
Guys hellooo welcome back to my story. Makasih banget buat kalian semua yang udah baca dan dukung sampe sejauh ini ♡
Sebelum mulai cerita, aku rekomen novel dulu yaa punya Kak Dee Hwang kesayangan aku. Ini ceritanya tentang sistem tapi cewek. Nah loh seru banget kan sistem biasanya cowok. Mampir ya!
Jangan lupa KLIK LIKE FAV COMMENTS dan GIFTS-nya yaa. Thank you so much ♡ Oh dan kalo yg masih punya jatah vote mingguan, please vote aku ♡ Happy reading ♡
Luvluv,
Alana
***
Kakek dan nenek Alessandro memperhatikan videocall Carlotta dengan khawatir. Sepertinya ada yang tidak beres. Dari percakapan yang berlangsung, dapat disimpulkan bahwa Rocco Marinelli sekarang sedang menyekap Alessandro.
Marco menggeleng pelan, berusaha menenangkan Carlotta. 'Tidak, ayahmu tidak akan berani melakukan itu'. Begitulah kira-kira arti pandangan Marco.
"Papa ... Jangan bercanda. Ini sama sekali tidak lucu." Suara Carlotta terdengar bergetar.
Rocco Marinelli menatap layar ponsel sambil menyeringai. "Oh, Sayang. Kau tampak ketakutan. Kenapa? Kau takut aku akan mengiris nadi suamimu? Atau menyuntikkan racun mematikan padanya sekarang? Kau bisa memilih mana yang seharusnya kulakukan."
Carlotta langsung merasa lemas seketika. Bagaimana mungkin ayahnya bisa menangkap Alessandro? Ternyata firasat buruknya sejak tadi pagi memang terbukti benar.
"Jangan lakukan itu, Papa ..." Bisik Carlotta.
Rocco Marinelli tersenyum sambil menempelkan pisau roti ke leher Alessandro yang tengah tertidur. Hanya ada mereka berdua di ruang makan megah itu. Tidak tampak Lombardi dan bodyguard Alessandro di mana-mana.
"Bagaimana, ya? Gagasan untuk menghilangkan nyawa bajingan kecil ini sungguh menggoda. Dia sudah membuatmu tidak patuh pada Papa." Kata Rocco.
__ADS_1
"Aku akan mematuhi Papa. Aku berjanji akan mematuhi Papa. Tolong lepaskan Alessandro, Pa ..." Carlotta mulai terisak.
Rocco tertawa puas. "Kau akan bercerai dari Alessandro sekarang dan pergi dari hidupnya. Jangan berpikir untuk kembali padanya di kemudian hari. Jika kau sampai berani berhubungan lagi dengannya, bukan hanya nyawanya yang akan melayang. Tapi, juga nyawa putramu." Rocco tersenyum manis. "Kudengar aku sekarang sudah memiliki cucu laki-laki? Bukankah seharusnya dia dibawa menemui kakeknya?"
Carlotta terkesiap keras. Jika saja dia tidak sedang duduk sekarang, maka sudah pasti dia akan jatuh ke lantai saking terperanjatnya. Ayahnya benar-benar keterlaluan. Carlotta tidak akan mungkin sanggup hidup tanpa Alessandro dan Maurizio. Kedua laki-laki itu adalah alasan Carlotta hidup.
Carlotta memandang Marco, nenek, dan kakek Alessandro dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan berpikir untuk berlindung di balik nama Ferrara, Carlotta. Kekuasaan dan uang mereka tidak ada artinya sekarang. Nyawa suamimu ada di tanganku." Ayah Carlotta mengingatkan dengan nada mengancam.
Carlotta terisak semakin keras. "Aku tidak bisa bercerai dari Alessandro, Papa. Aku sangat mencintainya! Tolong, jangan lakukan ini. Kumohon, Pa. Kita bisa bertemu terlebih dulu. Tolong katakan di mana Papa dan Alessandro berada. Aku akan datang ke sana sekarang."
Rocco Marinelli menggeram marah. "Kau tidak ingin bertemu dengan Papa. Kau hanya mau suamimu kembali padamu. Jangan dikira Papa tidak tahu jalan pikiranmu, Carlotta."
Carlotta menggeleng pasrah. Memang benar, ayahnya selama ini sangat mengenalnya. Dia yang membentuk pola pikir dan kepribadian Carlotta sebagai anak penurut. Jika Carlotta tidak menurut, maka adik-adiknya yang akan dijadikan ancaman oleh ayahnya. Bagaimana mungkin Carlotta membiarkan adik-adiknya tersakiti? Ciara dan Carina hanya anak kecil yang tidak punya tempat bersandar selain Carlotta.
Dan sekarang, mereka berdua sudah tumbuh dewasa. Lagipula, saat ini ada Giacomo yang bisa melindungi mereka.
Carlotta ingin berteriak marah dan menangis meraung-raung seperti anak kecil. Dia sudah cukup lama menahan emosi pada ayahnya. Sangat lama. Carlotta rasanya sudah tidak tahan lagi.
Namun, Carlotta tidak bisa melakukan itu. Ayahnya ingin dia jadi anak yang patuh seperti dulu. Jika itu dapat menyelamatkan nyawa Alessandro dan putra mereka, maka Carlotta akan melakukannya. Tanpa keraguan.
"Aku akan menuruti Papa." Carlotta berkata. Semua orang yang sedang berada di paviliun terkejut bukan main.
"Carlotta ..." Marco menggenggam tangan Carlotta dan menggeleng. "Jangan."
Carlotta mengusap air matanya kasar. Ia harus bisa melakukan ini semua. Demi Alessandro.
"Tolong pulangkan Alessandro sekarang dan aku akan bercerai dengannya." Carlotta berkata pada ayahnya.
__ADS_1
Ayahnya tertawa terbahak-bahak. "Muslihat apa lagi yang akan kau lakukan, Carlotta? Jika aku memulangkan Alessandro dengan selamat sekarang. Kalian akan kembali hidup bersama dan menganggap ancamanku angin lalu. Kau sungguh tidak percaya aku sanggup membunuh Alessandro, ya? Atau kau berpikir aku main-main?"
Carlotta tercekat.
"Kau tinggal meminta pengacaramu untuk menyiapkan surat gugatan cerai. Kau hanya perlu membubuhkan tanda tangan digitalmu dan semuanya selesai. Kau pergi dari istana nyamanmu di Roma, dan jangan pernah muncul di hadapan mantan suamimu lagi. Dengan begitu, aku akan melepaskan Alessandro." Rocco berkata.
Carlotta menggeleng pelan. "Aku tidak punya pengacara."
"Ya, tapi aku percaya kau punya mantan tunangan yang punya firma hukum." Jawab Rocco.
Carlotra mengernyit. "Roberto Mancini?"
Rocco mengangguk. "Sudah lama aku ingin menjadikan dia sebagai menantuku. Bukan lelaki tak berguna dan tak punya sopan santun seperti dia." Rocco kembali menempelkan sebuah pisau di leher Alessandro. Kali ini bukan pisau roti, melainkan belati.
"J-jangan, Papa!" Carlotta berteriak ketakutan.
"Dia adalah pemuda paling tidak sopan yang pernah aku kenal. Tidak peduli apakah dia orang yang kaya atau berkuasa, aku tidak akan pernah sudi mengakuinya sebagai menantuku." Rocco menggeram marah.
Ujung belati tersebut sudah mengenai sedikit kulit leher Alessandro dan darah mulai menetes.
"Baik. Baik! Aku akan meminta tolong pada Roberto untuk menyiapkan surat gugatan ceraiku. Aku akan menghubunginya sekarang." Carlotta panik bukan main melihat Alessandro sudah mulai dilukai. Ayahnya luar biasa kejam, Carlotta tahu itu.
"Anak manis. Aku akan mendapatkan informasi dari firma hukum milik Roberto saat semuanya selesai nanti. Setelah itu, aku akan menepati janjiku untuk melepaskan Alessandro. Namun, ingat, kau harus sudah pergi dari sana saat ia kembali nanti." Ayah Carlotta berkata dengan puas hati.
Tak sampai di situ, ayah Carlotta juga memainkan ponsel milik Alessandro dan membuka galeri fotonya. Pria paruh baya itu memamerkan foto Maurizio di ponsel Alessandro pada Carlotta. Foto pertama adalah foto di mana Carlotta menggendong Maurizio di taman. Foto kedua adalah foto Alessandro sedang mengangkat bayi mereka tinggi-tinggi di atas tempat tidur. Foto ketiga adalah foto mereka bertiga saat sedang memandikan Maurizio bersama. Foto keempat adalah foto close up wajah tidur Maurizio. Foto kelima adalah foto studio di mana Maurizio didandani dengan boneka-boneka Teddy Bear di atas kasur. Dan foto keenam adalah foto di saat Maurizio masih berupa bayi merah sesaat setelah dilahirkan. Foto ketujuh adalah foto pernikahan Alessandro dan Carlotta. Dan foto ke delapan adalah foto pertunangan mereka di Ponte Rialto.
"Bukankah cucuku menggemaskan sekali? Sayangnya, dia tidak akan hidup lama jika ayah dan ibunya tidak berpisah." Rocco Marinelli berkata dengan suara yang bernada sangat lembut.
Carlotta langsung menjerit dan menangis. Sambungan telepon dimatikan oleh Rocco.
__ADS_1
***