
Seminggu berlalu sangat cepat ketika Alessandro tidak melakukan apa pun. Ia seolah dipaksa untuk berfungsi kembali saat Lombardi beserta sederetan pelayan dan stylist membangunkannya pada suatu pagi. Alessandro sudah berhenti minum alkohol. Kakeknya mengingatkan kembali apa yang terjadi pada ayahnya bertahun-tahun silam, seolah memperingatkan Alessandro apa yang bisa terjadi padanya juga jika ia tidak berhenti.
Alessandro tidak pernah bercerita tentang Carlotta kepada keluarganya, tetapi feeling neneknya tajam. Pagi itu di ruang makan, sang nenek menyebut nama Carlotta dan membuat Alessandro berjengit sedikit.
"Maaf, apa Nenek bilang tadi?" Alessandro meletakkan pisau rotinya dan duduk tegak menghadap sang nenek.
"Aktris cantik itu, siapa namanya? Carlotta? Dia, kan, yang membuatmu tiba-tiba mengurus sebuah film?"
Alessandro melanjutkan makan seolah tidak ada yang terjadi. "Filmnya batal, Nek."
Kakek dan neneknya saling berpandangan, jelas-jelas tampak terkejut karena telah berharap banyak.
"Kenapa sampai batal?" Neneknya bertanya lagi, belum puas dengan kalimat final Alessandro.
Alessandro buru-buru menyeruput jusnya sebelum mendapat wawancara dadakan lebih jauh. "Maaf Nek, Kek, aku ada acara penting di Verona. Mungkin akan kembali besok atau lusa." Alessandro pura-pura melihat jam tangannya untuk memberikan efek ekstra. "Aku harus pergi sekarang atau Lombardi akan mengomel karena aku terlambat."
Tanpa menunggu jawaban, Alessandro mempercepat langkah kakinya meninggalkan ruang makan. Ia menuju helipad di halaman belakang rumah Ferrara. Helikopternya sudah siap terbang. Lombardi menjadwalkan mereka untuk mendarat di rumah Alessandro di Verona sebelum siang.
"Sampai pukul berapa acaranya?" Alessandro bertanya, ketika helikopter telah mulai mengudara.
Lombardi menjawab, "Setelah makan malam, Signor."
Alessandro mengangguk. "Setelah acara selesai aku ingin mengunjungi Bibi Valentina. Mungkin kita akan menginap semalam di Verona."
"Menginap di panti atau di rumah Anda, Signor?"
Alessandro membayangkan rumahnya sendiri yang besar tetapi terasa kosong dan dingin. Kemudian ia membandingkan dengan panti asuhan yang hangat dan penuh tawa anak-anak. "Panti asuhan." Ia menjawab.
Pria itu menelan ludah dan merasa emosional tiba-tiba. Dulu, Carlotta sering mengajaknya ke panti asuhan. Bagi Carlotta, tempat itu mungkin menyenangkan karena gadis itu akan teringat masa kecilnya yang bahagia ketika keluarganya masih utuh. Tetapi, bagi Alessandro, panti asuhan bukan tempat yang menyenangkan. Tempat itu terus mengingatkannya betapa banyak anak yang kurang beruntung di dunia ini. Anak-anak yang tidak punya orang tua. Anak-anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya.
__ADS_1
Alessandro merasa bersyukur ibunya tetap mau merawatnya meskipun situasi mereka sulit. Ia tidak pernah bisa membayangkan betapa hancur hati seorang anak yang berada di panti karena dibuang orang tuanya.
Dan juga, Alessandro tidak bisa menampik bahwa tempat itu mengingatkannya pada Carlotta. Carlotta-nya yang manis sangat menyukai anak-anak. Anak-anak juga sangat menyukai Carlotta. Begitu Carlotta datang, mereka semua akan segera mengelilinginya bagai kupu-kupu melihat bunga. Mereka akan berebut perhatian dari Carlotta. Dan dengan senang hati, Carlotta akan memberikan kasih sayangnya pada mereka semua.
Alessandro merasa takjub, tetapi juga sekaligus iri. Anak-anak itu merebut perhatian Carlotta yang biasanya mutlak hanya untuknya. Ia ingin keberatan, tapi ia tak sanggup merusak kebahagiaan Carlotta dikelilingi anak-anak bandel itu.
Kepada anak orang lain saja Carlotta begitu lembut dan penyayang. Bagaimana jadinya jika suatu hari nanti mereka menikah dan memiliki anak sendiri?
Alessandro segera menghapus pemikirannya barusan. Sungguh mustahil. Sepertinya kata-kata kakek dan neneknya yang menginginkan pewaris baru bagi keluarga Ferrara mulai mempengaruhinya.
***
Ternyata, belanja ke pasar tradisional itu menyenangkan. Carlotta hampir tidak pernah pergi berbelanja sendiri seumur hidupnya. Dulu, selalu ada pelayan. Ketika meniti karir menjadi seorang aktris, dia selalu menggunakan layanan online agar paket belanjanya dikirimkan ke lokasi syuting terbarunya.
Kini, Carlotta tidak lagi memiliki ponsel dan kartu perbankan. Ia merasa kembali ke beberapa abad silam, hidup terisolasi dari dunia media sosial. Ia pergi berbelanja tiga hari sekali dengan berjalan kaki, membayar dengan uang tunai, berbicara langsung dengan orang-orang di pasar, serta tidak merasa takut orang akan mengenalinya.
Ia merasa bebas.
Beberapa kali, ada orang yang benar-benar menghampirinya dan berkata, "Bukankah kau Carlotta Marinelli?"
Pada awalnya, ia merasa takut. Bagaimana jika keberadaannya tersebar di media? Bagaimana jika Alessandro menemukannya? Namun, beberapa kali menemui situasi yang sama membuat Carlotta hanya tertawa sembari berkata pada orang-orang itu, "Kau bukan orang pertama yang bilang aku mirip Carlotta Marinelli. Itu adalah sebuah pujian, bukan? Kudengar dia seorang aktris ibukota?"
Kemudian, orang-orang itu akan menatapnya curiga. Beberapa saat lagi, mereka akan berpikir bahwa tidak mungkin Carlotta Marinelli berjalan sendirian ke pasar dengan baju sederhana dan perut yang sedang membesar. Carlotta memanfaatkan kebimbangan mereka dengan berkata bahwa ia adalah wanita desa yang sudah bersuami dan menanti anak pertama mereka lahir. Lalu, sambil geleng-geleng kepala, orang-orang itu akan menyerah dan pergi meninggalkannya begitu saja.
Namun, siang ini ketika ia kembali berjalan santai di pasar, ia bertemu dengan seseorang yang tidak bisa ia tipu.
Carlotta memakai gaun katun putih berbunga-bunga yang sudah agak kekecilan di bagian perut, membuat perutnya tampak menonjol. Ia mencepol rambutnya asal-asalan, kemudian memakai topi jerami lebar dan menenteng keranjang rotan ke pasar. Ia sedang memilih sayur-sayuran segar ketika mendengar suaranya.
"Carlotta?"
__ADS_1
Jantung Carlotta serasa merosot ke lantai. Tanpa sadar ia melakukan kesalahan besar dengan menoleh ke arah sumber suara.
Alessandro Ferrara berdiri di sana, tampak menjulang dan memberikan efek blur pada orang lain di sekitarnya. Hanya Alessandro yang terlihat di mata Carlotta sekarang. Lelaki itu memakai setelan rapi. Wajahnya tampak sempurna. Namun, sorot matanya berkata jauh lebih banyak daripada itu.
Ada keterkejutan, keputusasaan, dan kemarahan.
Carlotta secara refleks menjatuhkan seluruh belanjaannya dan mundur beberapa langkah. Instingnya mengatakan untuk segera kabur, tetapi kakinya seolah terpaku di tempat ia berdiri.
Lalu, Alessandro melihat perutnya.
Tidak, tidak, tidak boleh begini! Carlotta menjerit dalam hati.
"Carlotta..." Alessandro membelah kerumunan dengan mudah dan sampai dengan cepat di hadapan Carlotta.
Lelaki itu langsung menyambar tangan Carlotta, seolah takut Carlotta akan melarikan diri lagi.
Kali ini, Carlotta jelas tidak mungkin bilang kalau dia hanya seorang gadis desa yang mirip dengan aktris Carlotta Marinelli.
***
Sabar ya Sayang-sayangnya Alana,
Karya ini masih on going, update-nya setiap hari, setiap pagi. Ditunggu yaa♡
Kalo suka sama ceritanya jangan lupa dukung penulisnya ya Sayang, KLIK LIKE, VOTE, COMMENT, GIFT, 5 STARS, dsb. Dukungan kalian berarti banget buat aku. Jangan lupa difavoritin ya guys biar kalian selalu dapet notif kalo aku udah update bab terbaru. Jangan sampe ketinggalan ♡
Luvluv,
Alana
__ADS_1