke mana hidupnya setelah ini.
Bisakah ia bercerai? Sanggupkah ia berpisah dengan Alessandro?
Memikirkan Alessandro membuat air matanya kembali terbit. Belum dua belas jam sejak ia terakhir bertemu dengan suaminya. Bagaimana bisa ia sudah merasa sangat rindu? Dan kerinduan ini teramat menyesakkan dada. Membuatnya sesak.
Maurizio memandanginya dengan mata bulat besar berwarna biru cerah yang cantik sekali. Bayi itu sama sekali tidak menangis, tidak rewel, dan amat sangat tenang selama perjalanan. Carlotta merasa bersyukur sekali. Karena jika Maurizio menangis sekali saja, Carlotta tahu ia akan ikut menangis bersama bayinya.
Marco Bruni kembali tak lama kemudian, dengan beberapa buah koper besar. Pria itu sampai menyewa jasa seorang porter. "Kau siap, Carlotta? Aku sudah memesan taksi."
Carlotta memeluk bayinya lebih erat dan mengangguk. "Ya. Ayo."
Setelah porter memasukkan koper-koper mereka ke bagasi taksi, Carlotta dan Marco naik ke dalam.
"Ke mana saya harus mengantar Anda, Tuan dan Nyonya?" Sopir taksi bertanya sopan.
"City Spire Apartment." Carlotta menyebutkan apartemen yang ditinggali ibunya dan Signor Benito. Pasangan suami istri itu memiliki seluruh lantai Penthouse di City Spire. Dari yang didengar oleh Carlotta, apartemen itu menakjubkan.
"Baik, Nyonya." Sopir taksi segera menjalankan kendaraannya.
Marco menyenggol Carlotta dan tersenyum menyemangati. "Coba lihatlah keluar jendela, Sayang. Ini pertama kalinya kita berdua ke New York. Kurasa aku menyukai kota ini. Bagaimana denganmu?"
Carlotta menoleh ke jendela. New York tampak sibuk. Kota yang tidak pernah tidur. Bahasa yang asing. Orang-orang asing. Sejujurnya, yang ia inginkan saat ini adalah kembali ke Roma dan berada di pelukan suaminya.
Atau mantan suami? Apakah ia sudah resmi bercerai sekarang?
Carlotta memejamkan mata lelah. "Ya, New York terlihat bagus."
"Kita bisa jalan-jalan melihat Patung Liberty atau ke Central Park besok." Marco masih berceloteh riang. "Jangan pikirkan apa-apa dan kita nikmati saja ke mana hidup membawa kita, Carlotta."
Carlotta mengangguk lemah. "Aku berusaha."
__ADS_1
***