
Happy reading!
Luvluv,
Alana
***
Carlotta mendongak menatap adiknya dengan sungguh-sungguh sekarang. "Ciara, dengarkan aku. Pernikahan bukan perkara main-main."
Perempuan yang lebih muda itu mengangguk setuju. "Aku tahu."
Carlotta mendengus. "Kau bahkan belum pernah punya pacar. Bagaimana kau akan menikah dengan orang yang sama sekali tidak kau cintai?"
Ciara menatap Carlotta tajam. "Jika yang kau sebut cinta adalah sesuatu yang terjadi padamu dan Alessandro, aku tidak mau mengalami itu. Aku lebih suka jika aku bisa mengendalikan diriku sendiri dan tidak dikuasai emosi asing yang menghancurkan seperti--"
"Ciara!" Carlotta menggeleng tak percaya.
Ciara cepat-cepat menutup mulutnya. Memang benar kata pepatah. Menasehati orang yang sedang jatuh cinta itu sia-sia. "Maksudku, seandainya kau dan Alessandro tidak saling mencintai, Papa tidak akan memanfaatkan hal itu untuk mencoba mengekangmu."
Carlotta kembali berkutat dengan barang-barang yang hendak dibawanya pergi. Dan perempuan itu memutuskan untuk membawa serta mantel bulu tebal milik Alessandro yang sedari tadi dipeluknya.
"Aku tidak keberatan menikah dengan Roberto." Ciara mengakui. "Itu akan menguntungkan banyak pihak. Kau tidak perlu bercerai dengan Alessandro. Papa mendapatkan menantu yang selama ini diinginkannya. Dan aku tidak perlu repot-repot mencari calon suami."
Carlotta menggeleng sekali lagi. "Ini bukan tentang Roberto, Ciara. Ini tentang Alessandro. Papa membencinya. Alessandro sudah bersikap membangkang sejak sepuluh tahun lalu ketika dia menolak untuk pergi dari rumah kita meskipun sudah dipukul habis-habisan. Ditambah lagi, Alessandro sudah membuat Papa bangkrut dan jatuh miskin. Papa menaruh dendam pada suamiku. Dia tidak ingin aku bersamanya." Carlotta berhenti sebentar, badannya gemetar ketakutan. "Dan Papa pasti juga membenci putraku karena dia adalah anak Alessandro."
Ciara membeku di tempatnya berdiri. Ia sama sekali tidak mengira bahwa masalahnya sampai sejauh ini. "Tapi, kukira Alessandro sudah mengembalikan bisnis dan rumah Papa? Alessandro juga sudah mencabut status buron Papa. Apa lagi yang Papa harapkan?"
Carlotta akhirnya mendapatkan paspor yang sedari tadi dicarinya. Perempuan itu segera merapikan diri dan bersiap untuk pergi. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi kurasa itu semua salahku. Semalam aku menceritakan pada Alessandro tentang apa yang sebenarnya terjadi sepuluh tahun lalu, kenapa aku mengusirnya, dan kenapa aku berkata tidak lagi mencintainya. Seharusnya aku tidak melakukan itu."
Ciara mengernyit. "Apa hubungannya?"
"Melihat sifat Alessandro, kurasa dia marah dan membatalkan semua bantuannya pada Papa. Entah apa dan bagaimana setelahnya, Papa berhasil menyekap Alessandro sekarang." Carlotta menelan kembali semua air matanya dan berdehem pelan agar suaranya tidak terdengar bergetar. "Tolong kabari aku jika Alessandro sudah kembali kemari dengan aman."
__ADS_1
Ciara terkesiap. "Alessandro benar-benar membatalkan semuanya? Papa pasti semakin membencinya!"
Carlotta menghela napas. "Aku tahu."
Ciara memejamkan matanya marah. Ia benci jika tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu kakaknya. "Begini saja. Pergilah untuk sekarang. Aku akan bicara pelan-pelan pada Papa dan berkata bahwa aku dan Roberto saling mencintai. Aku akan meminta Roberto bekerja sama. Hanya sampai Papa tenang dan tidak lagi bertindak gila. Kau dan Alessandro tidak perlu benar-benar bercerai. Berakting saja seolah kalian akan bercerai, tapi sebenarnya tidak."
Carlotta tidak berpikir itu akan berhasil. Tapi, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan sekarang selain pergi. Jadi, Carlotta hanya tersenyun dan berharap agar semua itu bisa berjalan lancar.
"Apa kau akan pergi ke tempat Mama?" Ciara bertanya.
Carlotta mengangguk. "Aku jelas tidak mungkin bersembunyi di panti lagi. Alessandro akan dengan mudah menemukanku. Setidaknya, Mama dan Signor Benito akan membantuku bersembunyi. Alessandro tidak akan berani macam-macam karena dia menghormati mereka."
Ciara memandang kakaknya dengan sedih. "Kuharap keadaan akan secepatnya membaik." Gadis itu merentangkan tangan, meminta Carlotta memeluknya sekali lagi sebelum pergi.
***
Ciara Marinelli belum pernah merasa segugup ini sebelumnya. Ia menelepon Roberto dan mengajak pria itu bertemu di Antico Arco, salah satu restoran yang tidak terlalu besar dan mewah, tapi paling diburu di Roma karena makanannya yang terkenal lezat. Gadis itu bahkan memaksa si pemilik untuk menyewa restoran dan wine bar itu selama dua jam malam itu. Kelakuannya membuat para pengunjung restoran lainnya mengantri bagai ular untuk dapat giliran masuk setelah Ciara.
"Wah! Apa yang kau lakukan, Ciara?" Pria itu berujar sambil tertawa. "Orang-orang berkerumun di luar sana dan memprotes karena tidak bisa masuk ke dalam. Kukira aku salah alamat."
Malam itu, seperti malam-malam lainnya juga, Roberto tampil menawan. Pria itu selalu rapi dan wangi. Tapi, malam ini Ciara merasa lebih berdebar-debar lagi ketika melihat Roberto datang. Carlotta sempat bercerita pada Ciara bahwa beberapa hari lalu ia bertemu dengan Roberto dan Gretta di Verona. Jadi, menurut Ciara, ini adalah kesempatan bagus.
Bertemu langsung untuk melamar akan jauh lebih bagus daripada harus lewat telepon. Untungnya Roberto belum terbang kembali ke London.
Ciara mengeluarkan senyum manis. "Ah. Itu bukan apa-apa. Kau sudah jauh-jauh menyetir dari Verona selama tujuh jam. Setidaknya aku harus melakukan ini."
"Menyewa seluruh restoran?" Roberto masih tertawa takjub.
Ciara nyengir. "Hanya selama dua jam. Aku sedang menghemat uang sakuku karena ada kemungkinan Alessandro Ferrara tidak akan jadi kakak iparku lagi."
Roberto langsung terdiam. "Tadi Carlotta juga meneleponku tentang masalah itu. Dia bilang, dia dan Alessandro tidak saling mencintai. Itu sebuah kebohongan yang terlalu besar. Saat bertemu dengan mereka di Salumeria Gironda, mereka masih menempel satu sama lain dengan sangat mesra."
"Begitulah." Ciara memutar bola matanya. "Begitulah kelakuan Papa. Dia ingin memisahkan kakakku dengan Alessandro. Papa tidak mau melihat kenyataan bahwa kakakku mencintai Alessandro."
__ADS_1
"Kau benar." Roberto mengangguk. "Jadi, kau memintaku kemari untuk membicarakan perceraian mereka?"
Ciara menggigit bibirnya sendiri karena kembali merasa gugup. "Nanti saja. Kita pesan dulu. Apa yang ingin kau makan?"
Roberto memanggil pelayan. Pelayan datang dengan cepat dan efisien, menjelaskan menu apa saja yang paling direkomendasikan di sana. Pilihan Roberto jatuh pada risotto dengan saus wine dan keju castelmagno. Sementara Ciara meminta dibawakan semua menu berbahan dasar daging sapi, daging domba, scallop, dan semua jenis dessert.
"Kau benar-benar lapar, ya?" Roberto memandang Ciara tak percaya.
Ciara mengibaskan tangannya. "Kita akan makan semuanya berdua."
Roberto tertawa. "Kapan-kapan aku sungguh harus balas mentraktirmu."
Ciara mengangguk. "Harus."
Roberto dan Ciara menghabiskan semua makanan itu dalam satu jam. Ketika Ciara melihat Roberto tampak sudah kenyang dan puas, gadis itu mulai membuka mulutnya. "Jadi, kau sudah tahu, kan, kalau Papa terobsesi menjadikanmu sebagai menantu di keluarga kami?"
Roberto tertawa. "Papaku juga begitu. Menurutnya, akan sangat bagus jika keluarga kita berdua menggabungkan perusahaan wine. Dengan penyatuan menguntungkan itu, kita bisa bersama-sama mengembangkan bisnis. Mungkin bahkan sampai di pasar internasional seperti Ferrara."
Ciara mengangguk. "Benar."
"Lalu?" Roberto mengelap mulutnya dengan serbet dan menunggu Ciara untuk melanjutkan.
Ciara membasahi bibirnya sendiri. "Lalu, itu artinya tidak masalah, kan, jika kau menikah dengan gadis Marinelli yang mana saja?"
Raut wajah Roberto berubah serius. "Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Ciara?"
Ciara menelan ludah susah payah. "Kenapa kau tidak menikah denganku saja, kalau begitu?"
Pertanyaan itu sukses membuat Roberto membelalakkan matanya lebar-lebar.
***
LIKE FAV COMMENTS GIFTS 5 STARS jangan lupa sayang ♡ Grazie ♡
__ADS_1