
Aku upload 3 bab dilike 33nya loh yaa ♡♡♡
Makasih sayang-sayangnya Alana ♡
Luvluv,
Alana
***
Carlotta tidak bisa tenang di tempatnya berada. Ketika Gio sudah kembali sibuk mengurus pesta dengan Ciara dan Carina, diam-diam Carlotta menyelinap pergi. Beberapa pelayan pribadi yang ditugaskan Alessandro untuk menjaga Carlotta segera mengikuti nyonya mereka.
"Di mana suamiku berada?" Carlotta bertanya pada salah satu dari mereka.
"Ruang tengah bangunan utama, Nyonya."
Carlotta mengangguk. Ia melangkah secepat yang ia bisa melewati selasar-selasar yang berbatasan langsung dengan taman di bagian tengah Castello, berbelok di beberapa sudut, kemudian mulai memasuki bangunan utama. Ketika Carlotta hampir sampai di depan pintu ganda yang membatasi bangunan utama dengan lorong, pintu tiba-tiba membuka dari dalam.
Beberapa pria dari penjaga bangunan utama menyeret seorang wanita cantik dan balita laki-laki keluar. Wanita itu memberontak dan berteriak, tapi segera diam ketika melihat Carlotta. Pandangan mata wanita itu penuh kebencian. Carlotta mematung di tempatnya berdiri.
Diakah orangnya? Wanita itu yang telah tidur dengan Alessandro-nya? Dan balita di gendongan wanita itu adalah putra suaminya?
Carlotta merasa darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun. Mengetahui Alessandro pernah tidur dengan wanita lain saja sudah sangat menyakitkan. Carlotta merasa tidak akan sanggup jika Alessandro sampai memiliki anak dari wanita lain.
Lombardi keluar, kemudian dengan cepat memosisikan diri antara Carlotta dan wanita itu. Pria itu menghalangi pandangan Carlotta dengan badannya.
"Anda di sini, Nyonya." Lombardi menyapa dengan nada ringan.
Carlotta memelototinya. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Jangan khawatir, Nyonya. Kami sudah menanganinya dengan baik."
Carlotta menggeleng frustasi. "Menanganinya bagaimana? Memberinya kompensasi dan mengusirnya pergi, padahal ia membawa anak dari Alessandro?"
__ADS_1
Ini sangat berat bagi Carlotta. Teramat berat, hingga rasanya saat pertama kali ia tahu bahwa ia hamil anak Alessandro adalah situasi yang jauh lebih ringan.
Lombardi tidak merasa perlu repot-repot menjawab pertanyaan Carlotta barusan. "Signor Alessandro ada di dalam. Anda ingin masuk?"
Carlotta mengangguk. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakannya pada Alessandro, tapi dia tahu ia butuh bertemu dengan suaminya. Sekarang.
Lombardi membukakan pintu lebar-lebar dan mengumumkan kehadiran Carlotta.
Alessandro berlari cepat menghampiri istrinya. "Carlotta! Dio Mio. Aku sudah bilang untuk menungguku saja di ballroom. Kenapa jauh-jauh kemari?"
Carlotta memandang Alessandro dengan mata berkaca-kaca. "Dia sangat cantik, Alessandro... Dan putramu... Dia jelas punya beberapa kemiripan denganmu."
Alessandro merasa seperti tersambar petir. "Kau bertemu dengan mereka?"
"Ya. Tadi saat aku mau masuk."
"Apakah wanita itu mengganggumu?" Alessandro bertanya tajam. Pria itu jelas siap menghukum siapa saja yang kedapatan mengusik istrinya.
Carlotta mendengus keras. "Bagaimana mungkin tidak? Keberadaannya saja sudah sangat menggangguku, Alessandro!"
Carlotta melepaskan diri dari Alessandro. Perempuan itu kini berjalan pelan menuju salah satu jendela besar di sisi ruangan. Matanya menatap nanar pepohonan di balik kaca jendela. "Lalu, bagaimana dengan anakmu?"
"Anak itu bukan anakku." Kata Alessandro.
Carlotta berbalik dengan marah. "Kau tidak tahu itu! Itu hanya anggapanmu saja! Bagaimana jika dia memang putramu? Apakah kau akan jadi ayah yang tidak bertanggung jawab dan menelantarkan putramu sendiri?"
Alessandro terdiam sejenak. Ia tahu Carlotta sedang dikuasai emosi, jadi ia tidak boleh terpancing. "Sayang... Aku selalu memakai pengaman. Kejadian ini bukan yang pertama. Semua wanita yang pernah datang kemari membawa anak yang mereka pikir mirip denganku, tidak ada satu pun yang terbukti bahwa mereka benar anakku. Aku berani bersumpah, Carlotta, anak itu bukan anakku."
Carlotta ingin sekali menampar Alessandro karena kesombongan pria itu. "Bagaimana mungkin kau begitu percaya pada alat pengamanmu? Kau tidak melihat apa yang terjadi padaku? Kau memakai pengaman dan aku hamil! Demi Tuhan, aku bukan Perawan Suci Maria, Alessandro. Aku tidak mungkin hamil tanpa bantuan darimu, karena aku tidak pernah bercinta dengan pria lain!"
Alessandro masih berdiam di tempatnya. Rahangnya mengeras, dan pandangan matanya berubah menjadi tajam. "Kau tahu aku mencintaimu, Carlotta. Aku sudah berjanji untuk mengakui putramu sebagai putraku. Kau tidak perlu berbohong padaku."
Carlotta berusaha mengatur napas. Dengan kehamilan yang mulai menginjak bulan ketujuh dan emosi yang terlalu besar ini, perempuan itu merasa sesak. Napasnya mulai berat. Seandainya saja ia tidak merasa sakit, Carlotta ingin sekali berteriak, menampar, dan memukul suaminya. Di sisi lain, ia merasa frustasi karena Alessandro benar-benar bersikap seperti laki-laki brengsek yang tidak punya perasaan.
__ADS_1
"Aku tidak berbohong." Carlotta berkata pelan, berupa desisan.
"Sudahlah, Sayang. Aku tidak ingin bertengkar denganmu." Alessandro maju dan tangannya terentang untuk memeluk Carlotta.
Namun, Carlotta justru mundur. "Jangan sentuh aku, Alessandro."
"Sayang..."
Carlotta mundur semakin jauh. "Aku benar-benar muak denganmu."
"Carlotta..." Kali ini, bukan nada lembut yang digunakan oleh Alessandro. Pria itu menyebut nama istrinya dengan nada memperingatkan.
Carlotta merasa benci sekali ketika air mata mulai mengalir di pipinya. "Sekarang aku tahu bagaimana perasaan ibuku saat mengetahui bahwa ayahku punya Giacomo."
Alessandro mendekati Carlotta lagi. "Itu berbeda, Sayang. Ayahmu berselingkuh saat sudah menikah dengan ibumu. Aku tidak!"
Carlotta menggeleng. "Itu tidak mengubah fakta bahwa kau memiliki putra dari wanita lain. Hingga sekarang, Mama bahkan masih tidak sanggup memandang Kak Gio. Kak Gio mengingatkannya pada wanita simpanan Papa."
Alessandro mengguncang bahu Carlotta pelan. "Anak itu bukan anakku, Carlotta. Aku bersumpah!"
Carlotta memandang Alessandro dengan pandangan menusuk. "Kalau kau bilang padaku bahwa kau tidak pernah tidur dengan wanita tadi, aku akan percaya bahwa anak itu bukan anakmu."
Alessandro mengacak rambutnya sendiri. "Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa mengatakan itu."
Hati Carlotta semakin hancur. "Itu artinya, ada kemungkinan bahwa wanita itu melahirkan putramu."
"Begini saja. Mari kita tunggu hasil tes yang akan dibawa Lombardi. Kita akan bersama-sama membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah." Alessandro membawa Carlotta duduk karena wajah perempuan itu sudah tampak sangat lelah.
Carlotta ingin menepis tangan suaminya, tapi tak sanggup. Tubuhnya lemas dan ia tidak ingin pingsan di situ. Perempuan itu merasa sedih karena putranya tumbuh melalui banyak sekali cobaan. Ia ingin memberikan yang terbaik untuk bayinya, tapi untuk menjaga perasaannya agar selalu bahagia saja ia tidak sanggup. Belum juga bayinya lahir, Carlotta sudah merasa menjadi ibu yang sangat buruk.
Alessandro memanggil salah satu pelayan untuk membawakan minumann. Pelayan tadi kembali membawa apa yang dipesan tuannya secepat kilat.
"Minumlah dulu dan tenangkan dirimu, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada kita." Alessandro berusaha membujuk.
__ADS_1
Carlotta melirik tajam suaminya. "Kau bukan Tuhan, Alessandro. Kau tidak bisa menjanjikan itu padaku."
***