Revengeful Billionaire

Revengeful Billionaire
Bab 66 | Pemberian Nama


__ADS_3

WARNING 18+ dikit sih di belakang buat yang udah ngerti-ngerti aja. Enjoy!


Luvluv,


Alana


***


Carlotta agak kewalahan dengan semua tingkah Alessandro setelah pria itu mengetahui hasil tes DNA. Alessandro meminta Lombardi memanggil pers untuk mengabarkan kelahiran putranya ke seluruh penjuru Italia. Pria itu terlalu bangga pada anak laki-lakinya yang belum juga genap berumur seminggu.


"Aku akan memberinya nama Alessandro Ferrara Junior." Katanya suatu pagi pada Carlotta yang masih bersandar di kepala ranjang king size mereka di rumah Ferrara sembari menyusui putra mereka.


Carlotta memutar bola matanya. "Bagaimana aku akan memanggilnya nanti?"


Alessandro tertawa. Tapi, kalimat selanjutnya terdengar serius. "Alessandro Ferrara Junior, tentu saja."


"Terlalu panjang." Komentar Carlotta.


Alessandro langsung memberengut. "Dia adalah putraku. Semua orang harus tahu dia putraku..."


Carlotta terkikik pelan. "Semua orang sudah tahu dia putramu."


"Dia tampan sekali." Alessandro menghampiri istrinya dan duduk di sisi ranjang. "Dia mirip sekali denganku."


Carlotta tidak bisa tidak tertawa. "Kau sendiri yang bilang saat di rumah sakit, bahwa bayi ini lebih mirip dengan Kak Giacomo daripada kau."


"Tidak. Aku salah. Dia lebih mirip aku. Aku adalah ayahnya." Alessandro tidak mau kalah.


"Memang benar. Kau ayahnya." Carlotta mengangguk-angguk sambil tersenyum.


"Kau benar-benar jahat saat menipuku dan bilang kau tidak hamil anakku." Alessandro masih bersungut-sungut saat mengingat hal itu.


Carlotta hanya tertawa. "Seharusnya kau paham jika wanita berkata iya, itu artinya tidak. Begitu pula sebaliknya."


Alessandro mendengus.


"Jangan marah lagi, Sayang..." Carlotta menyodorkan bayinya untuk dipegang oleh Alessandro.


Alessandro menerima buntelan itu dan mencubit lembut hidung putranya. "Bagaimana aku bisa marah padamu jika kau memberiku bayi setampan ini?"


Carlotta tertawa. "Kau terlalu memuja putramu."


Alessandro mengelus rambut putranya perlahan. "Tentu saja. Tidak ada orang yang bisa menolak pesonanya."


Carlotta bergerak untuk memeluk suaminya dari belakang. Bersama-sama mereka berdua memandangi bayi mungil mereka yang sudah mulai mengantuk karena kekenyangan.

__ADS_1


"Dia memang tampan, ya, kan?" Carlotta berkata.


"Hanya sedikit lebih tampan dariku. Carlotta, kau harus tetap mencintaiku lebih banyak. Berjanjilah padaku." Kata Alessandro dengan nada menuntut.


Carlotta tertawa. "Aku mencintai kalian berdua sama besarnya."


Alessandro tersenyum, lalu berbalik sedikit untuk mencium istrinya. "Kau yang terbaik."


***


"Bagaimana jika Massimo?" Carina bertanya.


Ciara, Carina, Giacomo, dan Marco Bruni sudah berkumpul di ruang tengah Castello Ferrara ketika mendengar bahwa Carlotta dan bayinya sudah diperbolehkan pulang. Mereka membawa banyak sekali makanan untuk pesta perayaan kecil-kecilan. Saat ini, semua orang sedang mengusulkan nama bayi laki-laki yang bagus. Tetapi, Alessandro menolak semuanya dan bersikeras agar bayinya dinamai persis dirinya.


"Massimo terdengar bagus." Kata Carlotta.


Alessandro menggeleng. "Alessandro lebih bagus." Katanya. Carlotta langsung memutar bola mata.


Giacomo ikut menyebutkan sebuah nama. "Bagaimana dengan Orlando? Aku menyukai nama itu."


Carlotta manggut-manggut. "Bagus juga."


Alessandro kembali menggeleng. Carlotta menyipitkan mata pada suaminya, memperingatkan pria itu agar tidak terus-terusan menolak.


Ciara angkat bicara. "Aku suka Salvio. Artinya 'bijak'."


"Bagaimana dengan Vincenzo? Artinya penakluk. Kurasa kau akan suka nama-nama kuat semacam itu, Alessandro?" Marco ikut mengusulkan.


Alessandro kembali menggeleng. Tidak satu pun nama itu terdengar bagus untuk putranya yang amat berharga.


Kemudian, Lombardi membuka mulut. "Bagaimana jika Anda menamai bayi Anda dengan nama ayah Anda yang telah tiada?"


Alessandro terdiam. Ia melirik Carlotta. Perempuan itu mengangguk.


***


Ayah Alessandro bernama Maurizio. Alessandro tidak pernah punya kesempatan untuk mengenal ayahnya, kecuali lewat foto, video, dan cerita-cerita neneknya. Menurut sang nenek, Maurizio adalah anak muda yang tampan dan berhati lembut. Ia tumbuh dengan tekanan sebagai penerus keluarga Ferrara yang hebat, tetapi tidak cukup memiliki kepercayaan diri. Teman-temannya tidak pernah bisa dipercaya. Wanita di sekelilingnya berusaha sekuat tenaga menjebaknya dalam pernikahan demi nama besar Ferrara. Maurizio tidak pernah punya keberanian untuk menunjukkan apa yang dia suka, hingga pada suatu hari ia bertemu dengan pelayan baru di Castello Ferrara.


Pelayan itu masih sangat muda. Usianya baru menginjak dua puluh tahun. Namanya secantik wajahnya. Lucia Russo. Nama itu terus menghantui mimpi-mimpi indah Maurizio Ferrara. Hingga pada suatu hari, tanpa memedulikan status sosial atau apapun, Maurizio mendekati Lucia saat gadis itu tengah menuju dapur. Mereka berdua memiliki ketertarikan yang sama besar satu sama lain. Keduanya memiliki perangai yang sama-sama halus. Obrolan mereka selalu menyenangkan. Dan malam-malam kebersamaan mereka membuat mereka merasa lebih hidup dibanding tahun-tahun sebelum mereka bertemu.


Hingga suatu hari, Signor dan Signora Ferrara, kakek dan nenek Alessandro, menemukan fakta bahwa ahli waris mereka satu-satunya memadu kasih dengan seorang pelayan. Mereka marah besar dan mengusir Lucia Russo dari Castello Ferrara tanpa sepengetahuan putra mereka. Mereka berpikir, jika dipisahkan dari gadis itu, maka lambat laun Mauricio akan melupakan kisah cinta terlarangnya itu dan menerima perjodohan yang direncanakan kedua orangtuanya.


Rupanya, rencana itu sama sekali tidak berjalan lancar. Helena Ferrara dan suaminya hidup dalam waktu yang lama dalam penyesalan mendalam akibat kematian putra semata wayang mereka. Dan sekarang, Alessandro ingin meringankan sedikit penderitaan kakek dan neneknya dengan memberi nama putranya sesuai dengan nama ayahnya.


"Nama yang bagus." Carlotta menyemangati suaminya. "Aku dengar, ayahmu orang yang baik."

__ADS_1


Alessandro mengangguk. "Ayahku orang yang baik, tapi aku tidak. Aku berharap, putra kita akan menjadi orang yang baik seperti ayahku."


Carlotta tersenyum. "Itu cita-cita yang sangat bagus."


Alessandro memandang istrinya penuh determinasi. "Tapi, aku tidak akan membiarkannya menjadi orang yang terlalu baik hingga mudah dimanfaatkan."


"Tentu saja tidak." Sahut Carlotta.


"Kita juga tidak akan melarangnya menjalin kasih dengan wanita mana pun yang dicintainya." Alessandro bertekad.


Carlotta tertawa. "Mana mungkin kita melakukan itu setelah apa yang terjadi pada diri kita sendiri selama ini?"


Alessandro mengangguk dan tersenyum hangat kepada istrinya. "Kau benar."


"Aku hanya berdoa semoga putraku tidak menjadi playboy sepertimu." Kata Carlotta.


Alessandro cepat-cepat menggeleng. "Aku hanya mencintaimu. Hanya kau."


"Benarkah?" Tanya Carlotta.


"Ya. Aku bersumpah." Jawab Alessandro sambil mencium punggung tangan istrinya.


Mereka telah kembali ke kamar tidur utama dan tamu mereka telah pulang semua. Kini, hanya berdua dengan Carlotta, Alessandro mulai mendekat untuk mencium daun telinga istrinya. "Apakah kau masih berdarah?"


Carlotta terbahak. Namun, ketika memandang raut wajah suaminya yang memelas, Carlotta jadi merasa iba. "Ya. Maafkan aku."


Alessandro mengangkat bahu. "Bukan salahmu."


"Kalau aku tidak meminta maaf, kau akan menyalahkan dunia karena belum bisa bercinta denganku." Goda Carlotta.


Alessandro menekuk mukanya. "Aku memang sedang menyalahkan dunia."


Carlotta tertawa pelan. "Aku bisa memuaskanmu dengan cara lain."


Alessandro membelalakkan matanya. "Tidak."


"Kau akan terus uring-uringan jika aku tidak melakukannya." Bujuk Carlotta.


Alessandro menggeleng keras. "Tidak, Sayang. Apa yang kau-"


Carlotta sudah berlutut di hadapannya. "Jadi, kau mau atau tidak?"


"Tidak, aku-"


Terlambat. Carlotta sudah mulai melakukannya.

__ADS_1


***


__ADS_2