Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 47 | Keretakan


__ADS_3

Wah udah akhir tahun aja ga kerasa ya guysss ♡


Semoga tahun depan bakal membawa lebih banyak kebahagiaan dan berkah buat kita semua. Aamiin. Sehat-sehat kalian ya! Jangan sampe sakit. Love you all guys so much!


Jangan lupa klik LIKE VOTE 5STARS GIFT & COMMENTS!


Luvluv,


Alana


***


Carlotta memerintahkan pelayan untuk membuka dua kamar di sayap kiri untuk Johann dan Roberto, agar kedua pria itu dapat menyegarkan diri. Alessandro tidak berkata apa-apa pada para pelayan itu, tetapi ia bergerak untuk menarik Carlotta ke salah satu selasar yang kosong.


"Coba jelaskan padaku apa yang sedang kau lakukan." Ujarnya kepada Carlotta.


Carlotta mendongak tanpa merasa gentar. "Aku hanya mengundang teman-temanku yang belum mendapatkan undangan. Memangnya kenapa?"


Alessandro memegang tengkuknya sendiri yang mulai terasa kaku akibat stres. "Kau tahu aku tidak menyukai mereka."


Carlotta menyipitkan mata. "Kenapa? Karena kau pikir aku tidur dengan mereka?"


Alessandro terdiam. Rahangnya mengeras.


Carlotta mendorong Alessandro menjauh. "Kau yang memaksaku menghabiskan malam bersamamu! Kau adalah penjahatnya di sini, Alessandro. Bukan mereka."


Alessandro termenung mendengar penuturan Carlotta. Perempuan itu tampak benar-benar marah. Padahal, yang seharusnya marah adalah Alessandro.


"Aku sudah meminta maaf padamu. Kau mau aku melakukan apa lagi?" Alessandro bertanya pelan.


Carlotta mengangkat bahu. "Kau akan melakukan apa yang aku minta?"


"Ya. Ya. Katakan saja semuanya. Aku akan melakukan semuanya." Alessandro berkata sungguh-sungguh. Tangannya bergerak untuk menyentuh Carlotta, tapi perempuan itu menepisnya.


Carlotta melihat lurus-lurus ke bola mata Alessandro. "Aku ingin kau membatalkan rencana pernikahan kita."


Mata Alessandro terbelalak. Ada kilatan rasa sakit yang tampak jelas di sana. "Apa maksudmu, Carlotta? Kau tidak begini tadi pagi saat aku menemuimu!"


Carlotta berjalan menjauh dari sana. "Kau bilang kau akan melakukan semua keinginanku. Tapi, kau tidak mau melakukan yang satu ini."

__ADS_1


"Tentu saja tidak!" Alessandro mengikuti Carlotta dan menarik pergelangan tangan perempuan itu. "Apa kau sudah gila?"


Carlotta memandang Alessandro dengan amarah menyala-nyala. "Kau selalu melakukan apa yang kau inginkan. Bukan apa yang aku inginkan. Kau terlalu berambisi agar seluruh dunia tunduk di kakimu. Dan kau tidak pernah mau mempercayai orang lain."


Alessandro menyisir rambutnya ke belakang dengan frustasi. "Apa maksudmu sebenarnya?"


Carlotta meronta untuk melepaskan diri dari cengkeraman tangan Alessandro, tetapi usahanya tidak membuahkan hasil. "Lepaskan!"


"Tidak." Alessandro mengencangkan genggamannya.


"Kau adalah orang paling egois dan mau menang sendiri yang pernah aku kenal!" Carlotta mulai berteriak.


Alessandro menggeleng kuat-kuat. "Apa ini gara-gara kedua tamumu? Kau bertemu dengan mereka, menganggap mereka lebih baik dariku, kemudian memutuskan untuk membatalkan pernikahan kita?"


Carlotta tidak habis pikir. Bagaimana mungkin Alessandro mengira hal seperti itu bisa terjadi?


"Kau selalu mempercayai yang terburuk tentang aku." Tuduh Carlotta.


Alessandro menatapnya tajam. "Karena itu semua memang benar."


Mata Carlotta berkaca-kaca. "Awalnya kau mengira aku tidur dengan banyak pria untuk mencapai puncak karirku. Kemudian kau memaksaku untuk menghabiskan malam pertamaku denganmu, dan kau membuktikan sendiri bahwa tuduhanmu salah! Namun, kau tetap mencurigaiku hingga sekarang!" Carlotta berteriak marah.


***


Marco Bruni hampir saja tertawa terbahak-bahak melihat Alessandro Ferrara mengetuk pintu kamar Carlotta dengan frustasi, jika Lombardi tidak menyuruhnya diam.


"Bukankah dia lucu sekali?" Marco berkata pada Lombardi.


Lombardi mendengus. "Kau tidak tahu apa yang kau tertawakan."


Marco Bruni mengangkat bahu. "Kurasa Alessandro mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan."


Lombardi menatap Marco tajam. "Jika mereka bermasalah, masalah itu akan merembet dan mengenai kita. Kau masih belum paham itu, ya?"


Marco berkacak pinggang. "Aku tahu. Tapi, aku akan membela Carlotta di sini. Tuanmu yang salah. Dia memperlakukan Carlotta sesuka hati dan tidak menganggap aktrisku itu sebagai manusia. Kemudian, dia bilang dia mencintai Carlotta. Apa menurutmu itu masuk akal?"


Lombardi memelototi Marco. "Kau tidak tahu seberapa banyak pengorbanan yang telah Signor Alessandro lakukan untuk Nona Carlotta."


Marco tertawa. "Pengorbanan apa yang sebenarnya kau maksud? Tuanmu justru yang menghancurkan hidup aktrisku. Dia membuat keluarga Carlotta bangkrut, kemudian membuat dia hamil, dan sekarang tidak percaya bahwa dia sendiri yang telah menghamili Carlotta. Dia pikir aktrisku itu perempuan macam apa?"

__ADS_1


Lombardi terdiam. Kemudian, ia membuka mulut lagi setelah berhasil mengumpulkan beberapa poin argumentasi. "Pertama, Nona Carlotta mengusir Signor Alessandro ke jalanan tanpa sepeser pun gaji yang seharusnya beliau dapatkan dari bekerja sebagai tukang kebun. Signor Alessandro tidak melakukan apa-apa tentang itu. Kemudian, Nona Carlotta bertunangan dengan Roberto Mancini. Signor Alessandro marah dan sakit hati. Menurutnya, Nona Carlotta telah mengkhianati cinta mereka. Sejak saat itu, Signor Alessandro baru melakukan rencana penyitaan aset dan menagih hutang keluarga Marinelli kepada keluarga Ferrara. Jika dirunut sejak awal, Nona Carlotta duluan yang membuat masalah."


Sekarang, giliran Marco yang terdiam. "Entahlah, Lombardi. Masalah mereka cukup pelik."


Lombardi mengangkat bahu. "Dan selalu aku yang kena getahnya."


Marco mengangkat tangannya untuk melakukan high five. "Aku juga."


Lombardi menepuk tangan Marco dengan sedih. "Sebaiknya kita bersiap menghadapi badai yang akan datang."


Marco mengangguk setuju.


***


Alessandro masuk ke kamar lain dan mengguyur badannya dengan air dingin. Karena Carlotta sepertinya tidak dalam mood untuk keluar dan menghadapi tamu-tamunya, Alessandro bersiap untuk menjamu kedua tamu Carlotta.


Entah apa masalah perempuan itu sebenarnya. Sebelum ini, hubungan mereka baik-baik saja. Sangat baik, malah. Alessandro hampir mengira mereka bisa kembali ke masa-masa indah seperti masa remaja mereka dulu lagi. Namun, jika melihat dari emosi Carlotta yang meledak-ledak barusan, seperti kedamaian akan sulit untuk didapatkan.


Alessandro membasuh tubuhnya di bawah shower sembari berpikir keras kesalahan apa yang telah ia lakukan. Kenapa Carlotta marah padanya dan mengungkit hal-hal di masa lalu yang ia kira sudah perempuan itu lupakan?


Lagipula, mereka akan segera memiliki bayi bersama. Carlotta benar-benar nekat jika memaksa ingin membatalkan pernikahan mereka yang sudah berada di depan mata.


Alessandro mengeringkan tubuh dengan cepat, lalu memakai setelan malam non formal dan berderap menuju ruang makan. Benar saja. Carlotta tidak ada di sana.


Pria itu tersenyum pada kedua tamu Carlotta. Ia duduk di kepala meja, kemudian berkata, "Maaf karena hadir sendiri. Carlotta sepertinya agak lelah. Maklum, dia sedang hamil."


Johann von Schiller mengangguk dan balas tersenyum. "Tidak apa-apa, Signor. Terima kasih atas jamuannya."


Roberto Mancini sepertinya tidak mendengar Alessandro karena sibuk berdebat dengan Ciara. Sementara itu, Carina memandangnya dengan sorot mata yang aneh.


"Ada apa Carina Sayang?" Alessandro bertanya.


Carina menggeleng. "Kalian berdua terlihat sama-sama sedih."


Alessandro tertawa pelan. Alisnya bertaut heran. "Siapa?"


Carina mengangkat bahu. "Kau dan Kak Carlotta."


Alessandro terdiam.

__ADS_1


***


__ADS_2