Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 73 | Castello Ferrara


__ADS_3

Masih edisi Crazy Up. Today will be the last day aku Crazy Up minggu ini yaa. Semoga kalian puas dan suka sama ceritanya. Nggak ada lagi yang protes up nya lama dan kurang banyak kan yaaa? Makasih udah setia baca sampe sini gengs. Y'all the best pokoknya ♡


Udah tau cara dukung author kan ya? Nggak perlu diingetin like vote comment gift & 5 stars nya kan? ♡♡♡


Luvluv,


Alana


***


Matahari pagi di pedesaan Veneto memang yang terbaik. Carlotta bangun pagi itu dengan perasaan yang sangat baik. Alessandro masih tertidur pulas di sisinya. Pose tidurnya benar-benar mirip bayi Mauricio, membuat Carlotta merasa gemas minta ampun.


"Hmm..." Alessandro memiringkan kepalanya ketika Carlotta mulai menciumi pipi dan rahangnya.


"Bangun, tukang tidur! Kita akan kembali ke Roma hari ini." Kata Carlotta sambil tertawa.


Bukannya bangun, Alessandro justru menarik tangan Carlotta hingga perempuan itu jatuh menimpa dirinya. "Sebentar lagi, Cara Mia..."


Carlotta tersungkur menimpa tubuh suaminya dan tidak bisa bergerak sama sekali karena sudah dijadikan guling hidup oleh Alessandro. Tangan perempuan itu bergerak untuk mencubit bagian dalam lengan Alessandro. "Tidak. Kita harus bangun sekarang. Aku mau kita sampai di Roma secepatnya. Bagaimana jika persediaan ASI Mauricio habis?"


Alessandro langsung membuka matanya lebar-lebar. "Putraku tidak boleh kelaparan!"


Carlotta cepat-cepat berguling menjauh sebelum Alessandro menangkapnya lagi. "Kau atau aku yang akan mandi duluan?" Tanya Carlotta.


Alessandro duduk dan berpura-pura berpikir keras. "Bagaimana jika kita mandi bersama saja?"


Carlotta berkacak pinggang. "Alessandro--" Perempuan itu berkata, nadanya memperingatkan. Jika Alessandro benar-benar melaksanakan niatnya, mereka jelas tidak akan jadi pulang ke Roma hari itu.


"Baiklah, baiklah. Kau duluan. Aku mau tidur lagi sebentar." Alessandro mengangkat tangannya ke udara, tanda menyerah. Kemudian, lelaki itu kembali menenggelamkan diri ke bantal.


Carlotta tertawa melihat tingkah suaminya yang menyebalkan. "Aku hanya akan mandi lima menit!"


Suara Alessandro teredam bantal. "Ya, kau mandi lima menit, tapi berdandan selama dua jam. Aku bisa mati berdiri jika bangun sekarang dan menunggumu bersiap-siap!"

__ADS_1


Carlotta mulai mendekati suaminya lagi. Tangannya terulur untuk menjewer telinga Alessandro. "Apa katamu tadi?"


"Tidak ada, Ma'am. Tidak ada. Aku tidak berkata apa-apa." Alessandro cepat-cepat beringsut menjauh sebelum telinganya menjadi korban. "Maksudku, kau mandi lima menit dan berdandan lima menit juga. Kau tidak pernah membuat aku menunggu."


Carlotta masih berkacak pinggang.


"Aku akan segera bangun dan membuatkan kopi untukmu." Alessandro berguling dan melompat dari kasur, kemudian melarikan dari ke dapur.


***


Alicia mandi secara menyeluruh dan mengenakan pakaian terbaik yang ada di lemari bajunya. Semalam, semuanya kacau. Alicia gemetar ketakutan karena itu adalah kali pertamanya. Luca Lombardi memandangnya iba sejenak, sebelum memutuskan untuk mengurungkan semua niat pria itu sebelumnya. Padahal, Alicia sudah menerima uang dan cek dari Lombardi.


Alicia memang miskin, tapi dia tidak suka berhutang budi. Tidur gadis itu tidak tenang semalaman. Bahkan, ia merasa dihantui Luca Lombardi dalam mimpinya.


Oleh karena itu, pada siang hari berikutnya, Alicia berdandan dengan pantas, tidak berusaha menutupi kecantikannya lagi. Ia juga mengenakan baju terbaik yang bisa dikenakannya. Baju yang tipis, pendek, terbuat dari kain yang bahannya jatuh mengikuti lekuk tubuh, dan jelas-jelas berharga terlalu mahal. Alicia menutupi semuanya dengan sebuah coat tebal yang fashionable. Setelah puas dengan penampilannya, gadis itu berderap turun dan memanggil sebuah taksi.


Castello Ferrara tidak pernah gagal untuk membuatnya terpesona. Kekuasaan Ferrara sekarang jelas masih menandakan kejayaan nenek moyang mereka di masa lalu. Tanahnya benar-benar luas di kota yang sudah sangat padat penduduk begini. Taman-tamannya besar dan tak tersentuh rakyat jelata. Hanya orang-orang khusus yang diperbolehkan melintasi gerbang utama.


"Selamat datang, Nona Alicia. Signor Lombardi meminta Anda untuk menunggunya di entrance hall. Beliau sedang tersambung dengan Kementerian Perdagangan untuk mengurus ijin ekspor wine Ferrara ke beberapa negara Asia. Beliau akan menemui Anda setelah selesai." Seorang pelayan menyambut kedatangannya dengan ramah begitu Alicia turun dari taksi.


Kementerian Perdagangan tadi katanya? Wah. Luca Lombardi memang berada di level yang berbeda, pikir Alicia sambil geleng-geleng kepala. Alicia mengikuti pelayan tadi memasuki pintu ganda bangunan utama Castello dan duduk di sebuah sofa dengan patuh saat tiba di entrance hall.


"Berapa lama kira-kira aku harus menunggu?" Tanya Alicia.


"Mungkin satu jam. Signor Lombardi menyampaikan permohonan maaf karena Anda harus menunggu, tetapi Anda datang kemari tanpa membuat janji." Pelayan tadi membungkuk hormat.


Alicia melambaikan tangannya, tidak terbiasa diperlakukan seperti orang penting begitu. "Tidak masalah. Aku juga tidak punya acara lain hari ini."


***


Carlotta dan Alessandro mendarat di helipad Castello Ferrara dengan heboh seperti biasanya. Para pelayan berjajar rapi menyambut mereka. Beberapa bertugas mengeluarkan semua koper dan barang bawaan, yang lain hanya membungkuk di sisi kanan dan kiri jalan keluar dari helipad untuk menghormati kedatangan mereka.


Carlotta tersenyum senang karena liburannya menyenangkan. Sekarang, perempuan itu sudah tidak sabar lagi pergi ke kamar bayi dan menggendong putranya yang tampan. Ketika ia dan suaminya berjalan memasuki entrance hall, awalnya Carlotta tidak menyadari keberadaan wanita itu.

__ADS_1


Alicia. Wanita yang pernah tidur dengan Alessandro.


Langkah Carlotta langsung berhenti total. Perempuan itu membeku sejenak di tempatnya berdiri.


"Ada apa, Cara Mia?" Alessandro bertanya heran karena tiba-tiba saja Carlotta berhenti berjalan.


Carlotta menunjuk Alicia yang masih duduk di sofa. "Kau mengundang dia?" Tanya Carlotta pada suaminya. Matanya berkaca-kaca.


Arah pandang Alessandro mengikuti telunjuk istrinya, lalu pria itu terkesiap kaget. "Tentu saja tidak!" Alessandro segera berteriak. "Usir dia sekarang juga!"


Carlotta mendorong bahu suaminya dengan marah. "Jangan berpura-pura mengusirnya saat kau yang memanggilnya kemari!"


Alessandro menggeleng cepat. "Sayang, dengarkan aku. Aku tidak mungkin melakukan itu. Aku mencintaimu!" Alessandro menangkup wajah Carlotta dan hendak mencium perempuan itu, sebelum mendengar Alicia tertawa terbahak-bahak.


Carlotta dan Alessandro langsung menengok ke arah Alicia, memandang heran seolah gadis itu sudah gila.


"Ah. Maafkan aku. Rasanya seperti menonton acara opera sabun secara live. Aku terkesima." Lalu, Alicia berjalan mendekati kedua orang itu. "Aku tidak datang kemari dengan undangan dari siapa pun."


Alessandro memicingkan mata. "Mau apa lagi kau kemari, Penipu?"


Carlotta segera memosisikan dirinya di antara suaminya dan Alicia. "Jangan dekat-dekat." Perempuan itu memperingatkan.


Alicia menghela napas. "Aku iri dengan cinta kalian." Ujar gadis itu. "Tapi, aku kemari bukan untuk menghancurkan--"


"Ya Tuhan, siapa pun, cepat usir dia! Apa lagi yang kalian tunggu sebenarnya?" Alessandro tidak sabar hanya untuk mendengarkan kata-kata gadis itu sampai selesai.


Tomasso maju dan membungkuk penuh penyesalan. "Nona ini adalah tamu dari Signor Lombardi, Signor."


Alessandro memandang Alicia tajam. "Kau tidak berhasil menjebakku, lalu mengalihkan target pada Lombardi? Jangan macam-macam, Nona. Aku tidak akan membiarkan wanita sepertimu menggoda Lombardi."


Alicia tidak tampak terkejut sama sekali dengan tuduhan itu.


***

__ADS_1


__ADS_2